Chunxia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sejak kecil. Kematian semua anggota keluarga mengubah hidupnya. Kini, ia hidup hanya untuk balas dendam. Ia berlatih dan berlatih hingga dewasa. Chunxia kecil mengubah namanya menjadi Zhen Yi, bahkan, ia rela bekerja di rumah bordir demi memuluskan rencananya.
Hingga saat ia menjadi Selir seorang Raja yang dikenal kejam dan tak punya rasa belas kasih. Ia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah lembut dan penurut, namun yang tak mereka sadari Zhen Yi memiliki rencana yang besar. Demi sebuah ambisi yang besar ia rela memanipulasi orang-orang yang begitu tulus padanya.
Putra Mahkota yang terpikat dengan kecantikannya bahkan sampai rela merebutnya dari sang Kaisar. Akhirnya perlahan kokohnya kerajaan goyah.
Mampukah Zhen Yi melancarkan aksi balas dendamnya? Atau justru, ia akan terjebak dalam permainan balas dendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. AMSALIR
"Semua persiapan sudah selesai, Yang Mulia. Kini saatnya bagi Nona Zhen Yi untuk naik ke puncak dan menepati sumpahnya," seru Peramal Jing Tu.
Urat leher Kaisar seketika menegang. Ada gurat keberatan di wajahnya, seolah ia tak rela membiarkan wanita yang telah membuatnya mabuk kepayang itu lepas dari dekapannya. Sementara itu, di sekeliling mereka, tatapan penuh jijik dari para saksi tertuju tajam pada mereka.
Zhen Yi yang tengah duduk di pangkuan sang penguasa berusaha melepaskan diri dengan gerakan lembut.
"Yang Mulia, bersabarlah. Lima hari tidak akan terasa lama. Sekarang, izinkan hamba pergi untuk membuktikan kesetiaan hamba."
Di dalam tenda agung yang luas itu, Kaisar yang bertakhta di singgasananya menatap Zhen Yi dengan pandangan nanar. Pelukannya perlahan mengendur, namun sebelum Zhen Yi benar-benar bangkit, sang penguasa mendadak menariknya kembali hingga tubuh wanita itu terhuyung ke arahnya.
Kumis sang Kaisar menyapu pipi Zhen Yi saat ia membisikkan kata-kata yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri. "Kau adalah milikku, Zhen Yi. Begitu kamu keluar nanti, kamu harus memuaskanku kapan pun aku memintanya. Kamu tidak punya hak untuk menolak."
Cengkeraman tangan Kaisar di pinggangnya mengeras. Pemandangan itu berhasil membuat Pangeran Wang Zihan mengatupkan rahangnya rapat-rapat.
Zhen Yi mendekatkan bibirnya ke telinga Kaisar, berbisik dengan nada menggoda, "Tentu saja, Yang Mulia. Hamba adalah milik Anda sepenuhnya."
Mendengar janji itu, ketegangan di wajah Kaisar mencair. Ia perlahan melepaskan dekapannya. Zhen Yi segera bangkit, merapikan jubah putihnya, lalu membungkuk hormat sebagai tanda kesiapannya menuju kuil.
"Sungguh pemandangan yang murahan," cemooh Permaisuri Zi-Wei dengan suara lantang. "Baru kali ini aku melihat wanita selicik ini, menghalalkan segala cara hanya demi ambisi menjadi istri penguasa. Benar-benar menggelikan."
Seketika, suasana di dalam tenda kembali membeku. Zhen Yi, yang masih dalam posisi tertunduk, menarik sudut bibirnya membentuk seringai tipis yang dingin. Dengan gerakan yang sangat anggun dan penuh percaya diri, ia berbalik menghadap sang Permaisuri.
Zhen Yi menoleh, tatapan tenangnya bertemu dengan mata Permaisuri Zi-Wei yang memancarkan amarah.
Dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat, Zhen Yi berkata, "Hamba sungguh tersanjung dengan perhatian mendalam Permaisuri terhadap diri hamba. Namun, hamba kemari bukan untuk memuaskan ambisi pribadi, melainkan untuk memenuhi panggilan tugas suci demi kemakmuran seluruh negeri ini. Jika Permaisuri menganggap kesetiaan hamba pada mandat surga dan pada Yang Mulia sebagai sesuatu yang 'murahan', maka hamba tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima pandangan itu dengan lapang dada."
Ia jeda sejenak, tatapannya menyapu seluruh ruangan, berhenti sebentar pada Kaisar, lalu kembali ke Permaisuri. "Lagipula, bukankah keinginan untuk melihat kesejahteraan kerajaan ini juga merupakan ambisi mulia? Mungkin kita hanya berbeda cara pandang dalam mengartikan sebuah nilai dan kesetiaan."
Kata-kata Zhen Yi, yang disampaikan dengan begitu tenang dan anggun, seolah menusuk tepat ke inti kritik Permaisuri.
Tidak ada nada emosi atau kemarahan, hanya logika yang tajam. Permaisuri Zi-Wei sontak terdiam, wajahnya merah padam menahan amarah, namun tak mampu menemukan kata untuk membalas.
Para bangsawan lain yang menyaksikan pun terkesima, beberapa bahkan mengangguk setuju dengan pernyataan Zhen Yi.
Kaisar, yang sedari tadi menyaksikan adegan itu, kini menatap Zhen Yi dengan pandangan yang lebih dalam. Kekagumannya bukan hanya pada kecantikan, tetapi juga pada kecerdasan dan keberanian Zhen Yi. Sebuah senyuman samar terukir di bibirnya.
Zhen Yi berbalik dengan jubah putihnya yang melambai, siap meninggalkan ketegangan di dalam tenda.
Di depan pintu, Peramal Jing Tu telah menunggu bersama barisan prajurit kekaisaran dengan baju zirah perak yang berkilau.
"Hamba mohon pamit, Yang Mulia," ucap Zhen Yi sekali lagi, suaranya tenang.
Namun, tepat saat ia akan melangkah, sebuah suara bariton yang tegas memecah kesunyian. "Tunggu sebentar."
Pangeran Wang Zihan melangkah maju ke tengah ruangan. Wajahnya yang rupawan tampak serius, namun sorot matanya tetap terkendali. Ia membungkuk hormat di hadapan Kaisar, ayahnya.
"Yang Mulia Ayahanda, puncak kuil di musim seperti ini sangatlah berbahaya. Longsor salju dan hewan buas bisa muncul kapan saja. Jika hanya dikawal oleh prajurit biasa dan seorang peramal tua, keselamatan Nona Zhen Yi bisa terancam," ujar Zihan dengan nada yang sangat meyakinkan.
Kaisar menyipitkan mata, menimbang kata-kata putranya. "Lalu, apa maksudmu, Zihan?"
"Izinkan hamba yang memimpin pengawalan ini secara langsung," jawab Zihan dengan tegas. "Hamba sangat mengenal medan pegunungan ini karena sering berburu di sini. Selain itu, keterlibatan seorang Pangeran dalam ritual suci ini akan menunjukkan kepada rakyat betapa seriusnya keluarga kekaisaran dalam memohon keberkahan. Ini bukan hanya soal pengawalan, tapi soal simbol kehormatan."
Alasan itu begitu masuk akal sehingga tidak ada seorang pun di tenda itu, termasuk Kaisar maupun Permaisuri yang curiga, yang bisa membantahnya.
Mereka hanya melihat seorang putra mahkota yang bertanggung jawab atas tugas negara. Tak ada yang menyadari bahwa Zihan ingin menjauhkan Zhen Yi dari jangkauan ayahnya, setidaknya untuk beberapa saat.
Kaisar mengangguk perlahan. "Sangat baik. Pergilah, Zihan. Pastikan dia kembali tanpa lecet sedikit pun."
Bonus Visual.
KAISAR

PERMAISURI Zi-Wei

SELIR Ling Xian

Putri Ru Xuan

takutnya kacau nnti
mancing sesuatu yaaa
gass aja balas dendam nya💪💪💪
sorry ya keskip bab 3, karna iklan nya tuh😭 maaf aja dah lama ga baca di novel 🙂↕️🙏