NovelToon NovelToon
Sistem Reward 2× Lipat

Sistem Reward 2× Lipat

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Sistem / Mengubah Takdir / Mafia / Romansa
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Loorney

Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.

Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.

Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Dua Jalur Pikiran

Gerard mengajak Mawar ke sebuah restoran Jepang, pilihan yang mereka sepakati bersama. Langkah mereka bersemangat menuju meja kosong, lalu duduk berhadapan dengan wajah cerah.

“Sepi, ya?” Mawar menengok ke sekeliling, memastikan ruangan itu masih lengang. Hanya beberapa meja lain yang terisi.

Gerard hanya tersenyum tipis. Ia menaruh tas belanjaan di samping kursi, lalu pandangannya beralih ke Mawar yang tampak begitu antusias. Aneh rasanya—mereka belum lama bertemu, tapi sudah bisa duduk makan bersama dengan keakraban yang terasa begitu alami.

“Ini masih pagi, belum jam makan siang,” ujar Gerard menjelaskan sambil mengambil menu. Matanya menelusuri pilihan hidangan dengan teliti. “Aku pernah ke restoran Jepang sebelumnya, tapi cuma pesan ramen. Sekali lagi gapapa lah. Kamu ada rekomendasi?” Kali ini suaranya terdengar lebih santai, tanpa beban.

Peribahasa bahwa kenyamanan tumbuh perlahan ternyata benar adanya. Bagai rumah yang mulai hangat diterpa angin, Gerard yang biasa tenang bisa berubah menjadi lebih ringan ketika rasa nyaman telah menyelimuti hubungan mereka.

Mendengar pertanyaan itu, senyum Mawar semakin lebar. Tanpa ragu ia mengangguk, matanya menyapu isi menu seolah memastikan bahwa selera mereka benar-benar seirama.

“Aku selalu siap bantu, kak!” Mawar mengangguk mantap. Beberapa detik kemudian, ia meletakkan menu di atas meja. “Kakak suka ramen, kan?” tanyanya cepat, dan Gerard langsung membenarkan.

“Suka. Dulu pernah nyoba beberapa kali, rasanya enak… hangat, apalagi kalau pedas.” Gerard menjawab dengan tenang, tubuhnya sedikit condong ke depan, sikapnya lebih terbuka.

Mawar menjentikkan jarinya, lalu mendorong menu sedikit ke tengah. Jari-jarinya yang ramai menunjuk satu per satu pilihan. “Kebetulan masih belum jam makan, kita bisa pesan sushi, tempura, gyoza, atau omurice. Kalau mau yang kuah-kuah kayak ramen, ada udon. Terus kita pesan mochi atau puding buat pencuci mulut!” jelasnya bersemangat, energinya seolah mengecat kekosongan ruangan dengan warna.

Senyum Gerard kali ini lebih terlihat tulus, sebelum akhirnya memilih hidangan yang sesuai dengan seleranya. Di seberang, Mawar memesan menu yang sama, dengan alasan sederhana: “Biar matching!”—dibungkus senyum khasnya yang cerah.

Inilah Mawar, orang yang sama yang pernah membuat Gerard merinding sebelumnya. Tapi sekarang, sikapnya yang terbuka itu justru bisa diterima, bahkan tak lagi terasa menakutkan— hanya hangat, dan nyata.

Sambil menunggu pesanan tiba, Gerard menyelinap pandang ke arah Mawar yang sedang menopang dagu dengan tatapan hangat. Matanya tak pernah lepas dari Gerard, seakan mengamatinya sampai ke dalam jiwa.

Dalam situasi seperti itu, Gerard hanya tersenyum, lalu dengan sengaja mendekatkan wajahnya sedikit. "Kenapa kamu mau dekat-dekat sama aku? Kita kan baru ketemu. Aku ini masih lelaki asing, lho," ujarnya dengan nada menggoda, namun Mawar hanya menggeleng pelan. Kakinya yang menggantung di bawah meja berayun-ayun riang.

"Tentu dong! Aku suka tempat ini, apalagi kalau sama kakak!" serunya tanpa tedeng aling-aling. "Aku bisa lihat kalau kakak itu orang baik, apalagi kita tetangga. Bagaimanapun, aku susah banget buat takut sama kakak!"

Alasan itu belum sepenuhnya menjawab pertanyaan Gerard, tapi setidaknya cukup memuaskan—lebih dari yang ia kira. Sebelumnya, Gerard sempat mengkhawatirkan hal lain: jangan-jangan Mawar ini penguntit. Tapi ternyata, ia hanya seorang yang telah memercayainya sepenuh hati.

"Begitu, ya…" Gerard mengangguk paham. "Tapi aku ingatkan, jangan lagi bersikap seperti ini dengan lelaki lain, ya? Tidak semua pria akan bersikap sepertiku. Kamu harus lebih berhati-hati," pesannya lembut, terdengar seperti kakak yang sungguh-sungguh khawatir.

