Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama yang Seolah Tak Terjadi
Ale menarik Nirmala menembus kepulan asap dari alat pemadam kebakaran yang bocor. Mereka berlari melewati para konglomerat yang meringkuk ketakutan di bawah meja. Dengan satu tendangan kuat, Ale menjebol pintu darurat di sisi kiri ballroom.
"Tunggu! Bagaimana dengan Januar?!" teriak Nirmala, suaranya parau karena menghirup asap.
"Nggak ada waktu, Nona! Kalau kita nggak pergi sekarang, kita semua mati!" Ale menarik paksa Nirmala keluar ke lorong gelap yang menuju area parkir belakang.
Di dalam aula, Januar terus bertarung seperti singa yang terluka. Namun, jumlah lawan terlalu banyak. Sebuah hantaman popor senapan mengenai tengkuknya. Pandangan Januar mengabur, dunianya berputar sebelum akhirnya ia ambruk di atas karpet merah yang kini benar-benar basah oleh darah—darahnya sendiri.
****
Rini Susilowati berjalan turun dari podium dengan langkah yang sangat santai, seolah sedang berjalan-jalan di taman rumahnya. Ia berhenti tepat di depan tubuh Januar yang setengah sadar dan berlumuran darah. Ia menarik selendang sutra hitamnya, lalu menutup mulutnya.
"Mmph... Hmph... Hahahahahaha!"
Tawa itu kembali meledak, mengguncang bahunya. Rini tertawa sampai tubuhnya melengkung ke belakang, suaranya memantul di dinding-dinding ballroom yang sunyi karena rasa takut. Ia mengeluarkan selembar tisu dari sakunya, menyeka ingus dan air mata bahagianya dengan gerakan yang aneh, lalu menjatuhkan tisu kotor itu tepat di atas wajah Januar.
"Surat pernyataan?" Rini memungut map cokelat yang dibawa Januar tadi, lalu merobeknya perlahan di depan mata Januar yang mulai tertutup. "Ini hanya sampah, Januar. Kau pikir hakim akan mendengarkan kertas ini saat aku sudah memegang seluruh bank dan pemilik hukum di kota ini?"
Rini menoleh ke arah pimpinan kartel yang berdiri di dekatnya. "Llévenselo. Asegúrense de que no vuelva a ver la luz del sol en mucho tiempo," (Bawa dia. Pastikan dia tidak melihat cahaya matahari lagi untuk waktu yang lama).
Dua orang pria tegap menyeret Januar seperti karung beras, membawanya keluar melalui pintu belakang menuju sebuah mobil van hitam yang sudah menunggu. Januar akan dibawa ke sebuah gudang pengasingan di pesisir utara, tempat yang tidak ada dalam peta, tempat di mana jeritan tidak akan pernah terdengar.
****
Setelah Januar dibawa pergi, Rini berbalik menghadap para tamu undangannya. Ia merapikan rambut putihnya yang sedikit berantakan, lalu menyampirkan kembali selendang sutranya dengan anggun.
"Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian," ucap Rini dengan suara yang tiba-tiba tenang dan manis, seolah kejadian barusan hanyalah atraksi sulap yang gagal. "Mohon maaf atas gangguan teknis kecil tadi. Pelayanan keamanan saya terkadang sedikit... terlalu bersemangat dalam menjaga ketertiban."
Ia mengambil gelas sampanye yang masih utuh dari meja terdekat, mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah para tamu yang masih gemetar dan pucat pasi.
"Acara merger tetap sah. Penunjukan saya sebagai Komisaris Utama tetap tidak terbantahkan. Silakan kembali ke tempat duduk masing-masing. Pelayanan makan malam akan segera dilanjutkan," perintah Rini.
Para pengusaha dan pejabat itu saling pandang dengan ngeri. Mereka melihat mayat salah satu penjaga yang masih tergeletak di sudut, melihat lubang peluru di dinding, namun mereka lebih takut pada wanita yang sedang tersenyum di depan mereka. Satu per satu, dengan tubuh gemetar, mereka kembali duduk, berpura-pura seolah tidak ada darah yang baru saja tumpah di karpet itu.
