Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingsan
Kesadaran Lara muncul perlahan, setengah dipaksa oleh suara berisik yang terasa seperti berasal dari dunia lain. Matanya masih terpejam rapat, sementara tangannya meraba-raba kasur dengan gerakan malas, mencari sumber gangguan itu.
Getarannya semakin intens.
Dengan wajah mengernyit dan rambut berantakan, Lara akhirnya menemukan ponselnya yang terus berdering. Tanpa membuka mata, ia mengangkat telepon dan menempelkannya ke telinga.
“Halo…”
Suaranya serak, berat, khas orang yang baru bangun tidur setelah begadang —ngedrakor semalaman, dan laptopnya masih setia terbuka di meja belajar sebagai saksi kejahatan dini hari itu.
Di seberang sana terdengar helaan napas kecil, lalu sebuah suara yang terlalu familiar untuk diabaikan.
“Kamu baru bangun?”
Lara tidak langsung menjawab. Otaknya masih butuh waktu beberapa detik untuk mencerna bahwa suara itu milik Arka.
“Hmm…” gumamnya pelan, nyaris seperti dengkuran lanjutan.
Arka tertawa kecil. Nada suaranya terdengar santai, tapi jelas ada unsur perhatian di sana.
“Kamu hari ini nggak ada jadwal ke kampus?”
“Ada…” jawab Lara otomatis, masih setengah sadar.
Arka terdiam sesaat.
“Lara,” panggilnya pelan tapi tegas, “sekarang sudah hampir jam delapan.”
“Hmmm… iyaa…”
Jawaban itu keluar begitu saja, tanpa makna, tanpa urgensi.
Beberapa detik berlalu. Sunyi.
Lalu tiba-tiba Lara mengerutkan kening.
“Eh…” katanya lirih, lalu menyipitkan mata meski masih terpejam.
“Jam berapa tadi?”
“Setengah delapan,” ulang Arka sabar.
Dan detik berikutnya—
“HAH?!”
Mata Lara terbuka lebar. Ia langsung duduk tegak di ranjang, selimut terlempar begitu saja. Pandangannya menyapu jam dinding, lalu kembali ke layar ponsel seolah berharap waktu berbaik hati padanya.
“YA AMPUN—DOSEN KILLER JAM PERTAMA!”
Arka belum sempat bereaksi ketika Lara sudah panik sendiri. Suara berisik terdengar dari seberang—gesekan selimut, langkah tergesa, dan bunyi lemari dibuka asal-asalan.
“Aku telat! Aku telat! Aku telat!” ocehnya panik.
“Lara, sarapan dulu—”
“AKU PERGI DULU YA PAMAN!”
Telepon langsung terputus.
Arka menatap layar ponselnya yang kini gelap, lalu menghela napas panjang. Sudut bibirnya terangkat tipis, antara gemas dan pasrah.
“Anak itu…” gumamnya pelan.
Ia melirik jam tangannya, lalu bergumam lagi, kali ini lebih lembut ."Semoga dia sempat sarapan."
Di tempat lain, Lara berlari-lari kecil di apartemen sambil menyambar tas dan jaketnya dengan tergesa -gesa.
Dan pagi itu pun dimulai… dengan kekacauan khas Lara. Pagi yang terasa seperti siksaan berkepanjangan baginya.
Ia duduk di bangku kelas dengan punggung sedikit membungkuk, dagunya hampir jatuh ke dada. Matanya setengah terbuka, setengah terpejam—berjuang melawan kantuk yang terasa jauh lebih kejam dari tatapan dosen killer di depan kelas.
Suara spidol yang menari di papan tulis terdengar seperti nina bobo versi horor.
“Fokus, Lara… fokus…” gumamnya pelan sambil mencubit pahanya sendiri.
Tapi itu Percuma.
Kepalanya terasa berat, perutnya kosong, dan kelopak matanya seperti diberi pemberat. Belum sarapan, begadang semalaman, lalu dipaksa berpikir kritis sejak pagi—kombinasi maut yang sempurna.
Beberapa kali kepalanya hampir terangguk jatuh, tapi ia buru-buru menegakkan badan setiap kali dosen itu melirik ke arahnya. Rasanya ingin menghilang saja dari dunia, atau minimal menghilang dari kelas dan lanjut tidur di mana pun.
Akhirnya, setelah perjuangan panjang yang terasa seperti seabad, kelas pun berakhir.
Lara menghembuskan napas lega begitu dosen keluar ruangan. Ia meraih tasnya dengan gerakan lemas, tubuhnya terasa ringan tapi juga rapuh. Kepalanya masih sedikit pening, tapi ia memutuskan keluar kelas—mencari udara segar, atau mungkin mencari Axel, entah kenapa keberadaannya terasa seperti jangkar akhir-akhir ini.
Sementara itu, di arena basket kampus…
Suara sepatu berdecit di lantai, bola yang dipantulkan keras, dan teriakan semangat memenuhi lapangan. Revan dan tim basketnya sedang memanfaatkan jam kelas yang lowong untuk latihan.
