Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 PERJAMUAN DI AWAN
Pagi yang dijanjikan fajar perak itu tidak datang dengan ketenangan fajar di lembah. Sebaliknya, langit justru menutup diri dalam jubah kemurkaan yang pekat. Awan kumulonimbus bergulung-gulung seperti tentara raksasa yang mengepung puncak gunung, mengubah warna emas yang sempat mengintip menjadi ungu gelap yang mencekam. Di ketinggian ini, Abimanyu berdiri tepat di jantung pertempuran elemen.
Ia tidak lagi mencari ceruk untuk bersembunyi. Ia tidak lagi meringkuk untuk menjaga sisa-sisa panas tubuhnya. Setelah melewati enigma perulangan abadi di bab sebelumnya, ia merasa tubuhnya telah kehilangan rasa takut biologis. Rasa dingin itu tetap ada, namun ia menerimanya bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai undangan.
Guntur menggelegar, getarannya merambat melalui pori-pori granit dan langsung menghujam ke tulang belakang Abimanyu. Baginya, itu bukan lagi suara alam yang menakutkan, melainkan sebuah simfoni tanpa konduktor. Kilat menyambar, membelah langit hanya beberapa ratus meter dari tempatnya berdiri, meninggalkan bau ozon yang tajam dan elektrik di udara.
Abimanyu berjalan pelan menuju titik tengah pelataran batu yang menyerupai altar alami. Ia membuka tas ranselnya—benda terakhir yang menghubungkannya dengan peradaban. Ia mengeluarkan isinya yang tersisa: segenggam kacang kering yang membeku, beberapa potong daging asap yang keras, dan sebuah botol air yang kini berisi kristal-kristal es. Di mata seorang manusia biasa, ini adalah sisa-sisa kemiskinan seorang pendaki yang tersesat. Namun di mata Abimanyu, ini adalah materi suci untuk perjamuan terakhirnya sebagai manusia yang terpisah dari alam.
Ia duduk bersila di tengah badai. Angin menderu kencang, mencoba merobek pakaiannya, namun ia tetap tegak seperti pilar kuarsa. Ia meletakkan makanan itu di atas batu datar di hadapannya.
"Selamat datang, wahai tamu-tamu tak terlihat," bisiknya, suaranya hilang ditelan deru angin namun bergema di dalam batinnya. "Mari kita makan. Bukan untuk memuaskan lapar, tapi untuk merayakan kenyataan."
Ia mengambil sepotong daging asap dan memasukannya ke mulut. Saat ia mengunyah, ia tidak hanya merasakan protein dan garam. Ia merasakan matahari yang pernah menyinari rumput yang dimakan hewan ini, ia merasakan hujan yang pernah membasahi tanah tempat hewan ini berpijak. Ia menelan sejarah materi itu ke dalam dirinya. Setiap kunyahan adalah sebuah tindakan sakramen—penyatuan antara energi kimia dan kehendak spiritual.
Tiba-tiba, hujan turun. Bukan sebagai rintik yang lembut, melainkan sebagai ribuan jarum air yang menghantam kulitnya yang telanjang. Abimanyu mendongakkan kepala, membuka mulutnya lebar-lebar, membiarkan air hujan yang murni dan dingin itu membasuh tenggorokannya. Ia meminum amarah langit itu seolah-olah itu adalah anggur terbaik dari kebun dewa.
"Minumlah, wahai jiwaku!" teriaknya, menantang guntur yang baru saja meledak di atas kepalanya. "Inilah darah bumi yang belum dicemari oleh dogma! Inilah air yang tidak mengalir di pipa-pipa Universitas!"
Kilat kembali menyambar, kali ini begitu dekat hingga bulu kuduk Abimanyu berdiri karena induksi listrik statis. Cahaya putih yang membutakan menyinari wajahnya selama sepersekian detik. Dalam kilatan itu, wajah Abimanyu tidak menunjukkan kengerian, ia tersenyum. Sebuah senyuman liar yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah menghancurkan rasa takut akan kematian.
