Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Hancur
“Apa yang kau lakukan, Julia!”
Suara Arga terdengar berat, menahan amarah yang nyaris meledak.
Julia menoleh ke arah suara itu. Seketika tangannya terlepas dari genggaman Luna. Baru saat itulah ia menyadari sekelilingnya—tatapan karyawan, wajah pucat Luna, dan ekspresi Arga yang dingin mengerikan.
Emosi yang tadi menguasainya perlahan surut, digantikan rasa panik.
“Arga… a-aku…” Julia terbata. Lidahnya terasa kelu. Tidak satu pun kata mampu keluar dengan sempurna.
Namun Arga sama sekali tidak menghiraukannya.
Ia langsung mengangkat Luna ke dalam gendongannya. Tubuh kecil itu masih gemetar, tangannya memegang erat jas Arga.
“Erick,” ucap Arga dingin tanpa menoleh, “kau tahu apa yang harus kau lakukan.”
Erick mengangguk singkat dan segera melangkah menjauh.
“Ayo masuk,” ujar Arga pada Vara, suaranya datar namun tegas.
Vara yang berdiri tak jauh dari Julia segera mengikuti langkah Arga tanpa berani berkata apa-apa. Jantungnya berdegup kencang.
Nita yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu dari kejauhan ikut melangkah menyusul. Begitu Vara sudah berada di dekatnya, mereka berjalan di belakang Arga menuju lift. Julia ditinggalkan begitu saja, berdiri kaku dengan wajah penuh kemarahan dan ketakutan.
Lift bergerak naik. Suasana di dalamnya sunyi.
Sesampainya di lantai tujuh, Vara dan Nita bersiap keluar.
“Kakak turun dulu ya, Luna,” ucap Vara lembut. “Kakak harus melanjutkan pekerjaan.”
Namun sebelum Vara melangkah keluar, suara Arga menghentikannya.
“Ikut aku ke ruanganku terlebih dahulu.”
Vara membeku.
“I-iya, Tuan,” jawabnya gugup.
Kenapa aku harus ikut ke ruangannya? batin Vara gelisah.
Habis sudah… jangan-jangan aku akan dimarahi, atau lebih buruk nya ia dipecat.
Akhirnya Nita keluar sendirian, menatap Vara dengan wajah khawatir sebelum pintu lift tertutup kembali.
Begitu tiba di ruang Arga, perasaan Vara semakin tidak karuan. Tangannya dingin, napasnya sedikit tertahan. Namun ia menguatkan diri apa pun yang terjadi, ia siap menghadapinya.
“Ambilkan kotak P3K di sudut sana,” ucap Arga sambil menunjuk ke arah lemari kecil di sudut ruangan.
Vara terkejut.
“Baik, tuan,” sahutnya cepat.
Ternyata, saat tadi Arga menggendong Luna, ia melihat tangan keponakannya memerah akibat tarikan keras Julia.
Arga memegang dan memerhatikan tangan tangan luna dengan hati-hati.
“Sakit?” tanyanya pelan.
Luna mengangguk kecil.
“Kita ke rumah sakit,” ujar Arga tegas sambil terus melangkah.
“Tidak,” tolak Luna cepat.
“Biar Kak Vara saja yang mengobati.”
Arga terdiam sejenak, menatap wajah keponakannya. Ia lalu mengangguk tipis dan segera masuk kedalam lift saat pintunya terbuka.
Vara menghela napas lega. Saat mendapatkan perintah dari Arga. Namun ia tetap berhati-hati. Bisa-bisa setelah ini Arga akan mengintegrasinya
Dengan lembut, Vara membersihkan tangan Luna, mengoleskan obat, lalu meniupnya perlahan agar Luna tidak terlalu merasakan perih.
“Nah, sudah selesai,” ucap Vara sambil tersenyum menenangkan.
“Masih sakit?”
“Sudah tidak,” jawab Luna ceria.
“Terima kasih, Kak Vara. Kakak selalu menolong Luna.”
Vara tersenyum hangat, hatinya terasa menghangat mendengar ucapan itu.
“Tidak perlu berterima kasih,” ucap Vara lembut.
“Kakak senang bisa menjaga Luna. Selama Kakak ada, Luna tidak sendirian.”
Luna tersenyum lebar.
Interaksi keduanya tak lepas dari pandangan Arga
---
“Ya sudah, Kak Vara kembali ke ruangan Kakak dulu, ya,” ucap Vara pelan, suaranya lembut namun penuh kehati-hatian. Ia berusaha membujuk Luna tanpa membuat gadis kecil itu merasa ditinggalkan.
“Tidak enak kalau pekerjaan Kakak terlalu lama ditinggal kan.”
