NovelToon NovelToon
Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:176.1k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.

Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.

Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.

Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Bersandar Tanpa Jaminan

Jemari Are berhenti di atas keyboard. Ia tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu sebelum ia menutup laptopnya separuh, tidak sepenuhnya, seolah masih ingin melihat data itu dari sudut matanya.

“Untuk perusahaan?” katanya akhirnya tenang. “Dampaknya sementara.”

Zelia menatapnya.

“Klarifikasi beliau cukup menenangkan pasar. Investor institusi tidak bereaksi berlebihan. Mereka hanya ingin kepastian bahwa tidak ada konflik struktural.”

Ia meraih gelas susu, tapi tidak langsung meminumnya.

“Yang berubah bukan saham,” lanjutnya pelan. “Yang berubah adalah persepsi.”

“Persepsi tentang apa?” tanya Zelia.

“Bahwa Presiden Komisaris bisa dipertanyakan.”

Kalimat itu terlontar pelan, tapi berat.

Zelia terdiam.

“Selama ini beliau berada di posisi yang, nyaris tidak tersentuh,” tambah Are. “Bersih. Stabil. Senior. Hari ini, untuk pertama kalinya, dewan melihat bahwa beliau juga bisa salah langkah.”

Zelia menunduk sedikit. “Itu buruk?”

“Bagi beliau? Ya.”

“Bagi perusahaan?”

Are menoleh padanya. “Belum tentu.”

Zelia mengerutkan kening.

“Perusahaan yang sehat bukan perusahaan tanpa konflik,” jelas Are. “Tapi perusahaan yang konflik internalnya bisa dikendalikan tanpa merusak fondasi.”

Ia menatapnya lebih dalam. “Masalahnya sekarang bukan lagi klarifikasi.”

“Lalu apa?”

“Bagaimana beliau merespons setelah ini.”

Untuk sesaat mereka sama-sama diam.

“Orang yang merasa kehilangan kendali,” lanjut Are pelan, “cenderung melakukan dua hal. Mundur… atau menyerang lebih keras.”

Zelia menelan pelan. “Menurutmu, apa Papa akan mundur?”

Tatapan Are kembali ke layar laptopnya.

“Tidak.” Jawabannya sederhana. Pasti.

Zelia tersenyum tipis. Bukan senyum ringan. “Jadi ini belum selesai.”

Are akhirnya meminum susunya. “Ini baru dimulai.”

Hening kembali menyelimuti ruangan. Di luar jendela, lampu kota menyala seperti bintang-bintang kecil yang berpendar.

Ketenangan di antara mereka bukan berarti aman. Hanya jeda sebelum langkah berikutnya.

Zelia menghela napas panjang. Lalu, seperti biasa tanpa izin, ia bersandar. Namun kali ini bukan di bahu. Di dada.

Are mengembuskan napas pelan. Berat. Awalnya hanya lengan yang ia izinkan. Lalu pinggang. Lalu leher. Lalu kaki yang melingkar di pinggang tanpa sadar.

Sekarang?

Ia menunduk sedikit. Aroma sampo Zelia menguar lembut, terlalu dekat, terlalu nyata.

"Gadis ini makin tak punya batas," gerutunya dalam hati. "Dan sialnya… aku bahkan tak bisa menolaknya."

“Are,” panggil Zelia pelan.

“Hm?” sahutnya spontan.

“Apa aku tetap bisa bersandar padamu kalau aku lelah? Kalau aku goyah?”

Are terdiam.

Kalimat itu sederhana. Tapi ada nada takut yang disembunyikan rapi. Ada harap yang tidak ingin ditolak.

Dan entah kenapa, itu lebih berbahaya daripada sentuhan apa pun.

“Zelia,” katanya akhirnya pelan, “aku nggak bisa memberikan apa pun buat kamu.”

Zelia menarik napas kasar. Ia menegakkan tubuhnya.

“Ya sudah,” katanya, berusaha terdengar ringan meski suaranya tipis. “Kalau kamu nggak punya apa-apa untuk diberikan, biar aku yang kasih kamu segalanya.”

Ia bangkit. Masuk ke kamarnya. Pintu tertutup pelan.

Are tetap duduk.

Entah kenapa dadanya terasa sesak. Ia mencoba menarik napas panjang. Sekali. Dua kali. Sesak itu tidak hilang.

Tatapannya jatuh pada gelas susu Zelia yang masih utuh, tak tersentuh.

“Aku sudah berjanji…” gumamnya pelan.

Tangannya mengepal. Ia menutup hati demi gadis yang pernah menyelamatkannya. Tapi sekarang, setelah sekian lama tak tersentuh, hatinya goyah.

Dan ia tidak tahu mana yang lebih berbahaya, melanggar janji… atau terus berpura-pura tak merasakan apa pun.

-

Di kamarnya, Zelia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang dan menatap langit-langit.

