NovelToon NovelToon
Miranda Istri Yang Diabaikan

Miranda Istri Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MIA 31

Miranda melihat Saras berjalan menuju kursi di lobi dekat tempatnya duduk. Langkah perempuan itu terdengar jelas di lantai marmer yang licin. Aroma kopi dari kafe hotel bercampur dengan wangi parfum mahal yang dipakai Saras. Miranda tetap tenang, seolah kedatangan itu tidak mengusik apa pun di hatinya. Ia hanya mengaduk jus jeruk di gelas bening sambil menunggu apa yang akan terjadi.

“Ngapain kamu ke sini?” tanya Rizki dengan nada kesal. Wajahnya terlihat tegang, rahangnya mengeras seperti menahan amarah.

Miranda menatap Rizki, dan entah kenapa nyali Rizki seketika ciut dibuatnya. Tatapan Miranda dingin, tidak tinggi, tetapi penuh keyakinan.

“Bukan urusan kamu,” jawab Miranda dengan nada datar. Suaranya pelan namun tajam, membuat beberapa pengunjung melirik ke arah mereka.

“Sombong banget kamu, Miranda,” ucap Saras dengan menatap sinis Miranda. Bibirnya melengkung mengejek.

“Iya lah, aku ini bukan wanita murahan yang ditiduri pria tua, makanya aku berhak sombong,” jawab Miranda. Setelah itu dia meminum jusnya dengan santai, seolah kalimat tadi hanyalah sapaan biasa.

Pikiran Saras kacau. Kecurigaannya bahwa Miranda mengetahui perselingkuhan dirinya dengan Anton semakin kuat. Di balik meja ia meremas gaunnya kencang, rasa gugup mendera hingga ujung jari. Wajahnya memucat meski ia berusaha tetap tersenyum.

“Kamu mau pakai pengacara Lutfi, ya, untuk menggugat kami?” ucap Rizki dengan nada sinis, mencoba mengalihkan pembicaraan.

Miranda menaruh ponselnya dan melihat ke arah Rizki, lalu berkata, “Sekali lagi, ini bukan urusanmu.”

“Pengacara Lutfi itu senior aku waktu kuliah. Dia mengenalku dengan baik. Kamu mau memakainya?” ucap Saras. “Jangan mimpi.”

Miranda tertegun. Lutfi adalah pengacara yang direkomendasikan Pak Karman. Ternyata ia teman baik Saras. Miranda mengerutkan kening. “Kalau temannya Pak Karman harusnya seusia Pak Karman. Ah, Saras ini memang hobi sama bandot tua,” pikir Miranda dalam hati. Ia menahan senyum tipis yang hampir muncul di sudut bibirnya.

Tak lama kemudian datang seorang laki-laki dengan penampilan glamor. Usianya mungkin sama dengan Rizki. Jasnya berwarna terang, rambutnya disisir rapi dengan minyak rambut mengilap. Langkahnya percaya diri seperti orang yang terbiasa menjadi pusat perhatian.

Saras langsung berdiri dan menyambut lelaki itu. “Ka Lutfi,” sapa Saras memberikan senyum terbaiknya, senyum yang selalu ia gunakan untuk memikat siapa saja.

Lelaki dengan dandanan glamor itu menghampiri Saras dan Rizki, lalu bersalaman. Setelah itu ia juga bersalaman dengan Miranda meski hanya sekilas.

“Mas Lutfi, apa kabar?” ucap Saras dengan suara dibuat selembut mungkin.

Pria itu tampak mengernyitkan dahi, mencoba mengingat sosok wanita yang ada di depannya. Tatapannya bergerak dari wajah Saras ke Rizki, lalu kembali lagi.

“Aku loh, Mas. Pernah kuliah di Universitas Harapan Kita,” ucap Saras berusaha membangkitkan ingatan.

Lutfi tampak mengerutkan dahi. “Keponakan Pak Anton?” tanyanya ragu.

“Benar sekali, Mas,” ucap Saras dengan bangga. “Ini aku sama anaknya Pak Anton.” Saras memperkenalkan Rizki seolah sedang memamerkan kartu truf.

Wajah Lutfi langsung berubah sopan saat melihat Rizki. Sikapnya lebih hangat dan penuh hormat, berbeda ketika menatap Miranda.

Mereka bertegur sapa sebentar, dan Miranda diabaikan begitu saja. Miranda hanya memerhatikan tanpa banyak ekspresi. Ia sudah terbiasa diperlakukan seperti bayangan.

“Maaf, Pak, kalau saya mengganggu, saya akan pergi dulu,” ucap Miranda sambil bersiap berdiri.

