NovelToon NovelToon
Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.

Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di balik bayang bayang Eifel

Paris menyambut keluarga Bagas dengan hembusan angin musim gugur yang menusuk tulang. Bagi Bagas, ini adalah pembuktian janji. Bagi Ibu dan Bapak, ini adalah mimpi yang terasa seperti sedang berjalan di atas awan. Mereka berdiri di pelataran Champ de Mars, dengan latar belakang Menara Eiffel yang menjulang megah, persis seperti gambar di baliho halte busway yang dulu sering Bagas tatap sambil meratapi nasib.

"Gas, beneran ini menaranya? Kok nggak dicat warna warni kayak menara sutet di deket rumah kita?" tanya Ibu sambil merapatkan syal wolnya. Meskipun kedinginan, matanya berbinar bahagia saat Bagas mengambil foto mereka berdua.

Bagas tertawa. "Ini namanya seni, Bu. Karatnya saja bersejarah."

Namun, di tengah keriuhan turis yang sibuk berfoto, Bagas menyadari perubahan sikap Bapak. Sejak mendarat di bandara Charles de Gaulle, Bapak lebih banyak diam. Tatapannya kosong, seolah-olah setiap sudut kota Paris ini memicu memori lama yang ingin ia kubur dalam-dalam. Bapak yang biasanya sibuk mengomentari mesin atau konstruksi bangunan, kini hanya menunduk sambil meremas tali tasnya.

"Bapak kenapa? Capek ya?" tanya Bagas cemas.

Bapak hanya menggeleng. "Nggak apa-apa, Gas. Cuma kedinginan saja."

Saat mereka sedang mengantre untuk membeli cokelat hangat di sebuah kedai kecil dekat Jembatan Pont d'Iéna, seorang pria tua berkebangsaan Perancis dengan pakaian yang sangat elegan mantel panjang berwarna abu-abu dan topi baret mendadak berhenti di depan mereka. Pria itu menatap Bapak dengan tatapan tidak percaya. Matanya bergetar di balik kacamata tebalnya.

"Suryo? Est-ce que c'est toi, Suryo?" suara pria itu parau, menyebut nama asli Bapak dengan aksen Perancis yang kental.

Bapak mematung. Wajahnya seketika pucat pasi, lebih putih daripada salju. Ibu yang berada di samping Bapak langsung memegang lengan Bapak dengan sangat erat, seolah-olah ia takut Bapak akan diculik saat itu juga.

"Suryo Pratama! Mon Dieu, sudah tiga puluh tahun!" pria itu mendekat dan mencoba memeluk Bapak.

Bagas bingung luar biasa. "Bapak kenal orang ini? Kok dia tahu nama lengkap Bapak?"

Bapak menarik napas panjang, lalu perlahan membalas pelukan pria itu dengan canggung. "Jean... Oui, ini aku."

Mereka akhirnya duduk di sebuah kafe pinggir jalan yang hangat. Pria itu ternyata bernama Jean-Pierre, seorang pensiunan insinyur perkapalan. Lewat percakapan yang dibantu terjemahan Bagas, sebuah rahasia besar perlahan terkuak seperti kotak pandora yang dipaksa terbuka.

Ternyata, tiga puluh tahun lalu, Bapak bukan sekadar tukang las biasa di gang sempit Jakarta. Bapak adalah salah satu teknisi terbaik Indonesia yang mendapatkan beasiswa riset di galangan kapal Perancis.

Bapak dan Jean-Pierre adalah rekan tim dalam proyek pembangunan mesin turbin raksasa. Namun, sebuah kecelakaan kerja di laboratorium membuat proyek itu gagal dan mengakibatkan satu orang rekan mereka meninggal dunia.

"Suryo menyalahkan dirinya sendiri," Jean-Pierre menjelaskan kepada Bagas dengan mata berkaca-kaca. "Padahal itu murni kesalahan teknis mesin. Tapi ayahmu merasa sangat berdosa, dia melepaskan semua karirnya di sini, membuang ijazah insinyurnya, dan pulang ke Indonesia untuk hidup dalam kesunyian. Dia bersumpah tidak akan pernah menyentuh teknologi tinggi lagi."

Bagas menatap Bapak dengan tatapan yang tidak bisa digambarkan. Selama ini ia mengira Bapak hanyalah lulusan sekolah rakyat yang hidup pas-pasan. Ternyata, keahlian Bapak yang bisa memperbaiki apa pun di rumah bukan sekadar bakat alam, melainkan sisa-sisa ilmu dari salah satu pusat teknologi terbaik di dunia.

