"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecupan yang Salah Alamat
Ameera membimbing Dayana masuk ke dalam ruang keluarga yang hangat, sementara Aydan pamit sebentar ke arah garasi. Ameera mengambilkan segelas teh melati hangat untuk Dayana yang masih tampak canggung di balik jaket balap kulit milik Aydan.
"Jadi," Ameera membuka percakapan dengan suara yang menenangkan, "Tadi Aydan sempat cerita sedikit, kamu mencoba memakai jilbab karena merasa itu style yang baru dan menarik ya?"
Dayana menunduk, jarinya memainkan pinggiran cangkir teh. "Iya, Tante. Maafkan saya. Di luar negeri saya melihat banyak orang memakai apa saja sebagai ekspresi diri. Saya pikir hijab juga hanya sekadar tren. Tapi setelah debat dengan Aydan... saya merasa sangat bodoh."
Ameera tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti denting lonceng, sangat tulus. "Masya Allah, tidak perlu minta maaf, Sayang. Tenang saja. Tante dulu juga pernah ada di posisimu, merasa dunia ini adalah panggung untuk memamerkan apa yang kita punya. Tapi tahu tidak? Menjadi cantik itu hak setiap wanita, tapi menjadi terhormat adalah pilihan."
Ameera kemudian berdiri dan mengambil sebuah selendang berbahan cashmere lembut dari lemari dekat sana. Ia mendekati Dayana, lalu dengan gerakan tangan yang sangat lembut, ia mulai melingkarkan selendang itu ke kepala Dayana.
"Biar Tante ajari ya. Memakai jilbab yang cantik itu bukan hanya soal melilit kain, tapi soal perlindungan. Lihat," Ameera menarik ujung kain itu hingga menjuntai menutupi dada Dayana dengan sempurna. "Dada harus tertutup sempurna, Dayana. Kenapa? Karena di sanalah letak kehormatanmu. Saat kamu menutupnya, kamu sedang memberi tahu dunia bahwa kamu tidak bisa dinilai hanya dari bentuk fisikmu. Kamu jauh lebih berharga dari itu."
Dayana menatap pantulan dirinya di cermin besar ruang tamu. Di bawah tangan Ameera, ia tidak merasa kuno. Ia justru merasa... anggun. Ada rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Waktu menunjukkan pukul 11.15 malam. Hujan mulai turun rintik-rintik di luar. Dayana merasa tidak enak hati jika harus pulang sendiri, apalagi jarak rumahnya cukup jauh.
"Tante, apa boleh... kalau malam ini saya menginap? Sudah sangat larut dan saya merasa sangat tenang di sini," tanya Dayana ragu.
"Tentu saja, Sayang. Tante justru khawatir kalau kamu pulang sendiri," jawab Ameera hangat.
Ameera kemudian mengajak Dayana menuju paviliun tamu yang terletak di samping rumah utama, melewati taman kecil yang asri. Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Aydan yang baru saja memarkirkan motor besarnya kembali ke garasi bawah.
"Aydan, kebetulan. Tolong antar Dayana ke paviliun tamu ya? Bunda mau ambil selimut tambahan dan perlengkapan mandi untuknya di gudang atas," perintah Ameera.
Aydan mengangguk tanpa membantah. "Baik, Bunda."
Ameera berjalan kembali ke rumah utama, meninggalkan Aydan dan Dayana dalam keheningan malam yang hanya diiringi suara rintik hujan. Aydan berjalan di depan, langkahnya tenang dan tegap, sementara Dayana mengikuti dari belakang, masih terbalut jaket kulit milik Aydan yang tadi dipinjamkan.
Sampai di depan pintu paviliun, Aydan membukakan pintu dan menyalakan lampu. Ruangan itu sangat rapi, beraroma kayu cendana dan sabun bayi yang segar.
"Istirahatlah. Besok pagi aku antar kau pulang sebelum ke sekolah," ucap Aydan tanpa menatap mata Dayana.
Dayana merasa emosinya meluap. Kebaikan Ameera, perlindungan Aydan di sirkuit tadi, dan rasa tenang yang ia dapatkan malam ini membuatnya melakukan sesuatu yang impulsif. Secara tiba-tiba, Dayana maju dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi Aydan.
"Makasih, Ay. Untuk semuanya," bisik Dayana.
Aydan bergeming. Ia mematung seolah seluruh syaraf di tubuhnya berhenti bekerja. Matanya yang biasanya tajam kini membelalak karena terkejut yang luar biasa. Suasana mendadak menjadi sangat kaku. Aydan menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya kembali. Ia mundur satu langkah, menjaga jarak yang sangat jelas.
"Dayana," suara Aydan terdengar lebih rendah dan serius dari biasanya. "Ku hargai rasa terima kasihmu. Tapi... di agamaku, dan di prinsip keluargaku, tidak boleh ada sentuhan atau ciuman seperti itu antara pria dan wanita yang bukan mahram. Itu bukan cara kami menghargai satu sama lain."
Wajah Dayana seketika berubah merah padam. Ia merasa seperti baru saja disiram air es di tengah malam yang dingin. Kesadarannya kembali pulih bahwa ia tidak lagi berada di pergaulan bebas Eropa.
"Maaf, Ay... Maafkan aku," ucap Dayana dengan suara bergetar karena malu. "Aku benar-benar lancang. Tadi aku hanya merasa sedikit terlalu tenang dan emosional karena baru bertemu Bundamu. Aku tidak bermaksud tidak sopan."
Aydan menatap Dayana sejenak. Ia melihat gurat penyesalan yang jujur di wajah gadis itu. Perlahan, gurat ketegangan di wajah Aydan mengendur.
"Tidak apa-apa. Kau baru belajar," jawab Aydan lebih lembut. "Tapi mulai sekarang, kau harus tahu bahwa kehormatanmu dan kehormatanku dijaga dengan jarak ini. Selamat malam, Dayana."
Aydan berbalik dan berjalan cepat menuju rumah utama, meninggalkan Dayana yang mematung di ambang pintu paviliun. Dayana menyentuh bibirnya sendiri, lalu beralih ke jilbab pemberian Ameera yang masih tersampir di bahunya. Malam itu, ia belajar satu hal lagi dari Aydan, bahwa cinta dan rasa terima kasih yang paling tinggi tidak selalu harus ditunjukkan dengan sentuhan, melainkan dengan saling menjaga dalam ketaatan.
Di dalam paviliun, Dayana menangis pelan, bukan karena sedih, tapi karena ia merasa baru saja menemukan dunia yang begitu suci, yang selama ini ia anggap mustahil untuk ada.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