NovelToon NovelToon
Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.

Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.

Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.

Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?

#areakhususdewasa ⚠️



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 (Part 1) Labirin Kenangan di Jam Dua Pagi

Dunia terasa mati ketika jarum jam dinding di kamar kontrakan Kella menunjukkan pukul 01.45 WIB. Suara tetesan air dari kran kamar mandi yang bocor terdengar seperti detak jantung yang berpacu dengan kegelisahan. Kella sudah siap sejak satu jam yang lalu. Ia mengenakan pakaian serba hitam—kaus lengan panjang, celana kargo tua, dan sepatu kets yang sudah dijahit ulang solnya.

Gantungan kunci boneka di tasnya terasa lebih berat dari biasanya. Di dalamnya, kartu memori itu seolah berdenyut, membawa beban rahasia yang sanggup menghancurkan sebuah dinasti.

Drrt... drrt...

Ponselnya yang diletakkan di atas lantai semen bergetar. Sebuah pesan singkat masuk.

Gala: Depan gang. Cepat.

Kella mematikan lampu kamar, memastikan pintu terkunci rapat, dan melangkah keluar dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan pemilik kontrakan yang tidurnya sering terusik. Udara malam yang lembap menyergap paru-parunya. Di ujung gang yang remang-remang, sebuah mobil SUV hitam tanpa plat nomor depan terparkir dengan mesin yang menyala halus.

Kella mendekat dan pintu penumpang terbuka secara otomatis. Begitu ia masuk, aroma parfum maskulin yang tajam namun menenangkan milik Gala memenuhi kabin mobil. Gala duduk di balik kemudi, mengenakan hoodie hitam dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya.

"Pakai ini," kata Gala tanpa menoleh, sambil menyerahkan sebuah masker hitam dan sarung tangan medis tipis.

Kella menerimanya dengan tangan sedikit gemetar. "Gala, mobil ini...?"

"Mobil simpanan kakak gue yang nggak pernah terdaftar atas nama Alangkara. Gue nemuin kuncinya di locker kemarin, terselip di balik sampul buku harian. Ayah nggak tahu mobil ini ada di bengkel tua dekat panti," jelas Gala. Ia menginjak pedal gas, dan mobil itu meluncur membelah kesunyian kota Jakarta yang jarang sekali terlihat sepi.

...

Perjalanan Menuju Masa Lalu

Selama perjalanan, keheningan di antara mereka terasa sangat tebal. Gala menyetir dengan fokus yang luar biasa, matanya terus memantau spion, memastikan tidak ada mobil hitam atau motor yang mengikuti mereka.

"Kenapa jam dua pagi?" Kella akhirnya memecah keheningan.

"Shift penjaga malam di area proyek Ayah biasanya ganti jam tiga pagi. Antara jam dua sampai jam tiga adalah waktu di mana mereka paling lengah.

Sebagian besar dari mereka bakal ngopi di pos depan atau malah tidur di dalam bedeng," jawab Gala. Suaranya terdengar jauh lebih dewasa daripada saat ia merundung Kella di kolam renang tadi siang.

Kella menatap profil samping wajah Gala yang terkena cahaya lampu jalanan. "Gala, soal tadi siang di sekolah... terima kasih. Meskipun kamu harus menendang kursi Reno."

Gala mendengus sinis, tapi ada kilatan penyesalan di matanya. "Reno itu idiot. Dia pikir dia hebat karena gue biarin dia nempel sama gue. Tapi kalau dia keterlaluan sama lo, itu bikin rencana gue berantakan. Lo harus tetap bisa berdiri tegak, Kella. Kalau lo hancur sekarang, siapa yang bakal bantu gue bongkar ini semua?"

Kalimat itu terdengar seperti perintah, namun Kella menangkap makna yang berbeda. Gala sedang mengkhawatirkannya dengan caranya yang unik dan kasar.

Mobil itu akhirnya melambat dan berhenti di sebuah jalan setapak yang ditutupi oleh semak belukar tinggi, sekitar lima ratus meter dari gerbang utama proyek Green Residence.

"Kita jalan kaki dari sini," bisik Gala.

...

Mereka menyelinap melalui lubang di pagar seng yang membatasi area proyek. Di depan mereka, tanah luas yang dulu hijau kini telah diratakan oleh alat berat. Namun, di tengah hamparan tanah merah itu, sebuah bangunan tua masih berdiri setengah runtuh—itu adalah gedung utama Panti Asuhan Kasih Bangsa.

Bangunan itu terlihat seperti kerangka raksasa di bawah sinar bulan. Sebagian atapnya sudah hilang, dan dinding-dindingnya dipenuhi coretan pilox merah bertuliskan "MILIK NEGARA".

