Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian Dukun
Yohan berjalan menuju rumah warisan, tetapi pikirannya tidak lagi fokus pada pintu atau perabot, melainkan pada kelegaan yang dingin. Pengkhianatan sudah terkonfirmasi. Ia menyentuh Jimat Perunggu di dadanya, terasa stabil, terasa seperti jangkar baru yang aneh.
Yohan menahan dirinya. Dia membuka kunci rumah dan segera menutup pintu, mengabaikan cahaya lampu rumah tetangga yang entah sejak kapan bersinar mencurigakan ke arah rumahnya. Marta tidak perlu mengerahkan patroli. Cukup menugaskan satu dua tetangga setia, dan Yalimo akan tahu setiap gerakan yang dia buat.
Ia berjalan langsung ke kamar tidur, mencoba mengorganisasi rencana. Sekarang dia tahu musuhnya; dia tidak takut pada Marta, tapi dia harus mengakui kewibawaan Marta di desa ini mutlak. Jika Marta menyerukan pengusiran berdasarkan adat, Yohan akan kehilangan akses, logistik, dan waktu. Jika ia kehilangan waktu, ia akan terjebak, dan Marta bisa melakukan apapun terhadap Batu Persembahan atau barang bukti lainnya.
“Jika kamu melangkah ke Batu Persembahan itu lagi, atau mencoba membebaskan arwah yang terikat itu, kami akan memberitahu seluruh desa bahwa kau adalah utusan kegilaan Ayahmu! Kamu akan diusir!”
Kata-kata Marta menggema.
Yohan menarik kursi ke tengah ruangan.
“Aku tidak tahu cara melepaskan Ikatan Darah itu. Jurnal Ayah fokus pada mengikat. Ina…” gumamnya, mengingat pembicaraan lama dengan Yosef yang selalu menyebut 'Penjaga Api’ Ina dari pedalaman, dukun legendaris yang kabarnya memahami kedalaman ritual kuno.
“Sumiati bilang Pusaka, Ina tahu tentang Pusaka. Marta bilang kalau aku menyentuh Janji Darah, kutukan lama dilepaskan. Aku butuh pengetahuan untuk melawan ini. Bukan di Yalimo.”
Yohan tahu, perjalanan ke pedalaman Yalimo untuk mencari Dukun legendaris bukan perjalanan wisata modern yang ia inginkan. Itu berbahaya, jauh dari kenyamanan sinyal telepon, dari polisi, dari semuanya. Itu adalah pengorbanan yang disengaja. Namun, ini adalah satu-satunya jalan. Marta telah menutup semua jalan darat atau legal. Yohan harus memaksakan jalurnya sendiri, melalui alam.
***
Yohan menuju ke halaman samping, tempat mobil tua Yosef yang selalu mogok itu terparkir, dan tempat sepeda motor matic Yohan sendiri ia tinggalkan setelah dibersihkan beberapa hari yang lalu. Dia akan mengendarai motor, mengemas ransel besar, dan pergi malam ini juga. Jika dia berhasil mendapatkan bantuan spiritual, Marta dan para sesepuh tidak akan punya senjata untuk menghentikannya.
Ia berjalan menuju motornya, tangannya mencari saku celana untuk menemukan kunci duplikat. Biasanya kuncinya terletak di mangkuk tembaga di samping dapur, tetapi ia meninggalkannya sembarangan saat masuk.
Dia memeriksa tempat yang ia yakin ia meletakkan kuncinya. Kosong.
“Baik, mungkin aku teledor,” desis Yohan. Dia memeriksa kamar tidurnya, saku jaket yang ia kenakan tadi. Kosong. Semua yang Yohan yakini tertinggal di laci depan juga nihil. Kejanggalan ini terasa mengganggunya.
Aku yakin meletakkan kuncinya di tempat mangkuk tembaga. Aku ingat mencucinya agar tidak ada debu.
Yohan melompat kembali ke pintu depan, melihat keluar dari jendela kaca kecil di balik tirai.
