Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Rumah
Pagi itu matahari bersinar lebih terang dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan Arman yang melihat dunia dengan cara berbeda. Ia bangun dari sofa dengan punggung pegal dan leher kaku, tapi ada semacam kelegaan aneh yang mengalir di nadinya. Semalam sudah terlewati. Badai pertama sudah ia hadapi. Kini, tinggal menjalani hari-hari berikutnya dengan apa adanya.
Rani sudah bangun lebih dulu. Dari dapur terdengar suara wajan dan kompor, tapi tidak seperti biasanya—tidak ada aroma masakan yang menggoda, tidak ada suara Rani yang bersenandung kecil sambil menggoreng. Hanya suara benda-benda dapur yang dipindahkan dengan kasar, seperti sedang melampiaskan kekesalan.
Arman masuk ke dapur, berusaha bersikap biasa. "Pagi," sapanya.
Rani tidak menoleh. Ia sibuk menggoreng risoles untuk pesanan, matanya fokus pada wajan. Tubuhnya membelakangi Arman dengan bahasa tubuh yang jelas: jangan dekati aku.
"Mau gue bantu?" tanya Arman lagi.
Diam.
Arman menghela napas. Ia mengambil gelas, menuang air putih, lalu duduk di meja makan. Rani tetap tidak menghiraukannya. Setelah risoles selesai, ia langsung masuk ke kamar mandi, menutup pintu dengan suara yang agak keras—tidak membanting, tapi cukup untuk menunjukkan ketidaksukaan.
Arman menyelesaikan air putihnya sendirian. Ia melihat ke arah kamar Aldi yang masih tertutup. Anaknya mungkin masih tidur. Ada sedikit rasa bersalah yang mengusik, tapi segera ia tepis. Ini semua demi masa depan, bisiknya dalam hati. Aldi akan mengerti nanti.
Ia bangkit, menuju kamar mandi belakang untuk mandi. Setengah jam kemudian, ia keluar dengan penampilan yang berbeda. Bukan jaket ojol hijau yang biasanya ia kenakan, tapi kemeja batik lengan panjang warna cokelat tua—salah satu pemberian Nadia.
Celana bahan hitam, sepatu pantofel yang sudah semir. Rambutnya disisir rapi dengan sedikit gel. Ia tampak seperti pegawai kantoran yang akan berangkat kerja, bukan driver ojol yang akan ngejar setoran.
Rani yang kebetulan keluar dari dapur, melihatnya. Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Rani memandang Arman dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu tanpa ekspresi, ia berbalik dan masuk ke kamar, menutup pintu.
Arman merasa ada yang menusuk di dadanya, tapi ia abaikan. Ia mengambil kunci motor, mengecek ponsel, dan melangkah keluar. Pagi ini, ia tidak perlu berpura-pura jadi ojol lagi. Pagi ini, ia akan ke kantor—kantor Nadia—dengan status yang jelas sebagai suami sekaligus asisten.
---
Di rumah Nadia, suasana sangat berbeda. Begitu Arman masuk, ia disambut dengan senyum hangat dan secangkir kopi yang sudah mengepul di meja.
"Pagi, sayang," sapa Nadia, keluar dari dapur dengan celemek masih terikat di pinggang. Ia mengenakan dress bahan katun warna pastel pink yang membuatnya terlihat segar dan cerah. Rambutnya diikat ekor kuda rendah, poni jatuh di dahi. "Udah sarapan? Aku bikin nasi goreng spesial."
Arman tersenyum, duduk di kursi makan yang nyaman. "Pagi. Belum sarapan. Makasih."
Nadia menghidangkan nasi goreng dengan taburan bawang goreng dan telur mata sapi di atasnya. Aromanya menggoda. Ia duduk di seberang Arman, menyangga dagu dengan kedua tangan, matanya berbinar memandangi suaminya makan.
"Gimana kabarnya pagi ini?" tanyanya lembut. "Semalem tidur nyenyak? Kamu kelihatan capek."
Arman mengunyah pelan. "Biasa, tidur di sofa. Punggung agak pegal. Tapi nggak apa-apa."
Nadia menghela napas, meraih tangan Arman di atas meja. "Aku turut sedih, Sayang. Tapi kamu kuat. Aku tahu kamu kuat. Dan ingat, kamu punya aku di sini. Kapanpun kamu butuh tempat pulang, rumah ini selalu terbuka."
Kata-kata itu seperti siraman air hangat di hati Arman yang beku. Ia membalas genggaman Nadia. "Makasih, Nad. kamu nggak tahu seberapa berarti kamu buat aku."
"Aku tahu," bisik Nadia, tersenyum. "Dan aku juga sayang kamu."
Setelah sarapan, mereka mulai bekerja. Nadia menunjukkan koleksi baru thrift shop yang baru datang—beberapa gaun vintage, jaket kulit, dan aksesoris unik.
Arman membantu memotretnya, mencatat stok, dan sesekali memberikan pendapat tentang mana yang paling menarik. Suasana kantor kecil di rumah Nadia itu terasa seperti ruang keluarga yang hangat.
Tidak ada tekanan, tidak ada target yang membebani. Mereka bekerja sambil bercanda, sambil sesekali bertukar pandang mesra.
Siang harinya, Nadia memasak lagi. Kali ini menu sederhana: tumis kangkung, ayam goreng, dan sambal terasi buatannya sendiri yang terkenal pedas.
Mereka makan siang bersama di ruang tengah, ditemani acara televisi yang tidak terlalu mereka perhatikan. Bagi Arman, ini adalah momen-momen yang hilang dari rumahnya sendiri. Kebersamaan, perhatian, dan ketenangan.
