NovelToon NovelToon
PRODUSER YANG DIAM DIAM TERLUKA

PRODUSER YANG DIAM DIAM TERLUKA

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."

Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.

Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.

Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FANS RAHASIA DIDALAM KULKAS

Malam itu, Jakarta terasa tidak sepi biasanya bagi Ghava. Sinar lampu jalanan yang memantul di kaca depan mobilnya tidak lagi terlihat seperti garis-garis suram. Tanpa ia sadari, otot wajah yang biasanya kaku seperti semen kini melemas. Ada sebuah lengkungan tipis di bibirnya—sebuah senyuman yang sangat asing, namun terasa benar.

Ia sedang menyetir sambil memutar ulang melodi jujur yang dinyanyikan Nana di studio tadi. Suara itu terus bergema, mengisi ruang kosong di kepalanya yang selama tiga tahun ini hanya berisi kebisingan trauma.

Namun, senyum itu mendadak membeku saat matanya menangkap sosok yang sangat familiar di pinggir jalan.

Di bawah lampu neon kekuningan sebuah Warmindo (Warung Makan Indomie), tampak seorang gadis dengan kemeja yang sudah lecek duduk sendirian di bangku panjang kayu. Ia sedang menunggu pesanannya sambil asyik membalas pesan di ponsel, sesekali tertawa kecil sendiri.

Ghava memelankan laju mobilnya, lalu menepi di bahu jalan yang agak gelap. Dari balik kemudi, ia memperhatikan Nana.

Tak lama kemudian, sebuah mangkuk mengepul diantar ke depan gadis itu. Nana tampak sangat antusias, ia mengaduk mi-nya dengan penuh khidmat, lalu meniup-niupnya sebelum melahapnya dengan semangat yang sama seperti saat ia bernyanyi tadi sore.

Ghava menyandarkan punggungnya, menatap pemandangan itu dari kejauhan. Sebuah tawa kecil yang tulus akhirnya lolos dari tenggorokannya.

"Bener-bener mi instan pakai telur," gumam Ghava pelan pada dirinya sendiri.

Kalimat Nana tadi sore tentang jatuh cinta itu sesederhana menemukan parkiran kosong atau menikmati mi instan saat hujan, tiba-tiba terasa sangat masuk akal bagi Ghava. Ia melihat Nana yang tampak sangat bahagia hanya dengan semangkuk mi di warung pinggir jalan, sangat kontras dengan kehidupan artis-artis besar yang selama ini ia tangani.

Ghava merogoh ponselnya, ragu sejenak, lalu mengetik pesan singkat.

Ghava: Jangan makan mi instan tiap hari. Suara kamu bisa makin pecah.

Dari jauh, ia melihat Nana tersentak kaget saat ponselnya bergetar. Gadis itu celingukan ke kanan dan ke kiri dengan mulut yang masih penuh mi, mencari keberadaan si pengirim pesan.

Ghava segera mengalihkan pandangannya dan menginjak gas, melaju pergi sebelum Nana melihat mobilnya. Ia merasa jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.

Malam itu, si "Mas Kulkas" akhirnya benar-benar mencair, dan penyebabnya hanyalah seorang gadis berisik yang sedang makan mi instan di pinggir jalan.

Malam itu, bukannya beristirahat atau kembali berkutat dengan aransemen lagu Elvario, Ghava justru duduk di tepi ranjangnya dengan ponsel di tangan. Cahaya layar menyinari wajahnya yang tampak ragu.

Biasanya, Ghava hanya menggunakan media sosial untuk memantau tren musik atau perkembangan artis rival. Namun malam ini, jarinya mengetikkan nama yang sejak tadi berputar di kepalanya.

"Nadin Anara"

Satu hasil muncul. Foto profilnya memperlihatkan Nana yang sedang tertawa lebar dengan latar belakang tukang bakso, sangat jauh dari kesan estetik yang biasanya dipamerkan orang-orang di industri musik.

Ghava menarik napas panjang, lalu mulai menelusuri unggahan gadis itu.

Dunia Milik Nana

Isi akun Nana adalah sebuah kekacauan yang manis. Tidak ada foto studio yang rapi atau kutipan-kutipan bijak yang dibuat-buat.

Foto 1: Nana sedang memegang mangkuk mi ayam dengan ekspresi sangat serius, seolah sedang melakukan operasi bedah jantung. Keterangannya: "Cinta itu butuh pengorbanan, tapi mi ayam ini cuma butuh dua belas ribu. Jelas mana yang lebih setia."Video Singkat: Nana sedang menyanyi di dalam mobil angkot yang sepi dengan suara fals sengaja, membuat sopir angkotnya ikut tertawa di kaca spion.Foto 3: Sebuah foto pemandangan langit sore yang agak blur, dengan caption yang membuat jari Ghava berhenti menggulir: "Katanya langit itu tempat semua melodi yang hilang beristirahat. Kalau gitu, aku bakal nyanyi terus biar langit nggak pernah kesepian."Ghava terdiam membaca baris terakhir itu. Ia merasakan sebuah denyutan di dadanya. Kalimat itu terasa sangat kontras dengan dirinya yang selama tiga tahun ini memilih untuk membungkam melodi demi melarikan diri dari kesepian.

Penemuan Kecil

Ghava terus menggulir jauh ke bawah, hingga ia sampai pada unggahan dua tahun lalu. Di sana, Nana tampak sedikit berbeda. Rambutnya lebih pendek dan matanya tidak secerah sekarang. Ada sebuah foto buket bunga yang layu di tempat sampah dengan tulisan singkat: "Patah hati itu sumbang, tapi hidup harus tetap harmonis."

