Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji
Riven tidak bergerak, pistolnya tetap terarah tepat ke dahi Serra dengan jarak yang hanya sejengkal. Mata pria itu menatap tajam penuh kecurigaan. Satu tarikan pelatuk saja sudah cukup untuk mengakhiri semuanya.
"Jangan main-main denganku," suara Riven bergetar tipis oleh amarah yang lama tertahan. "Kau telah mengkhianati organisasi!."
Serra tetap berdiri tegak di hadapannya dengan tangan masih terangkat, semua senjata sudah ia lepaskan sejak memasuki ruangan. Tidak ada gerakan defensif, ataupun upaya untuk melawan. Hanya ketenangan yang hampir terasa provokatif.
"Aku tidak datang untuk meminta maaf," ucap Serra datar.
Alis Riven berkerut tajam, pistolnya semakin menekan ke dahi Serra. Wanita dengan penampilan bak sekertaris itu menghela napas pelan, lalu mengeluarkan benda kecil berbentuk kancing dari dalam saku kemejanya.
"Kau boleh membunuhku," katanya tenang, "tapi setelah mendengar ini," ujarnya seraya menyodorkan alat perekam pada Riven.
Riven tidak langsung mengambilnya, tatapan pria itu turun ke benda kecil tersebut, lalu kembali menatap Serra dengan penuh waspada, "Cih, trik murahan", Serra menggeleng, "ini bukti" timpalnya.
Pada akhirnya, Riven meraih rekaman berbentuk kancing tersebut dengan tangan kiri, sementara tangan kanan masih mantap memegang pistol. Ujung laras nya belum bergeser sedikit pun dari dahi Serra.
Klik!
Rekaman itu menyala, setelah Serra mengaktifkan lewat ponsel barunya. Terdengar jelas suara beberapa orang pria yang sedang berbincang, dan salah satunya sangat Riven kenali, Adrian Vale? batinnya.
Riven membeku, tatapan yang tadinya dingin kini menyempit, ia mulai fokus mendengarkan suara dalam rekaman tersebut. Setiap kata terdengar tajam, strategis, dan mustahil dipalsukan. Itu bukan sekadar suara acak, melainkan pengakuan terselubung, yang hanya bisa diketahui oleh target tingkat tinggi.
Jemari Riven yang masih di pelatuk tidak lagi menekan. Suara rekaman terus berjalan, mengisi ruangan, menusuk keheningan dan menembus pertahanan Riven sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya, secara perlahan pistol Riven turun beberapa sentimeter.
"Dari mana kau dapatkan ini?," suara pria itu masih terdengar dingin, namun tidak sekeras sebelumnya.
"Terjadi secara kebetulan," balas Serra datar.
Riven mengernyitkan dahi, menatap kembali lawan bicaranya, mencoba membaca kebohongan sekecil apa pun dari ekspresinya. Namun ia tidak menemukan adanya kegelisahan apapun, Serra tetap tampak tenang dan dingin.
"Masih curiga?," suara Serra terdengar seperti menantang, "lokasi Adrian Vale sudah ditemukan."
Hening jatuh seperti beban berat di ruangan itu.
Pistol di tangan Riven kini turun sepenuhnya. Tatapan yang semula penuh waspada kini berubah menjadi tertarik, namun hal itu justru jauh lebih berbahaya, "Jika ini bohong, aku akan melempar jasad mu dari atas tebing," gertaknya.
Serra menatapnya lurus, "lakukan saja."
Tidak ada dramatisasi, kalimat itu keluar begitu saja, seperti fakta yang sudah ia terima sejak melangkah masuk ke ruangan ini. Mata Riven sedikit melebar, ia tahu betul jika Serra sudah bersikap seperti itu, pasti ada sesuatu yang wanita itu rencanakan.
"Oh ya, aku kembali untuk membuat perjanjian," Serra mulai mengulurkan tangannya.
Alis Riven naik tipis, "Wah, setelah semua yang kau lakukan, kau pikir masih punya posisi untuk bernegosiasi?," ketusnya.
Serra tidak menurunkan uluran tangannya, wanita itu malah makin mendekat, membuat lawan bicaranya mundur beberapa langkah, "aku akan kembali ke organisasi, sepenuhnya," ekspresi wajah cantik itu terlihat seperti seseorang yang sudah membuat keputusan final.
Untuk pertama kalinya sejak awal pertemuan, Riven benar-benar diam tanpa kata. Pistol di tangannya kini hanya tergenggam longgar di samping tubuh. Matanya menyipit, seolah melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keputusan strategis.
"Ethan Hale? bocah herbal itu?."
Serra tidak menjawab.
"Haha.." Riven tertawa pahit, "sebegitu pentingnya, ya?" nadanya sedikit meledek.
Serra tetap diam, wanita itu tidak menyangkal tapi tidak juga membenarkan. Hal itu cukup bagi Riven untuk memahami situasi. Namun ia tidak menyambut begitu saja uluran tangan Serra.
Pria itu mengaitkan sebatang rokok pada bibir Serra, lalu menyalakan rokok tersebut menggunakan korek api gas miliknya. Serra menyambut dengan menyesap perlahan, lalu menghembuskan nya tepat di depan wajah Riven.
Pria berjambang tipis itu mulai menyunggingkan senyum, pertanda jika ia menyambut kehadiran Serra kembali.
...----------------...
Sementara itu, seorang pria tengah duduk santai di kursi kulit hitamnya, menatap layar monitor yang menampilkan rekaman di ruangan kerja Riven. Di dalam layar, terlihat jelas dua sosok pembunuh hebat yang saling berbicara.
Senyum tipis terukir di wajah pria itu, "hmm.. menarik," gumamnya pelan.
Seorang staf di sampingnya tampak tegang. "T-tuan, apakah perlu intervensi? sepertinya mereka akan bekerja sama lagi tanpa persetujuan resmi," ujarnya ragu.
"Hahaha, tidak perlu," tuan besar justru terbahak,
matanya berbinar penuh kepuasan, "dua aset senjata terbaikku… akhirnya kembali bergerak di papan yang sama." Ia menyilang kan jari di depan wajahnya, lalu menyunggingkan senyum, "kombinasi yang sangat sempurna."
Staf tersebut hanya mengangguk, tanpa berani membantah.
...----------------...
Ditempat lain, perayaan festival tahunan tengah berlangsung. Namun atmosfir meriah itu seketika berubah canggung setelah seorang gadis kecil berkacamata tiba-tiba muncul dari balik pintu mobil lalu menghampiri seseorang sambil berteriak dengan lantang.
"AYAHHHH!!!".