Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27.
"Kok kasar sih!" gerutu Qiara.
"Gue itu kan lagi nyetir. Gimana kalau lo pegangin? Lagian lo itu lebay amat sih! Kan kita cuman mau parkir mobil," kilah Natan berbicara jujur.
"Parkir mobil kok naik sih! Jangan-jangan lo mau parkir mobil ke surga dengan ajak-ajak gue bunuh diri dengan naik ke atas gedung." tebak Qiara.
"Qiara... Astaga, parkirannya memang model naik! Kan ini basemen, astaga bodoh sekali lo ini," ucap Natan dengan nada geram, gemas, kesal.
Di lubuk hatinya, Natan ingin memaafkan Qiara yang berasal dari desa dan mungkin tidak pernah melihat parkiran bermodel naik sebelumnya, namun suara hatinya yang lain ingin mengungkapkan rasa kesal karena Qiara sangat bodoh dengan tidak melihat ke arah sekitar. Karena terlihat banyak sekali mobil mewah yang terparkir di sana.
Karena terlalu panik dan bingung, Qiara memang tidak memperhatikan sekitar.
***
*
**
Party yang di adakan di sebuah aula di hotel berbintang.
Seorang laki laki sedang duduk sendirian di atas kursi depan meja makanan yang di sediakan
"Noah, kok lama sih!" tegur Dila yang tiba tiba datang dari arah mana, sembari memeluk pacarnya dengan erat.
Mendapatkan teguran itu, Noah reflek melihat jam yang ada di tangannya.
"Kan memang acaranya kan jam 8 malam," kilah Noah. "Sekarang malah masih jam setengah 8," imbuhnya.
"Mungkin kamu yang datangnya kecepatan," imbuh Noah.
"Oh iya ya." sahut Dila sembari menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Astaga, aku lupa. Aku memang sengaja datang duluan kesini, untuk memberikan minuman yang berisi obat perang sang pada Noah. Bagaimana pun, dia harus bertanggung jawab." ujar Dila dalam hatinya.
"Kok malah melamun sih!" tegur Noah.
"Hehe ngak papa, kamu haus gak? Kalau haus biar aku ambil kan minum," tawar Dila.
"Aku tidak meminum alkohol, Dil," ujar Noah tegas.
"Hehe, bukan alkohol," sahut Dila dengan senyuman yang mencoba menyembunyikan niat jahatnya.
"Kalau gitu nanti saja! Aku baru saja meminum segelas jus jeruk," kata Noah, tak curiga sama sekali.
Wajah Dila tiba-tiba berubah kecewa, namun ia berusaha untuk tidak memperlihatkannya.
"Sebenarnya aku tidak ingin kamu berada di pesta ini! Karena aku benar-benar tidak rela melihatmu digoda oleh gadis-gadis lain saat pesta ini dimulai," gumam Dila dalam hatinya, kesal.
Walaupun, jika di bandingkan dengan ke dua Kakak kembarnya yaitu Nolan dan juga Natan. Wajah Noah itu paling jelek. Tapi kebaikan dalam hatinya, di tambah lagi di sekolah SMA Taruna. Noah terkenal dengan sebuah laki laki green flag.
Membuat Noah mempunyai fans dari para murid perempuan, bahkan mereka menganggap jika Noah adalah sosok laki laki idaman.
Dalam benaknya, Dila merencanakan untuk membuat Noah menjadi miliknya sepenuhnya, meskipun dengan cara yang tidak terpuji.
Dila ingin agar pacarnya itu segera meminum minuman yang sudah diberi obat perangsang olehnya. Karena bagaimanapun juga, Dila ingin menjadi satu-satunya ratu yang memegang hati Noah.
"Tapi... Minuman ini sudah aku persiapkan khusus untukmu," kata Dila dengan nada memelas, mencoba mempengaruhi Noah.
Saat Noah ingin menjawab ucapan pacarnya, tiba-tiba pemilik pesta, Andre, datang menghampiri mereka.
Tanpa disadari oleh Noah, Dila mengepalkan tangan, merasa tegang dan cemas. Apakah rencananya akan berhasil? Ataukah malah akan berantakan? Hatinya berkata, "Aku harus memastikan Noah benar-benar hanya milikku, walau harus menggunakan cara apapun."
