Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Bersandar Tanpa Jaminan
Jemari Are berhenti di atas keyboard. Ia tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu sebelum ia menutup laptopnya separuh, tidak sepenuhnya, seolah masih ingin melihat data itu dari sudut matanya.
“Untuk perusahaan?” katanya akhirnya tenang. “Dampaknya sementara.”
Zelia menatapnya.
“Klarifikasi beliau cukup menenangkan pasar. Investor institusi tidak bereaksi berlebihan. Mereka hanya ingin kepastian bahwa tidak ada konflik struktural.”
Ia meraih gelas susu, tapi tidak langsung meminumnya.
“Yang berubah bukan saham,” lanjutnya pelan. “Yang berubah adalah persepsi.”
“Persepsi tentang apa?” tanya Zelia.
“Bahwa Presiden Komisaris bisa dipertanyakan.”
Kalimat itu terlontar pelan, tapi berat.
Zelia terdiam.
“Selama ini beliau berada di posisi yang, nyaris tidak tersentuh,” tambah Are. “Bersih. Stabil. Senior. Hari ini, untuk pertama kalinya, dewan melihat bahwa beliau juga bisa salah langkah.”
Zelia menunduk sedikit. “Itu buruk?”
“Bagi beliau? Ya.”
“Bagi perusahaan?”
Are menoleh padanya. “Belum tentu.”
Zelia mengerutkan kening.
“Perusahaan yang sehat bukan perusahaan tanpa konflik,” jelas Are. “Tapi perusahaan yang konflik internalnya bisa dikendalikan tanpa merusak fondasi.”
Ia menatapnya lebih dalam. “Masalahnya sekarang bukan lagi klarifikasi.”
“Lalu apa?”
“Bagaimana beliau merespons setelah ini.”
Untuk sesaat mereka sama-sama diam.
“Orang yang merasa kehilangan kendali,” lanjut Are pelan, “cenderung melakukan dua hal. Mundur… atau menyerang lebih keras.”
Zelia menelan pelan. “Menurutmu, apa Papa akan mundur?”
Tatapan Are kembali ke layar laptopnya.
“Tidak.” Jawabannya sederhana. Pasti.
Zelia tersenyum tipis. Bukan senyum ringan. “Jadi ini belum selesai.”
Are akhirnya meminum susunya. “Ini baru dimulai.”
Hening kembali menyelimuti ruangan. Di luar jendela, lampu kota menyala seperti bintang-bintang kecil yang berpendar.
Ketenangan di antara mereka bukan berarti aman. Hanya jeda sebelum langkah berikutnya.
Zelia menghela napas panjang. Lalu, seperti biasa tanpa izin, ia bersandar. Namun kali ini bukan di bahu. Di dada.
Are mengembuskan napas pelan. Berat. Awalnya hanya lengan yang ia izinkan. Lalu pinggang. Lalu leher. Lalu kaki yang melingkar di pinggang tanpa sadar.
Sekarang?
Ia menunduk sedikit. Aroma sampo Zelia menguar lembut, terlalu dekat, terlalu nyata.
"Gadis ini makin tak punya batas," gerutunya dalam hati. "Dan sialnya… aku bahkan tak bisa menolaknya."
“Are,” panggil Zelia pelan.
“Hm?” sahutnya spontan.
“Apa aku tetap bisa bersandar padamu kalau aku lelah? Kalau aku goyah?”
Are terdiam.
Kalimat itu sederhana. Tapi ada nada takut yang disembunyikan rapi. Ada harap yang tidak ingin ditolak.
Dan entah kenapa, itu lebih berbahaya daripada sentuhan apa pun.
“Zelia,” katanya akhirnya pelan, “aku nggak bisa memberikan apa pun buat kamu.”
Zelia menarik napas kasar. Ia menegakkan tubuhnya.
“Ya sudah,” katanya, berusaha terdengar ringan meski suaranya tipis. “Kalau kamu nggak punya apa-apa untuk diberikan, biar aku yang kasih kamu segalanya.”
Ia bangkit. Masuk ke kamarnya. Pintu tertutup pelan.
Are tetap duduk.
Entah kenapa dadanya terasa sesak. Ia mencoba menarik napas panjang. Sekali. Dua kali. Sesak itu tidak hilang.
Tatapannya jatuh pada gelas susu Zelia yang masih utuh, tak tersentuh.
“Aku sudah berjanji…” gumamnya pelan.
