Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Kata-kata itu menggantung di udara, berat, lalu jatuh tepat di dada Melati. Ia berdiri mematung, menatap punggung Cokro yang kembali membelakanginya. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kukunya menekan telapak sendiri agar ia tidak menangis lagi. Pagi ini, air matanya sudah terlalu banyak.
“Baik,” jawabnya akhirnya.
Satu kata. Pendek. Taat. Tapi penuh kekalahan.
Melati melangkah menjauh, mengambil mukena dari dalam lemari kecilnya. Ia tidak tahu harus ke mana membawa perasaan yang berisik di kepalanya. Maka ia memilih tempat paling sunyi yang ia kenal sejak kecil sajadah.
Ia menutup pintu perlahan, lalu duduk di tepi ranjang. Nafasnya bergetar ketika kain mukena menutupi kepalanya. Saat dahi menyentuh sajadah, pertahanannya runtuh.
Air mata jatuh satu per satu, membasahi kain itu.
“Ya Allah…” suaranya nyaris tak keluar. “Kalau ini ujian-Mu, tolong… jangan biarkan aku sendirian menghadapinya.”
Ia tidak meminta dicintai. Tidak meminta dipeluk. a hanya ingin dianggap ada.
Di luar kamar, suara langkah kaki Cokro terdengar lagi. Lemari ditutup. Tas ditarik. Lalu pintu kamar dibuka tanpa diketuk.
“Aku berangkat,” ucapnya datar.
Melati menoleh. Matanya masih merah, tapi wajahnya ia paksa tenang. “Hati-hati di jalan.”
Cokro berhenti sejenak. Pandangannya jatuh pada wajah Melati lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu yang bergetar singkat di matanya, namun segera tertutup.
Ia hanya mengangguk, lalu pergi, tanpa ada suara yang terdengar lagi. Pintu tertutup, dan rumah kembali sunyi.
Melati bangkit perlahan. Ia melipat mukena dengan tangan gemetar, lalu duduk di ranjang yang kini terasa terlalu luas untuk seorang istri. Di rumah ini, ia punya status, tapi tak punya tempat.
Beberapa menit kemudian, suara pintu kamar anak pertama terbuka. Anak itu berdiri di ambang pintu, menatap Melati tanpa ekspresi.
“Kamu jangan masak buat aku lagi,” katanya tiba-tiba.
Kalimat itu polos, tapi terlalu kejam jika didengar, Melati tersenyum kecil, ia berusaha untuk tetap tegar meskipun dalam hati ada secuil luka yang tergores.
“Kalau suatu hari kamu mau, Tante akan masak lagi.”
“Aku nggak mau,” sahut Mahendra. “Papa juga nggak mau kamu di sini.”
Kalimat itu seperti palu terakhir yang menghantam dada Melati, lagi-lagi suara anak itu jujur polos dan apa adanya, karena yang terlihat, Cokro memang seperti itu.
Anak itu pergi sebelum Melati sempat menjawab. Ia hanya duduk terpaku, menatap pintu yang kembali tertutup.
Melati hanya bisa mengelus dadanya, dan tidak tahu seberapa besar sabarnya menghadapi rumah tangga ini Pernikahan ini tidak hanya membuatnya menjadi istri dari pria yang dingin tetapi juga menempatkannya di rumah yang belum siap menerimanya.
Namun di balik perih yang menusuk, Melati menggenggam satu keyakinan kecil, ia tidak akan pergi, tidak melawan ataupun memohon, hanya ada satu kata yang kuat di dalam hatinya yaitu: Bertahan
Karena jika ia harus diuji oleh seorang ayah dan seorang anak sekaligus, maka ia akan membuktikan bahwa ketulusan tidak pernah salah alamat. Meski jalannya menyakitkan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Cokro sudah berada di dalam kantornya, jari-jarinya cepat mengetik huruf-huruf diatas keyboard, matanya fokus bahkan terlalu fokus, hari-harinya selalu ia luangkan untuk bekerja dan terus bekerja tanpa memandang lelah.
Sejenak ia mulai menutup kembali ke laptopnya, tumpukan dukumen masih menggunung belum ada yang di tandatangani, pria itu menghela nafas panjang, memijat pelipis yang terasa pening. Sejenak ingatannya mulai berkelana di masa lalu.
