Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 6. BCS
Prasasti mengerjapkan matanya saat bangun pagi. Ia merasa bukan tidur di tempat tidur miliknya langsung membuka mata lebar-lebar.
Albi merasa ada yang bergerak mengerjapkan mata, ia mengeratkan pelukannya. Albi belum menyadari kalau yang dipeluk bukanlah guling miliknya.
Saat bersamaan keduanya menyadari sesuatu terkejut, langsung menarik selimutnya dan saling berebut.
"Kamu," kata keduanya bersamaan. Sial umpat mereka dalam hati.
"Apa yang sudah kamu lakukan padaku?" tanya Prasasti dengan nada tinggi.
"Apa maksudmu melakukan apa?" Albi justru tidak mengerti apa yang dikatakan Prasasti.
Prasasti merasa ada yang aneh, melirik di balik selimutnya. Ia pun menarik napas dalam airmatanya keluar dadanya terasa nyeri.
Albi melihat dirinya dalam keadaan tidak memakai kain sehelai pun, merasa kesal mengambil pakaian yang berserakan di lantai sambil berjalan ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Prasasti merasa kesal pada dirinya sendiri, kenapa bisa berbuat seperti ini. Penyesalan itu menghantuinya, perkataan papanya melintas dipikirannya membuatnya takut.
"Maafin aku, Pa. Maaf," kata Prasasti memeluk lutut sambil menangis.
Perasaan takut menyerang hatinya, ia bingung harus mengatakan apa kepada papanya nanti.
Dibalik pintu kamar mandi terdengar suara air dan tidak lama kemudian Albi keluar dengan wajah segar dan sudah berpakaian lengkap.
Prasasti tertegun menatap pria tampan bersamanya, ia belum menyadari kalau pria itu adalah Albi. Prasasti ingin sekali memukul dan menendang pria yang sudah merenggut kehormatannya.
"Kenapa melihatku seperti itu... Suka ya...?" Albi hendak berjalan keluar.
"Tunggu," Prasasti menahan langkah Albi.
Albi menoleh ke belakang menatap Prasasti terlihat menggoda dan membuatnya ingin melakukan sesuatu tapi ia urungkan.
”Apa kamu tidak merasa bersalah dengan apa yang terjadi?" tanya Prasasti dengan perasaan bingung.
Albi tahu apa yang dimaksud Prasasti, ia melihat pakaian Prasasti yang berserakan dilantai.
"Segera mandi, aku akan keluar sebentar," kata Albi kemudian berjalan meninggalkan Prasasti berada di kamar sendirian.
Prasasti merutuki dirinya sendiri, ia segera turun dan membersihkan tubuhnya. Prasasti merasa ada yang aneh pada tubuhnya, lalu menyibakkan selimutnya dan melihat kasur tempatnya tidur.
Tidak ada tanda apapun yang membuatnya curiga tapi melihat tubuhnya yang polos seperti ada sesuatu yang mengganjal.
Prasasti tidak mau menunggu lama segera membersihkan tubuhnya dengan pikiran kemana-mana lalu memakai pakaian lengkap dan menunggu Albi kembali.
Albi masuk ke dalam kamar melihat Prasasti duduk menatap pintu seolah mengharap sesuatu, keduanya saling pandang dengan perasaan asing.
Albi meletakkan beberapa makanan untuk mereka sarapan. Namun Prasasti menolak, ia ingin segera pulang.
“Makanlah pasti kamu lapar, setelah itu kita bicarakan masalah ini," kata Albi dengan sikap dingin.
"Kenapa kamu biasa saja dan tidak merasa berdosa?“ tanya Prasasti menelisik wajah Albi.
“Kamu pikir saja sendiri dirimu siapa," sahut Albi kesal.
Albi tahu tentang kehidupan Prasasti dari Bisma teman sekaligus asistennya. Kehidupan bebas Prasasti di dunia peselancar membuatnya berubah.
Prasasti tidak tahu dengan apa yang Albi ucapkan, membuatnya pusing. Prasasti mengambil makanan kemudian menyuapkan ke dalam mulutnya.
Albi memperhatikan cara Prasasti makan begitu elegan namun masih ada kesan bar-bar. Hatinya tersenyum penuh arti, kamu akan terkejut suatu saat nanti.