"Dimana Nolan? Ada sesuatu yang penting ingin aku bicarakan dengannya," ujar Andre, wajahnya terlihat sedih.
Sesungguhnya Dila merasa bingung, melihat ekspresi wajah Andre yang berbeda dari biasanya. Namun, karena perasaannya saat ini sedang labil, Dila memutuskan untuk tidak menggali lebih dalam tentang kegelisahan Andre.
"Dia sedang sakit," jawab Noah. "Memangnya ada apa?" tanyanya, penasaran dan bingung melihat ekspresi kesedihan yang di tunjukkan Andre.
"Bukankah harusnya hari ini adalah hari yang paling bahagia untuknya? Tapi, kenapa Andre malah terlihat sedih di hari bahagianya ini?" Beberapa pertanyaan agaknya mengganjal di dalam benak Noah.
Wajah Andre terlihat seperti orang yang sedang berpikir keras. Kemudian, ia melirik ke arah Dila.
Melihat tatapan yang di tunjukkan oleh Andre kepada nya, Dila pun akhirnya mengerti. Meski hati nya sempat ragu, ia sadar bahwa Andre juga teman baiknya dan mungkin ada alasan mengapa Andre terlihat begitu sedih.
Dila pun segera memahami maksud dari lirikan Andre.
"Kalau begitu, gue pergi dulu, ya. Mungkin ada yang ingin kalian bicarakan berdua," ujar Dila kepada Andre, berusaha memberi kesempatan bagi mereka berdua.
Andre mengangguk mengerti.
"Ya, sudah. Aku akan kesana dulu bersama teman-temanku sayang. Setelah urusan kalian selesai, kamu bisa menemui ku di sana," kata Dila kepada Noah sembari merangkul mesra dan tersenyum tipis.
Di lubuk hati Dila, kekhawatiran masih saja muncul, namun ia berusaha menyimpan perasaan itu dan memberi ruang bagi kepentingan sahabatnya, Andre. sembari merangkul mesra dan mencium pipi pacarnya itu.
Sementara Andre hanya bisa menatap Dila dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan.
**
*
**
Di sebuah kamar yang ada di hotel berbintang itu. Dua orang laki laki agaknya sedang melakukan percakapan yang serius.
"Apa?" ucap Noah terkejut. Namun, setelah memperhatikan lebih dalam ekspresi yang di tunjukkan oleh Andre.
Andre sebenarnya inginkan berbicara empat mata dengan Noah di tempat pesta di selenggarakan.
Namun, akhirnya Andre mengurungkan niatnya. Karena takut kalau sampai masalah pribadi ini bocor ke orang lain.
Noah pun tahu, jika Andre itu tidak berbohong dan juga sedang berbicara jujur padanya. Ia pun menatap Andre dengan pilu. Dia merasa seolah segalanya terasa begitu tidak nyata, seperti mimpi buruk yang siap menghancurkannya.
"Gue tahu, lo sulit mempercayai ini. Tapi, berita itu gak bohong dan juga gak hoak. Lo tahu kan, kalau nyokap gue itu seorang pengacara?" kata Andre, mencoba meyakinkan Noah.
Noah memperhatikannya dengan saksama dan mengangguk pelan.
"Dia sekarang ini sedang di tunjuk oleh asisten pribadi bokap lo, buat ngurus semua harta benda peninggalannya," papar Andre.
Noah menelan ludah, pikiran dan perasaannya kacau. "Tapi ... " ucapnya dengan suara yang terdengar begitu sedih dan berat, ingatannya malah kembali pada beberapa hari lalu. Sebelum ayahnya berangkat dinas ke luar negeri, ia masih bisa melihat wajah dan senyuman ayahnya, begitu hangat dan penuh harapan.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Tuhan? Kenapa ayah harus pergi begitu saja?" pikir Noah dalam hati, terluka oleh kenyataan bahwa ayahnya, sosok yang selalu baik dan bertanggung jawab, harus meninggalkan dirinya dan kedua kakak kembarnya. Rasa tidak percaya mulai meliputi dirinya saat menyadari betapa tragisnya nasib ayahnya yang tewas dalam kecelakaan pesawat saat perjalanan dinas.
Noah merasa kehilangan, tak tahu harus menghadapi hidup tanpa sosok ayahnya yang begitu dicintai.