Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.
Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBERSIHAN TERAKHIR
Langit Jakarta sore itu tampak pekat, seolah-olah awan kelabu yang menggantung rendah di atas cakrawala ikut merasakan ketegangan yang merambat di setiap sudut kota. Maximilian Alfarezel duduk tegak di dalam kabin jet pribadinya yang mulai merendah menuju landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma. Di sampingnya, Vivien Aksara menatap kosong ke arah deretan gedung pencakar langit yang mulai terlihat dari balik jendela. Tidak ada lagi senyum kemenangan, yang ada hanyalah kelelahan psikologis yang sangat dalam setelah konfrontasi mematikan di pegunungan Alpen. Maximilian menggenggam erat sebuah koper hitam kecil di pangkuannya—koper yang berisi bukti fisik terakhir, daftar aset tersembunyi, dan pengakuan tertulis ayahnya, Arthur Alfarezel, sebelum bunker di Swiss itu meledak.
"Max, kau yakin kita bisa melakukan ini tanpa memicu perang saudara di dalam perusahaan?" suara Vivien memecah keheningan kabin. Tangannya masih sedikit gemetar saat ia menyesap teh hangatnya.
Maximilian menoleh, tatapannya tajam namun tenang. "Perang itu sudah terjadi, Viv. Bedanya, sekarang kita memegang senjata nuklirnya. Julian Vane dan antek-antek Phoenix di Jakarta mungkin merasa mereka bisa mengendalikan situasi karena mereka memegang kendali atas struktur operasional harian, tetapi mereka lupa bahwa fondasi kekuasaan mereka dibangun di atas kebohongan yang sekarang sudah terbongkar di seluruh dunia melalui transmisi Gideon."
Begitu roda pesawat menyentuh aspal, Maximilian bisa melihat deretan SUV hitam yang sudah menunggu di pinggir landasan. Namun, ini bukan pengawalan biasa. Gideon berdiri di sana bersama tim taktis yang mengenakan rompi antipeluru lengkap, bukan lagi mengenakan setelan jas formal sebagai asisten pribadi. Begitu pintu pesawat terbuka, udara panas dan lembap Jakarta menyergap mereka, memberikan kontras yang sangat kontras dengan dinginnya salju Zurich yang baru saja mereka tinggalkan.
"Situasi terkini, Gideon?" tanya Maximilian sambil menuruni tangga jet dengan langkah yang lebar dan pasti.
"Gawat, Tuan," jawab Gideon dengan nada bicara yang cepat dan efisien. "Julian Vane telah membarikade dirinya di kantor pusat Alfarezel Group. Dia membawa setidaknya lima puluh personel keamanan swasta yang setia kepadanya. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah langkahnya menyandera dewan direksi yang tidak mau tunduk padanya. Dia tahu posisinya terjepit setelah data dari 'The Nest' bocor ke Interpol. Dia bertindak seperti tikus yang terpojok—sangat berbahaya."
Vivien melangkah maju, wajahnya mengeras. "Bagaimana dengan anakku? Bagaimana dengan Alaric?"
"Tuan muda Alaric aman, Nyonya," jawab Gideon cepat, mencoba memberikan ketenangan. "Bara telah memindahkan Alaric ke sebuah safehouse rahasia di pinggiran Bogor dua jam yang lalu. Pengasuh pengkhianat itu sudah kita amankan dan sekarang sedang diinterogasi. Fokus kita sekarang adalah Menara Alfarezel. Julian mengancam akan menghancurkan seluruh data keuangan perusahaan jika kita mencoba masuk secara paksa."
Maximilian masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Vivien. Di dalam kendaraan yang melaju kencang menembus kemacetan Jakarta dengan bantuan sirine pengawalan, Maximilian membuka laptopnya. Ia melihat grafik saham perusahaannya yang jatuh bebas. Media massa di seluruh Indonesia sedang melakukan siaran langsung mengenai skandal terbesar dalam sejarah korporasi ini. Wajah Arthur Alfarezel dan Aksara muncul secara bergantian di layar televisi, dikaitkan dengan sindikat internasional yang menakutkan.
"Dunia membenci kita sekarang, Max," bisik Vivien sambil menatap layar tersebut. "Mereka melihat kita sebagai bagian dari monster yang mengisap darah ekonomi dunia."
"Itu harga yang harus kita bayar untuk kebenaran, Viv. Kita tidak bisa membersihkan nama keluarga kita tanpa mengakui bahwa tangan orang tua kita memang pernah kotor," sahut Maximilian. Ia kemudian menekan tombol komunikasi di dasbor mobil. "Bara, apakah kau sudah berada di posisi?"
"Sudah, Tuan," suara Bara terdengar melalui interkom, diselingi suara angin yang kencang. "Saya berada di atap gedung seberang. Saya punya visual ke kantor Julian. Dia terlihat sedang memindahkan beberapa kotak hitam. Sepertinya dia mencoba memusnahkan bukti fisik yang tidak sempat dikirim ke Swiss."