“Siapa pun yang mencuri, dia nggak meninggalkan sidik jari. Ini rapi. Terlalu rapi untuk sekadar pencurian acak,” pikir Yohan. Dia mengepalkan tangan.
“Marta. Dia menyelinap masuk dan mengambilnya, atau menyuruh orang kepercayaannya mengambil kunciku agar aku tidak punya opsi melarikan diri!”
Konflik logistik kini nyata. Jika motornya hilang kuncinya, dia harus mencari transportasi darat. Ini berarti ia harus mengandalkan keramahan desa, atau harus berjalan kaki, yang membutuhkan waktu minimal tiga kali lipat. Itu menempatkan seluruh misinya di bawah ancaman.
Yohan buru-buru menyalakan telepon satelit kecilnya, satu-satunya alat modernnya yang tersisa. Dia ingin memesan jasa ojek atau sewa mobil dari kota terdekat.
“Yah, minimal lima jam berjalan kaki ke sana, itupun kalau mereka mau masuk Yalimo setelah apa yang kualami,” Yohan menghela napas panjang.
Dia mencoba koneksi satelitnya. Dia mencoba berulang kali. Sinyalnya tidak bisa ditemukan. Ini mustahil. Koneksi satelit sangat kuat.
Dia kembali ke halaman tengah. Jantungnya berdebar, rasa frustrasi muncul, membanjiri energi tenang yang baru ia peroleh di hutan.
“Satelit! Marta bahkan membayar sesepuh untuk membuat ‘pagar’ anti-komunikasi atau ada alat khusus di sekitar desa?” Yohan berbisik keras, frustrasi menembus ketenangan spiritual barunya.
Ia menendang sebuah kursi kecil di sudut ruangan. Logikanya, ada cara modern untuk memblokir sinyal. Namun secara emosional, ia yakin Marta tidak sekadar logistik, dia menyentuh batas-batas tradisional untuk membuat ketenangan Yalimo terasa normal baginya. Keheningan tiba-tiba menjadi penghalang. Logika telah ia tinggalkan di Batu Persembahan, sekarang, pertempurannya melawan intuisi desa.
Yohan kembali duduk. Ini bukan lagi tentang logistik, tetapi ujian tekad.
Yosef tidak menggunakan mobil ketika dia menyembunyikan kotak jati itu. Dia berjalan kaki. Dan peta K-Sumi jelas. Tidak peduli kuncinya hilang, aku harus berjalan kaki. Itu adalah pengorbanan terbesarku—mengorbankan waktu, fisik, dan zona nyamanku sebagai pria kota.
Marta secara tidak sengaja memaksanya melakukan bentuk pengorbanan pertamanya. Yohan berdiri. Matanya tertuju pada jurnal Yosef. Ia mencari petunjuk tentang lokasi Ina, sang Dukun Penjaga Api.
Yosef menulis petunjuk samar dalam bahasa suku yang telah ia terjemahkan menjadi:
“Ina ada di mana Api menari tanpa asap. Dua perjalanan ke utara dari batas terakhir mata air yang melimpah.”
Yohan mencoret kata ‘perjalanan’. Ia melihat itu berarti dua hari perjalanan intensif, mungkin melalui medan terjal yang belum pernah ia temui.
Yohan mengumpulkan perlengkapan. Ia menyimpan air, Jimat Perunggu, Jurnal Yosef, dan Peta K-Sumi yang kini terasa sangat berharga. Ia membawa pisau survival dan kompas tua. Dia telah mengorbankan identitas sinisnya di Batu Persembahan, dan kini harus mengorbankan kebebasan fisiknya. Tekadnya kian mengeras, menghilangkan sisa-sisa dirinya yang skeptis.
Dia bergumam pada dirinya sendiri, bertekad menunjukkan pada Marta dan desa, bahwa dia berbeda dari ayahnya.
“Aku nggak menjualnya, aku nggak lari. Aku datang untuk mendapatkan pengetahuan tentang kebebasan sejati, bukan hanya penjualan konyol. Dan itu harus dicapai dengan mengorbankan zona nyamanku, Yohan lama.”
