Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Sembunyi diantara kebohongan
Setelah kejadian yang tidak terduga itu, Salsa memutuskan kembali ke kamar. Langkahnya terasa berat, pikirannya masih dipenuhi rasa bersalah sekaligus kegelisahan. Namun, tepat sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu, sebuah tangan kokoh menarik lengannya dengan sentakan pelan namun menuntut.
Salsa tersentak, hampir berteriak jika saja ia tidak mengenali aroma parfum maskulin yang sangat familiar itu. Itu adalah Raka.
"Aku mendengar suara tamparan tadi. Ada apa?" bisik Raka cemas. Tanpa memedulikan risiko, ia langsung menarik Salsa ke dalam pelukannya, tepat di depan pintu kamar yang seharusnya menjadi ruang pribadi Salsa dan Kevandra.
"Sst!" Salsa segera menempelkan telunjuknya ke bibir Raka yang hangat. Jantungnya berdegup kencang. "Jangan di sini, Raka! Bagaimana jika Kevandra keluar?" bisiknya panik, matanya bergerak gelisah menyisir koridor yang remang-remang.
Raka tidak melepaskannya. Ia justru semakin merapatkan tubuh mereka. "Aku tidak tahan melihatmu gemetar seperti ini. Aku mencemaskanmu, Sa."
"Ini bukan waktunya, Raka. Semuanya kacau. Aku baru saja menampar Liora." desis Salsa sambil berusaha melepaskan diri, meski tubuhnya sendiri seolah enggan menjauh dari kehangatan itu.
Sementara itu, di kamar tamu lantai bawah, Liora duduk tegak di tepi ranjang. Dalam cahaya lampu tidur yang redup, ia memasang earphone kecil, menghubungkannya pada alat penyadap yang terselip di saku baju tidur Salsa.
Tiba-tiba, suara gesekan kain dan bisikan-bisikan itu terdengar jernih. Liora menutup matanya, mendengarkan setiap nada panik dan napas yang tertahan. Kepuasan aneh mulai merayap di hatinya. Rencananya berjalan sempurna.
"Pasangan yang memalukan." cibir Liora pelan. "Silakan teruskan sandiwara kalian. Aku akan menikmati setiap detiknya."
Di lantai atas, Salsa akhirnya membawa Raka masuk ke kamar pria itu untuk menghindari kecurigaan Kevandra ataupun Liora. Begitu pintu terkunci, pertahanan Salsa runtuh. Ia langsung menghambur ke pelukan Raka.
"Lain kali jangan bertindak gegabah, Sa." ucap Raka lembut namun tegas.
"Aku benar-benar merasa bersalah pada Liora, ini hanya kesalahpahaman saat aku melihatnya dipeluk Kevandra." lirih Salsa. "Ditambah aku masih cemburu melihatnya bersikap manis padamu di meja makan tadi. Aku kehilangan kendali."
Raka terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat memuakkan di telinga Liora. Raka mengangkat dagu Salsa, memaksanya menatap mata yang penuh gairah itu.
"Besok kau tinggal minta maaf padanya. Dia itu bodoh dan tulus, dia pasti akan memaafkan 'sahabat' terbaiknya ini." ucap Raka sambil mengusap bibir Salsa. "Lupakan Liora dan Kevandra. Sekarang hanya ada kita."
Salsa seolah terhipnotis. Rasa bersalahnya menguap saat Raka mulai mengecup lehernya secara posesif. Ia mendongak, membiarkan Raka menguasainya, melupakan fakta bahwa suaminya hanya berjarak beberapa meter dari sana.
"Tenang saja, Sa. Liora tidak akan pernah tahu." bisik Raka tepat di telinga Salsa sebelum menyatukan bibir mereka dalam ciuman penuh pengkhianatan.
Di kamarnya, Liora mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Mendengar Raka menyebutnya "bodoh" membuat darahnya mendidih. Namun, ia tidak melepas earphone itu. Ia membiarkan rasa sakitnya menjadi kebencian dan dendam yang semakin dalam.
"Merasa bersalah? Cemburu?" Liora berbisik pada kegelapan dengan mata berkilat tajam. "Lucu sekali. Kalian bicara tentang cinta sambil menginjak-injak harga diriku."
Suasana di lantai atas pun berubah. Ketegangan yang semula lahir dari amarah kini bergeser menjadi desiran gairah yang tak terbendung. Ruangan itu seolah menyempit, menyisakan deru napas yang memburu.
"Malam ini, hanya ada kita saja, Sa." bisik Raka dengan nada sensual.
Salsa kehilangan akal sehatnya. Ia memejamkan mata, tenggelam dalam pelukan terlarang itu. Di kamar bawah, Liora mendengarkan setiap suara intim itu dengan saksama. Setiap kecupan yang terdengar adalah sebuah penghinaan yang tertanam pada hatinya, persahabatannya adalah lambang sebuah pengkhianatan.