Mobil-mobil mereka akhirnya tiba di kawasan SCBD. Menara Alfarezel tampak seperti benteng yang terkepung. Garis polisi sudah terpasang di radius lima ratus meter, namun Maximilian memerintahkan pengemudinya untuk menembus barikade tersebut. Saat ia keluar dari mobil, ratusan kamera wartawan langsung menyambar dengan kilatan lampu flash yang membutakan. Maximilian mengabaikan semua pertanyaan yang diteriakkan kepadanya. Ia berjalan lurus menuju lobi gedung, di mana barisan pria bersenjata milik Julian sudah menantinya.
"Berhenti di sana, Maximilian!" teriak salah satu kepala keamanan Julian dari balik meja resepsionis yang telah dijadikan barikade. "Tuan Vane memerintahkan kami untuk menembak siapa pun yang mencoba naik ke lantai eksekutif!"
Maximilian berhenti tepat di tengah lobi yang luas dan sunyi itu. Ia tidak mencabut senjata. Ia justru mengangkat koper hitam yang dibawanya tinggi-tinggi. "Dengarkan aku baik-baik! Aku tidak peduli pada Julian Vane! Tapi di dalam koper ini, ada daftar lengkap rekening rahasia yang digunakan Phoenix untuk membayar kalian semua. Jika kalian menembakku hari ini, akun-akun itu akan dibekukan secara permanen dalam hitungan detik oleh server Interpol. Kalian tidak akan mendapatkan sepeser pun, dan keluarga kalian akan dikejar oleh hukum internasional sampai ke liang lahat!"
Keheningan yang mencekam menyelimuti lobi. Para penjaga itu saling pandang, keraguan mulai muncul di mata mereka. Mereka hanyalah tentara bayaran, bukan pahlawan yang siap mati demi bos yang sedang karam.
"Letakkan senjata kalian, dan aku berjanji akan memberikan amnesti bagi mereka yang kooperatif," lanjut Maximilian dengan nada suara yang berwibawa. "Pilihannya sederhana: tetap bersama kapal yang tenggelam, atau selamatkan diri kalian sekarang."
Satu per satu, senjata-senjata itu diletakkan di lantai marmer dengan suara dentingan logam yang bergema. Maximilian berjalan melewati mereka tanpa menoleh sedikit pun, menuju lift eksekutif yang langsung menuju lantai 50. Vivien mengikuti di belakangnya, menggenggam sebuah folder berisi dokumen sah yang membuktikan bahwa seluruh kepemilikan saham Julian Vane telah dibatalkan berdasarkan klausul pelanggaran integritas korporasi.
Saat pintu lift terbuka di lantai paling atas, pemandangan di kantor pusat sangat kacau. Kertas-kertas berserakan, beberapa layar monitor pecah, dan aroma alkohol yang tajam menusuk hidung. Julian Vane duduk di kursi kebesaran Arthur Alfarezel, menatap kota Jakarta yang mulai dihiasi lampu-lampu malam. Di tangannya terdapat sebuah pistol dan sebuah tablet kendali.
"Akhirnya, sang pangeran kembali dari gunung es," ucap Julian tanpa berbalik. Suaranya terdengar serak, menunjukkan keputusasaan yang disamarkan oleh kesombongan. "Kau membawa kehancuran bersamamu, Max. Kau menghancurkan mainan yang kita bangun bersama selama sepuluh tahun."
"Mainan ini tidak pernah milikmu, Julian," sahut Maximilian sambil melangkah ke tengah ruangan. "Kau hanyalah parasit yang merasa dirinya adalah pemilik inangnya. Dan sekarang, inangnya sudah menolakmu."
Julian berdiri dan berbalik, pistolnya kini mengarah tepat ke dada Maximilian. "Jangan bicara soal moral padaku! Aku yang melakukan semua kotoran untuk ayahmu! Aku yang memastikan aset Aksara tidak disita pemerintah saat dia mati! Tanpa aku, kau hanya akan menjadi pengemis di jalanan Paris, bukan CEO yang sombong ini!"
Vivien melangkah maju, berdiri di samping Maximilian meskipun laras pistol itu kini juga mengancamnya. "Ayahku mati karena dia tidak mau lagi menjadi bagian dari kegilaan kalian, Julian. Kau membunuhnya secara perlahan dengan tekanan yang kau berikan setiap hari. Kau bukan menyelamatkan aset Aksara, kau mencurinya!"
"Diam, kau wanita jalang!" teriak Julian, matanya tampak liar. "Kalian berdua pikir kalian bisa menang hanya karena memiliki dokumen dari Swiss itu? Aku sudah memasang alat penghancur data magnetik di seluruh ruang server bawah tanah. Jika aku menekan tombol ini, seluruh bukti keterlibatanku akan musnah, dan Alfarezel Group akan kehilangan seluruh data nasabahnya. Kalian akan bangkrut total!"