Vara menatap Luna sejenak. Wajah mungil itu terlihat masih menyimpan rasa takut, namun matanya perlahan melunak saat bertemu tatapan Vara. Sebuah senyum lembut terukir di bibir Vara, senyum yang selalu berhasil menenangkan Luna.
“Baik, Kak,” jawab Luna pelan, jelas terdengar enggan berpisah.
“Tapi Kakak janji, ya. Nanti Kakak temani Luna lagi.”
Vara mengangguk mantap.
“Iya, Kakak janji,” ucapnya sambil mengangkat jari kelingking.
“Janji,” sahut Luna. Ia tersenyum kecil lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari Vara.
Setelah berhasil menenangkan Luna, Vara segera melangkah keluar dari ruangan Arga. Pintu tertutup perlahan, menyisakan keheningan di dalam.
Luna bersandar di sofa, menatap pintu itu cukup lama. Meski Arga berada tak jauh darinya, entah mengapa hatinya terasa jauh lebih tenang saat Vara ada di sisinya. Ada rasa aman yang tak bisa ia jelaskan, rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Begitu Vara memasuki ruang kerjanya, Nita yang sejak tadi tampak gelisah langsung menghampirinya.
“Vara, bagaimana? Kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Nita dengan nada khawatir.
Vara tersenyum tipis, berusaha menenangkan sahabatnya itu.
“Tidak apa-apa. Tadi Tuan Arga memintaku ikut hanya untuk mengobati tangan Luna. Tangannya memar karena perbuatan wanita tadi.”
Nita menghela napas lega.
“Kamu tahu siapa wanita itu?” tanya Vara pelan.
Nita mengangguk.
“Itu Julia. Setahuku dia teman dekat Tuan Arga. Selebihnya aku juga tidak tahu,” jawabnya jujur.
“Oh… begitu,” gumam Vara. Ia tak ingin memperpanjang urusan itu.
“Ya sudah, ayo kita lanjutkan pekerjaan.”
Nita mengangguk, meski rasa penasaran masih jelas terlihat di wajahnya.
---
Di Kediaman Keluarga Julia
“Apa yang telah kamu lakukan, Julia…”
Steven bergumam penuh amarah begitu memasuki rumah sepulang dari kantor. Tanpa melepas jasnya, ia langsung melangkah cepat ke dalam, langkahnya berat namun tergesa.
“Juliaaaa!” teriaknya keras.
Julia yang berada di kamarnya terkejut. Dengan wajah kesal, ia segera keluar dan menuruni tangga.
“Kenapa sih, Pa? Teriak-teriak begitu,” ketusnya tanpa rasa bersalah.
“Kamu masih berani bertanya kenapa?!” bentak Steven.
“Kamu tahu apa yang baru saja terjadi?!”
Julia terdiam, menatap ayahnya dengan tatapan tidak suka.
“Perusahaan kita rugi besar!” lanjut Steven geram.
“Arga membatalkan seluruh kerja sama dan menarik semua sahamnya!”
Julia mendengus kesal.
“Terus mau bagaimana lagi, Pa? Semua sudah terlanjur terjadi.”
“Kamu...!” Steven menahan emosinya, napasnya memburu.
“Papa enak, tinggal perintah,” lanjut Julia tajam.
“Aku yang harus menghadapi anak kecil itu secara langsung. Menyebalkan!”
Matanya menyala penuh amarah saat mengingat kejadian kemarin.
“Aku tidak bisa mengontrol emosi, apalagi setelah Arga mengusirku. Semua ini karena anak itu!”
Steven menatap putrinya dengan kekecewaan yang begitu dalam.
“Kamu benar-benar tidak bisa diandalkan, Julia. Semua yang Papa rencanakan selama bertahun-tahun… hancur sia-sia!”
Julia terdiam, namun rahangnya mengeras menahan emosi.
“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” suara Steven melemah, dipenuhi frustrasi.
“Perusahaan kita di ambang kehancuran.”
Saat itulah Steven benar-benar menyadari, Arga tidak sekadar marah.
Arga telah memerintahkan Erick untuk memberi pelajaran.
Seluruh dukungan finansial, investasi, dan jaringan yang selama ini menopang perusahaan Steven ditarik tanpa sisa. Tidak ada ruang negosiasi. Tidak ada ampun.
Bagi Arga, keluarga Steven telah melampaui batas.
Dan meskipun Steven adalah sahabat baik orang tua Arga di masa lalu, kali ini Arga memilih bersikap tegas. Ia tidak akan lagi mentoleransi siapa pun yang berani menyentuh keponakannya.
Di sudut ruangan, Julia mengepalkan tangan.
Kemarahan dan kebencian memenuhi dadanya.
Baginya, semua ini belum berakhir.