Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketulusan
Jefferson Estate – Ruang Tamu.
Rafael duduk di sofa leather dengan postur yang relax—tangan di sandaran sofa, kaki disilangkan, mata menatap keluar jendela besar yang menampilkan taman dengan bunga-bunga yang colorful.
Lalu dia mendengar langkah kaki yang cepat—running steps yang semakin mendekat.
Pintu ruang tamu terbuka dengan keras.
Lilian berdiri di ambang pintu—nafas tersengal sedikit dari berlari, mata lebar menatap Rafael seperti melihat hantu, tangan mencengkeram door frame sampai buku-buku jari memutih.
"Rafael..." suaranya keluar sebagai whisper—pelan, tidak percaya.
Rafael berdiri. Dia menatap Lilian dengan senyum tipis—senyum yang genuine tapi sedikit sad.
"Hai."
Sapa Rafael dengan senyuman manisnya, yang sudah enam bulan tidak dia dengar dan lihat, menjadi trigger.
Lilian berlari lagi—melintasi ruang tamu dalam tiga langkah besar, menabrak Rafael dengan pelukan yang desperate.
Tangan-tangannya melingkar di punggung Rafael dengan erat, wajahnya tertanam di dada Rafael, tubuhnya gemetar.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada isakan.
Hanya pelukan yang sangat tight—seperti takut jika dia melepaskan, Rafael akan menghilang lagi.
Rafael merasakan tubuh Lilian yang gemetar. Tangannya terangkat—ragu-ragu—lalu akhirnya memeluk balik.
Bukan pelukan yang romantic. Tapi pelukan yang comforting—seperti kakak memeluk adik yang terluka.
Foot steps lain terdengar—lebih measured, lebih pelan.
Aurora, Tommy, dan Thomas masuk ke ruang tamu. Mereka berdiri di pintu, melihat pemandangan anak perempuan mereka yang memeluk Rafael dengan desperate.
Aurora menutup mulut dengan tangan—mata berkaca-kaca.
Tommy tersenyum—smile yang warm, yang relieved.
Thomas hanya berdiri dengan tangan di saku cardigan-nya—menatap Rafael dengan pandangan yang complex.
Perlahan, Rafael melepaskan pelukan Lilian. Dia mundur satu langkah, lalu—dengan gerakan yang membuat semua orang di ruangan terdiam—dia membungkukkan badannya menunduk dengan dalam, sembilan puluh derajat.
"Uncle Thomas," kata Rafael tanpa mengangkat kepala.
"Terima kasih. Terima kasih untuk segalanya. Untuk semua yang sudah Uncle lakukan untuk saya. Saya tidak akan pernah bisa membalas kebaikan Uncle."
Thomas merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.
Ini... gesture ini, bukan gesture yang casual. Ini bukan "thank you" yang diucapkan dan berlalu begitu saja.
Ini rasa syukur yang mendalam, yang sincere, yang datang dari tempat yang sangat dalam di hati Rafael.
Tommy langsung maju—tangan memegang bahu Rafael, menegakkan tubuhnya dengan gentle force.
"Lo ngapain sih? " tanya Tommy dengan suara yang firm tapi kind.
"Daddy bantuin lo dengan tulus. Tidak ada ekspektasi untuk imbalan apapun. Lo nggak perlu nunduk kayak gini."
Thomas mengangguk. Dia melangkah maju, menepuk pundak Rafael dengan tangan yang berat—tapi bukan berat dari beban, melainkan berat secara emosi.
"Tommy benar," kata Thomas. Suaranya sedikit serak.
"Kamu tidak perlu merasa berhutang. Aku melakukan itu karena aku ingin. Karena aku melihat sesuatu yang ada didalam diri kamu—sesuatu yang special."
Aurora mendekat. Tangannya terangkat—menyentuh pipi Rafael dengan sentuhan seorang ibu, yang lembut.
"Aku sangat bersyukur," katanya dengan suara yang bergetar.
"Sangat bersyukur bisa melihat kamu lagi, Rafael. Kamu sudah kami anggap seperti anak sendiri."