Tangannya mengepal. Ia menutup hati demi gadis yang pernah menyelamatkannya. Tapi sekarang, setelah sekian lama tak tersentuh, hatinya goyah.
Dan ia tidak tahu mana yang lebih berbahaya, melanggar janji… atau terus berpura-pura tak merasakan apa pun.
-
Di kamarnya, Zelia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang dan menatap langit-langit.
“Aku nggak pernah merasa seperti ini pada Fero…” gumamnya pelan dalam hati.
Lima tahun bertunangan. Lima tahun bersama. Tapi tidak pernah ada dorongan untuk bersandar. Untuk mencari aman di dada seseorang. Tapi dengan Are… berbeda.
Ia memejamkan mata.
"Aku ingin bermanja padanya. Ingin bersandar tanpa berpura-pura kuat. Ingin memilikinya… walau cuma sedikit. Tapi pria itu membangun tembok terlalu tinggi."
Ia membuka matanya, mengepalkan tangannya. "Baiklah. Aku akan berjuang."
Namun, sesaat kemudian tangannya yang terkepal perlahan mengendur. "Tapi bagaimana kalau nanti aku yang hancur?"
Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak.
Bayangan lama muncul tanpa diminta.
Ayah yang terlihat hangat padanya di depan orang-orang. Tunangan yang tersenyum manis di setiap acara keluarga. Ibu tiri dan saudara tiri yang selalu menyapanya dengan lembut.
Semua terlihat peduli.
Sampai ia tahu bahwa senyuman bisa menyembunyikan niat. Bahwa pelukan bisa menjadi jebakan.
Bahwa tangan yang menggenggam bisa saja sedang menghitung apa yang bisa diambil.
Ia menelan ludah. "Aku bukan takut mencintai. Aku hanya takut kembali percaya."
Dan sejak semuanya runtuh… kali ini ia ingin percaya lagi.
Tapi masalahnya, orang yang ingin ia percayai justru yang paling keras menjaga jarak.
***
Pintu ruang kerja tertutup lebih keras dari biasanya.
Atyasa berdiri di depan jendela. Tangannya terlipat di belakang. Tatapannya kosong ke arah gedung-gedung di luar.
Ia tahu. Ia salah membaca.
Pintu kembali terbuka tanpa diketuk.
Dian masuk. Wajahnya tegang. “Kenapa Papa melakukan klarifikasi?” tanyanya tanpa basa-basi. “Posisi Papa sudah bagus. Publik percaya Papa. Sekarang justru Papa yang terlihat defensif.”
Atyasa tidak langsung menjawab.
“Video itu menguntungkan Papa,” lanjut Dian pelan. “Are terlihat seperti oportunis. Zelia terlihat lemah. Tapi setelah klarifikasi—”
“Di mata publik, aku memang bersih,” potong Atyasa tenang. Ia akhirnya berbalik. “Tapi tidak di mata dewan.”
Dian terdiam.
“Mereka melihat video lengkapnya,” lanjut Atyasa. “Dan mereka tahu Are menyimpannya.”
Dian melebarkan matanya. "Bagaimana bisa dia memiliki video itu?"
"Kualitas videonya lebih bagus." Atyasa menarik napas panjang. “Jika ia menyebarkan video itu, aku yang jatuh.”
Dian mengerutkan kening. “Dan sekarang Papa juga mulai dicurigai publik.”
“Cukup.”
Suara Atyasa rendah. Tegas. Tidak keras, tapi memotong. “Sekarang semuanya sudah di luar kendali.”
Ia berjalan ke kursinya, duduk perlahan, lalu memijat pelipisnya. “Mendebat ini tidak akan menyelesaikan apa pun.”
Sejak konflik dimulai, baru kali ini Atyasa terlihat lelah. Bukan karena kalah. Tapi karena ia sadar, ia sedang menghadapi lawan yang tidak bereaksi sesuai perhitungannya.
Dian akhirnya keluar dari ruangan itu.
Pintu tertutup pelan.
Atyasa menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap kosong ke langit-langit sebentar, lalu memejamkan mata.
Ponselnya berdering. Nama Fero muncul di layar.
Ia terdiam satu detik lebih lama dari biasanya, lalu mengangkat panggilan itu.
“Om… apa yang sebenarnya terjadi?” Suara Fero terdengar tertahan. “Kenapa Om membuat video klarifikasi?”
