Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Membuat Laporan.
Setelah kepergian Rangga, Rania segera berlari ke ruang kerja laki-laki itu untuk mengambil semua rekaman CCTV sejak hari pertengkaran mereka. Dia mengumpulkan semuanya tanpa ada yang terlewat sedikit pun, lalu pergi ke kamar untuk mengambil ponsel, uang, dan beberapa dokumen berharga untuk dibawa pergi.
"Aku mohon lancarkan semuanya, Tuhan," gumam Rania, dia benar-benar sudah lelah dengan semuanya dan berharap agar rencana yang sedang dia jalankan ini berhasil, lalu dia bisa terbebas dari Rangga dan mendapatkan kembali putranya.
Setelah semuanya selesai, Rania bergegas keluar melalui pintu dapur karena pintu itu lebih mudah dibuka ketimbang pintu depan.
"Aku harus mencari cara untuk membukanya," ucap Rania, tangannya memegang pegangan pintu dengan erat dan berusaha untuk membukanya, tetapi pintu itu tetap diam dan tak terbuka.
Rania segera mengambil ponselnya dan masuk ke laman googling untuk mencari cara membuka paksa pintu yang terkunci, dia membaca semuanya dengan fokus, berharap semua cara itu bisa membuatnya keluar dari sana.
"Baiklah. Ayo, kita coba!" ucap Rania dengan semangat walaupun dadanya berdegup kencang. Dia tidak bisa menghubungi pemadam kebakaran ataupun tukang kunci yang pastinya akan memakan banyak waktu, itu sebabnya dia harus berusaha sendiri untuk keluar dari sana sebelum Rangga kembali.
Percobaan pertama, Rania menggunakan penjepit kertas berukuran kecil yang sesuai dengan ukuran kunci. Dia memasukkan ujung penjepit kertas itu, lalu memukulnya dengan palu secara perlahan dan terukur. Setelah masuk, Rania berusaha untuk memutarnya. Sekuat tenaga dia menekan penjepit kertas itu, tapi sama sekali tidak bisa berputar, bahkan sampai membuat tangannya memerah.
"Tuhan, tolong aku," ucap Rania lelah.
Kemudian Rania mencoba cara lain dengan menggunakan obeng untuk melepas kenop, dengan cara membuka sekrup-sekrup yang ada pada gagang pintu. Dia mengambil kain untuk membungkus tangannya yang sudah terasa sangat sakit karena sekrup-sekrup itu sangat keras dan susah untuk dibuka.
Butuh waktu lumayan lama sampai Rania berhasil membuka semua sekrup dan melepas kenop. Keringat membanjiri wajah lelahnya, tangannya membengkak merah, dan dadanya terus berdegup kencang karena takut Rangga kembali sebelum dia berhasil keluar.
"Aaargh!" teriak Rania sembari menarik paksa gagang pintu yang masih tersangkut, berulang kali dia melakukannya dan tetap tidak berhasil.
Rania kemudian mengambil palu dan memukul-mukul kenop itu dengan kuat, membuat suara dentuman keras menggema ke seisi rumah.
Duak! Duak! Duak!
"Aku mohon terbukalah!" gumam Rania sambil terus memukul-mukul kenop itu. Napasnya tersengal-sengal, wajahnya memerah, dan rasa putus asa mulai merasukinya.
Duak!
Satu pukulan yang sangat keras Rania berikan disisa tenaganya, dan pukulan itu berhasil membuat kenop itu terlepas dan pintu terbuka lebar.
"Hah, hah, hah." Tubuh Rania terduduk di atas lantai dengan napas tersengal, dia sudah merasa sangat lelah, tetapi senyum senang mengembang di wajahnya karena berhasil membuka pintu itu.
"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih," ucap Rania dengan mata berkaca-kaca.
Tidak mau semakin membuang waktu, Rania bergegas keluar dari rumah itu dan segera mencari taksi untuk membawanya ke kantor polisi.
Sepanjang perjalanan, Rania terus berdo'a agar semua usaha yang dia lakukan ini tidak berakhir dengan sia-sia. Dia berharap polisi menerima laporannya dan bisa segera memproses laporan itu.
