Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.
"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.
"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."
David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Tiga bulan telah berlalu sejak malam penuh drama di mansion Martinez. Hidup berjalan seperti aliran sungai yang tenang namun menghanyutkan. Leonor kini telah sepenuhnya beradaptasi dengan statusnya sebagai menantu kesayangan, meski di kampus mereka masih menjaga rahasia itu dengan rapat.
Edgar pun tetap menjadi Daddy yang paling bersemangat, meski candaan tentang anak itu perlahan mulai dianggap sebagai bumbu romantis belaka setelah tragedi "keguguran palsu" di hari pernikahan mereka.
Namun, pagi itu, takdir memutuskan untuk berhenti bermain sandiwara.
Sinar matahari baru saja menyentuh jendela kamar saat sebuah dentuman keras terdengar dari arah area walk-in closet. Edgar yang baru saja akan mengenakan jam tangannya tersentak. Ia menoleh dan mendapati Leonor sudah tergeletak lemas di depan pintu kamar mandi, wajahnya sepucat kertas dan napasnya pendek-pendek.
"Leonor!" teriak Edgar, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Ia melompat dan menyambar tubuh Leonor ke dalam pelukannya. Tubuh istrinya terasa dingin. Kepanikan Edgar meledak, suaranya menggelegar memanggil seluruh orang di mansion. "Dad! Mom! Seseorang tolong! Leonor pingsan!"
Dalam hitungan detik, koridor mansion menjadi ricuh. Julian Martinez yang masih mengenakan jubah mandinya dan Isabella yang tampak panik langsung muncul di ambang pintu. Melihat wajah pucat Leonor, Julian tidak membuang waktu.
"Bawa ke mobil sekarang! Jangan tunggu ambulans!" perintah Julian dengan suara menggelegar.
Edgar menggendong Leonor masuk ke dalam mobil mewah mereka yang dipacu kencang menuju rumah sakit terbaik di kota.
Di sepanjang jalan, Edgar terus menggenggam tangan Leonor, menciumi jemarinya sambil merapal doa yang tidak putus-putus. Air mata yang jarang terlihat kini menggenang di pelupuk mata sang pewaris Martinez.
Sesampainya di rumah sakit, Leonor segera dilarikan ke ruang instalasi darurat. Isabella menangis di pelukan Julian, sementara Edgar berjalan mondar-mandir seperti harimau yang terluka.
"Ini semua salahku, aku membiarkannya bekerja terlalu keras untuk koleksi barunya," gumam Edgar penuh penyesalan.
Beberapa jam kemudian, seorang dokter senior keluar dengan senyum yang sulit diartikan. Ia menatap keluarga Martinez yang tegang. "Tuan Edgar, Nyonya Leonor sudah sadar. Dia hanya mengalami kelelahan ekstrem dan tekanan darah yang agak rendah."
"Tapi kenapa dia sampai pingsan, Dok?" tanya Edgar cepat.
Dokter itu terkekeh pelan. "Itu wajar bagi wanita yang sedang mengandung. Tapi saya sedikit terkejut... apa kalian benar-benar tidak tahu bahwa janinnya sudah sangat kuat?"
Edgar dan kedua orang tuanya masuk ke dalam ruang perawatan dengan langkah ragu. Di sana, Leonor sudah bersandar di bantal, tampak masih sedikit bingung. Dokter kemudian menyiapkan alat USG di samping ranjang.
"Mari kita lihat si kecil ini," ucap dokter sambil mengoleskan gel dingin di perut Leonor.
Layar monitor yang awalnya gelap tiba-tiba menampilkan sebuah bentuk yang sudah sangat jelas. Ada kepala, tangan yang bergerak-gerak kecil, dan detak jantung yang terdengar sangat cepat serta kuat di dalam ruangan itu.
Deg. Deg. Deg. Deg.
"Tunggu dulu," Edgar mematung, matanya hampir keluar menatap layar. "Itu... itu bayi? Tapi kenapa sudah sebesar itu? Bukankah..."
"Nyonya Leonor sudah hamil 14 minggu, Tuan Edgar," ucap dokter dengan mantap. "Hampir masuk bulan keempat."