Selesai sarapan keduanya keluar dari kamar hotel berjalan menelusuri lorong menuju pintu keluar. Saat berada diparkiran Prasasti merasa aneh, ia tidak melihat motor miliknya.
"Ayo masuk, aku antar kamu pulang. Atau mau masih disini menunggu pria lain?" ajak Albi kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman sambil menyalakan mesin.
Prasasti melihat mobil Albi sebenarnya tidak mau karena tidak terbiasa naik mobil mewah. Ia lebih nyaman mengendarai motor sendiri meskipun motornya butut.
“Kamu bilang apa tadi menunggu pria lain, maksudmu aku wanita gak baik gitu?" sewot Prasasti masuk dan duduk dengan rasa tidak nyaman.
Prasasti merasa gelisah duduk disamping Albi meskipun ada jarak, ia tidak suka. Albi melihat sikap Prasasti tersenyum dalam hati kemudian melajukan mobilnya.
Prasasti melihat keluar jendela kaca sambil menggerutu sepanjang jalan. Dalam pikirannya bagaimana bisa tidur dengan pria yang tidak ia kenal.
“Dimana rumahmu?" tanya Albi melihat arah kanan kiri jalan.
"Nanti ada belokan ke kanan masuk , ada gerbang berwarna hitam," jawab Prasasti masih melihat keluar jalan.
Albi melajukan mobilnya pelan mengikuti perintah Prasasti, tidak lama mobil berhenti tepat didepan rumah berpagar warna hitam.
Prasasti turun setelah mengucapkan terimakasihz. Albi turun melihat suasana rumah tersebut.
Seorang satpam membukakan pintu gerbang dan menyapa majikannya. "Selamat pagi, Nona. Nona sudah ditunggu papanya ,Non di ruang kerja,"
Prasasti mengangguk paham berjalan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Albi menatap punggung Prasasti dengan hati bertanya.
“Jadi ini rumahnya," gumam Albi kemudian masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah mewah tersebut.
Fabio menatap tajam anaknya yang baru saja masuk ke ruang kerjanya. Prasasti tidak berani menatap papanya, ia merasa bersalah dan menyesali apa yang sudah terjadi.
Tamparan diwajah mulus Prasasti tidak membuatnya sakit justru menjadi sebuah peringatan. Prasasti tidak menangis, tidak pula mengaduh.
“Siapa pria itu?" bentak Fabio.
Prasasti mengangkat kepalanya melihat wajah papanya sambil menggeleng karena ia tidak mengenal pria yang bersamanya tadi.
"Chh, bagaiamana mungkin kamu tidak tahu pria yang bersamamu semalam, jangan menutupi kebohongan mu ,Prasasti," Fabio dengan perasaan kecewa.
Prasasti menghembuskan napas kasar. "Aku minta maaf karena tidak bisa menjaga amanah dari Papa. Apa yang terjadi aku juga tidak tahu. Malam itu aku_"
Prasasti tidak melanjutkan kalimatnya karena Fabio menyelanya.
"Jangan berkelit, Prasasti. Sudah jelas kamu tidur bersama pria yang bukan suami kamu masih saja mengelak, Papa kecewa sama kamu," Fabio menunjuk dengan jari telunjuknya.
"Dengerin aku menjelaskan semuanya, Pa. Kumohon sama Papa, aku dijebak sama orang... orang yang tidak aku tahu siapa, saat aku bangun sudah ada pria disampingku," Prasasti mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya.
Sebenarnya Fabio bukanlah orang yang ringan tangan tapi. ketika mendengar anaknya berbuat hal tak senonoh membuatnya sangat frustasi
Di lain tempat Albi sedang melampiaskan kemarahannya pada teman-temannya. karena sudah menjebaknya tidur bersama Prasasti.
"Oke, kami salah kami sudah menjebakmu , kami akui itu kesalahan kami," Abas akhirnya mengakui dan menghentikan pukulan Albi.
Albi menatap Abas dengan tatapan benci kemudian melihat temannya satu persatu. "Kalau bukan temanku, kalian sudah ku habisi,"
”Sebentar lagi orang tuanya datang ke rumahmu," kata Bisma membersihkan darah yang keluar dari sudut bibir.
”Apa maksudmu bicara seperti itu?" tanya Albi masih dengan sisa amarahnya sehingga tidak bisa mencerna perkataan Bisma.
"Meminta pertanggung jawaban sama kamu," jawab Bisma santai.