NovelToon NovelToon
Menantu Kaisar Agung

Menantu Kaisar Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Harem / Mengubah Takdir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao Ling'er

Ling Chen, pemuda cacat yang mati dalam kesepian, terbangun di dunia kultivasi sebagai pengawal rendahan di Kekaisaran Api Agung. Namun sebelum memahami takdir barunya, seorang putri kekaisaran tiba-tiba memilihnya sebagai suami di hadapan seluruh istana.

Di balik tubuh barunya tersembunyi Api Hitam kuno, kekuatan terlarang yang mampu mengguncang kekaisaran dan membakar langit. Terjebak dalam intrik politik, perebutan takhta, dan ambisi para pangeran, Ling Chen harus bangkit dari menantu yang diremehkan, menjadi penguasa yang ditakuti seluruh dunia.

Di dunia di mana kekuatan adalah hukum, ia akan membuktikan, yang hina hari ini, bisa menjadi Kaisar Agung esok hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Ling'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

Hari-hari setelah kematian Huo Zhan seharusnya menjadi masa damai bagi Kekaisaran Api Agung. Pasukan elit gabungan Api dan Laut semakin solid di bawah komando Ling Chen. Setiap pagi, halaman latihan dipenuhi suara benturan qi yang harmonis: api merah membara dari prajurit kekaisaran, ombak biru mengalir dari murid-murid laut yang direkrut, dan di tengah-tengahnya, Ling Chen berdiri dengan trisula di tangan, mengajarkan teknik **Naga Ombak Nirwana** yang kini menjadi andalan pasukan.

Yue Yan, yang perutnya mulai membesar sedikit, tetap ikut berlatih meski dengan gerakan lebih hati-hati. Api merahnya kini lebih lembut, seolah menyesuaikan diri dengan kehidupan kecil yang tumbuh di rahimnya. Qing Lin selalu berada di sisinya, pedang air kristalnya membentuk perisai pelindung setiap kali Yue Yan berlatih terlalu keras.

“Kak Yue Yan, istirahat dulu,” kata Qing Lin lembut, tangannya menyentuh perut Yue Yan. “Bayi kita tak boleh kaget karena qi yang terlalu ganas.”

Yue Yan tersenyum, menyeka keringat di dahinya. “Aku baik-baik saja. Anak kita kuat seperti ayahnya. Lihat saja, dia sudah mulai bergerak kalau Chen’er dekat.”

Ling Chen mendekat dari belakang, memeluk kedua istrinya dari sisi. Tangannya menyentuh perut Yue Yan, merasakan gerakan kecil yang hangat. “Dia tahu ayahnya ada di sini.”

Momen-momen seperti ini menjadi rutinitas manis mereka. Malam hari, ketiganya sering duduk di balkon paviliun, menatap langit jingga yang dipenuhi bintang. Yue Yan bersandar di bahu kiri Ling Chen, Qing Lin di bahu kanan. Tangan mereka saling bergenggaman, jari-jari saling melingkar seperti simbol ikatan yang tak terpisahkan.

“Chen’er,” kata Yue Yan suatu malam, suaranya pelan. “Apa kau pernah menyesal membawa Qing Lin ke sini? Maksudku… aku tahu kau mencintaiku sejak dulu, dan sekarang ada dia. Aku tak ingin kau merasa terbebani.”

Ling Chen menoleh, mencium kening Yue Yan lalu pipi Qing Lin. “Tak pernah. Kalian berdua adalah anugerah. Yue Yan, kau adalah api yang membakar semangatku sejak awal. Qing Lin, kau adalah air yang menyeimbangkan dan menyembuhkan. Bersama kalian, aku merasa lengkap.”

Qing Lin tersenyum malu-malu, kepalanya bersandar lebih dalam. “Aku juga tak menyangka akan jatuh cinta pada kalian berdua. Kak Yue Yan… kau seperti kakak yang selalu melindungi. Suamiku… kau seperti pilar yang tak pernah goyah.”

Yue Yan tertawa kecil. “Kita bertiga… seperti api yang dikelilingi air, atau air yang dibakar api. Tak ada yang bisa memadamkan atau membakar kita.”

Mereka bertiga sering berakhir di tempat tidur besar, tubuh saling menempel dalam kehangatan. Malam-malam itu penuh kelembutan—ciuman lambat, sentuhan penuh kasih, dan qi yang saling mengalir seperti sungai yang tak pernah kering. Yue Yan yang dominan dengan api gairahnya, Qing Lin dengan kelembutan airnya, dan Ling Chen di tengah sebagai penyeimbang. Mereka tak lagi terburu-buru seperti malam pertama; setiap gerakan penuh makna, setiap desahan penuh janji.

