Sebuah kisah cinta yang berakhir sia-sia, dimana ketulusan cinta Reina yang awalnya begitu penuh kebahagiaan bersama dengan Kevin yang diawali dari kisah LDR hingga pada tahun ketiga, tiba-tiba Kevin lost contact yang membuat Reina begitu kecewa dan sakit hati sehingga tak lagi bisa membuka hati untuk siapapun. Cinta Reina serasa habis dikisah cinta yang dia anggap akan berakhir bahagia. Apakah Reina bisa melupakan Kevin? Apakah Reina bisa membuka hati lagi? atau cintanya benar-benar habis dikisah 3 tahun yang sia-sia itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmawati18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Kerja Kevin
Sejak beberapa bulan Kevin tidka masuk kantor. Hani ini adalah hari pertama ia masuk setelah cuti panjang.
Suasana kantor masih sama tidak ada yang berubah sedikit pun. Kevin berjalan memasuki lift, ia memencet tombol angka 5 yang menandakan ruangannya berada di lantai 5. Setelah sampai ia menuju ke ruangannya. Ruangan kerja yang selalu menjadi tempat ternyaman bagi Kevin.
Ruangan ini masih sama tidak ad yang berubah sama sekali. Kevin melepas jasnya dan hanya mengenakan kemeja berwarna putih dengan dasi yang ia longgarkan. Ia duduk di kursi kerjanya sambil menyalakan layar laptopnya dan mulai bekerja.
Tokkk,,,Tokkk,,,
"Masuk".
CEKLEKK...
Suara pintu terbuka.
Asisten Kevin pun masuk.
"Permisi Pak, Ada yang ingin bertemu dengan Anda" Ucap Juno asisten Kevin.
"Siapa?" Tanya Kevin singkat.
"Saya juga tidak tahu Pak, katanya teman Bapak" jawan Juno Karena ia memang tidak mengetahui orang itu. Ia baru pertama kali melihatnya.
"Suruh dia masuk" ucapan Kevin.
"Baik Pak," Juno melangkah keluar dan menghampiri orang yang itu tadi.
Kevin memaju mundurkan kursinya sembari memikirkan siapa yang ingin bertemu dengannya. Seingatnya ia tidak pernah membuat janji dengan orang hari ini.
CEKLEKK...
Pintu kantor kembali terbuka.
"Permisi, Kevin" ucap seorang wanita yang berpakaian cukup rapih dengan rambut yang dibiarkan terurai begitu saja.
Kevin yang mendengar suara itu pun langsung memutar kursinya dan melihat ke arah wanita itu.
"Yeni, Kamu ngapain kesini?" tanya Kevin dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang ini.
Yeni adalah mantan kekasih Kevin sejak dulu. Mereka berpacaran cukup lama. Namun cinta mereka berakhir karena tak ada restu dari orang tua Yeni.
"Aku baru saja kembali dari London, aku sekalian mampir di tempat kerja kamu. Kamu nggak rindu Vin?" tanya Yeni.
Kevin mengernyit kan keningnya.
"Rindu? Untuk apa aku rindu. Kita sudah tidak ad hubungan apa-apa lagi. Lagian kamu juga sudah bertunangan" Jelas Kevin memutar kembali kursinya sambil membelakangi Yeni yang masih berdiri.
Yeni pun melangkah ke arah Kevin tanpa rasa canggung tiba-tiba memegang pundak Kevin dengan kedua tangannya dan sedikit membungkuk tepat di samping telinga Kevin.
"Kamu masih ingat kenangan kita 2 tahun yang lalu di ruangan ini Kevin?" ucap Yeni dan membenarkan posisinya dan berjalan dengan tangan yang bersedekap dada sambil memperhatikan setiap sudut ruang kerja Kevin.
"Jaga perilaku kamu ya Yeni, sekali lagi aku tekankan kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi" jelas Kevin dengan suara yang tegas.
Kisa masa lalunya kembali lagi di ingatannya.
Yeni terhenti ketika melihat sebuah foto yang terpajang di meja ruang kerja Kevin.
"Ini pacar kamu Vin?" tanya Yeni.
"Iya itu pacar aku, sekarang kamu keluar dari ruangan ku" Kevin menunjuk ke arah Pintu.
Yeni dengan mukanya yang santai saja pun kembali mendekat kearah Kevin.
"Aku katakan Kevin, aku tidak jadi tunangan. setalah aku pikir-pikir, aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku harap kamu bisa paham itu. Dan oiya aku lihat-lihat kamu tidak cocok dengan pacar mu ini dia masih terlalu muda untuk kamu pacari" Jelas Yeni sembari melangkah keluar meninggal ka Kevin yang hanya duduk terdiam tanpa melihat ke arah Yeni sedikit pun.