“Aku nggak pernah merasa seperti ini pada Fero…” gumamnya pelan dalam hati.

Lima tahun bertunangan. Lima tahun bersama. Tapi tidak pernah ada dorongan untuk bersandar. Untuk mencari aman di dada seseorang. Tapi dengan Are… berbeda.

Ia memejamkan mata.

"Aku ingin bermanja padanya. Ingin bersandar tanpa berpura-pura kuat. Ingin memilikinya… walau cuma sedikit. Tapi pria itu membangun tembok terlalu tinggi."

Ia membuka matanya, mengepalkan tangannya. "Baiklah. Aku akan berjuang."

Namun, sesaat kemudian tangannya yang terkepal perlahan mengendur. "Tapi bagaimana kalau nanti aku yang hancur?"

Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak.

Bayangan lama muncul tanpa diminta.

Ayah yang terlihat hangat padanya di depan orang-orang. Tunangan yang tersenyum manis di setiap acara keluarga. Ibu tiri dan saudara tiri yang selalu menyapanya dengan lembut.

Semua terlihat peduli.

Sampai ia tahu bahwa senyuman bisa menyembunyikan niat. Bahwa pelukan bisa menjadi jebakan.

Bahwa tangan yang menggenggam bisa saja sedang menghitung apa yang bisa diambil.

Ia menelan ludah. "Aku bukan takut mencintai. Aku hanya takut kembali percaya."

Dan sejak semuanya runtuh… kali ini ia ingin percaya lagi.

Tapi masalahnya, orang yang ingin ia percayai justru yang paling keras menjaga jarak.

***

Pintu ruang kerja tertutup lebih keras dari biasanya.

Atyasa berdiri di depan jendela. Tangannya terlipat di belakang. Tatapannya kosong ke arah gedung-gedung di luar.

Ia tahu. Ia salah membaca.

Pintu kembali terbuka tanpa diketuk.

Dian masuk. Wajahnya tegang. “Kenapa Papa melakukan klarifikasi?” tanyanya tanpa basa-basi. “Posisi Papa sudah bagus. Publik percaya Papa. Sekarang justru Papa yang terlihat defensif.”

Atyasa tidak langsung menjawab.

“Video itu menguntungkan Papa,” lanjut Dian pelan. “Are terlihat seperti oportunis. Zelia terlihat lemah. Tapi setelah klarifikasi—”

“Di mata publik, aku memang bersih,” potong Atyasa tenang. Ia akhirnya berbalik. “Tapi tidak di mata dewan.”

Dian terdiam.

“Mereka melihat video lengkapnya,” lanjut Atyasa. “Dan mereka tahu Are menyimpannya.”

Dian melebarkan matanya. "Bagaimana bisa dia memiliki video itu?"

"Kualitas videonya lebih bagus." Atyasa menarik napas panjang. “Jika ia menyebarkan video itu, aku yang jatuh.”

Dian mengerutkan kening. “Dan sekarang Papa juga mulai dicurigai publik.”

“Cukup.”

Suara Atyasa rendah. Tegas. Tidak keras, tapi memotong. “Sekarang semuanya sudah di luar kendali.”

Ia berjalan ke kursinya, duduk perlahan, lalu memijat pelipisnya. “Mendebat ini tidak akan menyelesaikan apa pun.”

Sejak konflik dimulai, baru kali ini Atyasa terlihat lelah. Bukan karena kalah. Tapi karena ia sadar, ia sedang menghadapi lawan yang tidak bereaksi sesuai perhitungannya.

Dian akhirnya keluar dari ruangan itu.

Pintu tertutup pelan.

Atyasa menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap kosong ke langit-langit sebentar, lalu memejamkan mata.

Ponselnya berdering. Nama Fero muncul di layar.

Ia terdiam satu detik lebih lama dari biasanya, lalu mengangkat panggilan itu.

“Om… apa yang sebenarnya terjadi?” Suara Fero terdengar tertahan. “Kenapa Om membuat video klarifikasi?”

Rahang Atyasa mengeras. “Karena mereka sudah punya videonya yang lengkap,” jawabnya datar. “Dan mereka memutarnya di depan dewan.”

Sunyi sesaat di ujung sana. “Video yang sama?”

“Tidak.” Atyasa menatap meja di depannya. “Versi yang lebih utuh. Lebih… menguntungkan bagi mereka.”

Ia mengembuskan napas pelan.

“Mereka memindahkan sorotan padaku. Alasannya terlalu logis untuk dibantah. Dan sayangnya…” Ia berhenti sepersekian detik. “Meski aku berhati-hati, aku tak bisa sepenuhnya mengendalikan tubuhku di depan publik.”

Di seberang, terdengar helaan napas berat. “Lalu apa rencana Om?”

