Katarina Ayudia adalah siswi genius penerima beasiswa yang hidup sederhana, sementara Alarick Valerius adalah putra tunggal konglomerat sekaligus ketua geng motor yang ditakuti. Cinta mereka yang membara harus menghadapi tembok besar bernama Victoria Valerius, ibu Alarick, yang merancang fitnah keji untuk memisahkan mereka. Victoria mengancam masa depan Kate dan memanipulasi Alarick hingga pria itu percaya bahwa Kate adalah gadis oportunis yang telah mengkhianatinya dengan banyak pria.
Perpisahan pahit selama bertahun-tahun meninggalkan luka mendalam, Kate hidup dalam kemiskinan dan kerja keras demi bertahan hidup, sementara Alarick tumbuh menjadi CEO dingin yang menderita trauma psikologis berupa rasa mual hebat setiap kali menyentuh Kate karena bayangan fitnah masa lalu.
langsung baca aja dear😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat Dan Jebakan
Maya bukan gadis bodoh. Sebagai orang yang hobi mengamati gosip, dia punya radar yang sangat kuat jika menyangkut gerak-gerik mencurigakan.
Sore itu, saat ia melewati ruang ganti basket, ia melihat Bara Mahendra sedang berbicara serius di telepon dengan ekspresi yang sangat gelap.
"Pastikan barangnya sampai di toko kue itu malam ini. Jangan sampai ada yang lihat," desis Bara sebelum mematikan ponselnya.
Jantung Maya mencelos. Toko kue? Hanya ada satu toko kue yang relevan di hidup mereka, Toko Kue Bibi Sarah.
Maya segera berlari mencari Kate yang sedang berada di perpustakaan, namun ia justru berpapasan dengan Elara yang sedang berjalan angkuh menuju gerbang sekolah dengan senyum kemenangan. Elara sengaja menabrak bahu Maya dan berbisik, "Nikmati saat-saat terakhir sahabatmu jadi anak emas sekolah, ya."
Maya menemukan Kate di depan gerbang, sedang menunggu jemputan Alarick. Wajah Maya pucat pasi, napasnya tersengal.
"Kate! Lo harus dengerin gue!" teriak Maya sambil menarik Kate ke tempat yang agak sepi. "Gue denger Bara ngomongin soal toko kue Bibi Sarah. Dia mau naruh sesuatu di sana malam ini! Gue rasa mereka mau ngejebak lo, Kate!"
Kate tertegun, wajahnya mendadak pias. "Nggak mungkin, May. Bara nggak sejahat itu..."
"Dia lebih jahat dari yang lo kira kalau udah urusan harga diri, Kate! Elara juga ada di sini tadi. Mereka kerja sama!" Maya mengguncang bahu Kate. "Kasih tahu Alarick. Sekarang!"
Tepat saat itu, deru motor Alarick terdengar. Alarick berhenti di depan mereka, namun kali ini ia tidak sendirian. Beberapa anggota inti geng Viper mengikutinya dari belakang dengan wajah tegang.
"Naik, Kate. Sekarang," perintah Alarick tanpa basa-basi. Suaranya dingin, namun ada nada urgensi yang sangat tinggi.
"Al, Maya bilang—"
"Gue udah tahu," potong Alarick tajam. "Anak-anak gue denger desas-desus di markas kalau ada orang suruhan Bara yang beli barang ilegal sore ini. Kita harus ke toko Bibi lo sebelum mereka sampai."
Maya langsung menyambar helm cadangan di motor salah satu teman Alarick. "Gue ikut! Gue yang denger rencana Bara, gue bisa jadi saksi!"
Alarick melirik Maya sekilas, lalu mengangguk kecil. "Naik. Kita berangkat."
Aksi kejar-kejaran terjadi di jalanan kota yang mulai padat. Alarick memacu motornya seperti orang gila, membelah kemacetan demi sampai ke toko Bibi Sarah.
Di belakangnya, Maya berpegangan erat pada jaket anggota Viper lain, matanya waspada mencari mobil Bara.
Saat mereka sampai di depan toko kue, suasananya tampak sunyi. Namun, Kate melihat pintu belakang toko sedikit terbuka. Bibi Sarah biasanya sangat teliti mengunci pintu.
