NovelToon NovelToon
Doa Bersama Cahaya

Doa Bersama Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga / Mantan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.

Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.

Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Tanpa Tekanan

🕊

Hari itu, Alea merasa dirinya berada di titik hampir patah.

Bukan patah yang dramatis—bukan menangis histeris atau jatuh pingsan di tengah kerja. Tapi patah yang sunyi. Patah yang datang pelan-pelan, menggerogoti dari dalam, seperti retakan kecil pada kaca yang awalnya nyaris tak terlihat, tapi semakin lama semakin melebar.

Tubuhnya lelah. Pikirannya juga.

Lelah fisik masih bisa ditahan dengan kopi pahit atau duduk sebentar di pojok. Tapi lelah batin… itu yang membuat langkahnya terasa berat sejak bangun pagi. Ada rasa enggan membuka mata, ada jeda lebih lama sebelum bangkit dari kasur, ada tarikan napas yang terasa seperti harus dikumpulkan dulu keberaniannya.

Beberapa hari terakhir, Ka Wendy semakin menjadi. Nada bicara yang merendahkan. Perintah yang sengaja dilempar di saat Alea sedang sibuk. Tatapan sinis setiap kali Alea dipuji atau sekadar bekerja dengan baik.

Tidak ada bentakan hari ini, tidak ada ancaman terang-terangan—justru itu yang melelahkan. Tekanan yang terus-menerus, konsisten, membuat Alea bertanya dalam hati:

“Sampai kapan aku harus bertahan seperti ini?”

Di sela-sela pekerjaannya, pikiran Alea sempat melayang jauh. Ia menghitung hari menuju gajian berikutnya. Mengira-ngira. Menimbang-nimbang.

Mungkin setelah gaji masuk… aku bisa pergi.

Kembali ke jalan awal.

Cari kerja lain. Mulai lagi dari nol. Lagi.

Bukan karena ia tidak kuat. Tapi karena ia lelah terus diuji oleh hal yang bukan kesalahannya. Namun hari itu… ada satu hal yang berbeda.

Hari itu Wendy libur.

Sederhana, tapi dampaknya terasa seperti udara yang lebih ringan. Sejak masuk restoran, Alea sudah merasakannya. Tidak ada langkah sepatu yang terlalu dekat. Tidak ada suara dingin yang memanggil namanya dengan nada merendahkan. Tidak ada perintah mendadak yang sengaja menjatuhkannya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alea bisa bernafas normal. Ia berdiri di area depan, merapikan meja, menyapa pelanggan dengan senyum yang tidak dipaksakan. Senyum yang benar-benar datang dari rasa tenang. Pelanggan pun menanggapi dengan ramah. Ada yang mengangguk, ada yang membalas senyum, ada pula yang mengucapkan terima kasih dengan tulus.

“Pelayanannya enak ya di sini,” kata seorang ibu paruh baya sambil menerima pesanannya. “Terima kasih, Bu,” jawab Alea ringan. Kata-kata sederhana itu—terima kasih—jatuh dengan lembut di hatinya. Bukan pujian besar, bukan penghargaan resmi, tapi cukup untuk mengingatkannya bahwa apa yang ia lakukan ada artinya.

Saat jam agak lengang, Pak Rino melambai dari arah dapur. “Lea, sini sebentar,” katanya. Alea mendekat. Dapur hari itu panas seperti biasa, tapi suasananya berbeda. Tidak tegang. Tidak terburu-buru. “Kamu mau belajar masak lagi?” tanya Pak Rino sambil tersenyum kecil. Mata Alea berbinar tanpa dia sadari. “Boleh, Pak?”

“Ya boleh lah,” jawabnya sambil terkekeh. “Daripada kamu bengong.”

Hari itu, Alea belajar hal-hal kecil. Cara menakar bumbu tanpa harus selalu melihat resep. Cara mencicipi masakan bukan hanya dengan lidah, tapi dengan insting. Cara bekerja di dapur tanpa panik meski tangan harus bergerak cepat.

Pak Rino tidak banyak bicara, tapi setiap arahannya jelas dan tidak merendahkan. Jika Alea salah, ia membetulkan. Jika Alea benar, ia mengangguk singkat—cukup sebagai pengakuan. Di sela-sela itu, Alea merasa… hidupnya tidak sesulit kemarin. Setelah dari dapur, Bu Rina memanggilnya ke meja kasir.

“Alea,” ucap Bu Rina sambil menutup buku catatannya. “Cara kamu melayani pelanggan itu bagus. Kamu nggak cuma ramah, tapi juga tanggap. Itu penting.” Alea sedikit terkejut. “Terima kasih, Bu.”

