Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.
Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.
Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.
Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.
Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.
Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
Malamnya, kamar Lala sunyi.
Lampu meja menyala redup, ponselnya tergeletak di atas kasur.
Ia menatap layar yang gelap cukup lama sebelum akhirnya mengambilnya.
Namanya masih sama.
Rendra.
Jarinya sempat ragu di atas layar, lalu akhirnya mengetik.
Lala:
Ren...
Kayaknya rencana kita jadi kejadian lebih cepet dari yang gue kira.
Beberapa detik terasa seperti menit.
Lalu balasan masuk.
Rendra:
Kenapa? Mama lo nanya lagi?
Lala menghela napas kecil, lalu membalas jujur.
Lala:
Iya.
Gue bilang... gue ada seseorang.
Lala:
Gue iyain buat ngenalin.
Mama minta ketemu.
Kali ini balasannya lebih lama.
Lala hampir menyesal sudah mengirim pesan itu ketika akhirnya layar menyala.
Rendra: Oke.
Rendra: Kalau lo siap, gue siap.
Jawaban itu sederhana. Tapi justru itu yang membuat Lala merasa sedikit lebih tenang.
Lala:
Sabtu.
Di rumah gue.
Rendra:
Jam berapa?
Lala berpikir sebentar.
Lala:
Sore?
Biar nggak terlalu kaku.
Rendra: Okeee
Rendra: Tenang aja, La. Kita jalanin bareng-bareng.
Lala mematikan layar ponselnya dan menjatuhkan tubuh ke kasur.
Langit-langit kamarnya terasa terlalu dekat.
Sabtu.
Kata itu bergaung di kepalanya.
Bukan karena takut bertemu Rendra. tapi karena setelah hari itu, kebohongan kecil ini mungkin akan tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Namun malam itu, dengan semua lelah yang menumpuk,
Lala akhirnya memejamkan mata. Membiarkan tidurnya datang, sebelum Sabtu benar-benar tiba.
Hari itu sebenarnya tidak terasa asing bagi Rendra.
Ia menghentikan motornya di halaman rumah Lala, pintu kayu berwarna cokelat tua, bahkan aroma teh manis yang selalu sama semuanya pernah ia lewati sebelumnya. Bedanya, kali ini langkahnya terasa lebih berat.
Begitu pintu terbuka, mama Lala langsung tersenyum lebar.
“Rendra,” sapanya hangat. “Masuk, Nak. Lama nggak ke sini.”
“Iya, Tante,” jawab Rendra sopan. “Apa kabar?”
“Alhamdulillah sehat,” kata mamanya sambil mempersilakan masuk. Tatapannya sempat bergeser ke Lala, lalu kembali ke Rendra dengan senyum yang berbeda lebih penuh arti.
Mereka duduk di ruang tamu.
Lala di samping Rendra. Jarak mereka biasa saja, tidak terlalu dekat, tidak pula terlalu jauh. Tapi bagi mama Lala, itu sudah cukup untuk menebak.
“Minum dulu,” ujar mamanya sambil meletakkan gelas. “Rendra mengangguk kecil. “Makasih, Tante.”
Obrolan mengalir ringan. Soal kerja Rendra, kesibukannya, kabar keluarga. Mama Lala mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali mengangguk, sesekali tersenyum puas. Lala hanya sesekali ikut menimpali, lebih banyak diam, memperhatikan arah pembicaraan yang perlahan tapi pasti menuju satu titik.
Lalu, setelah jeda singkat, mama Lala menaruh gelasnya.
“Ren,” panggilnya lembut, tapi nadanya berubah lebih serius.
“Ada satu hal yang pengen Mama tanyain.”
Lala menegang.
Rendra mengangkat wajahnya. “Iya, Tante?”
Mama Lala menatapnya lurus. Bukan tajam, tapi dalam.
“Kamu sama Lala ini... beneran serius?”
Ruang tamu mendadak terasa lebih sunyi. Rendra tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pelan, lalu mengangguk.
“Iya, Tante.”
Mama Lala tersenyum kecil, seolah jawaban itu ia tunggu.
“Kalau begitu,” lanjutnya pelan, “Mama cuma pengen tau satu lagi.”
Ia berhenti sebentar, memberi waktu.
“Hubungan ini arahnya ke mana?”
Jari Lala refleks mengepal di atas pangkuannya.
“Maksud Mama,” sambungnya, “kamu ada niat untuk nikah sama Lala?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar juga. Tanpa marah. Tanpa menekan. Justru terlalu tenang.
Semua mata tertuju pada Rendra. Dan untuk pertama kalinya sejak datang, Rendra benar-benar merasa sedang diuji.
Kata nikah itu menggantung di udara.
