“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#18
“Awas pokoknya kalau kamu kebablasan joget.” Pak Mul sudah mewanti-wanti anaknya gadisnya sebelum pergi kondangan.
Keluarga Pak Mul berangkat selepas isya menuju kediaman Pak Rudi yang akan menikahkan putranya besok. Malam ini, mereka mengadakan acara hajatan.
Layaknya pernikahan di kampung, hajatan diadakan selama tiga hari sebelum hari H. Biasanya hari pertama akan datang para undangan yang dekat seperi tetangga-tetangga rumah. Mereka akan membawa bermacam makanan beserta beras yang dibawanya menggunakan baskom. Hari kedua kerabat dan teman jauh. Sementara di hari terakhir rekan kerja dan tamu undangan jauh.
Pak Mul memutuskan datang di malam terakhir sesuai dengan permintaan keluarga hajat. Mereka ingin Pak Mul menyawer artis yang sudah mereka sewa sebagai acara hiburan.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah Pak rudi. Pak Mul hanya butuh waktu sekitar 15 menit saja. Kebetulan rumah Pak Rudi berada di wilayah Kecamatan.
Begitu sampai, Pak Mul dan keluarganya disambut hangat oleh keluarga yang punya hajat. Mereka bercengkerama sejenak sebelum keluarga Pak Mul dipersilakan untuk mencicipi makanan terlebih dahulu.
“Kok dangdutan nya belum mulai?” Tanya Ayunda pada ibunya.
“Kan baru selesai solat isya. Paling nanti jam 8an lah.”
“Owh.”
“Inget, kamu jangan joget seenaknya. Ini di tempat orang, bukan di desa kita.”
“Iya, iya. Aku juga malu kali, Ma.”
Ayunda ikut antri untuk mengambil makan bersama tamu undangan yang lain. Saat sedang menunggu giliran, ayunda melihat dua orang yang baru saja datang. Mata gadis itu langsung berbinar.
“Mas.” Ayunda melambaikan tangan sambil memanggil Elang dengan suara pelan. Pria itu membalas lambaian tangan Ayunda sambil tersenyum. Sementara pria di sampingnya tersenyum tipis nyaris tak terlihat.
“Bukannya lagi ngantri makan? Kenapa ke sini?”
“Nggak ah, aku udah kenyang. Mas kapan datang?” Tanya ayunda antusias. Mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan.
“Tadi siang.”
“Owh baru nyampe ternyata. Kirain udah dari kemarin.”
“Kalau kami datang dari kemarin, mungkin aku udah main ke rumah kamu tadi.”
“Iya, sih. Mas gak bilang juga mau pulang.”
“Kan aku pikir kamu pasti tahu aku pulang. Yang nikah kan sodara aku.”
“Hahaha iya bener. Lupa.”
“Dasar.” elang menyentil lembut kepala Ayunda.
“Eh, iya. Aku belum nyapa sodara yang lain. Mereka ada di dalam rumah kali ya. Ayo, ikut aku masuk.”
“Aku?” Tanya Ayunda.
“Iya. Ayo, Lex.”
Ayunda dan Alex mengikuti Elang dari belakang menuju rumah ibu hajat.
“Apa kabar?” Tanya Alex saat sedang berjalan menuju rumah.
“Baik, Kak. Kakak sendiri?”
“Baik,” ujar Alex sambil menganggukkan kepala.
“Nanya kabar aja harus pas ketemu ya, Kak. Gimana kalau tukeran nomor aja. Gak apa-apa kan?”
Alex hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia yang beberapa hari ini bingung mau minta nomor Ayunda pada Elang, kini orangnya langsung yang memberikan nomor ponselnya.
“Save ya, Kak.”
Alex mengangguk.
Suara riuh dari keluarga dan kerabat Elang menyambut kedatangan pria yang populer itu. Bagaimana tidak, elang adalah salah satu anak paling kaya dengan wajah tampan dan juga mapan.
Mereka sibuk berbasa-basi sambil bersalaman. Bercengkerama dan saling menanyakan kabar satu sama lain.
”ini temen kamu, Lang!”
“Iya, itu Alex dan ini ayunda.”
“Kalau ayunda kami sudah banyak tahu. Tapi ternyata masih kecil ya. Kirain udah dewasa.”
“Baru lulus sekolah, Bu.”
“Perasaan kamu seangkatan sama bayu anak aku, gak kuliah? Sayang loh orang tua kamu kaya. Masa gak dimanfaatkan buat sekolah lagi? Meski kita orang kampung, kamu harus kuliah. Sayang harta orang tua kamu banyak kayak gitu.”
Pembicaraan yang sudah tidak enak didengar, elang segera mengalihkan pembicaraan ke hal lain.
Dirasa cukup untuk berbasa basi, elang pamit keluar dan kembali duduk di kursi tamu.