Rahang Atyasa mengeras. “Karena mereka sudah punya videonya yang lengkap,” jawabnya datar. “Dan mereka memutarnya di depan dewan.”
Sunyi sesaat di ujung sana. “Video yang sama?”
“Tidak.” Atyasa menatap meja di depannya. “Versi yang lebih utuh. Lebih… menguntungkan bagi mereka.”
Ia mengembuskan napas pelan.
“Mereka memindahkan sorotan padaku. Alasannya terlalu logis untuk dibantah. Dan sayangnya…” Ia berhenti sepersekian detik. “Meski aku berhati-hati, aku tak bisa sepenuhnya mengendalikan tubuhku di depan publik.”
Di seberang, terdengar helaan napas berat. “Lalu apa rencana Om?”
Tatapan Atyasa mengeras. “Sekarang?” suaranya rendah. “Aku akan bergerak diam-diam."
...✨"Menjaga posisi itu mudah....
...Menjaga hati yang mulai runtuh, jauh lebih sulit."...
..."Aku tidak takut kalah di ruang rapat....
...Aku hanya takut kalah pada perasaanku sendiri."...
..."Dalam bisnis, risiko bisa dihitung....
...Dalam cinta, tidak ada rumus yang pasti."...
..."Ia membangun tembok terlalu tinggi. Masalahnya, aku sudah berdiri di dalamnya."...
..."Yang paling berbahaya bukan musuh yang menyerang. Tapi perasaan yang tak bisa ditolak."...
..."Ketika kendali mulai lepas,...
...orang paling tenang justru menjadi paling berbahaya."...
..."Semua orang sedang menjaga sesuatu. Tahta. Janji. Dan hati yang tak boleh jatuh."✨...
.
To be continued
Masih mau cari cara lain apa Fero. Gak bakal menang melawan Are.
Yang bermasalah itu kalian berdua - Atyasa dan Fero.
Sekarang pun Atyasa ambisius - ingin menguasai perusahaan yang bukan haknya.
Sayangnya fondasinya terlalu kuat, Atyasa. Mana mungkin bisa menghancurkan Are.
Atyasa, Dian, Desti, dan Fero barisan orang-orang licik.
Atyasa mau mencari celah di Gala dinner.
Fero - Galacdinner mau dijadikan ajang menjatuhkan seseorang. Jatuh sendiri kau Fero.
Dian ini seorang Ibu bisa punya pemikiran jahat begitu.
Pantes Desti sebelas dua belas kelakuannya sama dengan Emak-nya, Dian.
Zelia seperti biasa, kalau sudah merasa lega dalam menghadapi peliknya pekerjaan dengan bantuan Are, tanpa aba-aba ia meloncat ke tubuh Are.
Are sudah siap, sepertinya Are sudah hafal apa yang bakal terjadi. Are menangkap tubuh Zelia tanpa goyah.
Zelia semakin berani - mengecup pipi Are.
Presentasi yang sangat baik - begitu ucap salah satu direktur sambil bertepuk tangan pelan. Beberapa lainnya ikut mengangguk.
Komentar-komentar positif dibalas Zelia dengan menunduk ringan dengan mengucapkan teima kasih.
Are juga mendapat pujian dalam kemampuannya berbahasa Jepang.
Atyasa no comment. Hanya menatap putrinya lalu berpindah ke Are.
Zelia pamit, bersama Are keluar ruangan.
Pintu tertutup.
Komentar-komentar positif untuk Zelia dan Are masih berlanjut.
Mereka saling melengkapi.
Bahkan semua setuju kecuali Atyasa - kalau duet seperti itu dipertahankan, target enam bulan bukan hal mustahil.
Penerjemah yang seharusnya mendampingi meeting tidak bisa datang.
Klien Jepang menolak menggunakan penerjemah daring.
Klien Jepang hanya ingin berdiskusi dalam bahasa Jepang.
Are menguasai bahasa Jepang.
Zelia tidak menyerahkan meja negoisasi pada Are, tapi menjalankan bersama.
Zelia mempertaruhkan reputasinya pada pria yang menikahinya tanpa cinta.
Zelia memilih percaya pada Are.
Are dan Zelia sudah duduk di ruang meeting.
Atyasa terlalu banyak bicara - sepertinya meragukan meeting berjalan tanpa kehadiran translator.
Semua perkataan Atyasa jelas ditujukan pada Zelia.