Bukan pertama kalinya Lala mendengarnya, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda lebih dekat, lebih nyata, dan lebih menakutkan. Dadanya mengencang.
Ada dorongan untuk tertawa kecil dan menganggapnya lelucon. Ada juga keinginan untuk berdiri dan bilang bahwa semua ini terlalu cepat. Terlalu jauh.
Ini cuma pura-pura, batinnya.
Tapi kenapa rasanya kayak sedang diadili?
Lala menoleh ke mama. Bibirnya sudah terbuka, siap menjelaskan. Menjelaskan bahwa ini tidak sesederhana itu. Bahwa ia masih bingung. Bahwa hidupnya belum serapi ekspektasi orang dewasa.
“Ma—” suaranya baru saja keluar.
Rendra bergerak lebih dulu.
Tangannya terangkat sedikit, bukan untuk menyentuh, hanya isyarat halus.
Lala terdiam. Ia menoleh ke Rendra, matanya penuh tanya dan cemas. Tapi Rendra tidak melihat ke arahnya. Tatapannya tetap ke mama Lala, tenang, seolah sudah menimbang kata-kata itu sejak lama.
Rendra menarik napas pelan.
“Saya nggak mau jawab asal-asalan,” katanya jujur. “Karena buat saya, ngomongin nikah itu bukan hal kecil.”
Mama Lala mengangguk, memberinya ruang.
“saya serius sama Lala,” lanjut Rendra. “Bukan cuma karena perasaan, tapi karena saya juga mikirin dampaknya ke hidup Lala.”
Ia berhenti sebentar, lalu berkata lebih pelan.
“Kalau Tante nanya apa saya niat ke arah pernikahan... niat itu ada.”
Jantung Lala berdegup lebih cepat.
“Tapi saya juga nggak mau ngejar waktu,” sambung Rendra. “saya pengen, kalau sampai ke sana, Lala masuk ke tahap itu tanpa terpaksa. Tanpa ngerasa didorong.”
Mama Lala menatapnya lama. Tidak menyela.
“saya lagi berusaha bangun kesiapan saya rente,” kata Rendra lagi. “Karier, mental, tanggung jawab. Dan saya pengen Lala tumbuh di fase hidupnya sendiri juga. Bukan karena dikejar kata ‘harus’.”
Lala menunduk. Tenggorokannya terasa panas.
“Jadi kalau Tante tanya serius atau nggak,” Rendra mengakhiri, suaranya mantap,
“jawaban saya serius. Tapi saya mau serius yang bener. Yang nggak ninggalin luka.”
Ruang tamu kembali sunyi.
Lala tidak tahu harus merasa lega atau justru semakin takut.
Tapi satu hal ia yakin. untuk pertama kalinya, ada orang yang menyebut masa depannya tanpa mengabaikan dirinya.
Flashback — Kenapa Lala Sensitif Soal Nikah
Lala baru sadar sejak kapan kata nikah mulai terasa berat.
Bukan sejak putus.
Bukan sejak ada mantan.
Tapi sejak setiap kali pulang ke acara keluarga, ia selalu duduk di kursi yang sama dan mendengar pertanyaan yang sama.
“Lala kapan nyusul?”
“Kerja terus, nanti keburu tua.”
“Adik-adik sepupu kamu aja udah pada nikah, masa kamunya belum.”
Awalnya Lala hanya tersenyum. Menjawab seadanya. Menganggapnya basa-basi.
Tapi lama-lama, pertanyaan itu berubah jadi pengingat yang terus mengendap di kepala.
Seolah hidupnya selalu kurang satu hal. dan hal itu bernama pernikahan.
Padahal tak ada yang bertanya apakah ia bahagia.
Apakah ia merasa cukup.
Apakah hidupnya sedang baik-baik saja.
Yang penting hanya satu.
sudah atau belum.
Dan semakin sering ia mendengarnya, semakin Lala merasa hidupnya bukan lagi miliknya sendiri.
Lalu ada hal lain yang membuatnya makin menjaga jarak dari kata itu.
Beberapa tahun terakhir, untuk pertama kalinya, Lala merasa bebas.
Bebas menentukan ritme hidupnya. Bebas memilih pulang atau pergi. Bebas mengatakan nggak tanpa harus merasa bersalah.
Ia takut.
Bukan pada pernikahannya. tapi pada kemungkinan kehilangan semua itu.
Takut hidupnya kembali diatur. Takut keputusannya harus selalu disesuaikan.
Takut dirinya hanya jadi peran, bukan lagi manusia utuh. Maka setiap kali orang membicarakan nikah dengan nada menuntut, dada Lala mengencang.
Bukan karena ia membenci pernikahan. Tapi karena ia tidak mau menikah hanya untuk membuat orang lain tenang.
semangat kak... salam dari Edelweiss...