Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Kuil Pemujaan di Kedalaman Mansion
Setelah malam yang mencekam oleh aroma bensin dan letusan senjata, Valerie terbangun dengan perasaan yang asing. Sisi ranjang di sampingnya telah mendingin, menandakan Jerome sudah lama beranjak. Namun kali ini, ikatan batin di dadanya tidak terasa sesak oleh kecemasan. Sebaliknya, ia merasakan ketenangan yang dingin dan stabil mengalir dari arah suaminya—sebuah emosi yang sangat terkendali, seolah Jerome sedang berada di tempat yang paling membuatnya damai.
Valerie mengenakan jubah tidur sutranya, melangkah keluar menyusuri koridor sunyi. Di ujung lorong, matanya tertuju pada pintu lift pribadi yang jarang digunakan. Pintu itu terbuka, dan tanda digital menunjukkan lift sedang berada di lantai paling bawah—sebuah area yang bahkan tidak tercantum dalam denah mansion yang pernah diberikan Raka padanya.
Rasa penasaran mengalahkan keraguan. Valerie masuk ke dalam lift dan membiarkan mesin itu membawanya turun ke kedalaman bangunan. Begitu pintu terbuka, ia disambut oleh koridor marmer putih dengan pencahayaan remang yang sangat mewah. Di ujung koridor, sebuah pintu baja berat terbuka sedikit, memancarkan cahaya lembut dari dalam.
Valerie melangkah masuk, dan seketika napasnya tertahan di tenggorokan. Ini bukan gudang penyimpanan, bukan pula ruang kerja tambahan. Ini adalah sebuah "Kuil".
Ruangan luas itu dipenuhi dengan etalase kaca yang tertata rapi di bawah lampu sorot redup. Di dalamnya, tersimpan benda-benda yang membuat jantung Valerie berhenti berdetak sesaat. Sepasang sepatu olahraga buluk miliknya yang hilang saat kelas satu SMA. Sebuah buku catatan harian yang ia kira dicuri orang saat duduk di bangku SMP. Bahkan, ada bungkus permen yang pernah ia berikan pada seorang "pria asing" di taman sepuluh tahun lalu—pria yang kini ia sadari adalah Jerome.
"Kau menemukannya lebih cepat dari yang kukira, Valerie."
Suara bariton Jerome menggema di ruangan yang sunyi itu. Pria itu berdiri di sudut, jemarinya menyentuh sebuah gaun pesta berwarna merah muda—gaun yang Valerie kenakan saat malam kelulusan SMA.
Jerome menatap istrinya yang berdiri terpaku di tengah ruangan, menyaksikan "penyakit" terdalam yang selama ini ia sembunyikan. Ruangan ini adalah sejarah hidup Valerie yang ia curi sedikit demi sedikit selama sepuluh tahun. Jika laci di ruang kerja adalah galerinya, maka tempat ini adalah tempat ibadah pribadinya.
Jerome berjalan mendekat, setiap langkah sepatunya terdengar berat di atas lantai marmer. "Dunia mungkin akan menyebutku gila, Val. Seorang pria dewasa yang mengoleksi sepatu usang dan catatan lama milik seorang gadis remaja," ucapnya sembari menyentuh etalase kaca berisi jepit rambut Valerie. "Tapi bagiku, setiap benda di sini adalah bukti bahwa kau pernah bernapas, pernah tersenyum, dan pernah ada saat aku merasa hidupku tidak memiliki tujuan."
Jerome berhenti tepat di depan Valerie. Tatapannya terkunci pada mata istrinya yang mulai berkaca-kaca. "Saat kau bertunangan dengan Aiden, aku datang ke sini setiap malam. Aku duduk di tengah ruangan ini, mengelilingi diriku dengan barang-barangmu, hanya agar aku tidak pergi ke rumahmu dan membunuh keponakanku sendiri karena telah memilikimu."
Valerie menyentuh etalase yang berisi buku catatannya. "Jerome... buku ini. Aku menangis selama seminggu karena mengira menghilangkannya di bus. Ternyata kau yang mengambilnya?"
"Aku tidak mencurinya, Val. Aku menyelamatkannya," Jerome menarik Valerie ke dalam pelukannya dari belakang, menumpukan dagu di bahu istrinya. "Buku itu jatuh di trotoar. Aku mengambilnya, dan saat membacanya... aku tahu aku tidak akan pernah bisa membiarkan pria lain menyentuh jiwamu."
Valerie berbalik di dalam dekapan itu, menatap wajah Jerome yang tampak begitu tenang di tengah kegilaan ini. "Kau sudah mengawasiku sejauh ini? Sejak aku masih kecil?"
"Sejak kau memberikan permen itu padaku di taman, saat aku baru saja kehilangan ibuku," Jerome mengecup kening Valerie dengan pemujaan yang dalam. "Kau adalah cahaya pertama yang menyentuh kegelapanku. Sejak hari itu, aku bersumpah bahwa kau adalah milikku. Takdir hanya sedikit terlambat mempertemukan kita secara resmi."
Valerie menatap sekeliling ruangan itu sekali lagi. Di tengah ruangan, terdapat sebuah patung marmer yang sangat mirip dengannya, mengenakan kalung Blue Tear yang asli.
"Jerome, ini menakutkan... tapi kenapa aku merasa begitu dicintai?" bisik Valerie lirih.
Jerome menyeringai gelap. Ia mengangkat tubuh Valerie dan mendudukkannya di atas salah satu meja etalase kaca yang dingin. Ia berdiri di antara kedua kaki istrinya dengan sikap posesif yang mutlak.
"Karena kau juga memiliki sedikit kegelapan yang sama denganku, Valerie," geram Jerome. "Hanya wanita sepertimu yang bisa mencintai iblis sepertiku. Dan sekarang, di kuil ini, di depan semua kenangan yang kucuri darimu... aku ingin kau bersumpah."
Jerome mencengkeram rahang Valerie dengan lembut namun menuntut. "Bersumpahlah bahwa kau tidak akan pernah pergi. Bersumpahlah bahwa jika kau harus mati lagi, kau hanya akan mati di tanganku, bukan karena orang lain."
Rasa sakit di dada Jerome berdenyut syahdu saat Valerie menariknya untuk sebuah ciuman. Ia bisa merasakan pengabdian dan cinta istrinya yang mulai tumbuh menjadi obsesi yang setara dengan miliknya.
"Aku bersumpah, Jerome," bisik Valerie di sela ciuman mereka. "Aku adalah tawananmu, istrimu, dan dewi di kuilmu. Jangan pernah lepaskan aku."
Jerome tidak membutuhkan hal lain di dunia ini. Kekuasaan, harta, atau nama besar keluarga Renfred—semuanya terasa hambar dibandingkan momen ini. Di ruang bawah tanah yang tersembunyi, Jerome menyatukan tubuh mereka sekali lagi sebagai bentuk ritual pemujaan.
Setiap gerakannya adalah pengabdian. Setiap erangan Valerie adalah musik bagi jiwanya yang sakit. Jerome menandai setiap inci kulit istrinya, memastikan bahwa di dalam kuil ini, Valerie tahu siapa pemilik tunggal hidupnya.
"Kau adalah napas di paru-paruku, Valerie," bisik Jerome saat mencapai puncak. "Dan aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun, bahkan Tuhan sekalipun, mengambil napas itu dariku."
Malam itu, di kedalaman mansion yang gelap, sebuah ikatan yang lebih kuat dari pernikahan kontrak telah terbentuk. Sebuah ikatan di mana sang dewi akhirnya menerima iblisnya, dan sang iblis akhirnya menemukan rumahnya yang sejati.
...****************...