"Kalian tunggu di sini," perintah Alarick pada anggota gengnya. Ia menarik tangan Kate dan memberi isyarat pada Maya untuk tetap di belakangnya.
Mereka masuk dengan langkah mengendap. Di dalam dapur yang berbau harum vanilla, mereka melihat seorang pria asing dengan jaket hoodie hitam sedang mencoba menyelipkan sebuah paket kecil ke dalam karung tepung cadangan milik Bibi Sarah.
"Berhenti di situ, bajingan!" suara Alarick menggelegar di ruangan sempit itu.
Pria itu terkejut dan mencoba lari lewat pintu belakang, namun Alarick dengan sigap melakukan tendangan berputar yang menjatuhkan pria itu ke lantai. Alarick langsung mengunci tangannya di punggung.
"Siapa yang suruh lo?" desis Alarick, menekan wajah pria itu ke lantai yang dingin.
"Gue... gue nggak tahu!"
Maya maju dengan berani, ia mengambil paket itu menggunakan saputangan (efek terlalu banyak menonton film detektif). "Isinya bubuk putih, Al! Kalau polisi datang dan nemuin ini di tepung Bibi Sarah, toko ini bakal ditutup dan Kate pasti dikeluarin dari sekolah!"
Tiba-tiba, suara tepuk tangan terdengar dari arah pintu depan. Bara Mahendra masuk bersama Elara, diikuti oleh beberapa petugas keamanan sekolah yang entah bagaimana sudah ada di sana.
"Wah, wah. Jadi ini alasan kenapa ketua geng motor sering main ke sini?" Bara tersenyum licik, menatap ke arah petugas keamanan. "Lihat, Pak. Mereka tertangkap basah sedang menyembunyikan narkoba di dalam bahan makanan. Benar kan kata saya, Alarick Valerius membawa pengaruh buruk buat siswi teladan kita."
Elara melangkah maju, menatap Kate dengan pandangan puas. "Berakhir sudah, Kate. Si Genius yang ternyata jadi bandar kecil-kecilan. Kasihan ya."
Kate gemetar, namun ia tidak menangis. Ia menatap Bara dengan tatapan yang sangat tajam. "Kamu rendah banget, Bara. Kamu mau hancurin hidupku cuma karena aku nggak mau sama kamu?"
"Gue nggak hancurin lo, Kate. Gue cuma mau nunjukin ke dunia siapa Alarick sebenarnya," balas Bara angkuh.
Namun, Alarick justru tertawa. Tawa yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Ia melepaskan pria di bawahnya dan berdiri dengan tenang.
"Lo pikir gue sebodoh itu, Mahendra?" Alarick mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah rekaman video yang sangat jernih. Di video itu, terlihat jelas Bara sedang memberikan uang dan paket tersebut kepada pria ber-hoodie di parkiran sekolah tadi sore.
"Gue udah naruh orang buat ngikutin lo sejak lo masuk ke wilayah Pelita," ucap Alarick sambil berjalan mendekati Bara. "Dan Maya... lo cerdas banget karena langsung lapor. Video ini udah terkirim ke bokap gue dan pengacara keluarga Valerius."
Wajah Bara mendadak pucat pasi. Elara mencoba mundur, namun Maya menghalangi jalannya.
"Mau ke mana, Ratu?" sindir Maya dengan senyum lebar. "Drama ini baru aja dimulai, dan bagian terbaiknya adalah saat lo berdua masuk penjara karena pencemaran nama baik dan kepemilikan barang ilegal."
Petugas keamanan sekolah yang tadinya dibawa Bara kini justru menatap Bara dengan curiga. Alarick berdiri tepat di depan Bara, hanya menyisakan jarak beberapa senti.
"Lo main-main sama orang yang salah," bisik Alarick. "Kate itu hidup gue. Dan siapa pun yang nyentuh hidup gue, bakal gue pastiin mereka nggak punya masa depan buat dipikirin."
Malam itu, meja berbalik. Bukan Kate yang hancur, melainkan reputasi Bara dan Elara yang berada di ujung tanduk. Maya memeluk Kate erat-erat, merayakan kemenangan mereka di tengah aroma kue yang masih hangat, sementara Alarick berdiri di depan pintu, menjaga dunianya dengan taring yang siap menerkam siapa pun yang berani kembali mengusik.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading😍😍😍