“Coba pertahankan. Tapi ingat, kerja tim juga penting. Jangan sungkan bantu yang lain, dan jangan simpan semua sendiri.” Alea mengangguk. Nasihat itu sederhana, tapi terasa tulus. Tidak menggurui. Tidak menyudutkan.

Hari itu, Alea melihat sisi lain dari tempat kerjanya—sisi yang selama ini tertutup oleh tekanan dan konflik. Ia melihat bagaimana rekan kerja saling menolong saat sibuk. Bagaimana satu sama lain bertanya, “Capek?” atau “Mau tukeran sebentar?”

Hal-hal kecil. Tapi berarti. Di sela kesibukan, Alea tersadar. “Oh… ternyata bisa ya. Hari kerja tanpa rasa takut.” Ia berdiri sejenak, menatap dapur, kasir, meja-meja pelanggan. Hati nya terasa hangat, tapi juga perih. Karena muncul satu pertanyaan yang tidak bisa diabaikan:

“Kalau saja Ka Wendy tidak ada… Apa mungkin hidupku di sini bisa seperti hari ini?”

Pertanyaan itu menggantung lama.

Bukan sebagai kebencian. Lebih seperti kelelahan yang akhirnya jujur pada diri sendiri. Alea tidak ingin hidupnya selalu berjalan di atas ujung kaki. Ia ingin bekerja, belajar, tumbuh—tanpa harus waspada setiap saat.

Saat jam kerja hampir selesai, Alea merapikan apron-nya. Tubuhnya tetap lelah, tapi batin nya sedikit lebih ringan. Ia tahu hari ini hanya satu hari. Besok, mungkin tekanan itu kembali. Wendy mungkin masuk lagi. Ancaman mungkin muncul lagi. Tapi hari ini memberi Alea sesuatu yang penting: kesadaran.

Bahwa ia pantas mendapatkan lingkungan yang manusiawi.

Bahwa ia tidak salah karena ingin dihargai.

Bahwa jika suatu hari ia memilih pergi, itu bukan karena kalah—melainkan karena ia memilih dirinya sendiri.

Alea melangkah pulang dengan langkah pelan. Malam terasa lebih sejuk. Ia menatap langit sebentar, menarik napas panjang. “Tenang dulu,” katanya pada dirinya sendiri.  “Hari ini… aku masih di sini.”

Dan untuk malam itu, itu sudah cukup.

Pagi itu, Alea berangkat kerja dengan dada yang sudah lebih dulu tegang. Bahkan sebelum ia melangkah keluar rumah, perasaannya sudah seperti ditarik kencang—antisipasi yang melelahkan. Tangannya sedikit gemetar saat merapikan rambut, pikirannya sibuk membayangkan nada suara, tatapan sinis, dan perintah mendadak yang mungkin kembali ia terima hari ini.

“Tenang, Alea. Ini cuma hari kerja biasa,” ia mencoba menenangkan diri.

Namun rasa waspada itu sudah terlanjur melekat. Sejak beberapa waktu terakhir, tubuhnya seolah belajar menghafal ancaman—bahkan sebelum ancaman itu benar-benar datang. Begitu tiba di restoran, Alea langsung memperhatikan sekitar.

Satu menit. Dua menit. Lima menit berlalu.

Tidak ada Wendy.

Ia menunggu sedikit lebih lama, jantungnya masih berdetak cepat. Hingga akhirnya Sarah mendekat sambil menaruh nampan. “Lea,” katanya pelan. “Ka Wendy nggak masuk lagi hari ini. Anaknya katanya masih sakit.” Kalimat itu jatuh seperti udara segar.

Alea tidak langsung tersenyum. Ia hanya menghela nafas panjang—nafas yang terasa tertahan sejak subuh akhirnya dilepaskan. Bahunya yang sejak tadi kaku, perlahan turun. “Oh…” hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Tapi di dalam dadanya, ada rasa lega yang begitu nyata sampai hampir membuatnya lemas. Bukan lega yang berisik. Lebih seperti kelegaan yang membuat tubuh akhirnya boleh berhenti berjaga.

“Berarti hari ini… aku aman.”

Ia kembali ke pekerjaannya dengan langkah yang lebih ringan. Menyapa pelanggan dengan senyum yang lebih utuh, bukan senyum bertahan. Tangannya bergerak cekatan, pikirannya lebih fokus. Tidak ada suara yang memotong konsentrasi, tidak ada bayangan ancaman di belakangnya.

Dan Alea menyadari sesuatu yang membuat hatinya sedikit perih:

“Tanpa tekanan itu, aku bisa bekerja jauh lebih baik.”

