Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Siang itu, matahari Los Angeles bersinar terik, namun pendingin udara di dalam SUV mewah Fharell memberikan kesejukan yang kontras. Andreas Sunny sudah jauh lebih baik; ia duduk di car seat belakang sambil memeluk boneka dinosaurus barunya, sesekali mengoceh kecil.
"Kita makan dulu ya, Sayang? Aku lapar sekali, semalam hanya minum kopi rumah sakit," ujar Fharell sambil memutar kemudi dengan santai.
Paroline mengangguk setuju. "Ada kafe di depan sana, suasananya tenang. Cocok untuk Sunny yang baru sembuh."
Namun, ketenangan yang mereka harapkan sirna begitu melangkah masuk ke dalam kafe berdesain industrial tersebut. Takdir seolah sedang ingin bermain-main. Di salah satu meja panjang di sudut ruangan, tampak sekelompok pria dan wanita berpakaian branded yang sedang tertawa keras. Itu adalah Danesha Smith dan geng lamanya—teman-teman SMA Paroline dulu.
Begitu pintu berdenting, seluruh mata di meja itu tertuju pada pintu masuk. Keheningan sesaat terjadi sebelum bisik-bisik mulai menjalar seperti api di rumput kering. Di kalangan elit Los Angeles, tidak ada yang tidak mengenal Paroline Benedicta, sang mantan Ratu Klub yang fenomenal.
Danesha menyeringai, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menyesap iced americano-nya. "Lihat siapa yang datang... Sang pengantin baru yang fenomenal," bisiknya cukup keras agar teman-temannya mendengar.
Seorang pria di samping Danesha, Julian, yang dulu pernah ditolak mentah-mentah oleh Paro saat pesta prom, tertawa sinis. "Wah, Paro... ternyata seleramu sekarang berubah total ya? Sangat suka yang muda ternyata. Kau ingat Danesha? Dia pernah menolakku juga dulu karena katanya aku terlalu main-main. Ternyata sekarang dia malah menikahi bocah yang baru lulus SMA."
Danesha tertawa terbahak-bahak, matanya menatap tajam ke arah Fharell yang sedang menuntun Paroline menuju meja di tengah ruangan. "Kau benar, Julian. Entah siapa ayah biologis dari anak itu sebenarnya. Kasihan sekali Fharell Desmon yang masih polos itu. Dia disuruh tanggung jawab atas investasi pria lain. Hahaha! Luar biasa taktikmu, Paro. Mencuci otak pewaris Desmon untuk menjadi tameng aibmu."
Paroline mencengkeram lengan Fharell erat. Wajahnya memucat, bukan karena malu atas masa lalunya, tapi karena ia tidak sudi rahasia Sania dan harga diri suaminya diinjak-injak oleh manusia sampah seperti Danesha.
Fharell tetap berjalan dengan langkah tegap. Ia menarikkan kursi untuk Paroline dengan sangat sopan, lalu mendudukkan Sunny di high chair. Ia sama sekali tidak menoleh ke meja Danesha, seolah-olah gerombolan itu hanyalah suara bising lalat yang mengganggu.
Namun, di balik wajah tenangnya, tangan Fharell yang berada di bawah meja terkepal kuat hingga buku jarinya memutih.
"Tertawalah sekarang, Danesha," batin Fharell dengan api amarah yang membara di matanya. "Sombonglah dengan kebodohanmu. Kau menghina anakmu sendiri tanpa kau sadari. Demi Tuhan, saat saatnya tiba kau tahu bahwa darah yang mengalir di tubuh Sunny adalah darahmu, aku bersumpah akan membuatmu berlutut di kaki Paroline. Aku akan membuatmu memohon ampun karena telah membuang permata yang sekarang menjadi duniaku."
"Fharell... kita pergi saja?" bisik Paroline, matanya mulai berkaca-kaca.
Fharell menoleh, ia menggenggam tangan Paroline dan menciumnya di depan umum, tepat di depan mata Danesha dan teman-temannya. "Kenapa harus pergi? Kita lapar, dan makanan di sini enak. Jangan biarkan sampah merusak selera makan mu, Istriku."
