Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang tamu vila pribadi itu.
Jack, pria yang biasanya tak gentar menghadapi moncong senjata, kini hampir tersedak ludahnya sendiri. Di hadapannya, Gisel mematung dengan gelas teh yang uap panasnya masih mengepul tipis.
Menjadi adik angkat Vincent bukan sekadar status sosial; itu adalah penyerahan kunci menuju seluruh jaringan "bawah tanah" di Kota Flora. Status itu akan mengubah takdir Gisel seketika: dari seekor kijang yang lari ketakutan, menjadi bagian dari kawanan singa yang mematikan.
“Kenapa Anda menawarkan hal sebesar itu kepadaku?” tanya Gisel.
Suaranya kecil, namun stabilitas di dalamnya membuat Vincent sedikit terkesan.
Vincent menyandarkan punggungnya ke sofa kulit, matanya menerawang menatap langit-langit seolah sedang membaca garis takdir.
“Arlan adalah pria yang baik, Gisel. Terlalu baik. Dia mencoba melindungimu dengan angka, dokumen, dan hukum, instrumen yang memakan waktu lama untuk bekerja. Tapi di dunia tempatmu dibesarkan, hukum sering kali datang saat jasad sudah dingin,” ucap Vincent dengan nada dingin yang realistis.
“Kamu butuh sebuah nama yang membuat orang gemetar bahkan sebelum mereka berani menarik pelatuknya. Jika kamu adalah adikku, Sanjaya tidak hanya berurusan dengan seorang bankir yang bersih, tapi dengan seluruh kegelapan Kota Flora.”
Gisel melirik ke arah Jack. Pria tegap itu memberikan anggukan kecil, sebuah isyarat bahwa ini adalah jubah pelindung yang mungkin tak akan ditawarkan dua kali. Namun, di balik itu, pikiran Gisel tertuju pada Arlan. Bagaimana perasaan suaminya jika ia menjalin ikatan sedekat ini dengan penguasa dunia hitam?
“Aku tidak bisa memutuskannya sekarang,” jawab Gisel bijak, mencoba menata emosinya.
“Fokus utamaku saat ini hanyalah keselamatan Om Arman.”
Vincent menyeringai tipis, sebuah ekspresi langka yang menandakan rasa hormat.
“Tentu. Pikirkanlah. Tawaran ini berlaku selama aku masih bernapas.”
Jack merasa merinding. Sejak kapan bosnya yang dingin dan malas itu menjadi begitu berlapang dada? Namun, Jack kemudian menyadari; mungkin Vincent, seperti dirinya, memiliki sisi lembut untuk Gisel sebagai seseorang yang layak diperjuangkan di tengah dunia yang penuh sampah.
Keesokan paginya, Kota Flora masih diselimuti kabut tipis yang dingin saat Jack mengantar Gisel menuju Rumah Sakit Antaraja. Fasilitas medis ini adalah milik pribadi rekan bisnis Vincent, menjamin keamanan tingkat tinggi yang bahkan tak bisa ditembus oleh lalat sekalipun, apalagi anak buah Aldi Sanjaya. Dan Om Arman ditempatkan di bangsal VVIP yang lengang.
Saat langkah kaki Gisel memasuki bangsal VVIP, hidungnya segera disambut aroma antiseptik yang tajam. Di balik pintu kayu jati yang dijaga dua pria bertubuh tegap, Gisel melihat sosok yang selama ini menjadi pilar hidupnya di Jalan Bunga.
Om Arman terbaring lemah. Wajah yang biasanya keras dan penuh otoritas itu kini pucat dan kuyu. Kedua kakinya dibalut gips tebal dan tergantung, sementara selang infus menembus lengannya yang kekar. Di samping tempat tidur, Tante Ira duduk tertidur di kursi kayu, genggamannya tak terlepas dari tangan suaminya.
“Tante…” panggil Gisel lirih.
Tante Ira tersentak bangun. Matanya yang sembap berbinar saat melihat Gisel.
“Gisel! Syukurlah...” Wanita itu memeluk Gisel dengan isak tangis yang tertahan.
Selama ini, Tante Ira mungkin terlihat acuh dan keras, namun di balik itu ada rasa sayang yang tak sanggup ia tunjukkan. Kini, setelah badai menghantam, ia justru berterima kasih kepada Gisel yang secara tak langsung menjadi perantara keselamatan keluarga mereka.
Gisel mendekat ke arah Arman yang perlahan membuka matanya.
“Om… maafkan aku.” Arman mencoba tersenyum, meski itu lebih mirip ringisan menahan nyeri.
“Jangan minta maaf, Sel. Ini adalah harga yang harus kubayar karena kebodohanku. Aku senang kau berada di tangan Arlan… dan sekarang di bawah sayap Vincent. Jack sudah menceritakan semuanya.”