"Arman," panggil Nadia di sela makan.
"Hmm?"
"Malam ini... kamu pulang?" tanyanya hati-hati, matanya menatap Arman dengan sedikit harap.
Arman terdiam. Ia memikirkan Rani yang sedingin es di rumah, yang tidak mau bicara, yang menutup pintu di depan wajahnya.
Ia memikirkan sofa keras yang akan ia tiduri lagi malam nanti, dengan seprai tipis dan tanpa selimut hangat. Lalu ia memandang Nadia, yang duduk di hadapannya dengan senyum lembut, yang telah menyediakan segala kenyamanan sepanjang hari.
"Nggak," jawab Arman akhirnya. "Aku di sini aja."
Nadia tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca bahagia. "Beneran?"
"Iya. Mending di sini daripada di sana dingin-dinginan."
Nadia bangkit, memeluk Arman dari belakang kursinya. "Makasih, Sayang. Aku senang banget."
Arman merasakan hangat pelukan itu, dan untuk sesaat, semua beban terasa ringan. Ia memejamkan mata, menikmati momen ini. Momen di mana ia merasa diinginkan, dicintai, dan dihargai.
---
Malam harinya, setelah makan malam dan mengobrol panjang, mereka duduk di balkon kecil rumah Nadia. Dari sini, terlihat lampu-lampu kota Jakarta yang berkelap-kelip di kejauhan. Nadia menyandarkan kepala di bahu Arman, tangannya melingkar di lengannya.
"Kita akan baik-baik aja, ya?" bisik Nadia.
"Iya," jawab Arman, mengecup keningnya. "Kita akan baik-baik aja."
Di dalam, ponsel Arman bergetar beberapa kali. Tapi ia tidak membukanya. Ia sudah tahu itu pasti dari Rani, dan ia belum siap menghadapi itu malam ini. Malam ini, ia memilih untuk bersembunyi di pelukan Nadia, di mana semua terasa aman dan damai.
---
Sementara itu, di rumah kecil di Bekasi, Rani duduk sendirian di ruang tamu. TV menyala tanpa suara, hanya gambar bergerak-gerak tanpa arti.
Di pangkuannya, ponsel yang sudah beberapa kali ia gunakan untuk menelepon Arman, selalu berakhir dengan nada sibuk atau tidak dijawab.
Aldi sudah tidur. Rumah sunyi, hanya suara detak jam dinding yang setia menemani. Rani menatap pintu depan yang masih tertutup rapat, berharap tapi juga tidak berharap. Arman tidak pulang. Lagi.
Ia menarik napas dalam-dalam. Tangannya meraba perutnya yang kosong—bukan lapar, tapi hampa. Pikirannya melayang ke masa lalu, ke saat-saat manis mereka dulu, sebelum semuanya hancur. Lalu ke masa depan, yang kini terasa begitu suram.
Matanya beralih ke kalender di dinding. Tanggal-tanggal sudah dicoret. Tinggal dua minggu lagi bulan Ramadhan akan tiba. Dan TK Aldi akan libur. Anak itu tidak perlu lagi diantar jemput setiap pagi.
Sebuah keputusan mulai terbentuk di kepalanya. Perlahan, tapi pasti.
Rani bangkit, berjalan ke kamar, dan membuka lemari. Ia mengeluarkan koper tua yang sudah lama tidak dipakai. Debu menempel di permukaannya, ia lap perlahan. .
Lalu ia mulai membuka laci, mengambil baju-baju miliknya dan Aldi, melipatnya dengan rapi, dan memasukkannya satu per satu ke dalam koper.
Ia tidak menangis. Tidak lagi. Air matanya sudah kering, setidaknya untuk malam ini. Yang ada hanyalah tekad dingin yang mengkristal di dadanya.
Ia tidak akan sanggup tinggal di rumah ini sendirian, menunggu suami yang mungkin pulang atau mungkin tidak. Ia tidak akan sanggup berpura-pura kuat di depan tetangga, di depan warung, di depan semua orang yang mungkin mulai bertanya.
Bulan puasa ini, ia akan pergi. Ke rumah orang tuanya di kampung. Jauh dari Jakarta, jauh dari semua kenangan pahit ini. Aldi akan ikut, tentu saja.
Biar Arman merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Biar Arman tahu bahwa ada harga yang harus dibayar untuk semua pilihannya.
Koper itu mulai penuh. Rani menutupnya, lalu duduk di tepi ranjang, memandangi Aldi yang tidur nyenyak dengan boneka mobil di pelukan. Air matanya akhirnya jatuh lagi, tapi kali ia biarkan. Ia mengusap rambut halus anaknya, mencium keningnya lembut.
"Maaf, Nak," bisiknya. "Mama harus pergi. Tapi Mama janji, kita akan baik-baik aja. Mama dan Aldi. Kita berdua."
Di luar, Jakarta malam masih ramai dengan segala hiruk-pikuknya. Di satu rumah, seorang perempuan sedang mengemas kepergian. Di rumah lain, seorang laki-laki sedang terlelap dalam pelukan istri mudanya, tak tahu bahwa dunianya sedang runtuh di tempat yang dulu ia sebut rumah.
Dua minggu lagi Ramadhan. Dua minggu lagi, semuanya akan berubah. Dan Arman, yang sedang menikmati kenyamanan di rumah Nadia, tidak tahu bahwa badai sesungguhnya belum berlalu. Ia hanya baru memasuki pusaran, dan ombak terbesar masih menunggu di depan.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.