Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sore itu Kevin berdiri lama di depan jendela ruangannya. Ponsel di tangannya terasa lebih berat dari biasanya, seolah keputusan sederhana untuk datang atau tidak justru menjadi hal paling rumit hari ini. Ia tahu seharusnya ia tidak pergi. Ia juga sadar Iren tidak mungkin menghubunginya hanya untuk sekadar mengembalikan kalung.
Namun ada sesuatu yang terus mengusik pikirannya. Kalung itu adalah satu-satunya peninggalan orang tuanya yang ia serahkan kepada Iren dengan sepenuh hati. Saat memasangkannya dulu, Kevin benar-benar percaya perempuan itu akan menjaganya, seperti ia berjanji menjaga pernikahan mereka.
Kevin mengembuskan napas panjang. “Sekali saja,” gumamnya pelan, lebih seperti upaya meyakinkan diri sendiri. “Aku hanya mengambilnya, lalu pergi.”
Ia pun bergegas mengambil jasnya lalu meninggalkan ruangan itu. Baginya semakin cepat ia mengambil barang itu, semakin cepat ia bisa datang untuk makan malam bersama dengan Lidya.
***
Malam itu Iren sengaja tidak menyalakan semua lampu rumah. Ruangan hanya diterangi cahaya temaram dari lampu sudut sehingga suasananya terasa hangat namun sunyi. Ia mengenakan gaun sederhana yang dulu sering dipuji Kevin dan membiarkan rambutnya terurai seperti pada malam pertama mereka tinggal bersama. Sejak sore, ia sudah meminta ibunya pergi berlibur bersama teman-temannya agar rumah benar-benar kosong.
Tujuannya hanya satu, menarik Kevin kembali kepadanya. Meski begitu, ia tidak ingin terlihat memohon. Ia ingin terlihat seperti rumah, tempat yang dulu selalu Kevin rindukan setiap kali lelah menghadapi dunia.
“Kevin, malam ini aku akan menyerahkan semuanya padamu agar kamu yakin dan kembali padaku,” gumamnya pelan, lebih seperti janji untuk dirinya sendiri.
Ketika suara mobil berhenti di halaman, jantungnya berdegup semakin cepat. Ia berdiri tegak dan menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka dan langkah kaki yang begitu ia kenal kembali memasuki rumah itu.
Kevin berdiri di ambang ruang tamu. Tatapannya menyapu ruangan dengan ekspresi datar, tanpa kehangatan maupun keraguan.
“Di mana barangnya?” tanyanya langsung.
Tidak ada sapaan dan tidak ada basa-basi. Iren tidak marah, justru ia tersenyum tipis.
“Kamu tidak ingin duduk dulu?” tanyanya lembut.
“Aku tidak punya banyak waktu.”
“Untukku pun tidak?” balas Iren pelan, mencoba menggunakan nada yang dulu selalu berhasil melunakkan hati Kevin.
Kevin tidak menjawab. Tatapannya akhirnya tertuju pada Iren yang berdiri beberapa langkah darinya. Ada jeda singkat ketika mata mereka bertemu. Tatapan itu bukan lagi penuh cinta, melainkan menyisakan sejarah panjang yang belum benar-benar selesai.
Iren melangkah mendekat sehingga jarak di antara mereka semakin sempit.
“Kalungnya ada di atas,” ucapnya lembut. “Aku tidak ingin memberikannya begitu saja. Dulu kamu yang memasangkannya langsung di leherku.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Jadi lepaskan sendiri.”
Permintaan itu jelas bukan sekadar tentang perhiasan. Kevin memahaminya sebagai upaya Iren menariknya kembali ke ruang yang dulu mereka bagi.
Namun yang tidak Iren sadari, Kevin datang malam ini bukan sebagai pria yang sama seperti dulu. Ia datang sebagai seseorang yang sudah belajar menahan diri dan melepaskan.
Kevin melangkah maju satu langkah hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa sentimeter.
Iren tersenyum puas karena ia yakin namanya masih tersimpan di hati Kevin. Ia berniat menuntunnya perlahan agar lelaki itu kembali menginginkannya.
Ia perlahan melepaskan lapisan luar gaunnya hingga kain itu jatuh lembut ke lantai. Kini yang tersisa hanyalah balutan tipis yang menegaskan lekuk tubuhnya dengan jelas. Ia berdiri tegak dengan penuh percaya diri, bahkan sengaja melangkah lebih dekat agar Kevin dapat melihatnya tanpa ada jarak yang menghalangi.
