Alana adalah jaksa muda yang cerdas, karirnya menanjak drastis, berkacamata tebal, kaku, dan berpenampilan tidak menarik untuk menyembunyikan kecantikannya karena ia memiliki trauma di masa lalu terkait dengan kecantikan. Suatu ketika Alana menerima banyak sekali ancaman dan setelah itu, teman kantornya mengajaknya ke perusahaan besar yang menyediakan jasa bodyguard. Alana terpaksa mendatangi perusahaan besar itu meskipun ia tahu pemiliknya adalah pria yang selalu ia hindari, Archie Cwvendish. Archie adalah kakak tirinya Arthur dan Arthur adalah mantan pacarnya Alana. Archie juga dulunya tutornya Alana dan Archie diam-diam jatuh cinta pada Alana tapi Archie memilih mundur saat Arthur mengatakan bahwa Arthur mencintai Aluna. Apa yang akan terjadi saat Alana nekat menemui Archie dan meminta Archie menjadi bodyguard-nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizbethsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
"Kejar dia!" Pekik Alana sambil mendorong dada Archie.
"Kamu sama siapa kalau aku tinggal?" Archie menatap panik Alana sambil sesekali menoleh ke belakang.
"Aku bisa taekwondo" Pekik Alana.
"Kamu berteriak ketakutan mana bisa aku meninggalkanmu sendirian, Na" Archie semakin panik
Alana menepuk bahu Archie, "Ish! Aku teriak tadi karena kakimu menginjak kakiku bukan karena aku ketakutan"
"Sial! Yang benar saja, Na" Archie mengusap kasar wajah tampannya.
"Aku jaksa sudah terbiasa melihat orang terbujur kaku. Kejar orang yang naik ke jendela tadi!" Alana mendorong dada Archie dan Archie sontak memutar badan untuk kemudian berlari masuk ke dalam sambil berteriak, "Jaga diri kamu, Na!"
"Iya!" Alana berteriak sambil melangkah ke laki-laki yang terbujur kaku.
Alana berjongkok dan menutup mulutnya yang ternganga. Gadis itu kemudian mengecek nadi di leher pria dengan wajah lebam sambil bergumam, "Ayolah Simon jangan mati!"
Alana menghela napas panjang karena menemukan nadi di leher pria itu masih berdenyut. "Syukurlah kamu hanya pingsan Simon" Jaksa muda dan cerdas yang meskipun cantik tapi terlihat judes itu langsung berdiri dan menelepon tim paramedis.
Sementara itu Archie berhasil melompat dan menjatuhkan pria yang melarikan diri dari jendela rumahnya Alana dari arah belakang. Dengan cepat Archie menarik kedua tangan pria itu, mencengkeramnya erat lalu memaksa pria itu berdiri.
Archie kemudian mendorong pria yang mengerang kesakitan ke tembok dan membalik badan pria itu sambil menggeram, "Berani benar kau masuk ke rumah wanita yang sangat aku sayangi, hah?!"
"Let see who are you" Archie menarik ke belakang Hoodie yang menutupi wajah pria itu. "Oke, who are you?" Archie mengerutkan keningnya saat ia berhadapan dengan wajah yang sama sekali belum pernah ia temui.
Pria itu menyeringai lalu dengan cepat ia berhasil menarik tangannya dari cengkeraman tangan Archie lalu pria itu mendorong dada Archie cukup keras. Saat pria itu menyabetkan pisau kecil yang dia ambil dari dalam saku hoodienya, dengan sigap Archie melompat mundur lalu dengan cepat Archie melompat ke atas lalu menjatuhkan tendangan menyamping ke tulang pertemuan leher dan pundak pria itu.
"Arrrghhhhh!!!!" Bruk! Jatuhlah pria itu. Archie lalu menarik pria itu hingga sampai ke jok belakang mobilnya. Pria tampan itu dengan cepat mengikat tangan dan kaki pria berhoodie sambil mendengus kesal, "Bikin repot aja kau, cih! Lihat aja aku akan bikin kamu mengaku setelah kamu merasakan ruang rahasiaku" Dokter tampan itu bergegas menutup pintu mobilnya dan berlari masuk ke dalam rumahnya Alana sambil mengunci mobilnya lewat remote yang ia jadikan gantungan kunci mobilnya.