Keringat membasahi pelipis Revan, tapi wajahnya tetap santai. Hingga, di sela-sela permainan, pandangannya menangkap sosok yang sangat ia kenal.
Sosok Axel yang duduk santai di bangku seberang lapangan, satu kaki disilangkan, tatapannya kosong tapi jelas sedang menunggu seseorang.
Senyum tipis—lebih tepatnya senyum usil—muncul di wajah Revan.
“Oh… dia,” gumamnya.
Tanpa pikir panjang, niat lama yang selalu muncul tiap melihat Axel kembali bangkit. Sebuah provokasi kecil. Sekadar untuk mengusiknya. Refleks yang entah sejak kapan jadi kebiasaan.
Revan mengambil bola, menggenggamnya dengan mantap, lalu mulai ancang-ancang. Sudut matanya sempat melirik ke arah Axel—dan pada detik yang sama, ia melihat sosok lain mendekat.
Lara.
Revan menyadarinya. Tapi semuanya terjadi terlalu cepat.
Bola sudah terlepas dari tangannya. Meluncur dengan cepat. Bahkan terlalu cepat.
“REV—!” teriak salah satu anggota tim, tapi sudah terlambat.
Axel yang melihat Lara berjalan ke arahnya bahkan belum sempat bereaksi ketika—
DUK!
Bunyi benturan keras itu menggema.
Bola basket itu mendarat telak di jidat Lara.
Semua suara seolah berhenti.
Lara terhuyung, matanya membesar karena kaget. Tasnya terlepas dari bahu. Dunia di sekelilingnya berputar—kantuk, lapar, pusing, dan rasa sakit menyatu tanpa ampun.
“Lara!” seru Axel panik sambil berdiri.
Revan membeku di tempat. Wajahnya pucat. Senyum liciknya lenyap seketika.
“Gue—” napasnya tertahan, “gue nggak—”nafas Revan terasa sesak.
Namun Lara sudah tidak mendengar apa pun lagi.
Tubuhnya goyah, lalu jatuh ke depan. Dan detik berikutnya, Lara pingsan.
Keributan seketika pecah.
Axel berlari menghampiri, menangkap tubuh Lara sebelum benar-benar membentur lantai. Wajahnya penuh kepanikan, tangannya gemetar saat menopang kepala Lara.
“Lara! Bangun! Lara, dengar aku!”
Revan mendekat dengan langkah cepat, matanya tak lepas dari gadis yang kini terkulai tak sadarkan diri itu.
Perasaan bersalah menghantamnya dengan telak. Untuk pertama kalinya, provokasi kecilnya berubah jadi sesuatu yang serius.
“Lara!” Suara Revan terdengar nyaring, nyaris putus oleh kepanikan.
Ia berlari mendekat begitu melihat tubuh Lara terkulai di lengan Axel. Wajah Revan yang biasanya santai kini berubah tegang, matanya terpaku pada wajah pucat Lara.
“Lara, bangun… hey, dengar aku!” panggilnya lagi, refleks berjongkok di samping Axel.
Axel terkejut.
Bukan karena kepanikan Revan— tapi karena cara Revan memanggil nama Lara.
Yang terdengar terlalu familiar. Dan sejak kapan Revan mengenal Lara?
Pertanyaan itu melintas cepat di benak Axel, namun tidak sempat ia cerna lebih jauh. Fokusnya sekarang hanya satu—yaitu Lara.
“Dia kenapa, Van?” suara Axel bergetar.
Revan menelan ludah, dadanya naik turun. Ia mendongak menatap Axel, lalu berkata tegas tanpa basa-basi, seolah nalurinya langsung mengambil alih.
“Bawa ke UKS. Sekarang.”
Axel mengangguk cepat.
“Aku bopong,” ucap Axel sambil mengatur posisi Lara di lengannya, memastikan kepala gadis itu bersandar dengan aman di dadanya.
Revan berdiri, menatap Axel sekilas—tatapan yang penuh kekhawatiran.
“Aku panggil dokter sama petugas UKS,” lanjut Revan, suaranya sedikit terengah, “Ayo cepat bawa dia."
Axel tidak menjawab,dan langsung mengangkat tubuh Lara kedalam pelukannya.
Langkahnya cepat, hampir setengah berlari menyusuri koridor kampus dengan membopong Lara. Rambut gadis itu sedikit berantakan, wajahnya pucat, napasnya samar tapi masih terasa.
“Bertahan ya, Ra…” gumam Axel lirih, nyaris seperti doa.
Di belakangnya, Revan berlari menyusul, tangannya gemetar saat meraih ponsel. Ia menekan nomor darurat kampus dengan jari yang tidak sepenuhnya stabil.
Sementara Axel, tanpa menoleh ke belakang, mulai menyadari satu hal yang mengganggu pikirannya sejak tadi—
Kenapa Revan terlihat sepeduli itu?
Dan sejak kapan Lara menjadi titik temu di antara mereka berdua?