Kevin tidak bergerak. Ia tidak memalingkan wajah ataupun menunjukkan keterkejutan. Ia hanya berdiri dan mengamati dengan tenang. Tatapannya turun perlahan dari bahu Iren, menyusuri pinggangnya, lalu kembali naik menatap wajah perempuan itu. Sorot matanya datar dan tidak tergesa, seolah apa yang ada di hadapannya bukan sesuatu yang mampu mengguncangnya.
Diamnya Kevin justru membuat Iren semakin yakin bahwa rencananya berhasil. Ia tersenyum tipis, kemudian mengangkat tangannya dan menyentuh dada Kevin dengan ujung jari.
“Kamu selalu lemah kalau begini,” bisiknya pelan. “Aku tahu kamu masih menginginkanku.”
Kevin tetap tidak bereaksi. Sikapnya yang tenang membuat Iren semakin berani. Ia mendekatkan tubuhnya hingga hampir tidak ada jarak di antara mereka.
“Tidak mungkin kamu tidak merindukan ini,” lanjutnya dengan suara lebih dalam dan penuh keyakinan.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menekan. Lalu Kevin tersenyum, namun senyum itu bukanlah senyum rindu, melainkan lengkungan tipis yang justru membuat bulu kuduk Iren meremang tanpa ia pahami alasannya.
“Sudah selesai?” tanya Kevin dengan nada tenang.
Iren mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
“Pertunjukannya.”
Satu kata itu terdengar ringan, tetapi dampaknya tajam. Wajah Iren menegang seketika.
“Kevin…”
“Kamu pikir aku datang untuk ini?” Kevin melangkah satu langkah mendekat sehingga Iren tanpa sadar terdiam. “Atau memang ini satu-satunya cara yang kamu punya untuk mendapatkan apa yang kamu mau?”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang ia bayangkan.
“Aku tidak menjual apa pun!” bantah Iren dengan suara meninggi, meski getar di ujung nadanya tak bisa ia sembunyikan.
Kevin tertawa pelan, tawa yang terdengar dingin dan asing. “Empat tahun, Iren. Empat tahun aku menghormatimu sebagai istriku. Dan sekarang kamu berdiri di depanku seperti ini, berharap aku melupakan semuanya hanya karena sedikit kulit yang kamu tunjukkan.”
Napas Iren mulai tidak teratur. Rasa percaya diri yang tadi memenuhi dadanya perlahan berubah menjadi kegelisahan.
“Kamu kira aku tidak pernah melihat perempuan lain yang lebih berani, lebih terbuka, bahkan lebih menggoda?” lanjut Kevin tanpa meninggikan suara. “Kalau hanya soal tubuh, kamu bukan satu-satunya.”
Kata-kata itu terasa seperti merobek sesuatu di dalam diri Iren. Harga dirinya terkoyak perlahan, lebih menyakitkan daripada jika Kevin berteriak atau menunjukkan amarah.
“Tapi dulu kamu bilang—”
“Dulu,” potong Kevin tegas. “Dulu aku mencintaimu. Sekarang yang kulihat hanya seseorang yang panik karena kehilangan.”
Keheningan turun di antara mereka, berat dan menyesakkan. Iren tanpa sadar mundur satu langkah, seolah jarak itu bisa melindunginya dari tatapan Kevin.
Dengan gerakan tenang, Kevin mengambil kotak kalung dari meja tanpa tergesa. “Aku datang bukan untuk kembali,” ujarnya datar. “Dan jelas bukan untuk membeli sandiwara murahan seperti ini.”
Kata murahan itu menjadi pukulan terakhir yang menghancurkan sisa keteguhan Iren. Ia refleks mengepalkan tangan di samping tubuhnya, tetapi yang terasa paling telanjang saat itu bukanlah tubuhnya, melainkan harga dirinya yang runtuh.
Kevin menatapnya sekali lagi tanpa emosi. “Kalau kamu ingin seseorang yang mudah tergoda, hubungi Vano. Aku bukan dia.”
Ia lalu berbalik dan melangkah keluar kamar tanpa menoleh. Namun ketika hampir mencapai ambang pintu, langkahnya mendadak terhenti. Pandangannya mengabur dan kepalanya terasa berputar.
Kevin mengernyit, mencoba menahan tubuhnya yang tiba-tiba limbung. Ia sadar ada yang tidak beres. Perlahan ia membalikkan badan dan menatap Iren, yang kini berdiri dengan senyum manja di bibirnya.
“Apa yang kamu lakukan, Iren?”