Rini kembali tertawa kecil di balik selendangnya saat melihat ketundukan mereka. Ia merasa seperti Tuhan. Ia telah memenangkan segalanya—perusahaan, kekuasaan, dan kehancuran musuh-musuhnya.
****
Di luar gedung, di bawah guyuran hujan badai yang seolah ingin mencuci dosa-dosa Jakarta malam itu, Ale dan Nirmala berhasil mencapai motor tua Ale yang disembunyikan di gang sempit.
Nirmala menangis tersedu-sedu, memegang bahu Ale yang juga terluka. "Januar tertangkap, Ale... Kita gagal."
Ale menyalakan mesin motornya, suaranya menderu di tengah sunyinya gang. Ia menoleh, menatap Nirmala dengan mata yang tajam dan penuh api perlawanan yang baru.
"Kita belum gagal, Nona. Januar sudah melakukan tugasnya—dia menarik perhatian mereka supaya lo bisa selamat. Sekarang, bukan cuma surat itu yang kita punya. Kita punya saksi mata satu ruangan. Rini baru saja menunjukkan wajah aslinya di depan media. Dunia akan tahu siapa dia sebenarnya."
"Tapi dia punya tentara, Ale! Dia punya segalanya!"
"Dia nggak punya satu hal," Ale memacu motornya keluar dari area gedung pencakar langit itu. "Dia nggak punya rasa takut. Dan orang yang nggak punya rasa takut biasanya akan lengah. Kita akan kembali, Nona. Tapi kali ini, bukan dengan surat. Kita akan kembali dengan badai."
Di kejauhan, sirine polisi mulai terdengar, namun Rini di dalam ballroom tetap tenang. Ia menyesap sampanyenya, matanya menatap pintu yang tertutup, menunggu saat di mana ia bisa menghancurkan sisa-sisa terakhir dari nama Dizan.
****
Lampu-lampu kristal di restoran-restoran mewah Jakarta Pusat seolah meredup setiap kali nama Rini Susilowati disebut dalam bisik-bisik yang tertahan. Di balik kepulan cerutu mahal dan denting gelas kristal, kaum elit Jakarta kini hidup dalam paradigma baru: ketakutan. Tragedi berdarah di Grand Ballroom bukan lagi rahasia, namun berita itu seperti hantu yang dilarang untuk dilihat.
"Kau lihat matanya saat peluru itu menembus plafon? Dia bahkan tidak berkedip," bisik seorang sosialita berpakaian desainer terkenal, tangannya gemetar saat menyesap anggur putih.
"Dia bukan lagi Rini yang kita kenal dulu. Dia punya 'tentara' sendiri sekarang. Mereka bilang orang-orang Spanyol itu bukan sekadar penjaga, mereka adalah algojo," sahut pria di depannya, suaranya nyaris hilang ditelan musik piano yang melankolis.
Mereka bergunjing di balik pintu tertutup, di dalam mobil-mobil antipeluru, dan melalui pesan-pesan terenkripsi. Namun, di hadapan publik, ketika Rini melintas, mereka akan membungkuk lebih rendah dari biasanya. Tidak ada yang berani menatap mata wanita yang telah mengubah rapat direksi menjadi arena eksekusi. Rini Susilowati telah menjadi mitos yang hidup—sosok yang terlalu berbahaya untuk dilawan, namun terlalu gila untuk dicintai.
****
Jauh dari kemewahan yang palsu itu, di sebuah rumah persembunyian yang lembap di pinggiran kota, Aleandra Nurdin sedang membentangkan sebuah peta besar di atas meja kayu yang rapuh. Ruangan itu hanya diterangi oleh satu lampu bohlam yang berayun pelan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding.
"Dia punya segalanya, Ale. Uang, hukum, dan sekarang... pembunuh bayaran," suara Nirmala memecah keheningan. Ia duduk di sudut ruangan, memeluk lututnya. Gaun sutra birunya kini kotor dan robek, namun di matanya, ada sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya: api dendam yang murni.
Ale menoleh, wajahnya yang tegas tampak semakin keras di bawah cahaya remang. "Dia punya segalanya, kecuali satu hal, Nona. Dia nggak punya nurani. Dan orang yang nggak punya nurani biasanya terlalu sombong untuk melihat lubang di bawah kakinya sendiri."