“Kamu jangan pergi dulu, Miranda, karena ini ada sangkutannya dengan kamu,” ucap Rizki cepat, seolah takut kehilangan kesempatan menekan Miranda.

“Di sini saja dulu, Mbak,” ucap Lutfi sopan namun formal. “Anda mencari siapa di sini, Mbak?”

“Saya direkomendasikan Pak Karman agar menemui Pak Lutfi,” jawab Miranda jujur.

“Pak Karman siapa ya?” gumam Pak Lutfi muda itu sambil mengingat-ingat.

Dalam pikiran Miranda muncul rasa heran. “Kenapa orang ini tidak mengenal Pak Karman? Apakah sebenarnya Pak Karman tidak dekat dengan orang ini?” batinnya penuh tanda tanya.

“Jadi begini, Mas,” ucap Saras cepat mengambil alih. “Dia adalah Miranda yang lagi viral itu.”

Lutfi tampak menatap Miranda lebih teliti. Ia memang mengikuti beberapa pemberitaan di media sosial tentang kasus tersebut.

“Yang diduga dalang kasus penipuan investasi bodong itu?” ucap Lutfi memastikan.

Miranda duduk kembali di sofa. Ia ingin tahu apa yang akan diucapkan Pak Lutfi ini. Ada atau tidak bantuan Lutfi, bagi Miranda tidak masalah. Kalau harus menempuh jalur hukum, Miranda akan ikut. Kalau harus menempuh jalan lain, ia juga tidak akan mundur. Toh mereka sudah menyebarkan berita palsu mengenai dirinya.

“Begini, Mas,” ucap Saras lagi. “Dia ini mempunyai banyak kasus. Kamu sudah memberikan dia uang tiga miliar, terus dia masih menuntut uang enam miliar dan saham kami sebanyak enam persen. Wanita ini benar-benar rakus.” Saras langsung memojokkan Miranda tanpa ragu.

“Uang tiga miliar itu uang saya, jadi saya hanya mengambil punya saya. Saya tidak pernah meminta hak orang lain,” jawab Miranda dengan enteng, matanya menatap lurus.

“Tiga miliar,” gumam Saras meremehkan. “Tak berpendidikan, dibuang keluarga kandung, tidak pernah punya usaha dan punya pekerjaan bonafide. Kamu kira orang akan percaya kamu punya uang sebanyak itu?”

Lutfi yang terbiasa berpikir dengan data dan bukti tentu saja tidak langsung bisa menghakimi Miranda. Ia mencondongkan tubuh sedikit.

“Apakah Anda bisa mempertanggungjawabkan dari mana asal uang itu?” tanya Lutfi memandang Miranda.

“Apakah Anda kenal dengan Pak Karman?” tanya Miranda yang mengabaikan pertanyaan Lutfi.

Tentu saja Lutfi merasa tidak senang. Ia merasa Miranda adalah wanita yang tidak sopan dan meremehkan profesinya.

“Saya tidak kenal dengan Pak Karman, dan tidak ada gunanya juga saya mengenalnya,” jawab Lutfi ketus.

“Kalau begitu saya tidak harus menjelaskan dari mana uang itu berasal,” jawab Miranda tenang.

“Anda benar-benar sombong, Mbak. Sepertinya pemberitaan di media sosial itu benar, kalau Anda mendapatkan uang tiga miliar itu dari hasil menipu,” ucap Lutfi yang mulai terpancing emosi.

Tentu saja Saras dan Rizki merasa senang dengan kemarahan Lutfi. Bagaimanapun nama Lutfi sudah terkenal di kalangan pebisnis sebagai pengacara handal. Mereka saling pandang penuh kemenangan.

“Pak Lutfi, kebetulan Miranda ada di sini. Apakah masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan? Kami tidak akan menuntut apa pun pada Miranda dengan pasal penipuan dan pemerasan, asal Miranda juga membuat pernyataan tidak akan meminta uang enam miliar dan saham empat persen,” ucap Rizki menemukan celah emas.

“Anda baik sekali, Pak Rizki,” ucap Lutfi memuji. “Sebenarnya bisa saja Anda menjerat Miranda dengan pasal berlapis dan dendanya besar serta bisa dihukum penjara, tapi Anda malah mengajak damai.”

Tatapan Lutfi beralih pada Miranda. “Ini adalah niat baik dari Pak Rizki. Sebaiknya Anda terima tawaran dari Pak Rizki.”

“Anda tidak kenal dengan Pak Karman, jadi buat apa saya ikut saran Anda. Masih banyak pengacara di negara ini yang bisa melihat persoalan secara objektif, tidak berdasar asumsi, apalagi dasarnya pemberitaan yang asal-usulnya saja tidak jelas.”