"Pak... kenapa Bapak nggak pernah cerita? Kenapa kita harus hidup susah kalau Bapak punya ilmu sehebat itu?" tanya Bagas pelan, suaranya bergetar menahan emosi.

Bapak menunduk, air matanya jatuh ke atas meja kafe. "Bapak takut, Gas. Bapak takut kalau Bapak sukses lagi, Bapak bakal sombong dan lalai lagi sampai mencelakakan orang lain. Bapak cuma mau hidup tenang, jadi orang biasa yang bisa lihat kamu tumbuh besar tanpa bayang-bayang dosa masa lalu."

Ibu menggenggam tangan Bapak. "Ibu tahu semuanya, Gas. Ibu yang menemani Bapakmu saat dia pulang dengan mental yang hancur. Ibu yang mendukungnya saat dia memutuskan jadi tukang las di gang, asal hatinya damai."

Bagas merasa dunianya seolah terbalik. Selama ini ia merasa bangga karena "berhasil" mengangkat derajat orang tuanya. Ternyata, Bapak sudah pernah berada di puncak yang jauh lebih tinggi, namun memilih turun ke lembah demi ketenangan jiwa dan cinta kepada keluarganya.

Jean-Pierre kemudian merogoh tasnya dan menyerahkan sebuah amplop tua kepada Bagas. "Ini adalah paten mesin yang dulu ayahmu desain. Pemerintah Perancis masih menyimpan royaltinya karena mereka tidak bisa menemukan keberadaan Suryo selama puluhan tahun. Namamu juga tercantum di sana sebagai ahli waris."

Bagas membuka amplop itu. Di sana tertera desain mesin yang sangat rumit, dengan tanda tangan "Suryo Pratama" di pojok kanan bawah. Jumlah angka royalti yang tertera di sana sangat besar lebih dari cukup untuk membeli sepuluh rumah mewah di Jakarta.

Malam itu, di bawah kerlip lampu Menara Eiffel yang mulai menyala, Bagas tidak lagi merasa sebagai "pahlawan" keluarga. Ia merasa sangat kecil di hadapan pengorbanan Bapaknya.

"Pak," ujar Bagas sambil merangkul Bapak di tepi sungai Seine. "Bapak nggak perlu merasa berdosa lagi. Lihat Bagas sekarang. Semua ilmu yang Bapak ajarkan di teras rumah dulu, itu yang bikin Bagas bisa sampai di sini. Bapak nggak gagal. Bapak justru berhasil mencetak 'mesin' yang paling kuat, yaitu anak Bapak sendiri."

Bapak tersenyum, kali ini senyumnya tulus tanpa beban. "Terima kasih, Gas. Bapak merasa... akhirnya Bapak bisa pulang ke rumah yang sebenarnya."

Rahasia di Paris itu tidak membuat Bagas jadi sombong karena harta royalti yang mendadak jatuh ke tangannya. Justru, hal itu membuatnya semakin rendah hati. Ia menyadari bahwa ijazah memang penting, tapi karakter yang terbentuk dari luka dan ketulusan jauh lebih berharga.

Bagas baru saja menemukan potongan teka-teki terbesar dalam hidupnya. Ia bukan hanya anak tukang las. Ia adalah putra dari seorang jenius yang memilih cinta di atas segalanya.

Bagas kembali ke Dubai dengan semangat baru dan modal royalti tersebut. Ia memutuskan untuk tidak hanya menjadi karyawan, tapi mulai merintis "Yayasan Pratama " untuk memberikan beasiswa bagi anak-anak SMK di Indonesia agar mereka tidak perlu mengalami nasib pahit seperti dirinya dan Bapaknya dulu. Namun, tantangan baru muncul saat yayasannya justru dicurigai sebagai tempat pencucian uang! .

1
Theresia Sri
keren, ceritanya urut, konfliknya bagus, tidak ada kata yang hanya berfungsi untuk menambah kata memenuhi kuota, keren tor, lanjutkan dengan karya-karya baru yang konsisten mengisi jiwa pembacanya dengan hal-hal yang positif
Theresia Sri
cerita yang bagus tor, ditunggu kelanjutannya 😍
Kal Ktria
sabar ya masi dalam proses update masi panjang kok🙏
BoimZ ButoN
dah tamat ni teh 😅
BoimZ ButoN
muantabs semangat thhooor 💪
Sri Jumiati
carí kerja susah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!