Tatapan Atyasa mengeras. “Sekarang?” suaranya rendah. “Aku akan bergerak diam-diam."

 

...✨"Menjaga posisi itu mudah....

...Menjaga hati yang mulai runtuh, jauh lebih sulit."...

..."Aku tidak takut kalah di ruang rapat....

...Aku hanya takut kalah pada perasaanku sendiri."...

..."Dalam bisnis, risiko bisa dihitung....

...Dalam cinta, tidak ada rumus yang pasti."...

..."Ia membangun tembok terlalu tinggi. Masalahnya, aku sudah berdiri di dalamnya."...

..."Yang paling berbahaya bukan musuh yang menyerang. Tapi perasaan yang tak bisa ditolak."...

..."Ketika kendali mulai lepas,...

...orang paling tenang justru menjadi paling berbahaya."...

..."Semua orang sedang menjaga sesuatu. Tahta. Janji. Dan hati yang tak boleh jatuh."✨...

.

To be continued

1
Hariyanti
ceritanya bagus dan menyenangkan 😘😘😘😘
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Pa Muhsid
ob bawa rujak cingur dan bajigur beuh mantep
Pa Muhsid
buset si otor pintar banget ya main perasaan pembaca
Pa Muhsid
kata aku are itu penguasa yang berputar haluan karena kondisi
anonim
Zelia sudah menemukan kebahagiaan yang lama telah hilang kini mempunyai keluarga utuh. Ada suami, anak, Papa walaupun mertua, Ibu yang juga mertua.

Are juga menemukan kebahagiaan, menikah dengan gadis yang pernah menyelamatkan dirinya.

Pradana juga bisa bernapas lega. Tidak Putranya tidak meninggalkan dirinya. Putranya tidak lagi sendiri.

Dan mempunyai penerus keluarga.

**Terima kasih Author, cerita yang bagus dengan ending sempurna. Sehat selalu, penuh Berkat dan RahmatNYA🙏🏻👍🏻👍🏻💖
anonim: Amiiin. Sama-sama kembali kasih Mbak Nana 🙏🙏
total 2 replies
anonim
Mereka berdua ini seakan-akan lupa akan dosa-dosanya. Perbuatan mereka sangat kejam terhadap Zelia.

Sudah hidup nyaman. Rumah. Uang. Fasilitas. Semua dari Ibunya Zelia.

Mereka tidak tahu diri. Menjebak Zelia. Berniat mengambil semua yang Zelia miliki. Dan hampir membuat Zelia kehilangan anaknya.

Kini Desti dan Dian harus menerima konsekuensinya. Kehilangan segalanya bahkan sudah tidak memiliki harga diri lagi karena ulah mereka sendiri.
anonim
Are sudah berada di gedung Angkasa Group.

Desti dan Dian menurunkan harga diri mereka dengan berlutut di depan Zelia.

Desti minta maaf pada Zelia. Pengakuan yang di buat-buat. Sudah terlambat. Hampir merenggut nyawa Zelia dan anak dalam kandungannya.

Dian apa lagi. Pengakuan yang di buat-buat menurut versinya sendiri.

Intinya mereka berdua sudah tidak punya apa-apa, minta dikasihani.
anonim
Are menyiapkan tempat dan modal awal untuk buka bengkel sebagai ucapan terima kasih pada Jaka yang tidak memilih pergi malam itu.

Masa depan Jaka jadi jelas.
anonim
Dian dan Desti menerobos masuk kantor Angkasa Group.

Desti menepis tangan Satpam yang menghadang.

Zelia mendengar suara gaduh dari lobby.

Typo Author, Bu Desti dan Nona Dian. Staf-nya keliru sebut yang mana Ibu yang mana anak.

Zelia akan menemui mereka.
anonim
Are menghubungi Jaka memastikan apa yang dilihat Jaka malam itu. Apa Jaka yakin ?

Yakin seratus persen dan Jaka siap jadi saksi.

Are kembali mengusut peristiwa yang dialami Wina. Bukti-bukti dikumpulkan.
Berkas diserahkan ke kantor polisi.

Nama Viola disebut secara resmi.

Viola tidak datang ketika ada pemanggilan. Melarikan diri.

Tidak lama Viola ditemukan.

Viola masuk sel.

Are menemuinya.

Viola - semua yang dilakukan karena tidak mau kehilangan Are.
anonim
Jaka teman Are tidak sengaja melihat berita dari ponselnya.

Video yang dilihat menampilkan wajah seorang wanita.

Tiba-tiba muncul di ingatannya. Jaka memastikan apa yang dilihat.

Peristiwa malam kecelakaan yang terjadi pada Wina terlintas di benaknya.

Jaka fokus kembali ke layar.

Wanita itu yang menabrak Bu Wina waktu itu. Jaka yakin sekali.