Namun, damai itu rapuh.

Suatu pagi, saat matahari baru terbit, alarm kekaisaran dibunyikan tiga kali—tanda ancaman tingkat tinggi. Ling Chen, Yue Yan, dan Qing Lin langsung berlari ke aula utama. Kaisar Huo Tian sudah berdiri di balkon besar, wajahnya muram. Di langit utara, awan hitam besar terbentuk lagi—tapi kali ini bukan bayangan biasa. Awan itu berbentuk pusaran raksasa, di tengahnya terlihat kilatan biru gelap seperti lautan yang membeku.

“Apa itu?” tanya Yue Yan, tangannya memegang perutnya secara insting.

Ibu Suri Huo Lian menjawab dengan suara dingin. “Lautan Es Abadi. Sekte Es Abadi dari utara telah bergerak. Mereka mengklaim bahwa kekaisaran kita telah mencuri warisan laut kuno dari reruntuhan—warisan yang seharusnya milik mereka. Mereka menuntut Kitab Dewa Laut Abadi dikembalikan, atau mereka akan membekukan seluruh kekaisaran.”

Ling Chen mengerutkan kening. “Sekte Es Abadi… mereka tak pernah ikut perang sebelumnya. Mengapa sekarang?”

Seorang mata-mata berlutut di depan Kaisar. “Yang Mulia, ada kabar bahwa Huo Zhan sebelum kematiannya mengirim pesan ke utara. Dia menjanjikan kitab itu sebagai ganti bantuan untuk balas dendam. Sekte Es Abadi menganggap ini kesempatan untuk merebut kekuatan laut yang selama ini hilang.”

Yue Yan mengertak gigi. “Huo Zhan… bahkan setelah mati, dia masih mengganggu kita.”

Kaisar menatap Ling Chen. “Kau yang paling paham kekuatan laut. Apa rencanamu?”

Ling Chen menarik napas dalam. “Kita tak bisa menunggu mereka menyerang. Aku, Yue Yan, dan Qing Lin akan pergi ke utara. Kita hadapi Sekte Es Abadi langsung. Jika perlu, kita buktikan bahwa kitab itu sudah menjadi bagian dari kekaisaran—dan kami tak akan menyerahkannya.”

Qing Lin mengangguk. “Aku setuju. Teknik Dewa Laut Abadi milik kita sekarang. Jika mereka ingin perang, kita beri pelajaran.”

Yue Yan memegang tangan suaminya. “Aku ikut. Meski aku hamil, api-ku masih bisa melindungi kita.”

Kaisar ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk. “Baiklah. Bawa pasukan elit 5000 orang. Jangan biarkan mereka mendekati istana. Dan… lindungi cucuku.”

Ketiganya berangkat siang itu juga. Kereta api khusus membawa mereka dan pasukan ke utara, melintasi padang lava dan pegunungan es yang mulai terlihat. Perjalanan memakan waktu tiga hari, dan selama itu, Yue Yan semakin sering merasa lelah. Qing Lin selalu berada di sisinya, menggunakan qi air untuk menenangkan janin.

“Jangan terlalu khawatir,” kata Qing Lin sambil membelai perut Yue Yan. “Bayi kita kuat. Dia merasakan kekuatan ayah dan ibunya.”

Yue Yan tersenyum lemah. “Aku tahu. Tapi aku tak ingin apa pun terjadi padanya.”

Ling Chen memeluk keduanya. “Tak ada yang akan menyentuh kalian. Aku janji.”

Akhirnya, mereka tiba di perbatasan utara—Lembah Es Api, tempat api dan es bertemu dalam garis yang tegang. Di depan mereka, pasukan Sekte Es Abadi sudah menunggu: ribuan prajurit berjubah biru es, dipimpin oleh Bing Xue’er—wanita dingin yang pernah bertarung di reruntuhan.

“Kalian datang juga,” kata Bing Xue’er dingin, auranya Realm Raja Es awal. “Serahkan Kitab Dewa Laut Abadi. Itu warisan leluhur kami. Kalian mencurinya dari reruntuhan yang seharusnya milik Sekte Es Abadi.”

Ling Chen melangkah maju. “Kitab itu mengakui kami. Kami yang lolos ujian, kami yang mengalahkan iblis penjaga. Ini bukan pencurian—ini takdir.”

Bing Xue’er tertawa dingin. “Takdir? Kalian hanya manusia serakah. Serahkan, atau kami bekukan kekaisaran kalian selamanya.”

Pertarungan tak terhindarkan.

