Michael Chandra Dinata adalah keajaiban yang lahir dari keterbatasan. Berasal dari Indonesia, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dalam kemiskinan, ia menembus batas yang dianggap mustahil—menjadi satu-satunya pembalap Asia Tenggara yang berhasil bertahan di kerasnya dunia MotoGP, di era ketika nama-nama besar seperti Valentino Rossi masih merajai lintasan. Balapan adalah hidupnya, satu-satunya cara untuk bertahan, satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh.
Namun pada usia dua puluh tujuh tahun, di sebuah balapan yang seharusnya menjadi titik balik kariernya, Michael mengalami kecelakaan fatal. Aspal yang selama ini ia cintai merenggut nyawanya—dan segalanya berakhir di sana.
Atau begitulah yang ia kira.
Michael terbangun kembali di dunia lain, dalam tubuh seorang pemuda Inggris bernama Julian Ashford—anak tunggal dari keluarga konglomerat kelas dunia. Kaya raya, dicintai kedua orang tuanya, dan dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. (bagus sinopsis lama:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meylisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONTRAK, GARIS, DAN HAL YANG TIDAK BISA DITARIK KEMBALI
CHAPTER 21
Kontrak itu akhirnya datang.
Bukan lewat email.
Bukan lewat agen.
Diserahkan langsung.
Julian duduk di ruang rapat kecil yang sama. Meja kayu sederhana, kopi yang masih pahit, dan pria paruh baya itu—Elliot Ward, pemilik sekaligus kepala tim—duduk di seberangnya.
“Kami tidak bisa menjanjikan podium,” kata Elliot tanpa basa-basi.
“Kami bahkan tidak bisa menjanjikan motor terbaik di grid.”
Ia mendorong map ke arah Julian.
“Tapi kami menjanjikan satu hal: kami akan mendengarkan.”
Julian membuka map itu.
Kontrak satu tahun.
Target realistis.
Tidak ada klausul pemasaran berlebihan.
Tidak ada paksaan gaya balap.
Marco, yang duduk di sampingnya, mengangguk pelan.
Ini… bersih.
Julian menutup map itu lagi.
“Kalau aku gagal?” tanyanya.
Elliot tersenyum tipis. “Maka kita gagal bersama.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi bagi Julian—yang pernah jatuh sendirian di aspal, ditinggalkan dunia—itu berat.
Ia mengambil pulpen.
Menandatangani.
Tidak ada sorak sorai.
Tidak ada jabat tangan berlebihan.
Hanya satu keputusan yang… permanen.
Latihan pertama bersama Ward Racing terasa berbeda.
Motor tidak liar.
Tenaganya tidak brutal.
Tapi sasisnya jujur.
Julian langsung mengubah pendekatan.
Ia tidak memaksa motor beradaptasi dengannya.
Ia menyesuaikan diri.
Di tikungan cepat, ia memilih late apex lebih dalam—memperlambat masuk, tapi membuka gas lebih awal. Teknik ini mengurangi wheelspin di motor dengan traksi terbatas, memungkinkan akselerasi lebih bersih di exit.
Dari sudut pandang penonton, itu terlihat biasa.
Tapi dari sudut pandang data…
grafik throttle Julian lebih stabil daripada siapa pun di tim.
“Dia tidak cepat karena nekat,” gumam engineer.
“Dia cepat karena tahu kapan tidak menekan.”
Balapan pertama bersama tim baru tiba.
Grid tengah.
Tidak ada ekspektasi besar.
Tapi Julian tahu—balapan ini penting.
Bukan untuk dunia.
Untuk dirinya sendiri.
Lampu padam.
Motor melesat.
Julian tidak memaksakan start. Ia menjaga RPM, menghindari spin berlebihan, dan memilih jalur luar di tikungan pertama—menghindari chaos.
Lap demi lap, ia naik.
Bukan karena overtake agresif, tapi karena pembalap lain membuat kesalahan.
Di lap 8, hujan tipis mulai turun.
Dan di sinilah Julian… bersinar.
Ia mengubah gaya balapnya sepenuhnya.
Rem lebih awal.
Throttle progresif.
Tubuh lebih rileks.
Teknik yang ia gunakan disebut floating grip—menjaga tekanan minimum pada setang agar ban depan tetap “bernafas” di aspal basah. Banyak pembalap tegang saat hujan; Julian justru longgar.
Penonton melihat motor itu menari.
Komentator terdiam sesaat.
“Dia… sangat tenang,” kata salah satu.
“Seolah hujan bukan ancaman, tapi ritme.”
Finish di P7.
Bukan podium.
Tapi paddock mulai berbicara.
Malam itu, Julian duduk di balkon apartemennya.
Clara datang membawa dua cangkir teh.
“Kau senang?” tanyanya.