Maximilian tersenyum, sebuah senyuman yang membuat Julian merasa merinding. "Kau pikir aku tidak tahu kau akan melakukan itu? Gideon sudah memutus aliran listrik ke ruang server sejak sepuluh menit yang lalu. Dan sistem cadanganmu? Sudah disabotase oleh Bara tadi malam sebelum aku mendarat. Kau tidak memegang apa pun, Julian. Yang kau pegang hanyalah pistol yang akan membawamu ke hukuman mati."
Wajah Julian berubah pucat. Ia mencoba menekan tombol pada tabletnya berkali-kali, namun tidak ada reaksi. Dengan raungan kemarahan, ia menarik pelatuk pistolnya.
BANG!
Suara tembakan itu memecahkan kaca jendela besar di belakang Maximilian, namun peluru itu tidak mengenai siapa pun. Dalam gerakan refleks yang luar biasa, Maximilian telah menerjang Julian sebelum ia sempat melepaskan tembakan kedua. Mereka bergulat di lantai, di antara pecahan kaca dan dokumen yang berserakan. Maximilian melayangkan pukulan keras ke rahang Julian, membuat pria itu terkapar lemas.
Bara dan Gideon merangsek masuk ke ruangan beberapa detik kemudian, langsung memborgol tangan Julian Vane. Maximilian berdiri, merapikan jasnya yang kotor, dan mengambil pistol Julian dari lantai. Ia menatap pria yang dulu ia anggap sebagai paman itu dengan kehampaan yang dingin.
"Bawa dia keluar," perintah Maximilian. "Serahkan dia pada tim khusus Interpol yang menunggu di lobi. Pastikan dia tidak punya akses ke telepon atau pengacara mana pun sampai seluruh asetnya disita."
Saat Julian diseret keluar, ia terus berteriak tentang kutukan keluarga Alfarezel, namun suaranya segera hilang seiring pintu lift yang tertutup. Vivien mendekati Maximilian dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Sekarang apa, Max?" tanya Vivien pelan.
Maximilian menatap meja kerja ayahnya. Ia mengambil foto kecil yang ada di sana—foto Arthur, Aksara, dan dirinya saat masih kecil. "Sekarang kita melakukan apa yang seharusnya dilakukan sepuluh tahun yang lalu. Kita akan mengadakan konferensi pers. Kita akan mengakui semuanya. Kita akan membayar denda, kita akan mengompensasi para korban Phoenix, dan kita akan membangun kembali Alfarezel-Aksara dari nol. Bukan sebagai imperium hitam, tapi sebagai perusahaan yang transparan."
"Masyarakat tidak akan memaafkan kita dengan mudah," ucap Vivien.
"Mungkin tidak. Tapi setidaknya kita bisa menatap mata Alaric saat dia besar nanti tanpa merasa malu akan namanya sendiri," jawab Maximilian.
Malam itu, di bawah sorotan lampu kamera dari seluruh penjuru dunia, Maximilian Alfarezel dan Vivien Aksara berdiri berdampingan. Mereka membongkar fakta di Zurich, pengkhianatan di Jakarta, dan kematian Arthur di Alpen. Pengakuan itu mengguncang dunia finansial, namun di tengah badai tersebut, ada rasa lega yang tak ternilai harganya.
Setelah konferensi pers yang melelahkan itu berakhir, Maximilian dan Vivien kembali ke kediaman mereka. Di sana, di dalam kamar bayi yang tenang, Arthur (putra mereka yang namanya kini telah dipulihkan menjadi Alaric) sedang tertidur lelap. Maximilian menggendong putranya dengan sangat hati-hati, merasakan detak jantung kecil yang menjadi pengingat mengapa semua peperangan ini layak untuk dijalani.
Pembersihan telah selesai. Tidak ada lagi agen Phoenix yang bersembunyi di balik bayangan. Tidak ada lagi kontrak darah yang mengikat nasib mereka. Maximilian menatap Vivien, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melihat harapan yang tulus di mata istrinya. Mereka tahu jalan di depan akan sangat sulit, penuh dengan sanksi hukum dan restrukturisasi yang berat, namun mereka tidak lagi berlari dari hantu masa lalu.
Maximilian menutup jendela kamar, menghalangi suara hiruk-pikuk kota Jakarta yang masih membicarakan namanya. Ia mematikan lampu, meninggalkan kegelapan yang kini terasa damai, bukan lagi menakutkan. Di atas meja rias, pemantik api perak milik Arthur Alfarezel berkilau pelan terkena cahaya bulan—sebuah monumen bisu bagi akhir dari sebuah era dan awal dari kehidupan yang benar-benar merdeka.