Saat jam makan siang lewat dan restoran mulai lengang, suara yang kini justru ia tunggu terdengar. “Lea!” panggil Pak Rino dari dapur. “Sini bantuin sebentar.”

Alea mendekat tanpa ragu. Dapur sudah mulai ia kenal—bau minyak, uap panas, bunyi wajan yang saling bersahutan. Hari itu, Pak Rino memberinya peran lebih. “Kamu yang pegang plating ya,” kata Pak Rino sambil menyerahkan tugas. “Aku perhatiin tangan kamu rapi.”

Alea mengangguk, fokus. Tangannya bekerja hati-hati, menyusun makanan dengan perhatian. Ada rasa puas kecil setiap kali Pak Rino mengangguk, atau berkata singkat, “Nah, gitu.”

Beberapa kali, Alea lupa bahwa ini masih tempat kerja yang sama. Ia merasa seperti sedang belajar—bukan sekadar bertahan. Seperti sedang membangun sesuatu di dalam dirinya lagi. Hingga langkah kaki Bu Rina terdengar memasuki dapur.

Ia berdiri sejenak, mengamati dari kejauhan. Tatapannya tenang, tapi tajam. Alea sempat gugup, takut melakukan kesalahan. Namun Bu Rina tidak langsung bicara. Ia hanya memperhatikan—cara Alea bergerak, mendengarkan, dan menyesuaikan diri.

Setelah beberapa saat, Bu Rina memanggilnya. “Alea, ikut saya sebentar.” Nada suaranya datar, tapi tidak dingin. Mereka keluar ke area belakang, agak jauh dari keramaian. Bu Rina bersandar ringan di meja stainless. “Kamu tahu,” ucapnya pelan, “kamu cocok kerja di mana pun kamu mau.”

Alea terkejut. “Bu?”

“Kamu cepat belajar. Nggak manja. Nggak gampang nyerah,” lanjut Bu Rina. “Kamu ngingetin saya sama kakak saya dulu.” Alea diam, mendengarkan. “Dia juga pekerja keras. Sama seperti kamu,” suara Bu Rina menurun sedikit. “Terlalu baik, terlalu percaya.”

Ada jeda. Udara terasa lebih berat.

“Kakak saya meninggal,” lanjut Bu Rina akhirnya. “Karena kejadian tragis. Dia salah percaya orang.” Alea menelan ludah. Ia tidak menyela. “Dia gadis manis. Banyak yang mendekati,” suara Bu Rina bergetar tipis, meski wajahnya tetap tegar. “Tapi yang mendekatinya… pria salah. Dia diperlakukan tidak senonoh. Lalu dibunuh dengan kejam.” Kalimat itu menghantam Alea tanpa suara.

Dadanya mengencang. Bukan karena ingin tahu—tapi karena rasa merinding yang terlalu nyata. Ia membayangkan seorang perempuan yang bekerja keras, bermimpi sederhana, lalu hidupnya direnggut oleh seseorang yang seharusnya tidak berhak.

Bu Rina menarik napas dalam-dalam. “Makanya saya bilang ke kamu,” katanya tegas namun lembut, “di mana pun kamu bekerja, sejauh apa pun kamu melangkah… jaga diri kamu. Jangan gampang percaya. Jangan merasa harus selalu baik ke semua orang.”

Alea mengangguk perlahan. “Dunia nggak selalu ramah sama perempuan yang kuat,” lanjut Bu Rina. “Dan pria yang terlihat baik, belum tentu benar-benar baik.” Alea menunduk. Kata-kata itu menusuk, tapi juga melindungi. Ia merasa seperti sedang diberi pagar—bukan dikekang. “Iya, Bu,” jawabnya lirih. “Terima kasih sudah ngingetin.”

Bu Rina menepuk bahunya pelan. “Kamu anak baik, Alea. Jangan biarkan siapa pun merusaknya.”

Hari itu, Alea kembali bekerja dengan perasaan campur aduk. Ada lega, ada syukur, ada ketakutan kecil yang kini lebih jujur. Tapi juga ada kekuatan baru—kesadaran bahwa ia tidak sendirian, bahwa ada orang-orang yang melihatnya bukan sebagai beban, melainkan sebagai manusia yang layak dijaga.

Saat sore tiba, Alea pulang dengan langkah yang lebih tenang. Hari ini, tidak sempurna. Tapi cukup lapang. Cukup aman. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alea merasa… ia sedang bertumbuh, bukan sekadar bertahan.

☀️☀️

1
mama Al
seperti lingkungan alea baik semua
Skngwr20: Terima kasih sudah berkunjung kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!