"Begitu murahnya kata maafmu, Salsa." desis Liora. Ia menekan tombol record, memastikan bukti kehancuran mereka tersimpan dengan baik. "Satu menit merasa bersalah, menit berikutnya kau sudah di tempat tidur tunanganku."
Liora tersenyum miring. "Nikmatilah puncaknya malam ini. Karena besok, aku akan memastikan kalian merasakan apa yang aku rasakan."
Liora melepas earphone-nya dengan gerakan anggun. Ekspresi rapuhnya menghilang, digantikan tatapan penuh tekad.
"Tidak apa-apa. Tertawalah selagi bisa." bisiknya pelan. Ia meletakkan alat itu di atas meja. "Karena mulai sekarang, akulah yang akan mengatur jalan ceritanya."
Liora merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang sudah dipenuhi rencana eksekusi untuk esok hari.
Sebelum ia menutup matanya sekali lagi Liora menatap earphone itu di atas meja.
"Rekam ini akan menjadi bukti bahwa kau tidak lebih dari seorang wanita yang mengemis cinta di pelukan pria lain, tepat di rumah suamimu sendiri." gumam Liora, lalu perlahan ia menutup matanya membawa perasaan kebencian dan dendamnya ke alam mimpi.
Sementara di dalam kamar lantai atas yang terkunci rapat, kini suasananya semakin memanas. Raka tidak lagi memberi ruang bagi Salsa untuk berpikir. Ia mendorong Salsa perlahan hingga terduduk di tepi ranjang, sementara tangannya mulai menjalar liar, membuka kancing baju tidur Salsa satu per satu.
"Raka... pelan-pelan..." Salsa mendesah pelan, meski tangannya justru menarik kerah kemeja Raka agar semakin mendekat. Suara napas mereka yang saling memburu kini mendominasi ruangan, mengalahkan suara detik jam yang seolah ikut berhenti menyaksikan pengkhianatan itu.
"Ah... Raka..." desah Salsa yang terdengar begitu pasrah.
Raka dan Salsa sudah benar-benar kehilangan kendali. Di balik dinding kamar itu, mereka melakukan hal yang seharusnya tidak pernah terjadi. Raka membisikkan janji-janji palsu di sela-sela ciumannya, sementara Salsa menyambutnya dengan penuh kasih, seolah-olah pengkhianatan ini adalah puncak dari kebahagiaannya.
Kini Salsa dan Raka. Mereka tenggelam semakin dalam ke dalam kubangan dosa, menghiraukan fakta bahwa di rumah yang sama, ada pasangan resmi mereka yang dikhianati. Salsa membiarkan dirinya hanyut dalam sentuhan Raka, melupakan Kevandra yang tadi memarahinya, sementara Raka sama sekali tidak peduli pada Liora, tunangan yang seharusnya ia lindungi.
Malam itu, rumah mewah Kevandra menjadi saksi bisu dua kejadian yang kontras: sebuah pengkhianatan yang membara di satu kamar, dan sebuah pembalasan yang mendingin di kamar lainnya.
Di lantai atas, Salsa dan Raka mungkin sedang merayakan kemenangan mereka, namun mereka tidak mengetahui bahwa kini di lantai bawah, Liora sedang menghitung mundur waktu kehancuran mereka.
Kini setelah pergulatan panasnya Salsa langsung merapikan pakaiannya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Gairah yang tadi membara kini berganti dengan kepanikan yang dingin. Ia mengenakan baju tidurnya kembali, mengikat rambutnya yang berantakan, dan memastikan tidak ada tanda merah yang tertinggal di lehernya.
"Aku harus cepat kembali, Rak! Sebelum Kevandra bangun dan menyadari aku tidak ada." pamit Salsa dengan suara berbisik yang tergesa. Ada gurat keengganan di wajahnya, seolah separuh jiwanya masih ingin tertinggal di dalam dekapan Raka.
Raka bangkit sedikit dari baringnya, menatap Salsa dengan tatapan memuja yang manipulatif. "Baiklah, terima kasih untuk malam yang indah ini, Sayang." ucap Raka lembut. Ia menarik tengkuk Salsa, mendaratkan kecupan lama di keningnya sebelum membiarkan wanita itu pergi.
Salsa bergegas memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Dalam gerakan yang cepat dan ceroboh, tanpa ia ketahui sama sekali bahwa ada sebuah benda kecil berwarna hitam terjatuh dari saku baju tidurnya. Benda itu meluncur pelan, lalu terhenti tepat di bawah kegelapan kolong ranjang.
Klik.
Pintu kamar tertutup rapat. Salsa berhasil menyelinap kembali ke kamarnya dan berbaring di samping Kevandra yang tampak masih terlelap. Ia mengembuskan napas lega, merasa telah memenangkan permainan malam ini.
kentang banget ini 😭
cepet banget dia bersimpati dan ada tanda peduli lebih
kalau posisinya dibalik dia pun berpotensi selingkuh juga kaya Raka hadehhh...
ku tak jadi kibarkan bendera hijau
padahal sempet simpati sama dia ni 😏
bahaya ga jadi green flag