Rafael merasakan sesuatu yang hangat menyebar di dadanya. Sesuatu yang sempat dia lupakan—sesuatu yang hilang sejak lama.
Sentuhan keluarga.
Kehangatan yang datang dari orang-orang yang peduli tanpa ekspektasi.
***
Jefferson Estate – Halaman Belakang.
Jam di dinding menunjukkan pukul setengah delapan. Lilian yang masih memakai seragam sekolah melirik jam dengan wajah yang penuh masalah—dia harus pergi ke sekolah, tapi dia tidak mau meninggalkan Rafael.
"Lilian," kata Thomas dengan suara yang tegas tapi tidak keras.
"Kamu harus berangkat sekolah."
"Tapi Daddy—" Lilian mulai protes.
"Tommy," Thomas memanggil anak keduanya.
"Antar adikmu ke sekolah."
Tommy mengerti instant. Ada sesuatu yang Daddy-nya mau bicarakan dengan Rafael—sesuatu yang private, yang tidak untuk didengar telinga Lilian.
"Come on, Lil," kata Tommy sambil menarik tangan adiknya dengan gentle.
"Kamu tidak boleh terlambat. Perfect attendance record-mu akan rusak."
Lilian menatap Rafael dengan mata yang memohon—memohon untuk stay, untuk not leave.
Rafael tersenyum—smile yang meyakinkan.
"Gue nggak akan kemana-mana. Nanti kita bisa ketemu lagi."
Lilian ragu-ragu. Tapi akhirnya dia mengangguk, perlahan, enggan. Tommy membawanya keluar, tangan masih memegang lengan adiknya dengan firm.
Setelah mereka pergi, Thomas menatap Rafael.
"Mari ke halaman belakang. Ada yang ingin aku bicarakan."
***
Jefferson Estate – Gazebo Halaman Belakang.
Halaman belakang Jefferson Estate adalah masterpiece landscaping—rumput hijau yang terpotong perfect, bunga-bunga dalam berbagai warna, hedge yang di-trim dalam bentuk geometris, dan di tengahnya sebuah gazebo kayu dengan atap yang dihiasi tanaman merambat.
Thomas membawa Rafael ke gazebo. Mereka duduk di bangku kayu yang saling berhadapan—sebuah table kecil di antaranya.
Aurora datang beberapa menit kemudian dengan nampan—teapot keramik berisi teh chamomile, dua cangkir, dan piring berisi scones dengan butter dan jam.
Dia meletakkan semuanya di table dengan careful, lalu duduk di samping Thomas. Tangannya memegang tangan suaminya—gesture yang sweet, yang supportive.
Thomas menuangkan teh ke dua cangkir—gerakan yang measured, yang memberi waktu untuk mengumpulkan pikiran.
Lalu dia menatap Rafael langsung.
"Rafael. Alasanku membawamu kesini karena ada sesuatu yang ingin uncle ketahui," katanya.
Suaranya serious—ini bukan small talk.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu? Apa cerita Dr. Benjamin kemarin... itu semua benar?"
Rafael mengambil cangkir teh—merasakan kehangatan di telapak tangannya. Dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya ke Thomas.
Tidak akan menceritakan tentang Valhalla, tentang fight melawan Lyra Vantross, tentang dunia underground yang gelap.
Thomas adalah orang baik. Orang yang lurus, yang percaya pada hukum dan sistem. Dia tidak perlu tahu tentang sisi gelap kehidupan Rafael.
"Saat itu," Rafael mulai bicara dengan suara yang controlled,
"aku sangat frustasi. AGE sedang tumbuh dengan cepat—terlalu cepat. Aku tidak bisa fokus. Terlalu banyak meeting, terlalu banyak keputusan yang harus diambil, terlalu banyak pressure."
Dia menatap teh di cangkirnya.