Selain itu, Gerard sempat menanyakan beberapa hal—termasuk alasan mengapa Mawar terus memanggilnya “kakak”. Jawabannya ternyata begitu sederhana, bahkan terdengar sedikit menggelikan.

“Gimana, ya… Kakak kan tinggi, badannya juga lebih besar—bukan gemuk, lho!—terus sikapnya tenang banget. Dan… terus terang aja, kakak itu ganteng.” Semangat di suaranya meredup sesaat saat mengungkap bagian terakhir, tanpa sadar membuat pipinya kembali merona.

Sikapnya yang tadi begitu bersemangat tiba-tiba berubah seperti kucing malu: ia memalingkan wajah, enggan menatap langsung. Namun tingkah polosnya itu hanya membuat Gerard menggeleng pelan, tak lagi sanggup menerka-nerka isi hati wanita unik di depannya.

Kecanggungan di antara mereka perlahan memudar, berganti dengan keakraban yang mulai tumbuh, membuka ruang untuk saling mengenal. Meski masing-masing punya alasan yang berbeda—Gerard merasa seperti menganggapnya keluarga, sementara Mawar justru semakin terseret dalam perasaan yang lebih dalam.

Dan pada titik ini, tak ada lagi jalan untuk mundur. Hanya maju, dan menjalani setiap momennya. Setidaknya, dalam hal itu mereka sepakat—sebuah keyakinan yang hanya tersimpan rapi di dalam hati masing-masing.

Tak lama kemudian, pesanan mereka tiba, mencairkan suasana yang sempat kembali membeku. Mereka memesan menu yang sama—omurice, tempura, dan pencuci mulut—sepakat bahwa di jam segini, tak perlu berlebihan.

Berbeda dengan Gerard yang menyambutnya dengan senyum tipis tenang, Mawar bertepuk tangan riang seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah. Sungguh, ia terlihat begitu menggemaskan—jauh dari kesan “seram” yang sempat terpancar darinya sebelumnya.

Seperti kebanyakan wanita, suapan pertama yang masuk ke mulut Mawar langsung memicu reaksi spontan: kepalanya bergoyang-goyang kecil ke kiri dan kanan, menciptakan momen yang terasa lebih berharga daripada sekadar hadiah dari Sistem. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Gerard ingin membekukan detik ini selamanya dalam ingatannya.

*•*•*

Waktu berlalu tanpa terasa, makanan yang tadi masih penuh kini tinggal piring-piring bersih. Sebagai pria, Gerard menolak tegas ketika Mawar menawarkan split bill—niatnya membalas budi tetap teguh. Setelah makan bersama yang entah itu sarapan atau makan siang—mereka pun melanjutkan langkah tanpa tujuan pasti. Bahkan Gerard sendiri belum menentukan mau ke mana.

Sambil berjalan tak tentu arah, Gerard berpikir keras. Tiba-tiba, saat matanya tak sengaja menangkap sosok Mawar di sampingnya, sebuah ide terlintas. Seruan “Oh!” meluncur tak terkendali, membuat Mawar menoleh penuh tanda tanya.

“Ada apa, kak?” tanyanya sambil mendekat, hingga tangan mereka hampir bersentuhan.

Gerard merasa sedikit malu, lalu berdeham pelan. “Emm, nggak. Aku cuma kepikiran… mau beli sepatu baru. Kamu mau nemenin lagi nggak?” Suaranya terdengar penuh harap, tapi tak memaksa.

Tapi tentu saja, ini Mawar. Tanpa ragu sedikit pun, ia langsung mengangguk antusias. Baru kemudian ia tersadar: selama ini ia hanya mengenakan sandal! Itu pun sandal rumahan, bukan untuk jalan-jalan. Begitu pula pakaiannya—jarang dipakai untuk keluar.

Aduh… selama ini aku tampil seperti ini? Tapi, kakak sama sekali nggak keliatan risih. Jangan-jangan…?

Tunggu dulu, Mawar! Kamu lagi-lagi salah paham. Gerard sama sekali tak memedulikan penampilanmu—baginya, itu terlihat sangat biasa, apalagi setelah minggu-minggu hidup sebagai gelandangan.

Atau mungkin… wajahnya yang cantik memang mampu membuat outfit apapun tampak pas. Seolah sengaja diukir dengan sempurna. Tentu saja, itu hanya pikiran yang dilebih-lebihkan.

Sementara itu, di sisi lain, Gerard merasa senang karena satu alasan: Ya! Aku tahu, sepatu pasti nggak akan ditolaknya. Bagaimanapun, itu bisa dipakai buat cadangan atau sehari-hari. Aku memang pinter cari akal!

1
Loorney
Nulis buru-buru emang bikin kacau, update dulu baru revisi 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!