Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjaga Tanpa Nama
Jam bebas di taman dalam Academy, ketika murid-murid berkumpul santai, membaca, atau berlatih sihir ringan. Suasana cukup ramai untuk tampak alami, namun cukup tenang untuk sebuah percakapan.
Lein duduk di bawah pohon kristal, bersama Lysa.
Jizz melangkah mendekat, membawa beberapa gulungan catatan.
“Permisi,” katanya sopan. “Kau Roselein Tescarossa, bukan?”
Lein menoleh, sedikit terkejut. “Iya?”
“Aku Jizz Zarty. Murid senior.” Ia tersenyum ramah. “Aku mendengar kamu kesulitan di kelas teori rune dasar. Aku punya catatan yang mungkin membantumu.”
Lein membuka mulut untuk menjawab...
“Tidak perlu.”
Suara itu datang dari sampingnya.
Reyd berdiri tak jauh, tangannya bersedekap, ekspresinya tenang namun jelas menjaga jarak.
“Kami sudah mengurusnya,” lanjut Reyd. “Terima kasih atas tawarannya.”
Jizz menoleh, sedikit terkejut, namun cepat pulih. “Aku hanya ingin membantu saja.”
“Bantuanmu dicatat,” balas Reyd singkat.
Suasana menjadi canggung.
Lein melirik Reyd. “Reyd, tidak apa-apa... ”
“Tidak,” Reyd memotongnya, namun tegas. “Kau sudah cukup jadi pusat perhatian.”
Jizz tertawa kecil, seolah mengerti. “Baiklah. Mungkin lain kali.”
Ia melangkah pergi, wajahnya tetap ramah.
***
Lein sedang mencari buku tanaman sihir, sendirian.
Kesempatan sempurna.
Jizz mengambil buku dari rak seberang, lalu berbicara ringan. “Bagian ini sering membuat murid baru bingung.”
Lein menoleh, namun belum sempat menjawab, seseorang sudah berdiri di antara mereka.
“Oh? Kau siapa?” tanya Grack polos.
“Jizz. Murid senior.”
“Oh.” Grack mengangguk. “Lein sedang sibuk.”
Lein menatap Grack dengan ekspresi bingung.
Jizz menahan senyum. “Aku mengerti.”
Ia kembali ke mejanya.
Setiap kali Jizz mendekat, selalu ada seseorang di sekitar Lein: Reyd, Grack, Lysa. Seolah tanpa sadar, mereka membentuk lingkaran pelindung.
Di sore hari, Jizz berdiri di balkon atas, memandangi halaman.
“Menarik,” gumamnya. “Dia tidak pernah sendirian.”
***
Di tempat lain, Lein berjalan bersama Reyd menuju asrama.
“Kamu sadar tidak, Reyd” tanya Lein pelan, “kamu selalu ada setiap kali murid senior itu muncul?”
Reyd menoleh. “Aku tahu itu.”
“Kenapa Reyd?”
Reyd berhenti sejenak. “Karena niatnya tidak murni.”
Lein terdiam.
Di dalam dirinya, Raksha menyetujuinya.
***
Sejak duel di arena, ia mulai memperhatikan satu hal sederhana: kehadiran Jizz selalu terlalu tepat. Tidak mencolok, tidak memaksa; namun selalu muncul di tempat yang sama dengan Lein.
Terlalu sering untuk disebut kebetulan.
Di halaman latihan, Reyd berdiri bersandar pada tiang batu, berpura-pura membaca catatan sihir. Dari sudut matanya, ia melihat Jizz berbincang dengan dua murid lain. Lalu perlahan mengubah arah langkahnya.
Menuju kearah Lein.
Reyd melangkah lebih dulu.
“Lein,” panggilnya. “Gram memintaku menyampaikan sesuatu.”
Lein menoleh, bingung. “Apa yang terjadi?”
“Di aula barat. Sekarang.”
Tanpa menunggu, Reyd berjalan. Lein mengikutinya dari belakang.
Jizz berhenti beberapa langkah dari mereka, ekspresinya tetap tenang... namun matanya menyipit sesaat.
***
Sore itu, Reyd melakukan hal yang sama—berulang.
Di perpustakaan, di taman, di lorong kelas.
Selalu ada alasan kecil.
Selalu ada perpindahan arah.
Tanpa konfrontasi.
Tanpa suara.
Di dalam pikirannya, Reyd menyusun pola.
Jizz tidak memaksa.
Jizz menunggu.
Itu yang membuatnya berbahaya.
Reyd menyadari sesuatu yang lebih mengganggu:
Jizz tidak tampak kesal atau terganggu oleh pencegahan itu.
Sebaliknya...
ia terlihat menghitung.
***
Pada suatu sore, Reyd dan Jizz akhirnya berpapasan di koridor sepi.
Tidak ada Lein.
Tidak ada murid lain.
“Pangeran Reyd,” sapa Jizz sopan. “Kau tampaknya selalu berada di tempat yang sama denganku.”
Reyd berhenti. “Kau juga demikian.”
Jizz tersenyum tipis. “Kebetulan, mungkin.”
“Mungkin,” jawab Reyd dingin. “Atau niat tersembunyi.”
Keheningan singkat.
Jizz mengangkat bahu ringan. “Aku hanya murid senior yang ingin membantu juniorku saja.”
“Bantuan yang selalu diarahkan pada satu orang,” balas Reyd. “Itu bukan kebiasaan.”
Tatapan mereka bertemu: tajam, namun terkendali.
“Aku tidak menyakiti siapa pun,” kata Jizz pelan.
“Belum saatnya, mungkin,” jawab Reyd.
Jizz tertawa kecil, tidak tersinggung. “Kau protektif sekali.”
“Karena aku punya alasan sendiri.”
“Aku jadi penasaran,” Jizz mendekat setengah langkah, “alasan apa yang membuat pangeran kerajaan mengawal seorang murid biasa setiap harinya?”
Reyd tidak mundur.
“Alasan yang tidak perlu kau ketahui.”
Jizz menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil. “Baiklah.”
Ia melangkah pergi.
Namun Reyd tahu...
itu bukan mundur.
Itu menunggu.
***
Malam itu, Reyd berdiri di balkon asrama, menatap halaman Academy yang sunyi.
Lein keluar membawa selimut kecil. “Kamu tidak tidur?”
Reyd menggeleng. “Aku hanya berjaga saja.”
Lein menatapnya, ragu. “Apa tentang Jizz?”
Reyd mengangguk.
“Aku yakin,” katanya pelan, “dia punya niat tersembunyi. Selama aku di sini, aku tidak akan membiarkannya mendekatimu sama sekali.”
Lein ingin berkata sesuatu, namun akhirnya hanya tersenyum kecil.
“Terima kasih, ya” katanya.
Di dalam dirinya, Raksha menyadari sesuatu yang penting:
Reyd bukan sekadar pelindung karena perasaan.
Ia bertindak karena naluri bahaya.