Jaka menghubungi Are lewat ponselnya.
anonim
Are kembali ke rumah sakit. Wina memberi kabar kalau Zelia sudah diperbolehkan pulang.

Are mengajak pulang.
Dan mengatakan pulang ke rumah kita. Aku, kamu, anak kita, papa dan Ibu.

Zelia melamunkan kehidupan di masa lalunya. Sampai ditanya Are - kenapa melamun.

Akhirnya Zelia pulang dengan jemarinya menggenggam lengan Are.
anonim
Semalam Zelia bisa tidur nyenyak lagi dalam pelukan Are.

Walau masih marah, Zelia tidak pergi menghindar dari Are.

Pagi hari Are bangun duluan. Zelia masih terlelap. Are memberikan kecupan singkat di pipi Zelia.

Are yang sudah dengan pakaian rapi siap berangkat ke kantor.

Are menatap Zelia yang masih meringkuk, lalu memberi kecupan di keningnya.

Are pamit ke kantor.
anonim
Malam hari Zelia siap untuk tidur. Mata sudah terpejam.

Merasa ada pergerakan di sisinya.

Are yang merindukan istrinya dan ingin dekat dengan anaknya.

Zelia tidak suka, didorongnya bahu Are. Are tidak bergeser sedikitpun.

Lengan Are melingkar di pinggang Zelia. Zelia mencoba melepaskan diri, tidak bisa.

Akhirnya Zelia tidak menolak pelukan dari Are. Sejatinya Zelia tidak benar-benar ingin menjauh.
anonim
Are kembali ke rumah sakit. Yang ada di ruang rawat cuma Wina. Zelia di kamar mandi.

Wina di suruh istirahat, Are yang jaga Zelia.

Are membuka pintu kamar mandi - Zelia kaget pastinya.

Zelia telanjang bulat. Are suaminya gitu loh. Di suruh keluar.

Are juga mau mandi.

Are mode merayu. Dipraktekkan apa yang dikatakan manajernya waktu itu 😄. Sayangnya Zelia masih marah
anonim
Zelia mau pulang. Merasa bosan. Juga tidak ingin meninggalkan tanggung jawabnya terlalu lama.

Are sudah menempatkan orang-orangnya di kantornya Zelia.

Yang satu pingin kembali. Yang satunya ingin di sini, di sisinya.

Pradana datang ke ruang rawat Zelia. Ingin mengetahui kondisi Zelia.

Zelia mengatakan - sudah lebih baik. Akan pulang. Kembali ke kehidupannya.

Zelia bicara panjang lebar tentang kehidupannya. Semua yang dibicarakan orang-orang, Zelia utarakan.

Pradana juga bicara panjang lebar. Bicara jujur, yang awalnya menolak karena apa yang ada di belakang Zelia.

Pradana juga minta maaf atas kejadian kemarin pada Zelia dan menyebut dirinya "Papa" untuk Zelia.

Are dan papanya sudah bicara banyak. Tinggal Zelianya maunya bagaimana lagi setelah mendengar itu semua.
anonim
Veyron gerak cepat atas instruksi yang diberikan Are.

Satu persatu orang-orang yang berada di malam itu mulai jatuh.

Are mengeluarkan pernyataan resmi terkait putusnya kerjasama dengan perusahaan milik keluarga Viola.

Semua akses di tutup.

Ayah Viola menyadari, sudah tidak punya langkah lagi.
anonim
Are terbangun. Aksi kecil penuh perhatian ia lakukan pada Zelia.

Are kesiangan. Berjalan cepat ke kamar mandi.

Zelia membuka mata. Dia merindukan Are. Tapi rasa kesalnya masih menggunung 😄.

Are pamit ke kantor - tak ada respon dari Zelia.

Are mengecup kening Zelia. Zelia tidak menghindar.

Zelia menyentuh keningnya, bekas kecupan.
anonim
Benar-benar nyaman tidur nyenyak pasangan suami istri, sampai Veyron ketuk pintu, tetap tidak terbangun.

Pilihan Veyron bijaksana. Dia pergi tanpa membangunkan.

Zelia terbangun. Hangat dalam pelukan Are - mata masih terpejam. Zelia hampir menolak keberadaan Are. Tangannya hendak mendorong dada Are. Belum sadar kalau Are yang memeluknya.

Zelia membuka mata - baru sadar Are yang memeluk dalam tidurnya.

Zelia membiarkan dirinya dalam pelukan Are. Kembali memejamkan mata. Pura-pura masih terlelap.
anonim
Zelia tidur nyenyak dalam pelukan Are.

Perawat dan Wina mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar perawatan.

Wina memberi isyarat pada perawat untuk diam ketika ingin bicara.

Wina berbisik pada perawat untuk membiarkan mereka tidur sebentar. Anak dan menantunya akhir-akhir ini kurang istirahat.

Mereka keluar, pintu ditutup pelan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!