"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Kunci di Balik Duka
Bab 33: Kunci di Balik Duka
Rumah aman yang disediakan LPSK terletak di sebuah lereng perbukitan yang selalu berkabut di pinggiran Jawa Barat. Bangunan itu tampak seperti vila tua biasa dari luar, namun di dalamnya dilengkapi dengan kaca antipeluru, jalur komunikasi satelit, dan dijaga oleh empat personel polisi dari satuan khusus yang bergantian berjaga setiap enam jam.
Bagi Pak Rahardian, tempat ini adalah surga ketenangan setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Namun bagi Anindya, kesunyian tempat ini justru terasa bising. Setiap derit lantai kayu atau siulan angin di celah jendela membuatnya terjaga. Ia merasa seperti seorang jenderal yang sedang mengamati peta pertempuran di tengah malam, menunggu musuh melakukan langkah ceroboh.
Malam itu, setelah memastikan ayahnya tertidur lelap karena pengaruh obat pemulihan, Anindya duduk di meja kayu kecil di sudut kamarnya. Di depannya tergeletak sebuah kunci kecil berwarna perak dengan gantungan berbentuk inisial "S"—kunci loker yang diberikan Satria sebelum mobil mereka meledak.
"Apa yang sebenarnya ingin kau tunjukkan, Satria?" bisik Anindya pada kegelapan.
Ia mengambil laptop yang diberikan tim perlindungan saksi. Ia telah mendapatkan izin khusus untuk mengakses koneksi internet terbatas guna memantau perkembangan kasusnya. Berita terbaru menunjukkan bahwa Nyonya Lastri telah ditetapkan sebagai buronan internasional (Red Notice) setelah bukti percobaan pembunuhan di rumah sakit terungkap. Kekaisaran Wijaya mulai runtuh satu per satu; aset mereka dibekukan, dan rekan bisnis mereka menjauh seperti tikus yang meninggalkan kapal tenggelam.
Namun, ada satu hal yang mengganjal. Pak Arman, bosnya di PT Mega Konstruksi, masih belum ditemukan. Pria itu seolah lenyap ditelan bumi bersama data-data krusial mengenai "Proyek Hitam 09".
Anindya memasukkan kode koordinat yang tertera di balik gantungan kunci Satria ke dalam pemetaan digital. Koordinat itu tidak merujuk pada bank atau kantor. Titik itu merujuk pada sebuah loker penyimpanan di Stasiun Kereta Api tua di pinggiran kota yang sudah jarang digunakan.
"Besok saya harus ke sana," ucap Anindya pada Ibu Ratna yang baru saja masuk membawakannya teh hangat.
Ibu Ratna menggeleng tegas. "Terlalu berisiko, Anindya. Kami bisa mengirim tim untuk mengambilnya."
"Tidak bisa, Bu. Satria bilang kunci ini punya mekanisme keamanan biologis atau sensor berat yang hanya dia yang tahu. Jika orang asing yang membukanya dengan paksa, isinya bisa hancur. Saya harus pergi sendiri," bohong Anindya. Ia hanya tidak ingin bukti itu jatuh ke tangan pihak kepolisian sebelum ia sendiri memastikannya. Ia masih takut ada penyusup di dalam kepolisian yang bekerja untuk Wijaya.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya Ibu Ratna setuju dengan syarat pengawalan berlapis.
Keesokan paginya, dengan menyamar menggunakan jaket tebal dan topi, Anindya dibawa menuju stasiun tua tersebut. Suasana stasiun itu sepi, hanya ada beberapa pedagang asongan dan calon penumpang yang terkantuk-kantuk.
Anindya melangkah menuju deretan loker berkarat di sudut peron tiga. Jantungnya berdegup kencang saat ia memasukkan kunci perak itu ke lubang loker nomor 129.
Klik.
Pintu loker terbuka dengan suara derit yang tajam. Di dalamnya tidak ada tumpukan uang atau emas. Hanya ada sebuah kotak kayu kecil yang harum aroma kayu cendana. Anindya mengambil kotak itu dan membukanya di dalam mobil pengawalan yang tertutup rapat.
Isinya adalah sebuah hard disk eksternal dan selembar surat lama yang kertasnya sudah menguning. Anindya membaca surat itu terlebih dahulu.
"Untuk Anindya... Jika kau membaca ini, artinya aku sudah tidak bisa lagi melindungimu secara langsung. Di dalam drive ini bukan hanya ada bukti korupsi Ayah. Ada rekaman suara asli Ibu di malam kebakaran tahun 2005. Ibu tidak hanya tahu, Nin... Ibu yang memberikan perintah untuk mengunci pintu gudang itu karena dia tahu para buruh di dalam sana adalah orang-orang yang mendukung serikat pekerja yang ingin menggulingkan Ayah. Aku menyembunyikan ini selama bertahun-tahun karena aku pengecut. Maafkan aku."
Anindya merasakan tangannya mendingin. Air mata yang selama ini ia tahan, akhirnya jatuh membasahi surat itu. Jadi, Nyonya Lastri bukan hanya kaki tangan; dia adalah otak pembunuhan berdarah dingin. Dia mematikan nyawa manusia seolah-olah hanya mematikan lampu ruangan.
Anindya segera menghubungkan hard disk tersebut ke laptopnya. File-file di dalamnya terbuka: rekaman telepon, salinan transfer bank ke eksekutor pembakaran, dan yang paling mengejutkan... ada folder berjudul "RAHARDIAN".
Anindya membuka folder itu dengan napas tertahan. Isinya adalah dokumen asli hutang ayahnya. Di sana tertera bahwa hutang ayahnya sebenarnya sudah lunas sepuluh tahun lalu melalui asuransi jiwa ibunya yang diklaim secara sepihak oleh Tuan Wijaya.
Selama delapan tahun ini, Anindya dan ayahnya diperbudak atas hutang yang sudah tidak ada.
"Binatang..." raung Anindya di dalam mobil. Suaranya penuh dengan kepedihan yang menyayat hati. "Mereka mencuri delapan tahun hidupku untuk sesuatu yang sudah lunas!"
Kemarahan Anindya kini berubah menjadi energi yang murni dan mematikan. Ia tidak lagi hanya ingin keadilan; ia ingin penghancuran total.
"Ibu Ratna, hubungi Jaksa Penuntut Umum sekarang," ucap Anindya dengan suara yang sangat tenang namun penuh otoritas. "Katakan padanya, saya tidak akan menunggu jadwal sidang bulan depan. Saya ingin sidang dipercepat. Saya punya bukti yang akan membuat hukuman mati terasa terlalu ringan bagi mereka."
Ibu Ratna melihat perubahan di mata Anindya. Gadis pelayan yang rapuh itu kini telah menghilang sepenuhnya. Yang ada di hadapannya adalah seorang penuntut yang bangkit dari kubur masa lalunya.
Di sisi lain kota, di sebuah gudang tua yang tersembunyi, Nyonya Lastri duduk di depan layar monitor, memantau pergerakan Anindya melalui informan terakhirnya. Wajahnya tampak pucat dan tirus. Di sampingnya stands Pak Arman, yang tampak gelisah.
"Dia sudah mengambil kotak itu, Nyonya," lapor Pak Arman.
"Maka kita tidak punya pilihan lain," jawab Nyonya Lastri sambil membelai sebuah detonator kecil di tangannya. "Jika aku harus jatuh ke neraka, aku akan memastikan gadis itu yang membukakan pintunya untukku. Hubungi orang-orang kita di kejaksaan. Jika sidang dimulai, pastikan itu menjadi hari terakhir Anindya bernapas."