Pasukan kekaisaran dan pasukan es bertabrakan. Api merah bertemu es biru, menciptakan uap tebal yang menyelimuti lembah. Ling Chen, Yue Yan, dan Qing Lin langsung menghadapi Bing Xue’er.

Bing Xue’er melepaskan **Badai Es Abadi**—badai salju raksasa yang membekukan segala yang disentuh. Yue Yan melawan dengan **Naga Api Penghancur**, naga merah yang membakar salju menjadi uap. Qing Lin menambahkan **Ombak Es Nirwana**, menciptakan perisai air yang membeku untuk melindungi pasukan mereka.

Ling Chen melompat ke depan, trisula diayunkan. **Gelombang Api Ombak Dewa Laut** meledak, ombak jingga kebiruan yang membakar dan memurnikan badai es sekaligus. Bing Xue’er terkejut, menghindar dengan gerakan es yang cepat.

“Kalian… sudah menguasai teknik Dewa Laut sepenuhnya?!” serunya.

Ling Chen tak menjawab dengan kata-kata. Dia menyerang lagi, trisula menusuk dengan kekuatan penuh. Bing Xue’er menghalau dengan pedang esnya, tapi benturan itu membuatnya terdorong mundur. Yue Yan dan Qing Lin bergabung, menciptakan **Teratai Api Es Abadi**—bunga raksasa yang menggabungkan api, air, dan es menjadi kekuatan baru.

Bunga itu berputar cepat, menyerap badai es Bing Xue’er dan membalikannya menjadi serangan balik. Bing Xue’er terlempar ke belakang, darah es biru mengalir dari mulutnya.

“Kalian… terlalu kuat…” gumamnya.

Ling Chen mendekat, trisula diarahkan ke lehernya. “Serahkan. Kami tak ingin membunuh tanpa alasan. Kitab itu milik kami sekarang. Kembalilah ke sekte kalian, dan akhiri konflik ini.”

Bing Xue’er menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Baiklah… kami mundur. Tapi ingat—lautan tak pernah lupa. Suatu hari, kami akan kembali untuk mengambil apa yang seharusnya milik kami.”

Dia memberi isyarat, dan pasukan es mundur secara teratur. Lembah kembali tenang, hanya uap dan es yang tersisa sebagai saksi pertempuran.

Yue Yan memeluk Ling Chen erat. “Kita menang lagi…”

Qing Lin menyentuh perut Yue Yan. “Dan bayi kita aman.”

Ling Chen menatap ke utara. “Ini belum akhir. Sekte Es Abadi mungkin mundur sekarang, tapi ada kekuatan lain yang mengintai. Huo Zhan… dan mungkin Klan Bayangan yang tersisa.”

Mereka kembali ke istana sebagai pahlawan. Kaisar menyambut dengan parade besar, seluruh kekaisaran merayakan kemenangan. Yue Yan dan Qing Lin semakin dekat, sering berbincang tentang nama bayi, pakaian kecil, dan masa depan.

Tapi di malam hari, Ling Chen sering terbangun karena mimpi buruk—bayangan hitam yang masih hidup, dan suara Huo Zhan yang bergema: “Ini belum selesai…”

Beberapa bulan kemudian, Yue Yan melahirkan anak laki-laki—seorang bayi dengan mata jingga kebiruan, rambut campuran merah dan hitam. Mereka menamainya **Huo Ling Yun**—api yang lahir dari awan laut.

Tak lama setelah itu, Qing Lin juga melahirkan anak perempuan—**Qing Yue Mei**, dengan mata biru lembut dan rambut hitam panjang seperti ibunya.

Kekaisaran merayakan dua kelahiran itu selama tujuh hari tujuh malam. Ling Chen berdiri di balkon istana, memeluk kedua istrinya dan dua anaknya, menatap langit jingga yang cerah.

“Kita sudah punya keluarga,” bisiknya.

Yue Yan mencium pipinya. “Dan kita akan lindungi mereka selamanya.”

Qing Lin mengangguk. “Bersama.”

Di bawah langit api, keluarga kecil itu berdiri tegak—api, air, dan cinta yang tak terpadamkan. Tapi di kejauhan, di lautan utara, Bing Xue’er menatap horizon dengan mata dingin.

“Suatu hari… kita akan kembali.”

Dan di suatu tempat di kegelapan, bayangan terakhir Huo Zhan masih berbisik: “Tunggu saja…”

1
Nanik S
Cukup menarik diawal
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ: hehehe, terimakasih 🙏
total 1 replies
Akagami
mantap
Akagami
Lanjit
Akagami
ok
Akagami
seru
Akagami
mantap
Akagami
Awal yang menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!