Sebagai pengacara muda, Lutfi mempunyai emosi yang belum stabil. Ia merasa Miranda sudah menginjak harga dirinya di depan klien penting.

“Anda sungguh sombong. Anda berhadapan dengan keluarga Sanjaya dan saya. Anda tidak akan menang,” ucapnya menahan marah.

Miranda berdiri dan tersenyum menyeringai. “Kita lihat saja nanti,” ucap Miranda hendak berlalu pergi. Detak jantungnya tetap tenang, seolah ancaman itu hanya angin lalu.

Namun sebuah suara menghentikannya.

“Nona Miranda.”

Miranda mencari sumber suara. Tampak seorang lelaki paruh baya, usianya tak jauh dari Pak Karman, berdiri melihat dirinya. Wajahnya ramah, sorot matanya hangat seperti orang yang sudah lama mengenal Miranda.

“Anda mencari saya?” tanya Miranda heran.

“Astaga, kenapa Anda tidak mengangkat telepon saya? Pak Karman dari tadi menelepon saya terus,” ucap lelaki itu dengan napas sedikit terengah.

Miranda mengernyit, lalu bertanya, “Maaf, Anda ini siapa?”

“Ya saya Lutfi Hakim. Anda ini benar-benar keterlaluan. Apakah saya ini kurang tenar?” ucap pria itu sambil tertawa kecil mencoba mencairkan suasana.

Miranda memandang lelaki itu, lantas bertanya, “Lantas dia siapa?” Miranda mengarahkan pandangan pada Lutfi muda yang sejak tadi duduk dengan wajah memerah.

“Alah, dia pengacara baru. Namanya Lutfi Kurniawan,” jawab pria paruh baya itu santai.

“Apakah Anda pemilik firma ini?” tanya Miranda memastikan.

“Ya iyalah. Ayo jangan di sini, mari masuk ke ruangan saya. Bisa dimarahi Pak Karman kalau saya tidak menjamu Anda dengan baik,” ucap Lutfi Hakim sambil memberi isyarat hormat.

Saras dan Rizki saling pandang. Wajah mereka berubah pucat. Mereka memang disarankan oleh Anton untuk datang ke firma Lutfi, dan ternyata mereka salah orang. Keheningan menggantung beberapa detik, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar. Miranda menatap keduanya dengan tatapan tenang, sementara langkah hidupnya seolah baru saja menemukan pintu yang selama ini tertutup rapat.

1
THAILAND GAERI
loh,,katanya hp nya hilang diambil Baron Ama kuki,,trs kok Miranda ditelp berkali2 ma org???apa beli hp baru ambil nomor sama ke Telkomsel GraPARI?
THAILAND GAERI
terlalu slow motion nih ceritanya..tp bikin curious🤣
Umi Asijah
ditunggu kelanjutannya
putmelyana
semangat Thor
putmelyana
lanjut terus ceritanya Thor aku nungguin chapter nya banyak dulu baca awal³ bikin sakit hti gak sanggup aku
cinta semu
bisa ny cuman curiga ...kalo g bisa ngatasi mending pergi aja knp ...biar g di bodohi terus
cinta semu
Miranda ny memang aneh ,, kebanyakan ngelamun 😁😁
cinta semu
Miranda bermain cantik berikan saja Amora pada keluarga raka ...u bisa ngatur strategi buat cari info suami u
falea sezi
MC nya goblok cerita muter teros
falea sezi
novel bkin mood anjlok maaf q ksih rating jelek
falea sezi
novel bertele tele
THAILAND GAERI: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
novel banyak teka teki jadi male baca g sat set/Drowsy/
falea sezi
MC nya goblok oon
sutiasih kasih
lnjut thor
sutiasih kasih
keluarga sundel....
awas klo mngemis pda miranda🙄🙄
sedayu
bikin naik darah si Rizky Sarah ini ...eh dukung aku Thor di sarjana undercover
sedayu
saras kudu si San tet 🤣
sutiasih kasih
kpan org tua durjana dpt karma ya🤔🤔🤔
trus para manusia" laknat kpan jga musnah n brhnti mngusik hidup miranda..🙄🙄
sutiasih kasih
ank kndung di sia"kn... ank pungut di ratukan...
ya sallam..... dunia memang suka trbalik dan lucu...
🙄🙄
Ma Em
Ayo Miranda hancurkan Anton dan Melisa jgn biarkan hdp nya tenang , apalagi si anak pungut Melisa itu buat dia menyesal seumur hdp nya serta Joni dan Ratna biar mereka tau bahwa anak yg dia sayangi itu hanya seorang penipu .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!