Keheningan seketika melanda ruangan itu. Angka 14 minggu bergema di kepala Edgar seperti ledakan bom atom. Empat belas minggu yang lalu adalah malam pertama mereka, malam di mana mereka melakukannya dengan pelan demi drama keguguran yang ternyata tidak pernah ada.
"Empat belas minggu?" gumam Edgar tak percaya. Ia menatap perut Leonor yang masih tertutup selimut. Selama ini, perut Leonor memang sedikit lebih berisi, tapi Edgar selalu berpikir itu karena Leonor mulai banyak makan berkat masakan koki mansion. Dan tentang dadanya yang terasa lebih sensitif dan padat... Edgar selalu berpikir itu adalah efek dari pijatan kasih sayang yang sering ia berikan setiap malam.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa di balik perut yang masih tampak rata itu, ada seorang manusia kecil yang sedang tumbuh dengan gagah berani selama tiga bulan tanpa mereka sadari.
Isabella Martinez adalah yang pertama pecah dalam tangis bahagia. "Ya Tuhan! Cucu pertamaku! Dia tidak pernah pergi! Dia ada di sana selama ini!" Isabella memeluk Julian dengan erat, sementara Julian Martinez, sang singa bisnis yang dingin, kini harus menyeka sudut matanya yang basah.
"Anak ini... dia benar-benar pejuang," bisik Julian dengan suara serak penuh kebanggaan.
Edgar mendekati ranjang, ia berlutut dan menggenggam tangan Leonor. Keduanya saling bertatapan. Leonor menangis tersedu-sedu, tangis haru yang sangat berbeda dengan tangis sedih saat ia diusir David.
"Edgar... dia benar-benar ada," bisik Leonor sambil menyentuh perutnya sendiri yang kini terasa begitu berharga. "Butir pasir kita... dia tidak pernah hilang."
Edgar menempelkan keningnya di tangan Leonor. "Maafkan Daddy, Sayang. Daddy bodoh sekali sampai tidak menyadari keberadaanmu. Daddy pikir Mommy hanya bertambah berat badan karena bahagia."
Edgar kemudian memberanikan diri menyentuh perut Leonor, dan kali ini, air matanya jatuh tepat di atas kulit perut istrinya. "Hai, jagoan... atau putri cantik... Maafkan Daddy ya. Terima kasih sudah bertahan di sana meski Mommy dan Daddy sangat konyol."
Malam itu, kamar perawatan Leonor berubah menjadi tempat pesta kecil. Isabella sudah sibuk menelpon toko perlengkapan bayi paling mewah di seluruh dunia, memesan kereta bayi berlapis emas dan pakaian bayi dari bahan kasmir terbaik.
"Satu ayah melepaskanmu, Leonor," ucap Julian sambil menepuk bahu menantunya, "tapi lihatlah sekarang. Anak ini lahir untuk dicintai oleh seluruh keluarga Martinez. Dia tidak akan pernah merasa tidak diinginkan seperti yang kau rasakan dulu."
Leonor merasa dadanya sesak karena kebahagiaan. Ia teringat kata-kata David Gonzales yang menyebutnya anak tak berguna. Kini, di dalam rahimnya, ada generasi penerus keluarga Martinez yang sangat dinantikan.
Edgar tidak melepaskan pelukannya pada Leonor. "Kau dengar itu, Leo? Tidak akan ada lagi rahasia. Besok, seluruh dunia harus tahu bahwa Nyonya Martinez sedang mengandung pewaris tunggal MTZ Group. Dan kali ini, ini bukan drama."
Edgar kembali mencium perut Leonor dengan penuh takzim. "Selamat datang di keluarga gila ini, jagoan. Daddy berjanji, kali ini Daddy akan benar-benar menjagamu dan Mommy dengan nyawa Daddy sendiri."
Tawa dan tangis haru memenuhi ruangan itu. Leonor menatap ke jendela, melihat bintang-bintang yang bersinar terang di langit malam. Ia menyadari bahwa pingsannya pagi ini bukan hanya tanda kelelahan, tapi cara si kecil di dalam perutnya untuk menyapa dunia dan berkata bahwa dia siap untuk dicintai. Dan bagi Leonor, memiliki Edgar dan keluarga Martinez di sisinya adalah mukjizat yang mengubah seluruh penderitaan masa lalunya menjadi sebuah dongeng indah yang kini menjadi kenyataan.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading Dear😍