***
Waktu menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Malam Yalimo begitu gelap. Lampu listrik hanya ada di beberapa rumah kaya di pusat desa, sementara rumah warisan Yohan tetap gelap, hanya diterangi oleh lampu minyak tanah redup.
Yohan berpakaian serba hitam, bergerak seperti bayangan. Dia menyelempangkan ransel di bahu, dan pisau besarnya terasa berat tetapi menenangkan. Kaki telanjangnya menginjak tanah tanpa menimbulkan suara.
Jangan lewat jalan utama, jangan dekat rumah Marta. Keluar dari Yalimo dari rute belakang.
Yohan mencapai perbatasan belakang. Ini adalah area rawa, berlumpur tebal dan basah. Yohan tahu dia akan merusak seluruh misinya jika membuat suara di rawa.
Dia berjalan hati-hati, memastikan kakinya menginjak permukaan tanah yang keras dan kering di tepi rawa. Yohan menahan napas. Ia hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang kuat.
“Sudah kuduga kau mengawasi, Sumiati,” bisik Yohan.
Suhu turun tajam. Itu adalah penanda spiritual. Bayangan ibunya tidak lagi terlihat, tetapi kehadiran ibunya jauh lebih padat daripada kehadiran Marta yang bersembunyi. Kehadiran itu tidak terasa dingin menyerang seperti di kamar mandi setelah upaya pengusiran gagal, atau agresif seperti di perbatasan.
Kehadiran Sumiati kini terasa dingin, melingkari tubuh Yohan, seperti sebuah jubah yang melindunginya, namun menyiratkan protes. Protes yang hening dan pilu.
“Tidak! kembalilah!” sebuah suara datang dalam bentuk gelombang dingin, bukan pendengaran fisik, melainkan emosi murni yang dipancarkan ke saraf Yohan.
“Ayahmu mengikatku di sana. Dan kamu mencoba melakukan pengorbanan yang lebih besar darinya. Aku ingin kamu selamat!”
Yohan berdiri membeku. Ini adalah manifestasi Sumiati yang paling murni dan paling tidak egois. Bukan dendam yang tersisa, tetapi cinta seorang ibu yang dipenjara, yang memohon anaknya agar tidak menjadi dirinya, roh terikat yang lain.
Yohan berbisik di udara, matanya mencari asal kegelapan di tengah hutan.
“Aku mengerti cintamu, Bu. Aku nggak pergi untuk Ayah, aku pergi untuk kita berdua. Aku nggak mau jadi Yohan yang baru, tetapi terikat selamanya oleh penyesalan tak menjual mu dan kebohongan. Aku butuh pengetahuan untuk memotong benang spiritual yang bahkan tidak bisa diurus oleh Gereja!”
Kehadiran spiritual itu tidak mereda, malah terasa intensif. Sumiati melepaskan apa yang Yohan kenali sebagai ‘isakan tanpa suara.’ Sebuah isakan yang membuat hati Yohan bergetar, lebih kuat dari rasa dingin manapun.
“Biarkan aku pergi, Bu. Hanya Ina yang bisa mengajariku bagaimana menukarnya. Kita harus menukarnya, karena memutuskannya berarti mati,” bisik Yohan.
Yohan mulai melangkah ke arah jalur kecil di tengah rawa. Di situ, Sumiati secara mental memberikan respons terakhirnya. Sebuah bisikan halus dan merayap ke pendengaran Yohan, lebih jelas dari gelombang dingin spiritual sebelumnya. Itu adalah kata yang terdengar seperti permohonan terakhir, bergema jauh di dalam kelembapan dan keheningan malam Yalimo.
“Pusaka… Jauhkan dari Janji…”
Kata itu menusuk. Itu bukan sekadar permohonan untuk kembali, tetapi peringatan: ada bahaya dalam menghubungkan pembebasan dirinya dengan pusaka abadi itu.
Yohan tidak menoleh lagi. Dia bergegas lari ke dalam jalur sempit, memaksakan kakinya, meninggalkan zona keamanan,,,,