Danesha yang merasa diabaikan, mulai kehilangan kesabaran. Ia berdiri dan berjalan melewati meja Fharell, sengaja berhenti tepat di samping Andreas Sunny.
"Anak yang malang," ujar Danesha sambil menatap Sunny dengan pandangan meremehkan. "Tumbuh dengan ayah palsu yang usianya mungkin lebih cocok jadi kakak laki-lakinya. Hei, Rell... apa kau sudah cek DNA? Jangan-jangan kau hanya dipaksa membayar biaya rumah sakit untuk anak pria lain."
Fharell mendongak. Ia meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap Danesha dengan senyum yang paling meremehkan yang pernah ia tunjukkan.
"Danesha, kau tahu apa perbedaan aku dan kau?" suara Fharell bariton dan tenang, membuat meja-meja di sekitar ikut mendengarkan. "Aku memiliki apa yang tidak akan pernah kau miliki, Keberanian. Aku berani mencintai wanita sehebat Paroline, dan aku berani menjadi ayah bagi anak ini tanpa perlu bertanya pada dunia."
Fharell berdiri, membuat Danesha harus mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka. "Kau bicara soal DNA? Lucu sekali. Kadang-kadang, orang yang paling keras bicara soal DNA adalah orang yang sebenarnya paling takut menghadapi kenyataan bahwa dia telah kehilangan sesuatu yang berharga karena kebodohannya sendiri."
Fharell mendekatkan wajahnya ke telinga Danesha, berbisik dengan nada mengancam. "Nikmatilah sisa harimu, Smith. Karena saat kebenaran itu meledak di wajahmu, aku tidak akan memberikanmu kesempatan untuk menyentuh ujung sepatu putraku sekalipun."
Danesha terdiam, ada kilatan ketakutan sesaat di matanya saat mendengar nada bicara Fharell yang begitu gelap. Ia mendengus, lalu kembali ke mejanya dengan langkah terburu-buru, mencoba menutupi kegugupannya dengan tawa palsu bersama teman-temannya.
Paroline menatap suaminya dengan penuh kekaguman. Fharell yang ia kenal sebagai berondong manja dan humoris, kini telah bertransformasi menjadi pelindung yang sangat tangguh.
"Terima kasih, Rell," bisik Paro.
"Sudah kubilang, jangan berterima kasih," Fharell kembali duduk dan mulai menyuapi Sunny dengan potongan alpukat. "Mereka hanya debu, Paro. Dan debu hanya perlu ditiup agar hilang."
Fharell menatap Sunny yang tertawa riang, tidak tahu bahwa pria yang baru saja menghinanya adalah ayah biologisnya yang pengecut. Dalam diam, Fharell berjanji pada dirinya sendiri. Dia tidak akan membiarkan Danesha tahu tentang Sunny sampai dia memiliki kekuatan hukum yang cukup untuk menjauhkan pria itu selamanya.
Fharell ingin Danesha merasakan kehancuran saat menyadari bahwa dia telah menghina darah dagingnya sendiri selama bertahun-tahun, sementara Fharell—bocah yang dia remehkan telah menjadi pahlawan yang memberikan cinta yang seharusnya menjadi milik Danesha.
"Ayo makan, Sayang. Setelah ini kita pulang dan istirahat. Kita butuh tenaga untuk menyicil adik Sunny nanti malam, kan?" goda Fharell kembali ke sifat aslinya, mencoba mencairkan suasana.
Paroline tertawa, kali ini tawa yang benar-benar lepas. "Kau ini benar-benar tidak bisa serius lebih dari lima menit ya!"
"Hidup sudah terlalu serius karena orang-orang seperti Danesha, Paro. Bersamamu, aku hanya ingin tertawa," jawab Fharell sambil mengedipkan matanya.
Siang itu, di kafe yang penuh dengan tatapan menghakimi, Fharell Desmon membuktikan bahwa kedewasaan tidak diukur dari angka di KTP, melainkan dari seberapa besar nyali seorang pria untuk melindungi wanita dan anak yang dicintainya dari kekejaman dunia.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