Berkat gerak cepat mereka berdua, Lara akhirnya ditangani tanpa banyak hambatan.
Di ruang UKS yang berbau antiseptik itu, Lara terbaring di atas ranjang dengan selimut tipis menutupi tubuhnya. Wajahnya masih pucat, matanya terpejam, dadanya naik turun pelan.
Axel berdiri di sisi kiri ranjang, tangannya terkepal tanpa sadar. Revan berdiri beberapa langkah di seberang, bersandar pada dinding dengan tangan disilangkan, namun sorot matanya sama gelisahnya.
Sunyi. Tidak ada obrolan antara mereka. Hanya suara detik jam dinding yang terasa terlalu keras.
Tak lama kemudian, dokter keluar dari balik tirai setelah melakukan pemeriksaan. Axel dan Revan refleks melangkah maju bersamaan.
“Dok, gimana keadaannya?”
“Apa dia serius?”
Dua suara itu keluar hampir serentak.
Dokter sempat terkejut, lalu tersenyum tipis. “Tenang dulu.”
Axel dan Revan sama-sama menahan napas.
“Secara umum, kondisinya tidak berbahaya,” lanjut dokter. “Fisik pasien sedang drop. Kurang istirahat, kelelahan, dan—” dokter melirik catatan di tangannya, “perutnya kosong. Sepertinya hari ini dia belum sarapan.”
Axel menghela napas panjang, bahunya sedikit merosot.
Revan mengusap tengkuknya, merasa bersalah entah kenapa.
“Benturan di kepala tadi memang membuatnya kaget, tapi bukan itu penyebab utama pingsannya,” tambah dokter. “Setelah sadar nanti, dia perlu makan, minum yang manis, dan istirahat yang cukup. Tidak perlu rawat inap.”
“Jadi… dia bakal sadar?” tanya Axel, suaranya lebih pelan.
“Iya. Tidak lama lagi,” jawab dokter mantap. “Kalian tidak perlu panik.”
Revan dan Axel sama-sama mengangguk.
Untuk sesaat, rasa cemas itu mereda—digantikan kelegaan yang samar.
Dokter pun berpamitan dan meninggalkan mereka kembali berdua di ruangan itu.
Hening kembali menyelimuti UKS.
Axel menatap wajah Lara, lalu berkata lirih tanpa sadar, “Bandel banget sih… nggak sarapan.”
Revan mendengarnya.
Ia melirik Axel sekilas, lalu kembali menatap Lara. Ada senyum kecil yang muncul di sudut bibirnya—senyum yang sulit dijelaskan.
“Iya,” gumam Revan pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. “Aneh… tapi bikin orang khawatir.”
Axel terdiam.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi cukup untuk menegaskan satu hal—
Mereka berdua peduli pada gadis itu.
Sementara itu, kabar tentang insiden di lapangan basket akhirnya sampai ke telinga dosen kesiswaan. Melihat kondisi Lara yang sempat tidak sadarkan diri, pihak kampus segera mengambil langkah sesuai prosedur.
Sebuah nomor dihubungi.
Nama Arka Pratama Kusuma tertera sebagai wali sah Lara.
Di seberang sana, ratusan kilometer dari kampus itu, Arka tengah duduk di ujung meja rapat. Ruangan bernuansa dingin dengan layar presentasi besar di belakangnya, suara para petinggi perusahaan saling bergantian menyampaikan laporan.
Arka terlihat fokus.Dan tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja.
Sekilas ia melirik layar. Karna nomornya tak dikenal. Ia sengaja tak mengangkatnya.
Getaran itu berhenti… lalu berdering lagi.
Arka menghela napas pelan, tetap mengabaikannya. Namun dering itu kembali masuk. Kali ini lebih lama, lebih memaksa—seakan menolak untuk diabaikan.
Arka mengangkat tangannya sedikit. “Maaf,saya terima ini dulu." katanya singkat, lalu berdiri dari kursinya dan melangkah menjauh beberapa langkah sebelum mengangkat telepon.
“Ya?” ucapnya dengan nada profesional.
Namun dalam hitungan detik, raut wajah Arka berubah drastis.
“Apa…?”
Suaranya meninggi tanpa ia sadari. Beberapa orang di ruang rapat langsung menoleh.
Dari seberang sana, suara dosen kesiswaan menjelaskan dengan cepat—tentang mahasiswi bernama Lara, tentang insiden di kampus, tentang UKS, dan tentang Lara yang pingsan.
“Apa maksud Bapak, Lara pingsan?”
Nada suara Arka bergetar. Kali ini bukan karena marah—melainkan panik yang nyaris tak terkendali.
Ia memejamkan mata, menggenggam ponselnya erat-erat.
“Sekarang kondisinya bagaimana?” tanyanya cepat.
Penjelasan itu terasa terlalu panjang, terlalu lambat. Yang Arka khawatirkan hanya satu hal—
Lara sedang sendirian. Dan ia tidak ada di sana.