𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 — (Malam di Avermont — Keputusan dalam Senyap)
Malam di Avermont turun perlahan. Udara pegunungan terasa dingin namun bersih. Angin membawa aroma pinus dari hutan di kejauhan, menyelinap lewat celah jendela hotel yang sedikit terbuka. Lampu-lampu taman menyala temaram, memantulkan bayangan panjang di dinding kamar hotel yang luas dan sunyi.
Vhiena telah tertidur. Napasnya teratur, wajahnya damai. Rambut cokelatnya terurai di atas bantal putih, sedikit menutupi keningnya. Seharian penuh kegembiraan membuat tubuhnya lelah, dan tidur datang tanpa perlawanan.
Rizuki masih terjaga. Ia duduk di sofa dekat jendela, satu tangan bertumpu di sandaran, matanya menatap keluar tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya kembali pada percakapan mereka sebelum tidur.
Tentang masa kecil Vhiena. Tentang Ayu dan Lala. Tentang kota kecil di pinggiran distrik—Ravelin. Tentang orang-orang yang hidup sederhana, bekerja keras, namun selalu tertinggal oleh sistem yang tak pernah menoleh ke arah mereka.
Rizuki menghembuskan napas pelan. Ia telah melihat peta ekonomi nasional, grafik pertumbuhan, laporan sosial—semuanya rapi di atas kertas. Tapi cerita Vhiena membuat angka-angka itu terasa… dingin.
secara Pelan, Rizuki berdiri. Ia berjalan ke arah tas hitam sederhana yang diletakkannya di sudut kamar. Tidak mencolok. Tidak mewah. Sama seperti dirinya di mata Vhiena.
Ia berlutut sedikit, membuka ritsleting tas dengan gerakan nyaris tanpa suara.
Di dalamnya tersusun rapi tiga ponsel—masing-masing terpisah, masing-masing memiliki dunianya sendiri.
Rizuki tidak menyentuh ponsel pribadi. Ia melirik sekilas ke arah tempat tidur, memastikan Vhiena benar-benar terlelap. Lalu ia mengambil ponsel ke-2. Ponsel khusus Bluesky Corporation.
Begitu layar menyala, antarmuka profesional muncul. Tidak ada aplikasi hiburan, tidak ada jejak kehidupan pribadi. Hanya data, jadwal, dan komunikasi tingkat eksekutif.
Nama Mira dan Keira muncul di daftar prioritas.
Rizuki berdiri, berjalan menjauh dari tempat tidur, lalu duduk kembali di sofa. Nada dering dimatikan, panggilan dilakukan dalam mode senyap. Tak sampai beberapa detik, koneksi tersambung.
“Pak Rizuki?” Suara Mira terdengar pelan namun langsung siaga.
Keira menyusul, suaranya tenang dan penuh kendali. “Ada sesuatu yang mendesak?”
Rizuki berbicara rendah, nyaris berbisik, namun setiap katanya jelas. “Aku memberi perintah langsung.”
Keduanya langsung fokus.
“Lokasi,” lanjut Rizuki, “Kota Ravelin.”
Mira terdiam sejenak. "Wilayah pinggiran distrik utara… data infrastrukturnya minim.”
“Aku tahu,” jawab Rizuki singkat.
Keira bertanya, “Apa yang hendak anda lakukan ?”
Rizuki menatap jendela, ke arah lampu-lampu kota kecil Avermont di kejauhan. “Bangun fasilitas pendidikan.” , “Rumah sakit.” , “Dan pabrik manufaktur.”
Nada suara Mira berubah. “Ini proyek besar. Apakah masuk dalam struktur Bluesky?”
Rizuki menjawab tanpa ragu, “tentu saja, Pendanaan dan eksekusi lewat Bluesky , Aku sendiri yang akan menentukan arah. Aku akan segera mepelajari struktur kota itu, dan akan membuat konsep secepat mungkin. "
Keira memahami maksud itu sepenuhnya. Sunyi beberapa detik. " Baik pak. " Jawab mira dengan nada tegas, yang terdengar dari telepon.
“Tenaga kerja?” tanya Mira.
“Warga setempat,” jawab Rizuki. “Serap sebanyak mungkin. Prioritaskan pelatihan.”
“Pengawasan lapangan?” Keira memastikan.
“aku sendiri yang akan mengawasi meskipun aku tidak kesana,” kata Rizuki. “Sistem akan terintegrasi penuh.”
Mira menarik napas dalam. “Baik. Kami akan segera mulai ini.”
Keira menambahkan, “Tidak akan ada publikasi. Tidak ada eksposur.”
“Tepat,” jawab Rizuki. “Aku tidak ingin nama siapa pun muncul.”
" Adakan pertemuan dengan pemerintah pusat dan daerah, bahwa bluesky corporation akan segera melakukan investasi di tempat itu " . Ucap rizuki serius. " Pastikan kebijakan tidak menyulitkan kita ". Imbuh rizuki.
" Baik biar kami yang menangani nya ". Keira menjawab itu dengan tegas.
Panggilan berakhir. Rizuki mematikan layar, lalu menyimpan kembali ponsel ke-2 ke dalam tas, menutup ritsleting dengan hati-hati. Tidak satu pun perangkat tertinggal di luar.
Ia melirik ponsel ke-3 sekilas—tetap gelap, sunyi, tak tersentuh. Dunia itu akan bergerak tanpa suara, tanpa saksi.
Rizuki kembali mendekati tempat tidur. Vhiena bergerak kecil dalam tidurnya, bergumam pelan tanpa makna. Rizuki berhenti sejenak, memastikan tidak ada cahaya atau benda asing yang terlihat.
Tas kembali ke tempatnya. Rizuki duduk di tepi ranjang, menatap wajah Vhiena dengan ekspresi yang sulit dijelaskan—tenang, namun penuh keputusan.
Di malam yang sunyi ini, tanpa satu pun kata terucap, arah hidup ribuan orang baru saja berubah.
Lampu meja ia matikan. Rizuki berbaring, menutup mata. Dan jauh di kota kecil bernama Ravelin, sebuah perubahan akan mulai bergerak—diam-diam, tanpa sorotan, tanpa nama.
Bersambung.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/