"Itu kamarnya," bisik Kella sambil menunjuk sebuah ruangan di lantai dua yang jendela kayunya sudah miring. "Dulu Gabriel sering duduk di sana, nunggu aku pulang kerja paruh waktu."

Gala terdiam, menatap bangunan itu dengan tatapan kosong. Ia bisa membayangkan kakaknya—pewaris sah Alangkara Group—hidup di tempat sekumuh ini, kedinginan, dan mungkin kelaparan, sementara ia sendiri tidur di atas kasur sutra dengan pendingin ruangan yang sejuk.

"Ayo, sebelum matahari terbit," ajak Gala sambil mengeluarkan senter kecil dengan cahaya redup agar tidak menarik perhatian.

Mereka menaiki tangga beton yang sudah retak. Bunyi langkah kaki mereka bergema di lorong-lorong kosong yang lembap. Kella memandu Gala menuju ruang arsip di bagian belakang gedung.

"Gabriel pernah bilang, pengurus panti yang lama, Ibu Retno, sempat menyembunyikan beberapa dokumen asli tanah ini di bawah ubin yang longgar di ruang arsip. Dia takut orang-orang ayahmu akan datang merampasnya secara paksa," jelas Kella.

Mereka sampai di ruang arsip. Lemari-lemari besi sudah digulingkan, isinya berserakan di lantai. Gala dan Kella mulai menggeser beberapa perabot yang menutupi lantai.

"Di sini," Kella berlutut di pojok ruangan. Ia mengetuk-ngetuk lantai ubin dengan jari. Tok, tok, tok. Suaranya terdengar nyaring—berongga.

Gala mengeluarkan pisau lipat kecil dari sakunya dan mulai mencongkel pinggiran ubin tersebut. Dengan sekali sentakan kuat, ubin itu terangkat. Di bawahnya, terdapat sebuah kotak besi kecil yang sudah berkarat.

Gala membukanya dengan paksa. Di dalamnya, terdapat sebuah map plastik yang berisi sertifikat asli tanah panti asuhan, surat wasiat dari pemilik tanah sebelumnya, dan sebuah kaset rekaman suara tua.

"Kita dapat," bisik Gala.

Namun, tepat saat itu, suara langkah kaki berat terdengar dari arah tangga.

"Siapa di sana?!" sebuah suara kasar berteriak.

Cahaya senter yang jauh lebih terang dari milik Gala menyapu dinding lorong.

Gala segera mematikan senternya dan menarik Kella ke balik lemari besi yang terguling. Jantung Kella berdegup kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinganya sendiri.

"Penjaga?" bisik Kella ketakutan.

"Bukan," jawab Gala pelan, suaranya sangat serius.

"Itu bukan seragam penjaga panti. Itu orang-orang suruhan Ayah. Mereka pakai sepatu bot militer."

Gala mengintip dari celah lemari. Ada tiga orang pria bertubuh besar dengan pakaian serba hitam, membawa linggis dan senter besar. Mereka tidak sedang berpatroli, mereka sedang mencari sesuatu yang sama dengan apa yang baru saja ditemukan Gala dan Kella.

"Ayah tahu kita di sini?" tanya Kella dengan napas tersengal.

"Nggak mungkin. Dia pasti cuma menyuruh mereka membersihkan sisa-sisa dokumen malam ini sebelum penggusuran total besok pagi," jawab Gala.

"Kita harus keluar dari sini. Sekarang."

Gala memberikan isyarat agar Kella mengikutinya melalui pintu keluar darurat di belakang ruang arsip yang terhubung dengan tangga besi luar. Mereka merayap di kegelapan, menghindari sorot lampu senter yang mondar-mandir di dalam gedung.

Saat mereka berhasil turun ke tanah, Gala tidak langsung lari ke mobil. Ia membawa Kella bersembunyi di balik tumpukan pipa beton besar.

"Kenapa kita berhenti?"

"Kunci mobil gue jatuh di dalam," desis Gala.

Wajahnya terlihat sangat frustrasi. "Tadi pas gue narik ubin, kayaknya kuncinya terlepas dari kantong."

Kella terbelalak. "Gala, kita nggak bisa balik ke sana! Mereka ada di sana!"

"Gue harus ambil. Kalau mereka nemuin kunci itu, mereka bakal tahu gue yang ada di sini. Itu kunci mobil khusus dengan logo bengkel langganan Gabriel. Ayah bakal tahu," Gala menatap Kella.

"Tunggu di sini. Jangan bergerak sedikit pun sampai gue balik."

...

1
𝐈𝐬𝐭𝐲
menarik...
𝐈𝐬𝐭𝐲
hadir thor semoga ceritanya gak putus di tengah jalan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!