"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangisan
Detik berikutnya, realitas yang memilukan itu terlipat dan menghilang. Andersen terbangun dengan posisi terlentang di tepi sebuah danau yang airnya setenang cermin perak...
Sebuah permukaan tak beriak yang seolah mampu memantulkan seluruh dosa dan penyesalan manusia.
Di atas sana, langit terbentang dalam warna kelabu abadi, sebuah kanvas tanpa matahari yang memberi kehangatan, maupun bintang untuk memberi petunjuk.
Tubuhnya terasa seringan bulu, namun ironisnya, dirinya merasa begitu lemah. Seolah-olah seluruh tulang dan jiwanya telah diperas hingga kering oleh mesin takdir yang tak punya rasa iba.
Andersen ingin berteriak, membelah kesunyian itu dengan pertanyaan tentang nasib Sheila dan Margarette, namun lidahnya terasa kelu, terkunci oleh sisa-sisa kengerian.
Tenggorokannya yang beberapa saat lalu terbakar oleh asam lambung dan sisa muntah yang korosif, kini hanya menyisakan rasa hampa yang sedingin es. Sebuah kekosongan yang jauh lebih menyakitkan daripada luka bakar mana pun.
"lelaki itu, mulai menangis."
Awalnya hanya isakan kecil yang gemetar, sebuah getaran halus di bahunya yang lelah. Namun, perlahan Tapi pasti, isakan itu berubah menjadi tangisan pilu yang menderu.
Air matanya jatuh ke tepian danau, menciptakan riak kecil pada cermin perak itu, satu-satunya tanda kehidupan di alam yang sudah lama mati. Isakan itu adalah muara dari pengulangan seluruh kegagalan, rasa bersalah, dan kehilangan yang ia tanggung sendirian.
Setiap tetesnya seolah membawa kepingan ingatan yang mengoyak batin.
Di dalam riak air danau perak itu, dirinya melihat kembali senyum Margarette. Sebuah senyum angkuh yang tetap bertahan... Bahkan saat maut menjemputnya, seolah wanita itu sedang mengejek takdir yang mencoba menghancurkan martabatnya.
Lalu, muncul wajah Sheila yang manis, sebuah memori yang kini terasa begitu menyakitkan. Karena gambaran itu perlahan memudar, tertutup oleh hamparan salju putih yang dingin dan membeku.
Di sampingnya, makhluk itu duduk dengan ketenangan yang absolut. Sosoknya yang enigmatik tidak mengeluarkan suara sedikit pun. ia sama sekali tidak menawarkan kata-kata penghiburan, tidak pula memberikan janji-janji kosong yang sering dicari manusia saat terjepit.
Di tepi danau sunyi itu, hanya ada mereka berdua. Seorang pria yang kehilangan segalanya dan makhluk yang menyimpan seluruh rahasia tentang kematian.
“Mengapa aku ditakdirkan seperti ini?! Mengapa harus aku?!”
Andersen meraung ke arah langit yang bisu, sebuah protes yang lahir dari sumsum tulangnya sendiri.
Suaranya pecah, hancur berkeping-keping, bergema di atas permukaan danau perak yang tak beriak, seolah-olah alam semesta pun enggan memberikan gema sebagai jawaban.
“ARGHHHHAAAAHHHHHH!”
Jeritan itu adalah puncak dari segala amarah yang tak tersampaikan. Namun, dari sampingnya, suara itu kembali muncul. bukan sebagai Bentakan, melainkan sebuah bisikan yang terdengar seperti gesekan ombak yang jauh di tengah samudera tak bertepi.
“Nak... Aku tidak memiliki wewenang untuk menjawab teka-teki itu,” ucap entitas itu. Suaranya mengandung beban waktu yang sangat lama, hambar namun penuh dengan empati yang dingin.
Andersen tidak peduli. Ia mulai memukul-mukul pasir putih di sekelilingnya dengan tangan yang masih gemetar hebat. Setiap hantaman tinjunya menciptakan lubang-lubang kecil di permukaan pasir yang halus dan pucat.
Ia memukul dan terus memukul, seolah ingin menghancurkan fondasi dunia tempat ia berpijak.
Namun, pasir itu tetap diam, seolah tak merasakan sakit sedikit pun. Sebuah kontras yang menyakitkan dengan batin Andersen yang kini telah hancur, remuk tak berbentuk di bawah kaki sang takdir.
“Bajingannnn! Mengapa aku begitu lemah?! Mengapa aku tidak bisa melindungi mereka?!”
Umpatan itu keluar bersama isakan yang semakin menyayat. Andersen tidak lagi menghujat musuh-musuhnya. ia menghujat dirinya sendiri, sebuah pengadilan batin di mana ia menjadi terdakwa sekaligus Narapidana yang di penjara.
“Ini sama sekali tidak masuk akal... apakah aku bisa mendapatkan kematian secepatnya? Aku sudah lelah... aku sangat lelah...”
Ia bersimpuh di atas pasir putih yang tak berujung, memohon untuk sebuah akhir yang mutlak. Sebuah tidur tanpa mimpi, sebuah kehampaan di mana ia tidak perlu lagi kembali ke dunia yang selalu menyiksanya dengan harapan palsu dan kehilangan yang nyata.
Baginya, kematian kini bukan lagi sebuah kengerian, melainkan sebuah pelukan hangat yang ia dambakan.
Makhluk itu sedikit mencondongkan tubuhnya. Pergerakannya begitu anggun namun penuh misteri, seolah ia adalah perpanjangan dari bayangan itu sendiri.
Auranya yang dingin mulai merayap, terasa seperti jarum-jarum es yang menusuk kulit Andersen, membekukan tangisan pria itu dalam sekejap.
“Nak... aku hanyalah seorang pembawa pesan di ambang pintu ini,” suara itu terdengar seperti desis angin yang melewati lorong kuno.
“Aku tidak memiliki kuasa atas napasmu, juga tidak atas istirahatmu. Aku diutus hanya untuk menyampaikan, dua jalan yang kini terbentang di hadapanmu.”