"Aku butuh pengalihan. Jadi aku berkendara—berkendara cepat di jalan tol tengah malam. Mencoba mengeluarkan apa yang ada didalam kepala. Tapi..."
dia berhenti sejenak,
"aku kehilangan kontrol. Mobil slip. Menabrak pembatas jalan. Dan yang terjadi selanjutnya... aku tidak ingat. Yang aku ingat hanya bangun di rumah sakit Dr. Benjamin tiga bulan kemudian."
Thomas mendengarkan tanpa menyela. Matanya mengamati setiap micro-expression di wajah Rafael—menganalisa, membaca.
"Jadi begitu. Lalu apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Thomas.
"Aku akan kembali sekolah," jawab Rafael.
"Finish high school. Untuk AGE—aku akan serahkan sepenuhnya ke Kimberly dan tim. Mereka lebih capable untuk menjalankan operasional."
Thomas mengangguk slow. "Aku akan bicara ke pihak sekolah. Greenwich akan senang menerima kamu kembali."
"Uncle," kata Rafael.
Ada rasa syukur yang dalam di suaranya.
"Maaf karena harus merepotkan Uncle sekali lagi."
"Kamu tidak merepotkan," kata Aurora dengan suara yang soft.
"Kami senang bisa membantu."
Rafael menarik nafas dalam. "Aku juga... aku tidak akan tinggal di apartemen lagi. Aku sudah punya tempat tinggal sendiri. Aku tidak bisa terus-terusan merepotkan Uncle dan Auntie."
Thomas dan Aurora saling pandang. Ada kesedihan di mata mereka—tapi mereka juga memahami.
"Jika itu keputusan kamu," kata Thomas,
"kami akan menghargainya. Tapi kamu harus tahu, pintu kami selalu terbuka untuk kamu. Anytime. Remember that."
Rafael mengangguk. Dia mengambil scone, memakan sedikit—lebih karena kesopanan daripada lapar.
Keheningan yang nyaman mengisi gazebo. Burung-burung berkicau di pepohonan. Angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga.
Lalu Thomas membuka mulut—pertanyaan yang sudah mengganggunya sejak pertama kali bertemu Rafael.
"Rafael," katanya dengan hati-hati,
"Ada satu pertanyaan yang selalu mengganjal di pikiranku. Dan aku harap kamu mau menjawabnya dengan jujur."
Rafael menatap Thomas—sensasi yang sangat serius dari pertanyaan yang akan datang.
"Sebenarnya, darimana kamu berasal? Wajah dan fisikmu tidak terlihat seperti orang asli Indonesia."
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti kabut tebal.
Rafael terdiam. Tangannya mencengkeram cangkir teh lebih erat.
Thomas melanjutkan—suaranya pelan tapi ada intensitas di dalamnya.
"Nama belakang kamu—Alkava. Itu bukan nama yang umum. Bahkan di Indonesia, itu nama yang... sangat spesifik."
Dia menatap Rafael dengan pandangan yang searching.
"Dulu aku punya teman. Teman yang sangat dekat. Dan nama belakangnya... Alkava. Apakah itu hanya kebetulan? Atau..."
Dia tidak melanjutkan. Tapi implication-nya jelas.
Rafael menggelengkan kepala pelan. Dia meletakkan cangkir teh di meja dengan gerakan yang careful—terlalu berhati-hati, seperti takut tangannya gemetar.
"Seperti yang uncle ketahui. Aku besar di Indonesia," katanya.
Suaranya berbeda sekarang—ada sesuatu yang mentah, yang rentan.
"Lebih tepatnya di Jakarta."
Aurora merasakan sesuatu berubah di atmosfer. Tangannya mencari tangan Thomas, menggenggamnya dengan erat.
"Aku diasuh oleh keluarga yang sederhana," Rafael melanjutkan.
Setiap kata keluar dengan effort—seperti mengeluarkan pecahan kaca dari tenggorokan.
"Bundaku bernama Nur Aini. Ayahku bernama Budi Haryanto. Dan nenekku... nenekku bernama Sulastri."
Dia berhenti. Menarik nafas yang dalam.
"Saat aku berumur lima tahun..."
***
BERSAMBUNG...