Dimana waktu itu ia, selalu bekerja keras berjuang demi istri tercintanya. Ya dia adalah Cokro pria yang memutuskan untuk menikah muda. Terlalu muda, kata banyak orang. Tapi saat itu, ia yakin.
Ia mencintai istrinya dengan cara paling sederhana: memastikan perempuan itu bisa melanjutkan kuliah, memastikan orang tua dan adik-adiknya tak kekurangan. Gajinya sebagai karyawan biasa nyaris tak pernah tersisa. Jika siang bekerja, malam ia menyusuri jalan sebagai ojek daring mengantar orang pulang, mengantar pesanan, mengantar hidupnya sendiri agar tetap berjalan.
Ia tidak pernah mengeluh, justru semangat itu selalu hadir. Ketika anak pertama lahir, ia bekerja lebih keras lagi, karena memang beban yang ia pikul terlalu berat. Dan ketika anak kedua menyusul masih bayi, masih sering menangis di tengah malam ia semakin jarang tidur.
Namun dalam hatinya Ia pikir itu bahagia, pengorbanan seorang ayah yang layak, karena ia merasa bersama istri dan anaknya lah kebahagiaan berada di situ.
Hingga satu hari, semuanya berubah cepat. Istrinya lulus. Diangkat menjadi ASN. Seragam itu tampak indah di tubuhnya terlalu indah hingga Cokro merasa asing melihatnya.
“Doakan aku,” kata perempuan itu waktu pertama kali berangkat kerja.
Dan Cokro benar-benar mendoakan. Ia tak tahu, doa-doa itu justru mengantarnya pada hari ketika dunia runtuh tanpa suara.
Ia mengetahui perselingkuhan itu bukan dari teriakan, bukan dari tangisan. Tapi dari bisikan yang terlalu rapi. Dari pesan yang terbuka tanpa sengaja. Dari kebenaran yang menamparnya pelan tapi mematahkan tulang.
Dan saat pesan itu terbuka, dengan jelas ia menangkap sendiri sang istri bermain dibelakangnya dengan sesama ASN.
Dan saat itu juga Dunia Cokro hancur, mentalnya dihancurkan habis-habisan, perjuangan yang selama ini ia lakukan, dibalas dengan harga diri yang diinjak-injak oleh wanita yang paling ia cintai.
Saat itu, Cokro bahkan belum punya apa-apa.
Masih karyawan biasa, masih menjadi ojek online untuk menambah biaya hidup, dia hanya seorang pria yang pulang dengan badan bau asap jalanan, laku menggendong anaknya dengan tangan bergetar.
Namun semua pengorbanannya sebagai kepala keluarga seakan tidak ada nilainya sama sekali di mata sang istri, yang mulai terlena dengan dunia barunya.
Dan yang paling menyakitkan bukan pengkhianatan itu. Melainkan kenyataan bahwa selama ini, ia bekerja mati-matian bukan hanya untuk istrinya tapi juga untuk keluarga istrinya yang kini berpaling, seolah semua pengorbanannya adalah kewajiban tanpa nilai.
Sejak hari itu, Cokro belajar satu hal: cinta bisa menjadi beban paling kejam jika hanya satu orang yang memikulnya.
Dan sejak hari itu pula, ia berhenti berharap. Ia membesarkan dua anaknya dengan caranya sendiri.
Menjadi keras agar tidak runtuh. Menjadi dingin agar tidak berharap. Dan menjadi sunyi agar tidak lagi percaya dengan siapapun. Kejadian itu sudah lama bahkan saat usia anak keduanya masih hitungan bulan.
Namun luka yang ditorehkan, sampai sekarang masih terasa sakitnya, bahkan ia menutup pintu akses dari keluarga mantan istrinya hingga sekarang.
"Aah ... kenapa harus teringat kembali!" ucap Cokro dengan nada frustrasi.
Cokro menatap tumpukan yang ada dihadapannya itu, dan untuk menghilangkan rasa stresnya pria itu mulai melampiaskan dengan cara bekerja dan bekerja.
Bersambung .....