Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Keheningan di ruang tamu terasa begitu mencekik setelah Mbak Siska dan Mbak Tia membantu merapikan belanjaan yang berserakan dengan wajah kecewa.
Adnan berdiri mematung di depan pintu kamar yang tertutup rapat.
Rasa bersalah menghujam jantungnya lebih tajam daripada batu-batu di pesantren tempo hari.
Dengan tangan gemetar, Adnan mampu mengetuk pintu kamar itu. Ketukannya pelan, ragu, dan penuh penyesalan.
"Sayang, tolong buka pintunya. Mas minta maaf..." suara Adnan parau, nyaris pecah.
"Mas bodoh, Mas dikuasai amarah karena foto-foto itu. Mas benar-benar khilaf, Kinan."
Tidak ada jawaban dari dalam. Hanya kesunyian yang menyakitkan.
Adnan menyandarkan keningnya di daun pintu kayu itu, memejamkan mata dengan sesak yang luar biasa.
"Mas tahu Mas salah karena meragukanmu. Mas mohon, jangan hukum Mas dengan diammu, Sayang," rintihnya lagi.
Di dalam kamar, Kinan menghapus air matanya dan membuka pintu. Namun, tidak ada binar cinta di matanya.
Wajahnya datar, sembab, dan memancarkan luka yang sangat dalam.
Ia tidak menatap mata Adnan, melainkan berjalan melewati suaminya seolah pria itu hanyalah bayangan yang tak kasat mata.
Tanpa sepatah kata pun, ia menuju ke dapur. Fokusnya kini bukan lagi pada luka hatinya, melainkan pada tanggung jawab yang sudah ia sanggupi.
Lima puluh porsi cumi hitam untuk hari Minggu tidak bisa menunggu air matanya kering.
"Mbak Siska, Mbak Tia. Mari kita mulai. Cuminya harus segera dibersihkan agar tetap segar," ucap Kinan dengan suara yang berusaha tetap stabil, meski getarannya masih terasa.
Ia mengajak Mbak Siska dan Mbak Tia membantunya menyiapkan bumbu-bumbu.
Kinan dengan cekatan mengulek cabai dan bawang, tangannya bergerak lincah meski sesekali ia harus mengusap hidungnya yang memerah.
Adnan mencoba mendekat ke arah dapur, ingin membantu atau sekadar berada di dekat istrinya untuk menunjukkan rasa sesalnya.
Ia mengambil pisau untuk membantu mengupas bawang, namun Kinan langsung menggeser talenan itu menjauh.
Sepanjang sore hingga malam, ia tidak mengajak bicara suaminya.
Setiap kali Adnan mencoba membuka percakapan atau menawarkan bantuan, Kinan hanya membalas dengan anggukan dingin atau langsung mengalihkan perhatiannya kepada kedua asistennya.
"Mbak Tia, tolong ambilkan garam di rak atas," ujar Kinan, mengabaikan tangan Adnan yang sudah lebih dulu meraih botol garam tersebut.
Suasana dapur yang biasanya hangat dan penuh tawa kini terasa dingin dan kaku.
Adnan hanya bisa berdiri di sudut ruangan dengan hati yang remuk, menyaksikan istrinya bekerja keras dalam diam yang membungkam.
Ia baru menyadari bahwa luka fisik akibat lemparan batu warga bisa sembuh dengan perban, namun luka di hati Kinan akibat tuduhannya mungkin membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk pulih.
Ketegangan di dapur masih terasa sangat kaku. Hanya suara denting sodet yang beradu dengan wajan besar dan riuh rendah suara Mbak Siska serta Mbak Tia yang mencoba mencairkan suasana.
Adnan berdiri di ambang pintu dapur, memandangi punggung istrinya yang masih bungkam seribu bahasa.
Tiba-tiba, ponsel Adnan yang tergeletak di meja makan berdering nyaring.
Nama yang muncul di layar membuat jantung Adnan berdegup lebih kencang.
Telepon dari Kyai Mansyur. Adnan segera mengangkatnya, berharap ada kabar baik atau setidaknya sesuatu yang bisa meredakan badai di rumahnya.
"Assalamualaikum, Abah," sapa Adnan dengan suara rendah.
"Waalaikumsalam, Adnan. Abah menelepon untuk menyampaikan bahwa Minggu malam ini ada acara syukuran dan doa bersama di pondok. Abah ingin kamu dan Kinan datang. Abah ingin secara resmi memperkenalkan kalian kembali di depan para pengurus dan warga dengan cara yang terhormat," suara Kyai Mansyur terdengar jauh lebih tenang dan penuh wibawa dibanding sebelumnya.
