Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Aku tersentak. Suara Ayah seolah menarikku kembali dari jurang dimensi yang baru saja kukunjungi dalam tidurku. Aku segera menyeka air mata yang tersisa di pipi dengan ujung lengan baju, lalu berbalik menatap Ayah yang berdiri di ambang pintu kamar.
"Makan dulu, Nak. Sudah siang. Oh iya, besok kamu kan mau ke kota, mau daftar kuliah," ucap Ayah memecah keheningan. Wajahnya tampak tenang, jauh dari raut penuh luka dan amarah yang kulihat di "mimpi" tadi.
"Kuliah?" ulangku lirih. Kepalaku terasa sedikit berputar. Benar, aku baru ingat. Aku sudah lulus SMA dan besok adalah jadwal keberangkatanku ke kota besar untuk mengejar cita-cita sebagai ahli botani.
"Iya, jangan sampai telat. Busnya berangkat pagi-pagi sekali," Ayah tersenyum, namun ada kilatan aneh di matanya—kilatan yang sama dengan Ayah yang memegang tongkat kristal semalam. "Ayo, Ibu sudah masak enak."
Aku mengikuti Ayah ke meja makan, namun langkahku terasa berat. Di atas meja, sup jagung yang harum mengepulkan uap, persis seperti suasana sebelum "semuanya" dimulai semalam. Aku duduk dan mulai menyuap makanan, tapi pikiranku tertinggal di tepi danau.
"Ayah," panggilku tiba-tiba. "Apakah keluarga kita punya... rahasia? Tentang penjaga lembah atau semacamnya?"
Ayah dan Ibu saling berpandangan. Keheningan sesaat menyelimuti ruangan, hanya terdengar suara detak jam dinding tua.
"Rahasia apa, Nak?" Ibu tertawa kecil, meskipun tawanya terdengar sedikit dipaksakan. "Lembah ini memang ajaib, tapi tidak ada penjaga-penjagaan. Kamu pasti terlalu banyak baca novel fantasi yang kamu beli di kota itu."
Aku hanya terdiam, namun tanganku meraba liontin kristal biru di balik bajuku yang terasa dingin menyentuh kulit. Jika itu hanya mimpi, dari mana liontin ini berasal? Dan kenapa bunga biru di meja riasku masih ada di sana?
Malam harinya, saat aku sedang mengemas koper untuk keberangkatan besok, aku menemukan sebuah amplop terselip di dalam buku catatan botaniku. Amplop itu tidak berwarna kuning tua, melainkan putih bersih dengan segel lilin berwarna perak.
Tanpa sepengetahuan orang tuaku, aku membukanya. Di dalamnya bukan surat wasiat, melainkan sebuah tiket kereta tambahan dengan tujuan yang tidak pernah kudengar sebelumnya: Stasiun Bayangan - Sisi Utara.
Di balik tiket itu, ada tulisan tangan yang sangat kukenal:
"Kota besar itu bukan hanya tempat untuk kuliah, Kazumi. Di sana, kegelapan yang lebih besar sedang menunggumu. Carilah pria dengan mata biru elektrik di perpustakaan tua pusat kota. Dia punya jawaban yang kau cari."
Tanganku gemetar. Ternyata, kepergianku ke kota bukan sekadar untuk kuliah. Ini adalah awal dari babak kedua petualanganku. Lembah Biru mungkin sudah aman, namun di tengah hiruk-pikuk kota besar, "Dunia Seberang" ternyata telah menanamkan akarnya lebih dalam dari yang kubayangkan.
Besok, dengan tinggi badan 154 cm dan keberanian yang tersisa, aku akan melangkah keluar dari kedamaian lembah ini. Aku tidak tahu apa yang menantiku di kota, tapi satu hal yang pasti: Jika Kaelen ada di sana, aku akan menemukannya—meskipun aku harus mencarinya di antara jutaan wajah manusia.
Malam itu, Lembah Biru terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Aku berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang campur aduk. Kata-kata Ayah tentang kuliah dan kota besar terus berputar di kepalaku, mencoba mengubur memori tentang Menara Sunyi dan Kaelen.
"Dunia itu sudah tidak ada, Kazumi," bisikku pada diri sendiri, mencoba meyakinkan logika bahwa semua yang kualami hanyalah proyeksi dari kecemasanku menjelang dewasa. "Hanya ada dunia ini. Dunia di mana aku harus belajar, mencari kerja, dan hidup normal."
Namun, liontin di leherku seolah menolak untuk diam. Kristal biru itu berdenyut pelan, seirama dengan detak jantungku. Setiap kali aku memejamkan mata, aku tidak melihat kegelapan, melainkan kilasan cahaya biru elektrik yang seolah memanggilku dari kejauhan.
Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela. Di luar, angin malam memainkan pucuk-pucuk pohon. Tidak ada monster, tidak ada prajurit api. Hanya ada ketenangan. Tapi saat aku menatap ke arah meja rias, bunga biru itu masih tegak berdiri, kelopaknya sedikit bercahaya di tengah kegelapan kamar.
Aku mengambil kuas emas peninggalan Ren dan merasakannya di jemariku. Jika ini semua hanya mimpi, kenapa benda-benda ini begitu nyata? Kenapa rasanya seolah aku sedang berdiri di antara dua garis waktu yang saling tumpang tindih?
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pelan di pintuku.
"Kazumi? Belum tidur?" Itu suara Ibu.
Aku segera menyembunyikan kuas dan bunga itu di bawah tumpukan baju. "Belum, Bu. Hanya sedang merapikan koper."
Ibu masuk ke kamar, duduk di pinggir tempat tidurku. Ia menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang membuatku merasa seolah ia tahu segalanya tapi memilih untuk bungkam demi keselamatanku.
"Kota itu tempat yang sangat sibuk," ucap Ibu lembut sambil mengusap kepalaku. "Jangan pernah lupakan siapa dirimu yang sebenarnya, meskipun orang-orang di sana akan memintamu untuk menjadi orang lain. Dan... jika kau merasa takut, ingatlah aroma bunga Han di lembah ini."
Ibu kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jubah tidurnya—sebuah botol parfum kecil yang berisi cairan biru jernih. "Gunakan ini jika kau merasa duniamu mulai terasa 'gelap'. Ini resep turun-temurun dari nenekmu."
Setelah Ibu keluar, aku menggenggam botol itu. Aromanya bukan seperti parfum bunga biasa; baunya persis seperti udara di dalam Gua Kristal Biru. Dingin, segar, dan mengandung jejak aroma tubuh Kaelen.
Malam semakin larut. Aku kembali berbaring, memeluk ranselku yang akan kubawa besok. Di antara sadar dan tidak, aku merasa seolah ada seseorang yang duduk di kursi belajarku, memperhatikanku tidur dengan tatapan penuh proteksi. Aku tidak takut. Justru, kehadiran itu membuatku akhirnya bisa tertidur lelap.
"Tidurlah, Penjaga Kecil. Besok, permainan yang sebenarnya baru saja dimulai."
Bisikan itu adalah hal terakhir yang kudengar sebelum aku benar-benar terlelap, bersiap menghadapi matahari esok hari yang akan membawaku pergi dari Lembah Biru menuju hiruk-pikuk kota manusia.