-
-
-
Yeni yang sedang mengendarai mobilnya pun kembali membayangkan kisah-kisah romantis waktu ia bersama Kevin 2 tahun yang lalu. Kota ini menjadi saksi hubungan mereka. Hingga pada akhirnya orang tua Yeni tidak merestui hubungan mereka dan orang tua Yeni memutuskan untuk membawa anaknya itu kuliah di London dan meneruskan usaha Ayahnya.
"Kevin, bagaimana pun caranya aku harus mendapatkan mu kembali. Aku harus mencari tahu siapa gadis itu" Batin Yeni sambil fokus mengemudi.
Sejak berpisah dari Kevin, tidak ada kata putus sama sekali diantara mereka. Meskipun sudah bertahun-tahun yang lalu, perasaan Yeni terhadap Kevin pun tidak pernah berubah sama sekali. Ia tetap mencintai laki-laki itu.
Dilain tempat Kevin yang memikirkan kata-kata terakhir dari Yeni tadi pun seketika membuat kepalanya pusing. Ia bersandar di kursinya sembari memijat-mijat kepalanya dengan tangan kanannya.
"Kenapa Yeni harus muncul lagi?" Gumam Kevin.
Ponsel Kevin berbunyi, ia segera melihat siapa yang menelponnya. Dan tentu saja itu telepon dari kekasihnya, Reina.
"Kevin, kamu lagi kerja?" tanya Reina.
"iya sayang, Kevin lagi ruangan. Ada apa? Kerjaan kamu lancar kan?" tanya Kevin balik.
"Ya gitu setiap hari pasti capek ngurusin inilah, berkas itu lah,,,Huffff ternyata dunia kerja tak semudah yang aku kira" jelas Reina sambil menghela nafas.
"Hehehehe,,, semangat ya sayang. Kerja emang gitu" Kevin tertawa kecil mendengar keluhan pacarnya itu.
"Nanti aku telpon lagi ya sayang, soalnya Abang Bara danteng. Nanti dia kira aku tinggal nyantai-nyanyai doang nggak kerja" Jelas Reina sambil mengakhiri telepon mereka.
Kevin kembali ke layar laptopnya dan mencoba kembali fokus pada pekerjaannya.
-
-
-
Bara masuk ke dalam ruangan kerja Adiknya itu. Reina yang menyadari itu pura-pura sok sibuk.
"Reina, tolong kamu siapkan laporan keuangan untuk 1 bulan terakhir dan bawa ke ruangan saya sekarang" ucap Bara seperti berbicara pada bawahannya. Dan memang sekarang ini Reina adalah bawahannya Bara.
"Aba,,,," ucapan Reina terhenti karena melihat mata Bara yang melotot ke arahnya.
"Bawah sekarang juga" tegas Bara dan melangkah pergi meninggalkan ruangan Reina.
Reina menghela nafas lagi. "Dasar Abang kasar, sukanya nyusain adiknya saja" dumel Reina sambil mencari berkas catatan keuangan yang diminta Bara tadi.
Bara yang sedang duduk di ruangannya pun menunggu Laporan yang ia minta tadi, ia ingin melihat bagaimana perkembangan perusahaan saat ini.
Suara ketukan dari arah pintu pun terdengar.
"Masuk!"
Reina pun masuk dengan membawa berkas yang diminta Abangnya tadi.
"Permisi Tuan yang terhormat, ini saya bawakan berkas yang Tuan minta tadi" Ucap Reina dengan na suara yang dibuat-buat.
"Reina, kamu jangan panggil Abang kalau di tempat kerja, Disini kamu harus belajar untuk profesional" jelas Bara sambil membuka berkas yang Reina bawah.
"Aku kan adiknya Abang, kenapa aku nggak boleh manggil Abang" Ucap Reina dengan posisi tangan bersedekap sambil menyandarkan diri di meja kerja Bara.
"Ini tempat kerja, jadi kamu harus panggil aku Pak, seperti yang dilakukan karyawan-karyawan lain disini" ucap Bara sambil melihat isi laporan keuangan perusahaannya.
"Iya, iya tapi ada syaratnya, Reina minta duit dong bang,,,,eee Pak Bara yang terhormat" ucap Reina menaikkan alisnya bergantian.
"Dasar bocah" Ketus Bara sambil mengeluarkan 5 lembar uang merah dari dompetnya dan memberikan kepada Reina.
Reina pun langsung mengambil uang itu dan berlalu keluar dari ruangan Abangnya dengan muka senyum-senyum penuh kegembiraan.
"Dasar Bocah Tengil" Gumam Bara sambil geleng-geleng melihat tingkah adiknya itu.
-
-
-