Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.
"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."
Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.
Yuk simak cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ceraikan Aku!
"Tunggu dulu, Dok. Briana ini mandul! Jangan asal mendiagnosis dan mengatakan dia sedang hamil. Kami semua punya rekam medis Briana dari dua rumah sakit berbeda. Vonisnya jelas, dia mandul karena ada kerusakan permanen pada sistem reproduksinya. Bagaimana mungkin?”
Dokter Anton tidak panik. Ia justru tersenyum tenang, melipat tangannya dengan wibawa seorang ahli yang sudah berpengalaman puluhan tahun. Ia menatap Dirgantara dengan tatapan maklum.
"Saya mengerti keraguan Anda, Tuan Dirgantara. Secara teori medis di atas kertas, Nona Briana memang sulit untuk hamil," ujar Dokter Anton dengan suara berat dan meyakinkan. "Tetapi dalam dunia kedokteran, ada yang disebut dengan spontaneous recovery atau terkadang diagnosa awal yang kurang presisi karena kondisi hormon yang fluktuatif.”
Ia mengambil tablet digitalnya, menunjukkan sebuah grafik yang entah apa isinya namun terlihat sangat canggih.
"Saya sudah melakukan pemeriksaan palpasi dan pemeriksaan tanda-tanda vital yang sangat spesifik tadi. Kadar hCG yang saya deteksi lewat alat indikator dini menunjukkan lonjakan drastis. Kadang, Tuan, mukjizat itu datang melalui perbaikan sel yang tidak terdeteksi oleh mesin biasa. Apa yang Anda anggap mandul, bisa saja hanya 'tertidur' dan sekarang sudah bangun.”
Arjuna langsung menyambar ucapan itu dengan mata berbinar. "Tuh kan, Pa! Apa Arjuna bilang! Cinta itu bisa mengubah segalanya, bahkan medis sekalipun!”
Dokter Anton mengangguk pelan. "Kondisi psikologis nona Briana yang merasa bahagia bersama Anda, Tuan Arjuna, mungkin memicu hormon yang selama ini dianggap mati. Ini kasus langka, tapi nyata. Saya akan memantau ini secara khusus karena kehamilan ini... adalah permata yang sangat rapuh.”
Agatha hampir menangis haru. Ia menatap suaminya dengan tatapan 'tuh kan'. Ia benar-benar percaya bahwa dokter itu sangat pintar karena bisa menjelaskan sesuatu yang mustahil menjadi masuk akal secara ilmiah.
Di satu sisi ada Aiza yang terluka batinnya setelah mendengar semua penjelasan itu. Air matanya luruh tak tertahankan.
Dirgantara menatap menantunya. Rahangnya mengeras melihat air mata itu. Dia hanya tak terima, gadis yang dulu pernah ia minta untuk dijadikan menantu terpandang, berjanji untuk bisa membahagiakannya layaknya seorang menantu, tapi hari ini dia merasa gagal memenuhi janji itu.
Dirgantara menoleh pada Arjuna yang terlihat asyik bercengkrama tanpa menghiraukan bagaimana perasaan Aiza sekarang.
“Kamu senang, Arjuna?" Arjuna menoleh. Senyumnya menghilang ketika tatapan itu beralih pada sang ayah. Arjuna tahu pertanyaan itu bukan sekedar pertanyaan kosong atau ungkapan bahagia, tapi ada arti lain di dalamnya__yang pastinya bukan pertanyaan bahagia.
Arjuna tak menjawab, hanya menatap datar Dirgantara.
Namun Dirgantara terkekeh remeh. "Hebat! Ini cinta yang kamu maksud? Cinta kotor yang kamu bangga-banggakan? Menjijikan!” Arjuna hanya menatap tajam sebagai bentuk kemarahan. "Disaat orang-orang di luar sana berlomba-lomba mencari keberkahan dengan berbuat kebaikan di bulan suci ini, kamu malah dengan bangga mengakui zina yang kamu sebut cinta itu!" Dirgantara menggeleng. “Papa nggak habis pikir sama jalan pikiran kamu. Kotor!"
Rahang Arjuna mengeras, tangannya yang kokoh itu mengepal kuat, merasa terhina dengan ucapan Dirgantara yang memojokkannya.
Aiza yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan, meremas kuat-kuat dadanya. Dia merasa dunianya seakan runtuh. Sebagai menantu baru yang tidak tahu-menahu tentang sejarah kesehatan Briana, bagi Aiza, kata-kata dokter adalah kebenaran mutlak. Jika dokter bilang ada nyawa di sana, maka memang ada nyawa di sana.
“Berarti selama ini aku memang hanya persinggahan yang salah,” batin Aiza perih. “Ada nyawa yang sedang tumbuh, dan nyawa itu bukan dariku."
“Mas, aku saja sebagai istri sahmu ndak pernah kau sentuh, tapi dengan bangganya kamu malah mengakui hasil zinamu."