"Tunggu mama, Dafa. Mama akan segera membawamu dari sana," gumam Rania dengan penuh harap.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Rangga masih terjebak macet di jalan akibat terjadi kecelakaan beruntun yang membuat kemacetan panjang. Berulang kali dia menekan-nekan klakson mobilnya dengan kesal, berharap semua kendaraan itu cepat bergerak dan dia bisa kembali pulang ke rumah.
"S*ialan!" umpat Rangga sambil memukul setir mobilnya. Dia benar-benar merasa sangat emosi melihat situasi saat ini. "Bagaimana dengan Rania? Apa dia baik-baik saja?" ucapnya cemas, dia benar-benar merasa sangat khawatir dengan keadaan istrinya.
Sudah satu jam lebih Rangga berada di tempat itu dan belum bisa juga bergerak, kemungkinan dia masih harus menunggu berjam-jam lamanya sampai jalanan itu kembali normal.
"Aku harus menghubunginya," ucap Rangga. Namun, tiba-tiba dia terdiam karena baru ingat jika ponsel Rania ada bersamanya dan belum dia kembalikan pada wanita itu.
Tidak kehabisan akal, Rangga segera menghubungi mamanya untuk menyuruh sang mama datang ke rumahnya melihat keadaan Rania. Dia sama sekali tidak bisa tenang dan terus memikirkan wanita itu.
"Ada apa, Rangga?" tanya Martha disebrang telepon.
"Cepat ke rumahku sekarang, Ma. Lihat keadaan Rania, aku sedang terjebak macet," pinta Rangga.
"Memangnya dia kenapa?" Martha berteriak kesal. "Dia tidak akan mati cuma karna kau terjebak macet, 'kan?"
"Mama!" bentak Rangga dengan marah mendengar ucapan mamanya. "Pokoknya aku mau Mama lihat dia sekarang juga!" perintahnya kembali.
Martha langsung berdecak kesal dan mematikan panggilan Rangga setelah mengatakan iya, tentu saja hal itu membuat Rangga sedikit bernapas lega.
"Tapi kenapa aku merasa tidak tenang, yah?" gumam Rangga. Dia merasa seperti ada sesuatu yang sedang terjadi, lalu mengusap wajahnya dengan kasar, berharap agar kemacetan itu cepat berlalu.
Pada saat yang sama, Rania sudah sampai di kantor polisi. Dia diam sejenak sembari menghela napas, lalu perlahan mulai memasuki tempat itu dan langsung menuju bagian Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT).
"Selamat siang, Nyonya. Ada yang bisa kami bantu?" tanya petugas dengan ramah, dia juga mempersilahkan wanita itu untuk duduk.
Rania mengangguk dan duduk di hadapan petugas. "Selamat siang juga, Pak. Sa-saya, saya ingin membuat laporan." ucapnya pelan, merasa gugup dan juga takut, apalagi dia hanya seorang diri dan harus berurusan dengan polisi.
"Apa saya boleh melihat identitas diri Anda?" tanya petugas itu.
Rania kembali mengangguk dan segera mengerikan KTP nya pada petugas itu, lalu petugas menanyakan tentang laporan yang akan dia buat.
"Bisa Anda jelaskan kronologi kejadiannya secara jujur, runtut, dan rinci?" pinta petugas.
Rania mengepalkan kedua tangannya yang berada di bawah meja dengan erat. "Saya akan menceritakan semuanya." katanya pelan, tapi juga tegas.
Rania langsung saja menceritakan semua masalah yang sedang dia alami. Mulai dari perselingkuhan suaminya, perbuatan laki-laki itu beserta keluarganya yang memisahkannya dari Dafa, juga tentang Rangga yang mengurungnya di rumah dan sama sekali tidak boleh keluar atau pun berinteraksi dengan orang lain.
"Mereka juga memfitnahku di depan banyak orang," ucap Rania dengan suara bergetar menahan tangis.
Petugas memberikan tisu untuk wanita yang ada di hadapannya dengan tatapan iba. "Apa Anda punya bukti untuk semua perkataan Anda ini?"
Rania mengangguk, lalu menyerahkan bukti-bukti yang telah dia kumpulkan, walau dia hanya punya sedikit bukti dan tidak punya bukti tentang perselingkuhan Rangga.
"Baiklah, kami akan segera memproses laporan Anda."
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda