Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Di dapur, Emilia dan Amayah yang sama-sama mengenakan celemek tampak siap menyiapkan makan malam.
Keduanya terlihat sangat terampil. Emilia yang sudah berpengalaman di dapur, berpadu dengan Amayah yang mahir memasak meski usianya masih muda—sebuah kombinasi yang terasa pas.
"Kamu hebat sekali. Dari siapa kamu belajar memasak?" tanya Emilia santai sambil memperhatikan Amayah yang sedang memotong sayuran dengan cekatan.
"Saya belajar dari ibu saya. Waktu kecil, saya bercita-cita ingin menjadi koki. Dan Brian saya anggap sebagai bahan eksperimen—maksudku, konsumennya," jawab Amayah datar, meski nada suaranya jelas menyimpan niat jahil.
Brian yang mendengarnya langsung bereaksi. "Aku mendengarnya, tahu."
"Hahaha!" Emilia tertawa lepas. "Brian memang suka makan, tapi badannya tidak gemuk-gemuk juga!"
"Benar. Padahal sejak kami masih SMP, saya sering membuatkan makanan bernutrisi untuknya. Tapi dia tidak bertumbuh pesat, kecuali tinggi badannya," sahut Amayah santai.
"Yah… tapi dia menjadi lebih keren sih…" batin Amayah sambil melirik tubuh Brian yang tinggi dan kurus.
Ia tersipu saat menyadari Brian membalas tatapannya.
"Wah, berarti kalian sudah berteman cukup lama," komentar Emilia.
"Ya. Banyak hal yang sudah terjadi," jawab Amayah singkat.
Sophia yang sejak tadi memperhatikan mereka tiba-tiba bertanya polos, "Apakah Paman dan Kak Amayah itu seperti papa dan mama?"
Pipi Amayah langsung memerah. Emilia tertawa terbahak-bahak, sementara Brian tampak kebingungan meski berusaha tetap tenang. Amayah segera memalingkan wajah, menahan malu.
"Hahaha!!" tawa Emilia.
Satu jam kemudian, masakan mereka hampir matang.
"Sophia, sebelum makan, mandi dulu ya," kata Emilia lembut.
"Baik!" jawab Sophia ceria.
Lalu ia berseru penuh semangat, "Paman, Kak Amayah, ayo mandi bersama!"
Amayah yang baru melepas celemeknya langsung terkejut. Wajahnya memerah. "E-Eh?! Tidak bisa!" katanya panik.
"Mengapa…?" tanya Sophia sedih.
"Itu…"
"Padahal Sophia sering mandi bersama papa dan mama…" ujar Sophia lirih.
Amayah tersenyum lembut lalu memegang pundak Sophia. "Sophia, papa dan mama Sophia itu sudah menikah, jadi boleh mandi bersama."
"Lalu mengapa Paman dan Kak Amayah tidak menikah saja?" tanya Sophia polos.
"Hahaha!" tawa Emilia mendengarnya.
"Itu…" Amayah gugup, kehabisan kata.
Ia segera mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana kalau kita mandi berdua saja?"
"Baik!"
Setelah mandi, Amayah mengeringkan rambut Sophia dengan pengering rambut. Sophia tampak menikmatinya. "Aaaa~"
Melihat kedekatan mereka, Emilia tersenyum jahil. "Kamu sudah cocok jadi seorang ibu."
Amayah langsung tersipu. "Itu masih lama…"
"Hahaha, aku tidak pernah bosan melihat ekspresimu," ujar Emilia jujur.
---
"Woah! Banyak sekali makanannya!" seru Sophia penuh semangat saat melihat meja makan.
Ia langsung menyantap hidangan dengan lahap. "Enak sekali!!!"
Emilia dan Amayah tersenyum puas.
"Habiskan ya, jangan sampai ada yang tersisa," kata Amayah santai.
"Baik!"
"Hmm! Dagingnya gurih!" puji Sophia.
"Itu Kak Amayah yang memasaknya," kata Emilia sambil tersenyum.
"Benarkah? Kak Amayah luar biasa!" ujar Sophia tulus.
Amayah merasa hangat mendengarnya.
Di tengah makan malam, Brian tiba-tiba bertanya, "Sampai kapan Tante akan tinggal di sini?"
"Tante baru menerima kontrak dengan perusahaan di sini. Sekitar dua tahun," jawab Emilia santai.
"Wah, cukup lama," kata Amayah. "Saya sering melihat Anda di internet dan film. Saya tidak menyangka bisa bertetangga dengan artis dan model terkenal. Apa tidak melelahkan?"
"Hahaha, terima kasih. Tentu saja melelahkan. Aku sering berpindah negara dan tidak punya rumah tetap. Tapi begitulah bekerja. Meski capek, tetap ada sisi menyenangkannya," jawab Emilia.
Beberapa saat kemudian, Emilia bertanya, "Ngomong-ngomong, orang tuamu ada? Aku ingin menyapa mereka."
"Ibu saya bekerja dan tinggal di luar kota. Jadi saya tinggal sendiri," jawab Amayah tersenyum.
"Kalau ayahmu?"
Senyum Amayah sedikit meredup. "Ayah saya sudah tiada…"
"Maaf… aku tidak bermaksud…" ujar Emilia menyesal.
"Tidak apa-apa. Saya baik-baik saja sekarang," jawab Amayah lembut.
Brian menatap Amayah sejenak, seolah memikirkan sesuatu.
"Kalau kamu merasa kesepian, datanglah ke sini. Anggap saja kami keluarga keduamu," ucap Emilia hangat.
Hati Amayah terasa menghangat. "Baik," balasnya dengan senyum tulus.
"Bagaimana kalau malam ini kamu menginap dan tidur bersama Tante dan Sophia?" tawar Emilia.
"Yeay! Tidur bersama Kak Amayah!" seru Sophia.
"Apa tidak merepotkan?" tanya Amayah ragu.
"Tidak sama sekali."
"Kalau begitu, saya terima."
---
Usai makan malam, Brian membantu Amayah mencuci piring. Keduanya berdiri berdampingan, sama-sama fokus.
"Oh ya, bagaimana pendapatmu tentang Lena?" tanya Amayah tiba-tiba.
"Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?"
"Hanya penasaran. Jawab saja," katanya tegas.
"Dia aktif dan mudah bergaul. Kupikir dia akan mudah mendapatkan banyak teman," jawab Brian.
"Bagaimana penampilannya?"
"Kurasa dia cantik… lalu… entahlah," jawab Brian ragu.
"Oh, begitu," balas Amayah singkat sambil memalingkan wajah.
"Kau terlihat tidak senang."
"Tidak ada. Jangan sembarangan menebak isi hatiku," ketus Amayah.
Brian tersenyum kecil. "Tapi yah... secantik apa pun Lena tidak akan bisa mengalahkan kecantikan…"
Ia memejamkan mata. "Zu-Toa."
"Kau benar-benar pria paling tidak berguna di muka bumi," ejek Amayah datar.
"Itu kejam."
Hening sejenak.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Amayah.
"Aku akan menjaga jarak. Tapi aku butuh bantuanmu," jawab Brian.
"Kenapa bukan orang lain, seperti John?"
"Karena kau satu-satunya yang bisa aku percaya."
Amayah tersipu. "Hmm… begitu."
"Baiklah, aku akan membantumu. Bukan karena aku peduli, tapi karena aku tidak ingin melibatkan orang lain," katanya tegas.
Ia menatap Brian tajam. "Tapi kau yakin ingin melakukannya?"
"Seratus persen," jawab Brian singkat.
---
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
---
Keesokan paginya, Lena tiba di sekolah. Ia langsung disambut ramah oleh beberapa murid yang dikenalnya. Suasana pagi terasa ramai dan hangat, seperti biasa. Namun setibanya di kelas, pandangannya segera tertuju pada satu sosok.
Brian.
Ia terlihat sudah tertidur di mejanya, kepala bertumpu pada lengan, seolah dunia di sekitarnya tak lagi berarti.
"Itu Brian..." batin Lena.
Keningnya mengerut, ekspresinya berubah serius. "Aku harus bertanya padanya," tekadnya menguat.
"Bri—"
"Lena!"
Panggilannya terpotong. Beberapa siswi kelas tiba-tiba menghampirinya.
"Selamat pagi," sapa salah satu dari mereka dengan ceria.
"Ah... ya... selamat pagi," balas Lena agak gugup. Raut wajahnya tampak sedikit murung karena rencananya gagal.
"Kamu sudah mengerjakan PR bahasa Inggris?" tanya siswi lainnya santai.
Lena melirik sekilas ke arah Brian sebelum menjawab. "Sudah kok. Kalian mau melihatnya?" ujarnya sambil memejamkan mata, tersenyum tipis—senyum yang terasa dipaksakan.
"Iya, ada beberapa soal yang bikin kami bingung," jawab siswi itu.
Lena meletakkan tasnya di kursi, membukanya, lalu mengeluarkan buku catatan bahasa Inggris. Tangannya menyerahkan buku itu, sementara matanya kembali mencuri pandang ke arah Brian dengan tatapan sendu.
"Lain kali saja deh..." gumamnya pelan.
"Ada apa?" tanya seorang siswi.
"Tidak apa-apa. Ini," jawab Lena singkat sambil menyodorkan bukunya.
Tak lama kemudian, bel pelajaran pertama berbunyi. Para siswi itu kembali ke tempat duduk masing-masing, meninggalkan Lena sendirian.
Ia menghela napas panjang. Pagi hari saja sudah menguras banyak energi.
Lena kembali menatap Brian. Akhirnya, ia punya kesempatan untuk berbicara. Namun harapan itu langsung runtuh—Brian masih tertidur pulas, sama sekali tak bereaksi pada bel masuk.
"Brian," bisik Lena pelan, mencoba membangunkannya dari jarak dekat.
Tak ada respons.
"Ini sudah masuk jam pelajaran, lho, Brian..." lanjutnya lirih.
Tetap tak ada jawaban.
Dengan ragu, Lena akhirnya memberanikan diri melakukan cara yang pernah ia lakukan sebelumnya—menusukkan ujung pulpen ke perut Brian.
Namun kali ini berbeda. Brian sama sekali tidak terbangun, padahal dulu ia langsung terkejut.
Lena kebingungan. Ia mencoba sekali lagi, lebih pelan.
Tetap gagal.
Ia segera menarik tangannya. "Kalau aku membangunkannya dengan kasar, dia pasti akan membenciku... atau jangan-jangan dia memang sudah membenciku?" gumamnya pelan, penuh keraguan.
Tanpa Lena ketahui, Brian sebenarnya masih setengah sadar. Ia merasakan sentuhan pulpen itu, mendengar bisikan Lena—bahkan gumamannya.
Hatinya terasa sedikit berat. Kata-kata Lena mengingatkannya pada ucapannya sendiri kepada Amayah dulu.
"Kalau aku bicara sekarang, semuanya justru akan jadi lebih rumit," pikir Brian datar.
"Lebih baik aku menghilang saja darinya... sebelum nyawaku benar-benar terancam," lanjutnya dalam hati.
"Maaf..." bisik Brian hampir tak terdengar.
---
Saat jam pelajaran berlangsung, seluruh murid di kelas tampak fokus mendengarkan penjelasan guru. Suasana kelas cukup tenang, hanya suara kapur dan buku yang sesekali terdengar. Namun, berbeda dengan yang lain, Lena sama sekali tidak bisa memusatkan perhatiannya.
Pandangan Lena kosong, melayang entah ke mana—tepatnya ke arah Brian. Ia menatapnya terlalu lama hingga lupa bahwa pelajaran sedang berlangsung.
"Lena."
"Lena," panggil sang guru lagi dengan nada santai, meski terdengar cukup tegas.
Lena tersentak dan langsung menoleh. "Ah, iya, Pak?" tanyanya kaget.
"Coba kamu identifikasi gagasan utama pada paragrafnya," ucap guru itu tetap santai.
Lena membeku sejenak. Kepalanya kosong. Ia sama sekali tidak mendengar penjelasan sebelumnya karena pikirannya melayang ke hal lain.
"Maaf, Pak… halaman berapa?" tanyanya dengan senyum kaku yang tak bisa menyembunyikan rasa panik.
Guru itu menghela napas ringan. "Saya kira kamu mengikuti pelajarannya," ujarnya letih. "Halaman 67."
Dengan ragu, Lena berdiri dan mencoba menjelaskan tugas yang diberikan. Anehnya, meski dadanya masih berdebar, ia mampu menyampaikan jawabannya dengan cukup percaya diri. Namun, di balik itu, pikirannya tetap tak sepenuhnya hadir. Sesekali, tanpa sadar, ia kembali melirik ke arah Brian.
John menyadari hal itu. Ia menatap Lena dengan ekspresi heran dan sedikit cemas. Setelah Lena selesai dan duduk kembali, ia menghela napas lega. John masih meliriknya, kebingungan dengan perubahan sikap gadis itu.
Lena menyadari tatapan tersebut.
"Anu… namamu John, ya?" bisik Lena pelan.
John menoleh. "Ya," jawabnya singkat, wajahnya datar.
"A—"
Kata-kata Lena terhenti. Gugup tiba-tiba menyerangnya. "Apa yang harus aku katakan padanya?" pikirnya panik.
"Maaf, tidak jadi…" ujarnya akhirnya.
John hanya mengangguk kecil dan kembali memperhatikan pelajaran.
Di sisi lain kelas, Amayah sempat melirik ke belakang. Ia memperhatikan situasi dengan saksama, memastikan rencana Brian berjalan lancar tanpa hambatan.
---
Beberapa jam kemudian, bel pelajaran olahraga berbunyi. Seluruh murid bergegas meninggalkan kelas menuju ruang ganti. Suasana menjadi riuh sejenak sebelum akhirnya kelas kembali lengang.
Kini, hanya tersisa Brian dan Lena di dalam ruangan.
Lena menoleh ke samping. Brian masih tertidur lelap sejak pagi, kepalanya tertunduk di atas meja. Dengan ragu, Lena berdiri dan melangkah mendekatinya.
"Brian, ini sudah jam pelajaran olahraga, loh. Ayo kita tinggalkan kelas…" ucapnya lembut.
Tak ada respons.
Lena semakin bingung. Ia tidak yakin apakah Brian benar-benar tertidur atau hanya berpura-pura. Setelah ragu beberapa detik, ia memberanikan diri mengulurkan tangan untuk menyentuh tangan Brian, berniat membangunkannya.
Namun sebelum itu terjadi—
"Lena, ayo pergi ke ruang ganti!" seru salah satu siswi dari pintu kelas.
Lena langsung menarik kembali tangannya. "Baik!" jawabnya cepat.
Ia terpaksa meninggalkan Brian dan bergegas menuju ruang ganti. Namun sebelum keluar, untuk kesekian kalinya ia menoleh ke belakang, menatap Brian tanpa berkedip. Perasaannya masih belum tenang.
"Kamu jangan berduaan dengan pria itu, nanti bisa kena masalah," ucap siswi yang berjalan di sampingnya.
"Eh? Kenapa?" tanya Lena, bingung sekaligus penasaran.
Sementara itu, Brian perlahan membuka mata. Ia meregangkan tubuhnya dan menghela napas panjang.
"Akhirnya aku bisa sedikit bergerak…" gumamnya.
Ia menunduk, menatap meja di depannya. "Sepertinya aku akan tetap seperti ini sampai dia menganggapku tidak ada," katanya datar.
Brian kemudian menatap ke luar jendela, ke arah langit biru yang cerah. Pikirannya melayang pada rencana berikutnya—rencana untuk terus menghindari Lena, sesuatu yang harus berhasil demi kebaikannya sendiri.
"Andai saja aku tidak pergi ke kota saat libur musim panas lalu…" gumamnya pelan.
---
Suatu pagi yang cerah, burung-burung berkicau merdu di luar jendela. Cahaya matahari menembus masuk ke dalam kamar melalui ventilasi, berpadu dengan suasana hening yang terasa begitu menenangkan.
Amayah membuka kedua matanya perlahan, terbangun dari tidurnya. Pandangannya sempat menangkap sosok seseorang yang tertidur tepat di hadapannya—berada di ranjang yang sama. Namun rasa kantuk masih menguasai dirinya, membuatnya kembali memejamkan mata tanpa banyak berpikir.
Beberapa detik kemudian, kesadaran itu menghantamnya.
Mata Amayah terbuka lebar.
"Brian?!" teriaknya dalam hati. Ia sontak bangkit dengan tubuh sedikit terhuyung, keterkejutan terpampang jelas di wajahnya.
Di hadapannya, Brian masih tertidur lelap, napasnya teratur seolah tak menyadari apa pun yang terjadi.
"Kami… tidur bersama…? Bahkan satu ranjang?!" batin Amayah dengan wajah yang seketika memerah.
Ia terduduk kaku di ranjang, menarik selimutnya, dan menatap Brian dengan gugup. Jantungnya berdegup kencang, seakan hendak melompat keluar dari dadanya. Rasa malu dan bingung bercampur menjadi satu.
"Apa yang sebenarnya terjadi…?" tanya Amayah dalam hati.
"Mengapa kami bisa tidur bersama?"
Bersambung.
semangat terus bang!!!