Setelah menutup telepon, Adnan menarik napas panjang. Ini adalah kesempatan besar untuk memulihkan nama baik mereka di pesantren lama, namun ia tahu kondisi hati Kinan sedang tidak baik-baik saja.
Adnan mendekat ke arah istrinya yang sedang mengaduk bumbu cumi hitam yang pekat.
Aroma gurih menyeruak, namun suasana hati di antara mereka tetap terasa hambar.
"Kinan, Abah mengundang kita Minggu malam nanti. Ada acara di pondok," ucap Adnan pelan, mencoba mencari celah untuk kembali bicara.
"Abah ingin kita hadir."
Mendengar nama Abah disebut, gerakan tangan Kinan terhenti sejenak.
Ia terdiam, menatap uap panas yang membumbung dari wajan besar di depannya.
Ada rasa sesak yang kembali muncul mengingat kejadian pengusiran itu, namun ia juga teringat bagaimana Abah akhirnya mau menerima bekal masakannya kemarin malam.
Tanpa menoleh, tanpa sepatah kata pun, Kinan menganggukkan kepalanya sekali dengan gerakan yang singkat.
Setelah itu, ia kembali memasak cumi itu dengan tekun.
Tangannya kembali lincah mengaduk, memastikan bumbu hitamnya meresap sempurna ke dalam setiap potongan cumi segar untuk pesanan lima puluh porsi besok.
Adnan menghela napas, merasa lega karena Kinan bersedia ikut, namun sekaligus sedih karena istrinya masih memilih untuk membungkamnya dengan diam yang menyakitkan.
Ia menyadari bahwa meski raga Kinan ada di sana, hatinya masih terkunci rapat di balik luka yang ia buat sendiri.
Malam itu, di bawah temaram lampu dapur, Kinara terus bekerja dalam diam, sementara Adnan hanya bisa menatapnya dengan rasa bersalah yang tak berujung, berharap acara di pondok nanti bisa menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua.
Suasana rumah yang biasanya hangat kini terasa dingin, meski uap gurih dari puluhan kotak bekal masih membumbung di ruang makan.
Aroma rempah cumi hitam yang pekat menjadi saksi bisu bisunya komunikasi antara suami dan istri itu.
Malam harinya, akhirnya selesai masak cumi hitam sebanyak lima puluh porsi.
Kotak-kotak itu tersusun rapi, tinggal menunggu fajar menyingsing untuk diantarkan ke rumah Ustadz Yusuf.
Tenaga Kinan terkuras habis, namun rasa lelah di fisiknya tak sebanding dengan rasa sesak di dadanya.
Mbak Siska dan Mbak Tia pamit pulang setelah memastikan dapur kembali bersih.
Mereka sempat saling pandang dengan cemas melihat ketegangan yang belum mencair antara majikan mereka, namun tak berani ikut campur.
"Bu Kinan, kami pulang dulu ya. Ibu istirahat, wajah Ibu pucat sekali," ucap Mbak Siska lembut. Kinan hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Setelah pintu depan terkunci, keheningan yang mencekam kembali menguasai rumah.
Adnan yang sejak tadi hanya bisa membantu hal-hal kecil, mencoba mendekati Kinan yang sedang merapikan celemeknya.
"Sayang, sudah malam. Ayo istirahat di dalam," ajak Adnan dengan nada memohon.
Ia mencoba meraih tangan Kinan, namun Kinan menarik tangannya dengan halus tapi tegas.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Kinan melangkah menuju lemari di dekat tangga.
Adnan terpaku melihat istrinya mengeluarkan selimut tebal. Kinan mengambil bantal dan memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu.
"Kinan, jangan seperti ini. Mas yang tidur di luar, kamu di kamar saja," cegah Adnan, hatinya perih melihat istrinya harus meringkuk di sofa yang sempit.
Kinan tetap bungkam. Ia merebahkan tubuhnya, membelakangi Adnan, dan menyelimuti dirinya hingga ke dada.
Isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini kembali mendesak di tenggorokan, namun ia mengigit bibirnya kuat-kuat.
Ia tidak ingin suaminya mendengar kerapuhannya.
Adnan terduduk di lantai di samping sofa, menatap punggung istrinya yang bergetar kecil.
Ia menyadari, tuduhannya sore tadi bukan sekadar kata-kata kasar, melainkan sebuah penghancuran rasa percaya yang selama ini menjadi fondasi mereka.
Malam itu, Adnan tidak beranjak. Ia tetap terjaga di lantai, menjaga istrinya yang tertidur dalam luka, sementara di luar sana, fajar hari Minggu mulai menyingsing—hari di mana pesanan lima puluh porsi harus diantar, dan malam di mana mereka harus kembali ke pesantren lama untuk memenuhi undangan Kyai Mansyur.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