“Om harus sembuh. Aku akan meminta Om Arlan mencarikan dokter terbaik untuk membuat Om bisa berjalan lagi seperti sedia kala,” ucap Gisel penuh tekad.
Arman menggeleng lemah.
“Terima kasih, tapi tidak perlu. Aku menerimanya dengan ikhlas sebagai penebus dosa. Gisel, setelah ini kita akan membuka lembar baru. Kau… hiduplah dengan baik.”
Gisel mengangguk patuh, meski dalam hati ia bersumpah akan mengerahkan segala cara demi kesembuhan pamannya itu.
Reuni mereka meleburkan rasa bersalah dan kerinduan yang digantikan dengan maaf dan kelegaan. Hanya saja, kewaspadaan tetap membayangi karena mereka tidak bisa lengah sedikitpun di tengah krisis yang terjadi.
Di sisi lain.
Di kediaman megah keluarga Sanjaya, suasana jauh lebih panas dari neraka. Tuan Kedua Sanjaya melempar asbak kristal yang telak mengenai pelipis Aldi hingga berdarah.
“Apa yang sudah kamu lakukan, bodoh?!” bentak Tuan Kedua Sanjaya.
“Apa kamu mau meruntuhkan pondasi yang telah dibangun kakekmu selama puluhan tahun hanya gara-gara seorang sampah dari Jalan Bunga?”
“Gisel berbeda, Pa!” elak Aldi sambil menyeka darah di wajahnya.
“Apanya yang berbeda? Dia tetap tumbuh di selokan itu! Hentikan kegilaan ini sekarang atau kau tahu akibatnya!” Tuan Kedua Sanjaya berbalik pergi dengan langkah gusar.
Ia harus segera meredam kemarahan kepala keluarga Sanjaya yang lain sebelum mereka memutuskan untuk mendepak Aldi dari garis waris. Meski Aldi adalah anak dari istri kedua, setidaknya Aldi adalah satu-satunya keturunan laki-laki yang ia punya.
Namun, peringatan itu justru membakar kegilaan Aldi. Ia mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Baginya, kekalahan adalah konsep yang asing. Bagaimana mungkin seorang bankir dan preman bisa mengungguli dirinya yang punya segalanya?
“Apa sudah ketemu?” tanyanya pada tangan kanannya yang baru masuk.
“Sudah, Tuan Muda. Tapi… apakah Anda yakin? Risikonya sangat besar,” lapornya ragu.
“Aku yang akan menanggungnya! Bergerak sekarang!” bentak Aldi.
Tangan kanannya mengangguk. Tak lama kemudian, laporan terbaru masuk bahwa Gisel juga berada di Rumah Sakit Antaraja, mata Aldi berkilat haus darah.
“Bagus! Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Aku akan menghabisi Arman sekaligus mendapatkan Gisel di tempat yang sama.”
Sementara itu, di sebuah hotel di Kota Gemerlap, Arlan mendapatkan pesan mendesak dari jaringan informan Vincent. Kabar bahwa rombongan Aldi telah bergerak secara agresif menuju Kota Flora membuat Arlan terpental dari sofa.
“Apa mereka mengumumkan perang secara terbuka?” tanya Arlan, wajahnya tegang.
“Sepertinya tidak. Ini adalah operasi senyap tapi besar-besaran. Target mereka bukan sekadar balas dendam.” Rey mengusap dagunya, menganalisis situasi.
“Gisel!” teriak Arlan dan Rey bersamaan.
Keduanya segera berlari. Arlan memacu kendaraannya dengan kecepatan gila keluar dari Kota Gemerlap. Masalahnya, jarak dari Kota Gemerlap ke Kota Flora membutuhkan waktu empat jam perjalanan darat, sementara rombongan Aldi mungkin sudah hampir sampai.
Di dalam mobil yang melaju kencang, Arlan terus mencoba menghubungi Jack.
“Angkat, Jack! Lindungi dia, apapun yang terjadi!” gumam Arlan penuh kecemasan.
Di sisi lain, Gisel yang baru saja berpamitan dengan Om Arman dan Tante Ira bersiap pergi bersama Bang Jack. Namun, anak buah Bang Jack yang bertugas mengintai mengirimkan sinyal bahaya, bahwa rombongan Aldi Sanjaya saat ini bergerak kearahnya.
“Gisel, masuk ke dalam kamar!” perintah Jack dengan suara rendah namun tajam.
“Aldi Sanjaya tidak peduli lagi dengan aturan main.” Gumam Bang Jack yang segera mengirimkan sinyal bantuan dan peringatan evakuasi kepada pihak rumah sakit.
Badai besar akan segera pecah di Kota Flora, dan kali ini, darah akan menjadi saksi siapa yang akan tetap berdiri saat matahari terbenam.
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