Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengejaran di Balik Kabut
Perjalanan menuju kaki bukit seharusnya hanya memakan waktu dua hingga tiga jam, namun alam seolah sedang bersekongkol dengan takdir untuk menguji kesabaran sang Matahari. Di dalam mobil, Kara duduk tegang di kursi belakang. Tangannya mencengkeram lutut, sementara telinganya tajam menangkap setiap bunyi di sekitarnya.
"Eyang, kenapa kita berhenti?" tanya Kara saat merasakan mobil melambat dan akhirnya berhenti total.
Kakek Kara menghela napas panjang, menatap ke depan melalui kaca mobil yang mulai buram oleh titik-titik air. "Ada pohon tumbang di depan, Le. Melintang persis di tengah jalan. Sepertinya kena angin kencang tadi."
"Bisa kita putar balik cari jalan lain?" suara Kara terdengar mendesak.
"Jalan pintasnya lewat jalur bawah, tapi itu daerah rawan longsor kalau hujan sederas ini. Sabar ya, ada warga yang sedang coba memotong batangnya."
Kara menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Kegelapan di matanya terasa semakin menyesakkan saat ia tahu tujuannya sudah dekat namun tak bisa dijangkau. Setiap menit yang berlalu terasa seperti satu tahun. Ia takut jika ia terlambat semenit saja, Aira akan menyadari keberadaannya dan lari lebih jauh lagi.
Sementara itu, di Panti Kasih Abadi, suasana mulai gaduh. Angin kencang menghantam jendela-jendela tua hingga berderak. Aira sedang sibuk membantu mengevakuasi para lansia dari ruang tengah yang atapnya mulai bocor.
"Aira, tolong bantu Mbah Isah di kamarnya! Dia ketakutan kalau ada petir," teriak Ibu Sarah di tengah hiruk-pikuk.
Aira berlari menuju kamar Mbah Isah. Namun, tepat saat ia melewati koridor samping, lampu panti mendadak padam. Pet! Kegelapan total menyergap.
Aira membeku. Kegelapan ini mengingatkannya pada malam operasi Kara. Ia meraba dinding, jantungnya berpacu. Di tengah kegelapan itu, ia mendengar suara gaduh dari arah pintu masuk.
"Permisi! Apa ada orang di dalam?" sebuah suara laki-laki terdengar.
Aira menahan napas. Genta? Ia mengenali suara itu. Itu suara teman sekelas Kara. Kenapa dia ada di sini? Apakah mereka sudah tahu tempat persembunyiannya?
"Maaf, kami dari sekolahnya Syaira Lawana. Kami mencari dia," suara itu terdengar lagi, kali ini diikuti langkah kaki yang terburu-buru.
Aira panik. Ia tidak siap. Ia belum siap menghadapi masa lalunya. Dengan langkah seribu, ia tidak jadi menuju kamar Mbah Isah, melainkan lari menuju pintu belakang panti yang menuju ke arah hutan pinus. Ia tidak peduli pada hujan yang mulai menggila di luar. Pikirannya hanya satu: Jangan biarkan mereka membawaku kembali. Jangan biarkan aku merusak hidup Kara lagi.
Kembali ke jalan raya, mobil kakek Kara akhirnya bisa bergerak kembali setelah satu jam tertahan. Namun, hambatan tidak berhenti di situ. Kabut di kaki bukit turun begitu pekat hingga jarak pandang tidak lebih dari dua meter.
"Kara, Eyang tidak bisa melihat jalan sama sekali. Putih semua," ujar Kakek dengan suara cemas. "Kita harus berhenti sampai kabutnya sedikit terangkat."
"Tidak bisa, Eyang! Tolong... pelan-pelan saja," mohon Kara. "Aku punya firasat dia sedang mencoba lari lagi. Aku bisa merasakannya, Eyang. Samuderanya sedang menjauh."
Kakek Kara menatap cucunya dengan iba. Ia memaksakan mobil bergerak merayap, setapak demi setapak menembus dinding kabut. Namun, tiba-tiba terdengar bunyi brak! yang cukup keras. Ban depan mobil terperosok ke dalam selokan yang tertutup genangan air.
Mobil itu miring. Mesinnya mati.
"Sial," umpat Kakek pelan.
Kara terdiam. Ia membuka pintu mobil, membiarkan angin dingin dan hujan membasahi wajahnya. Ia tidak bisa melihat lubangnya, tidak bisa melihat jalannya, tapi ia bisa mendengar suara hutan di kejauhan.
"Eyang, panti itu... berapa jauh lagi dari sini?"
"Mungkin satu kilometer lagi, Le. Tapi kamu tidak bisa jalan kaki dalam kondisi begini!"
Kara tidak mendengarkan. Ia meraba saku jaketnya, memastikan tongkat lipatnya ada di sana. Ia turun dari mobil, kakinya langsung terendam air setinggi mata kaki.
"Aku akan jalan, Eyang. Matahari tidak butuh mata untuk tahu ke mana dia harus terbit," ujar Kara lantang, menantang deru badai.
Dengan tongkat yang ia ayunkan ke kiri dan ke kanan untuk mencari pijakan, Kara mulai melangkah sendirian menembus badai. Ia menabrak semak, ia terpeleset di tanah berlumpur, tapi ia tidak berhenti. Di saat yang sama, di dalam hutan pinus yang gelap, Aira juga sedang berlari, dikejar oleh ketakutannya sendiri, tanpa menyadari bahwa orang yang paling ia hindari sedang mempertaruhkan nyawa untuk meraba jalannya menuju dia.
...****...
......Ya Allah selamatkan Kara 🤲......
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