Ghava menyipitkan mata. Ternyata, gadis yang selalu berisik dan tertawa ini juga pernah hancur. Ia juga punya luka, namun bedanya, Nana memilih untuk menertawakan lukanya sementara Ghava memilih untuk membekukan seluruh dunianya.

"Jadi kita sama-sama korban 'nada sumbang'?" gumam Ghava pelan.

Tanpa sadar, jarinya hampir saja menekan tombol Like pada foto lama itu. Ia segera menarik jarinya kembali seolah baru saja menyentuh api.

"Gila kamu, Ghav," batinnya sambil melempar ponsel ke bantal.

Ia berbaring, menatap langit-langit kamar. Bayangan Nana yang sedang melahap mi instan di warmindo tadi kembali melintas. Di dunia Ghava yang penuh dengan standar tinggi dan kepalsuan, Nana adalah satu-satunya frekuensi yang terasa asli.

Dan entah kenapa, malam itu Ghava tidak lagi mendengar suara kesunyian yang mencekam di kamarnya. Ia justru mendengar sayup-sayup lagu "Pop-Ngawur" Nana di ingatannya, dan anehnya, itu adalah musik paling tenang yang pernah ia rasakan dalam tiga tahun terakhir.

Ghava nyaris tersedak udara sendiri saat baru saja melangkah masuk ke studionya. Ia belum sempat meletakkan tas laptop, tapi jantungnya sudah dipaksa bekerja lembur.

Di sana, di atas karpet abu-abu yang biasanya steril dari aktivitas santai, Nana sedang duduk bersila dengan posisi sangat nyaman. Ia tampak sedang menyusun beberapa lembar lirik cadangan untuk proyek berikutnya, tapi tatapannya langsung terkunci pada Ghava dengan binar jahil yang sangat familiar.

"Mas Ghava, kemarin Mas Ghava lihat aku di warmindo, ya?" tembak Nana tanpa basa-basi.

Ghava mematung di ambang pintu. Ekspresinya yang biasanya sedingin es kini tampak sedikit retak. Ia mencoba bersikap tenang, meskipun dalam hati ia merutuki pesan singkat yang ia kirim semalam. "Saya cuma lewat," jawabnya singkat, berusaha menjaga nada suaranya tetap datar.

Nana meletakkan kertas liriknya, lalu tertawa renyah hingga bahunya terguncang. "Mas Ghava selamat karena aku nggak lihat! Coba kalau lihat, pasti aku minta Mas Ghava bayarin. Lumayan kan, dapet traktiran dari produser mahal. Mi instan pake telur kornet itu harganya jadi berasa steak kalau dibayarin atasan!"

Ghava berjalan melewati Nana menuju meja kontrolnya, mencoba mengabaikan tawa gadis itu yang memenuhi ruangan. "Jangan bermimpi. Gaji kamu sudah lebih dari cukup buat beli satu kardus mi instan."

"Ih, pelit banget!" Nana mencibir, tapi kemudian ia bangkit berdiri dan mendekati meja Ghava. "Tapi makasih ya pesannya. Tumben banget Mas Kulkas perhatian sama kesehatan suara asistennya. Apa jangan-jangan... Mas Ghava semalam kangen sama suara aku ya?"

Ghava berhenti bergerak. Ia menatap layar monitor yang masih mati, mencoba mengumpulkan kembali wibawanya yang berceceran di lantai studio. "Saya cuma nggak mau sesi rekaman terganggu karena suara asisten saya serak akibat kebanyakan makan mecin. Itu kerugian profesional."

Nana menyipitkan mata, menumpu dagunya di pinggir meja Ghava—posisi favoritnya untuk mengganggu pria itu. "Masa? Bukan karena Mas Ghava diem-diem stalking sosmed aku juga?"

Pertanyaan itu membuat Ghava refleks menoleh. Untuk sekejap, mata mereka bertemu. Ghava bisa melihat pantulan dirinya di mata Nana yang jernih, dan entah kenapa, ia merasa seperti pencuri yang tertangkap basah.

"Jangan terlalu percaya diri, Nadin," gumam Ghava, meski suaranya tidak setajam biasanya.

Nana hanya tertawa lagi, sebuah suara yang kini mulai terdengar seperti melodi wajib bagi Ghava setiap pagi. "Tenang aja, Kak. Kalaupun Kakak stalking, aku bakal pura-pura nggak tahu kok. Anggap aja itu fans rahasia."

Ghava mendengus pelan, lalu menyalakan sistem audionya. Namun, di bawah meja, jarinya mengetuk-ngetuk irama yang sama dengan tawa Nana barusan.

"Kerja, Nadin. Jangan cuma duduk di karpet," perintah Ghava.

"Siap, Mas Bos Kulkas!" seru Nana sambil memberikan hormat pramuka, lalu kembali ke karpetnya dengan senyum kemenangan.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
lnjut banyakk
Pa Muhsid
jangan jangan mantan nana nih kalo iya sikat ghav na jangan kasih kendor
falea sezi
di kubur gmn gav kenyataan lu dlu. pcrn ma. nadin sering tidur bareng kan hmmmmm km. itu g cocok buat Nadine pantes surya ngotot gk. kasih restu wong qm bukan cowok baik dih/Puke/
falea sezi
g rela deh klo dpet gava laki. bekas dih
falea sezi
berarti gava ma selya uda sering nganu dih g sepolos yg q bayangin
falea sezi
cwek ga tau malu si selya
falea sezi
baru nyimak
yoke oktaviansyah
💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!