Ia merasa seolah-olah petir itu bukan menyerangnya, melainkan sedang berkomunikasi dengannya. Setiap kilatan adalah sebuah pikiran yang sangat cepat, sebuah loncatan energi yang murni dan tanpa kompromi. Ia membayangkan dirinya adalah konduktor bagi energi kosmik ini. Ia bukan lagi Abimanyu sang Profesor yang mengajar di ruangan ber-AC, ia adalah perpanjangan dari elemen-elemen ini.
Hujan kini menyatu dengan keringat dan darah dari luka-luka kecil di tangannya. Ia mengusap air hujan itu ke wajahnya, merasakan tekstur kasar kulitnya yang kini telah berubah menjadi seperti kulit pohon tua atau permukaan cadas. Ia merasa berat badannya menghilang. Di tengah badai ini, ia merasa seringan awan namun seteguh gunung.
"Inilah perjamuanku!" teriaknya lagi. "Makananku adalah badai, minumanku adalah kilat, dan musikku adalah guntur! Siapakah yang berani mengatakan bahwa hidup ini sunyi? Siapakah yang berani mengatakan bahwa alam ini mati?"
Ia mulai tertawa—tawa yang dalam dan berwibawa. Tawa yang berasal dari pemahaman bahwa ia telah melampaui fase "Singa" yang hanya bisa memberontak dan menghancurkan. Di tengah "Perjamuan di Awan" ini, ia mulai mencicipi fase "Anak"—kemampuan untuk bermain dengan hal-hal yang paling menakutkan sekalipun. Baginya, petir yang mematikan ini kini tak lebih dari kembang api dalam sebuah perayaan ulang tahun jiwanya yang baru.
Ia berdiri dan mulai menari di atas pelataran batu itu. Gerakannya tidak mengikuti aturan tari mana pun, itu adalah gerakan spontan dari otot-otot yang telah terbebas dari beban moralitas dan etiket sosial. Ia melompat, berputar, dan merentangkan tangannya ke arah awan hitam. Setiap gerakannya selaras dengan irama badai.
Dalam tarian ini, Abimanyu menyadari sesuatu yang sangat mendalam: Realitas material ini—batu, air, angin, dan api listrik—adalah satu-satunya kebenaran yang tidak butuh catatan kaki. Alam semesta tidak butuh diseminasi jurnal, ia hanya butuh dirasakan, dihidupi, dan dirayakan.
Saat badai mencapai puncaknya, Abimanyu merasa sebuah ledakan energi di dalam dadanya. Ia merasa seolah-olah ia bisa menggenggam petir itu dengan tangannya. Semua sekat antara "dirinya" dan "dunia" telah runtuh total. Ia tidak lagi berada di dalam badai, ia adalah badai itu sendiri.
Perjamuan itu berakhir ketika sepotong kacang terakhir ia telan. Namun, rasa kenyang yang ia rasakan bukan berasal dari makanan itu, melainkan dari keberaniannya untuk memeluk kekacauan. Ia duduk kembali, membiarkan hujan terus membasahi tubuhnya yang kini berpijar oleh kepuasan batin.
Langit perlahan-lahan mulai sedikit terang, meskipun awan masih tebal. Badai mulai bergerak menjauh, meninggalkan keheningan baru yang segar dan beraroma tanah basah. Abimanyu menatap tangannya, mereka masih gemetar karena sisa-sisa adrenalin dan dingin, namun matanya memancarkan api yang tak bisa dipadamkan oleh air sedahsyat apa pun.
Ia telah makan bersama dewa-dewa elemen. Ia telah menjinakkan badai bukan dengan melawannya, melainkan dengan mengundangnya masuk ke dalam rumah jiwanya.
"Selesai," bisiknya pada dirinya sendiri, sementara sisa-sisa guntur terdengar menjauh seperti tepuk tangan dari kejauhan. "Kini, tidak ada lagi papan hukum yang bisa mengikatku. Aku telah memakan kebebasanku sendiri di atas awan."
Abimanyu berdiri dengan tegak, siap untuk melangkah menuju fase berikutnya: menghancurkan papan-papan hukum lama yang masih tersisa di dalam memorinya.