“Eh, Lang. Kapan datang?” Tanya Pak Mul yang sudah selesai makan. Dia duduk bersama Elang, Alex dan anaknya. Disusul oleh Nunung.
“Tadi siang.”
“Walah, ada tamu jauh. Sehat?” Nunung mengulurkan tangan pada Alex dan Elang.
“Udah makan? Sok atuh pada makan dulu.”
“Ih, kayak mama aja yang punya hajat. Mas elang kan sodaranya.”
“Ya gak apa-apa atuh cuma menawarkan makan mah gak harus yang punya hajat.”
Pemain musik mulai melakukan pemanasan.
“Kamu mau joget?” Tanya Elang.
“Maulah, rugi banget kalau gak joget.”
“Inget apa kata bapak, Neng.”
“Siap, Pak. Nanti aku ditemani mas Elang kok. Iya kan. Mas?”
Elang tersenyum.
“Kak Alex juga ikut ya naik ke panggung. Nanti sawer aku ya yang banyak.”
Alex nampak kebingungan.
“Kak punya uang receh gak? Dua ribuan atau lima ribuan buat nyawer aku nanti? Sawer yang banyak pokoknya ya.”
“Dua ribuan? Kenapa harus dua ribuan?”
“Ya kan biasanya kalau nyawer tuh uang dua ribuan atau lima ribuan, Kak. Kakak belum pernah joget di acara dangdutan ya?”
Alex menggelengkan kepala.
“Tapi kan kamu bukan artis dangdut. Untuk apa nyawer dua ribuan.”
Ayunda tersenyum lebar.
Musik pembuka mulai mengalun. Orang yang ada di dalam rumah mulai keluar untuk menonton. Bukan menonton artis, tapi masyarakat lebih suka melihat kelakuan orang-orang yang naik ke atas panggung.
Warga sekitar pun banyak yang berdatangan untuk menonton. Terlebih artis yang diundang merupakan artis yang cukup terkenal di sosial media.
Satu sampai lima lagu, ayunda masih bisa menahan keinginannya. Sampai MC memanggil Pak Mul untuk naik.
Pak Mul dan ayunda pun naik.
“Gimana bos, mau request lagi apa nih kira-kira?” Tanya mc.
“Mau lagu apa?” Tanya Pak Mul pada ayunda.
“Sebotol minuman aja.”
“Oke. Baiklah, kami akan persembahkan sebuah lagi pemintaan dari Bo Mul dan putrinya. Sambutlah, ini dia sebotol minuman.”
Musim mulai mengalun, ayunda menggerakkan tubuhnya seusai akuna dan ritme musik.
Ayunda memang lihai dan lues, kecentilannya enak dipandang saat dia bergoyang.
Gara-gara sebotol minuman, dia jalan sempoyongan. Hobi anak muda sekarang, yang penting botol katanya.
Musik dangdut koplo memang menjadi favorit warga.
Pak mual mengeluarkan gepokan tebal yang dua ribuan untuk menyawer artis dan juga para penonton yang ada di bawah. Sontak keriuhan pun terjadi. Warga setempat ikut mengambil uang yang dihamburkan Pak Mul begitu saja.
“Ayo lah kita naik, anak itu gak akan berhenti joget kalau gak ada yang narik untuk turun,” ujar elang saat panggung masih dikuasai Pak Mul dan Ayunda. Udah dua lagu yang mereka minta.
Lagu yang sekarang sedang mereka nikmati berjudul duda arahan. Pak Mul yang memang suka berjoget sangat menikmati alunan lagi tersebut sambil terus nyawer ke sana sini.
“Yeaaay, mas akhirnya naik juga.” Ayunda terlihat senang saat elang dan Alex naik.
“Ayo, Kak. Mana saweran nya?” Ayunda berteriak sambil mendekatkan wajahnya pada Alex agar terdengar. Suara dia kalah oleh suara musik yang menggelegar.
Alex mengeluarkan dompet. Dia menyawer ayunda dengan uang lembaran berwarna merah. Beberapa warga teriak agar uang itu pun dilempar ke bawah.
Bahkan artis nya pun berdiri memisahkan Alex dan Ayunda untuk mengambil saweran di tangan Alex.
Suasana semakin riuh karena Alex terus mengeluarkan uangnya.
“Stop, stop. Uangnya abis nanti.” Ayunda menghentikan tingkah Alex. Dia mengambil dompet pria tersebut, lalu membawanya turun.
Elang dan Alex saling menatap, lalu mengikuti Ayunda turun dari panggung.
Keriuhan itu membuat kerumunan dibawah panggung begitu padat. Bahkan ada yang berusaha menarik tangan ayunda yang sedang membawa dompet Alex.
Pria itu segera menarik tubuh ayunda, lalu mendekapnya dari belakang. Mereka terus berjalan menjauhi kerumunan tersebut, dengan posisi ayunda yang di depan erat oleh Alex.