Julian berpikir sejenak.
“Iya,” katanya. “Bukan karena hasil. Tapi karena… aku balapan seperti diriku sendiri.”
Clara duduk di sampingnya.
Angin malam dingin.
Julian menoleh.
“Clara… hubungan kita ini—”
Clara mengangkat tangan, menghentikannya.
“Pelan,” katanya lembut. “Kita tidak perlu menamainya sekarang.”
Julian tersenyum kecil.
Ia mengangguk.
Tangannya kembali mencari jemari Clara.
Kali ini, Clara menggenggam balik.
Di tempat lain, seseorang menatap layar ulang balapan.
Seorang petinggi tim besar.
Ia memutar ulang lap hujan itu.
Sekali.
Dua kali.
“Dia tidak mengejar,” katanya pelan.
“Dia menunggu.”
Dan dalam dunia balap…
yang tahu menunggu
biasanya sedang membangun sesuatu yang berbahaya.
Julian menatap langit malam.
Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupannya, ia tidak merasa dikejar waktu.
Ia berjalan.
Dan setiap langkah…
semakin mendekati garis yang belum diberi nama.
.
.
.
CHAPTER 22
Ketika kau mulai melaju lebih cepat,
dunia tidak hanya memperhatikan—
ia mulai menagih.
Julian merasakannya bukan di lintasan,
melainkan di kalender.
Balapan datang lebih rapat.
Sesi latihan lebih panjang.
Rapat tim lebih sering.
Waktu… mulai menipis.
Dan untuk pertama kalinya sejak menandatangani kontrak itu, Julian bertanya dalam hati:
apa yang akan terpotong lebih dulu?
Ward Racing berkembang pelan.
Bukan karena dana tiba-tiba membengkak,
tapi karena kepercayaan.
Engineer mulai berani bereksperimen.
Mekanik mulai menyesuaikan setup berdasarkan feedback Julian, bukan data mentah.
“Kau tahu apa yang kau rasakan,” kata Elliot suatu sore.
“Itu jarang.”
Julian hanya mengangguk.
Ia tahu… itu hasil dari dua kehidupan.
Balapan berikutnya berlangsung di sirkuit teknis.
Tikungan sempit.
Perubahan elevasi.
Ban cepat panas.
Julian memilih pendekatan konservatif.
Ia tidak memaksa ban di awal.
Ia membiarkan temperatur naik perlahan.
Penonton mungkin mengira ia tertahan.
Padahal… ia sedang menunggu.
Lap ke-10.
Pembalap di depannya mulai melebar.
Ban depan kehilangan grip.
Julian masuk.
Ia menggunakan trail braking panjang—menahan rem lebih lama sambil menurunkan tekanan perlahan, menjaga beban di ban depan tetap stabil. Teknik ini berisiko tinggi; terlalu agresif, motor akan low-side. Terlalu lembut, dan kau kehilangan entry speed.
Julian pas.
Sempurna.
Overtake bersih.
Finish di P5.
Tim kecil itu bersorak.
Bukan karena hasil,
tapi karena… ini mulai terasa nyata.
Di luar lintasan, dunia juga bergerak.
Clara menerima email.
Tawaran riset di luar negeri.
Proyek besar.
Kesempatan langka.
Ia membaca pesan itu berulang kali.
Hatinyatertarik…
tapi pikirannya kacau.
Malam itu, mereka bertemu.
Clara tidak langsung bercerita.
Julian tidak bertanya.
Mereka makan dalam sunyi yang jujur.
Akhirnya, Clara berkata,
“Aku mungkin harus pergi.”
Julian menatapnya.
Tidak terkejut.
Tapi tetap terasa berat.
“Berapa lama?” tanyanya.
“Setahun,” jawab Clara pelan. “Mungkin lebih.”
Julian mengangguk.
Ia tidak marah.
Tidak memohon.
Hanya berkata,
“Kau harus ambil itu.”
Clara terdiam.
“Apa kau tidak takut?” tanyanya.
Julian tersenyum kecil.
“Aku pembalap,” katanya.
“Aku hidup dengan jarak.”
Malam itu, tidak ada janji besar.
Tidak ada kata menunggu.
Hanya dua orang yang duduk berdekatan,
menyadari bahwa hidup… jarang memberi jalur yang sejajar.
Di paddock, rumor mulai bergerak.
Tim besar kembali memantau Julian.
Bukan dengan euforia—
tapi dengan kalkulasi.
“Dia stabil,” kata seseorang.
“Dan stabil itu berbahaya.”
Julian berdiri di pit lane, menatap sirkuit kosong.
Ia sadar…
kecepatan mulai menuntut lebih dari sekadar skill.
Ia menuntut pilihan.
Dan pilihan…
selalu mengambil sesuatu sebagai gantinya.