Aiza mengelus dadanya yang terasa sangat sesak. Baginya, kehamilan Briana adalah jawaban terakhir dari istikharah-istikharahnya selama ini. Ia merasa tidak mungkin lagi bertahan dan bersaing dengan seorang wanita yang sedang mengandung darah daging suaminya sendiri. Bertahan hanya akan membuatnya terlihat seperti wanita jahat yang ingin memisahkan seorang ayah dari calon anaknya.
Tanpa suara, tanpa air mata yang ia biarkan jatuh di depan mereka, Aiza membalikkan badan. Ia melangkah menuju kamarnya dengan langkah yang terasa sangat berat namun mantap. Ia tidak butuh penjelasan lebih lanjut. Penjelasan profesional dari dokter tadi sudah cukup untuk menjadi alasan baginya untuk berhenti berjuang.
Di dalam kamar, ia menatap tumpukan pakaiannya. Pikirannya melayang pada Qais. Pria itu dulu pernah berkata bahwa kadang jalan keluar terbaik dari sebuah labirin adalah dengan berbalik arah dan mencari pintu baru.
"Sudah cukup, Mas Arjuna," bisik Aiza pada kesunyian kamar. "Jika dia memberimu masa depan, maka aku akan memberimu kebebasan.”
Di sisi lain, langkah kaki Arjuna terdengar berat di koridor lantai atas. Ia sebenarnya enggan, namun perintah tegas dari Papa Dirgantara—yang tidak ingin ada keributan lebih lanjut di ruang tengah—memaksanya untuk menyusul Aiza ke kamar.
BRAK
Arjuna membuka pintu tanpa mengetuk. Ia mendapati Aiza sedang berdiri di depan lemari, tangannya gemetar saat mencoba melipat sehelai baju.
"Puas kamu membuat suasana di bawah jadi kacau?" tanya Arjuna dengan nada ketus, berdiri bersedekap di ambang pintu. "Papa sampai menyuruhku ke sini hanya untuk memastikan kamu tidak melakukan hal yang memalukan.”
Aiza menghentikan gerakannya. Ia berbalik, menatap Arjuna dengan mata yang memerah karena menahan amarah dan luka yang sudah memuncak. Kehadiran wanita lain di rumah ini, pemandangan mereka keluar dari kamar yang sama saat sahur subuh, dan sekarang berita kehamilan itu... semuanya meledak seketika.
"Keterlaluan kamu, Mas!" suara Aiza meninggi, pecah oleh isak yang ia tahan. "Aku sudah mencoba diam. Aku sudah mencoba bersabar meskipun kamu menginjak-injak harga diriku di rumah ini. Tapi melihatmu keluar dari kamar yang sama dengan wanita itu... aku ndak terima kamu menyentuh wanita lain di saat aku masih menjadi istrimu!”
Aiza maju selangkah, menatap tepat ke manik mata Arjuna yang dingin. "Cukup, Mas. Aku bukan wanita yang bisa kamu bagi dengan cara yang kotor seperti ini. AKU MINTA KITA CERAI!”
Ruangan itu mendadak sunyi sejenak, hanya terdengar napas Aiza yang memburu. Arjuna bukannya merasa bersalah, ia justru terkekeh sinis. Baginya, ancaman cerai dari Aiza adalah pintu keluar yang selama ini ia tunggu-tunggu agar bisa bersama Briana tanpa hambatan.
"SILAHKAN!" tantang Arjuna dengan suara yang tak kalah keras. "Aku tidak pernah menghalangimu, Aiza. Memang itu kan yang kamu mau? Pergi saja!”
Arjuna melangkah mendekat, memberikan tatapan paling meremehkan yang pernah ia tunjukkan. "Jika kau ingin bercerai, silahkan bicara langsung sama Papa! Jangan hanya berani berteriak di depanku. Katakan padanya bahwa kamu menyerah karena kamu tidak sanggup memberikan apa yang Briana berikan padaku!”
Setelah mengucapkan kalimat pedas itu, Arjuna berbalik dan membanting pintu kamar dengan keras, meninggalkan Aiza yang jatuh terduduk di lantai.
Aiza memejamkan mata erat. "Aku akan bicara pada Papa, Mas. Bukan karena aku menyerah, tapi karena aku terlalu berharga untuk laki-laki sepertimu," bisik Aiza dalam hatinya yang hancur namun kini terasa lebih mantap untuk melangkah pergi.
"Ya Allah…..Jika perpisahan lebih Engkau ridhai daripada kebersamaan yang penuh luka, maka kuatkan aku untuk meminta yang halal itu. Jangan biarkan aku memohon karena amarah, tapi karena Engkau tahu itu yang terbaik untukku," bisik Aiza lirih.
di tunggu up lgi ka 😍
up lgi dong ka😍