Archie menoleh ke belakang sambil terus berlari ke arah pintu rumah Alana saat ia mendengar suara sirene. Ia sontak melesat masuk ke dalam karena ia sangat mengkhawatirkan kondisinya Alana.
Archie refleks melongo saat ia melihat Alana duduk bersama pria berwajah lebam yang tadi terbujur kaku di lantai dan Alana sedang mengobati lebam di wajah pria itu.
Dengan geraman kesal Archie mencekal pergelangan tangan Alana lalu berkata, "Minggir! Biar aku yang obatin"
Alana menoleh kaget sambil menahan pergelangan tangannya, "Aku bisa"
"Aku dokter, Na dan kamu bukan. Kalau kamu salah ngobatin, kamu bisa kena pasal, kan" Tambah Archie dengan wajah yang tampak tidak bersahabat karena pria itu sedang terbakar cemburu.
Alana menghela napas panjang lalu berdiri dan Simon menatap Alana dengan ekspresi penuh tanya dan sedikit ketakutan.
"Dia Archie. Dia tidak jahat. Dia sudah seperti kakak kandungku" Ucap Alana.
Simon mengangguk-anggukkan kepalanya yang masih terasa berat sekaligus pegal dengan sedikit pening.
Archie mendengus kesal lalu menyemburkan, "Aku tidak pernah menganggapnya adik"
"Yeeaahhh dia memang menyebalkan tapi aku menyayanginya seperti kakak kandungku" Tambah Alana.
Archie sontak menoleh ke Alana dengan wajah kesal. "Na, aku tidak mau menjadi kakak kandungmu, karena aku......" Suara Archie menggantung di udara karena Alana berputar badan lalu berbicara dengan petugas kepolisian yang lebih dulu sampai di depannya.
"Hei, jadi obatin tidak?" Tanya Simon dengan seringai kesakitan.
"Tzk!" Archie menekankan kapas penuh obat merah ke sudut bibirnya Simon.
"Sshhhh! Sakit!" Simon melotot ke Archie.
"Apa melotot hah?!" Archie balas melotot.
"Katanya dokter kok kasar banget. Niat ngobatin tidak sih?" Simon langsung menyemburkan protes dan menjauhkan wajahnya dari kapas yang ada di genggamannya Archie.
Archie menyipitkan mata lalu melempar kapas yang dia pegang sambil berkata, "Siapa juga yang mau obatin kamu, cih!"
"Yeaaahhh bener kata Al, kamu aneh" Sembur Simon.
Archie semakin menyipitkan matanya. "Yeeeaahhh aku aneh dan aku tidak suka Alana menyentuh kamu. Kalau aku lihat kau biarkan Alana menyentuh kamu, aku bisa membuat wajahmu lebih lebam dari ini" Archie lalu berdiri dan melangkah keluar mengikuti Alana.
Simon menatap punggung Archie dengan mulut ternganga lebar dan kedua alis terangkat ke atas. "Yeeaahhh dia memang aneh" Simon meraup kasar wajahnya dan kembali mendesis kesakitan. Dia lupa kalau wajahnya penuh lebam.
Archie terus menatap Alana saat gadis yang sangat ia sayangi dan cintai itu sedang memberikan keterangan secara bergantian ke petugas kepolisian dan petugas paramedis.
Sepertinya aku harus menyatakan cintaku secepatnya. Sial! Banyak lebah yang terbang mengelilingi Alana. Tak boleh ketikung lagi aku. Aku harus secepatnya menyatakan cintaku. Batin Archie sambil bersedekap dan menyandarkan punggungnya ke tembok tanpa melepaskan tatapannya dari wajah cantik yang disembunyikan di belakang kacamata tebal dan rambut dicepol primitif.