Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28.
Noah pun limbung, dengan berjongkok di depan Andre. Bahkan air mata yang sebelumnya mati matian ia tahan pun akhirnya luntur juga.
"Apakah trauma Nolan itu kambuh lagi? Karena yang gue dengar dari Kinara, dia sakit setelah pulang menemaninya. Bahkan Kinara begitu kesulitan menghubungi Kakak kembar mu itu," ucap Andre.
"Entahlah. Gue juga tak tahu pasti apa yang terjadi padanya, tapi di rumah... Kak Nolan memang benar-benar dalam kondisi yang sangat buruk. Bahkan untuk berjalan saja, dia seolah-olah tak memiliki tenaga," ucap Noah dengan suara pilu.
Noah masih meratapi nasibnya, bahkan pikirannya terus di penuhi oleh wajah ayahnya.
"Asisten pribadi Ayah lo itu sebenarnya hanya menyarankan untuk memberitahukan soal kematian Ayah lo pada Nolan saja, karena dia itu tahu. Kalau Nolan lah yang paling dewasa dan bisa mengerti situasi yang terjadi. Untuk lo dan juga Natan, ia berencana menunggu hingga kalian lulus SMA, kemudian mencari momen yang tepat. Tapi... Maaf, karena mendengar kabar Nolan sakit, jadi gue merasa perlu memberitahukan pada lo, dan merahasiakan ini pada nolan. Gue lupa menginformasikan nyokap gue bahwa Nolan memiliki penyakit mental yang hanya diketahui oleh kita berdua, Noah. Jadi, karena keadaan yang memaksa gue untuk hanya memberitahukan kabar ini kepada lo, gue berharap agar lo bisa merahasiakan ini dari Nolan dan Natan. Nantinya, gue akan sampaikan pada nyokap gue agar hanya lo lah yang ditugaskan sebagai penanggung jawab penerima surat wasiat itu," jelas Andre.
Noah hanya bisa menelan ludahnya yang kelu, sembari berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri..
Sungguh harus merahasiakan kematian ayah kandung ke dua saudara kembarnya, yang selama ini selalu merawat dan mendidiknya dengan baik. Sungguh sebuah hal yang sangat menyakitkan dan sangat sulit.
***
**
*
Melihat Qiara yang memasang wajah ketakutan, saat mobil yang di kemudikan olehnya saat naik ke parkiran.
Natan pun akhirnya membiarkan gadis itu untuk memegang pergelangan tangannya.
"Qiara sampai kapan lo itu mau memegang tangan gue terus. Tangan gue dah pegel nih!" tegur Natan.
"Memangnya kita dah sampai, gue itu takut. Mobilnya tadi miring miring." kilah Qiara masih dengan mata yang terpejam.
"Ni mobilnya itu udah gak miring miring, karena kita udah sampai parkiran," sahut Natan dengan ekspresi yang sulit ingin di jabarkan.
"Serius," kata Qiara.
"Ya, makanya mata lo itu di buka lebar lebar. Jangan jangan lo memang sengaja nutup mata, biar ada kesempatan buat terus megang tangan gue." goda Natan.
"Apa?" bentak Qiara, lalu ke dua bola matanya nampak membulat sempurna.
Dengan posisi mata yang membulat sempurna dengan pupil mata hitam besar, pipi chuby. Membuat Natan tidak tahan langsung mencubit pipi Qiara.
"Astaga Natan, kenapa lo malah KDRT sama gue?" tukasnya sembari berusaha untuk membalas apa yang Natan lakukan. Namun, gagal.
Karena dengan mudahnya Natan menjauhkan tangan Qiara dari tubuhnya.
"Kok KDRT sih?" tanya Natan heran.
"Lah lo melakukan kekerasan pada perempuan itu namanya KDRT." jawab Qiara asal.
"Bodoh ... Bodoh!" umpat Natan. Lagi lagi Natan malah menjitak kepala Qiara.
"Lah malah KDRT lagi!" protes Qiara sembari memasang wajah marah.
"KDRT itu singkatan dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga, memang kita itu udah berumah tangga. Dasar!" jelas Natan.
Ucapan yang baru saja keluar dari bibir Natan pun lantas membuat Qiara merasakan malu, bahkan semburat merah keluar dari ke dua pipi manisnya.
Sementara dari jauh, Tania yang melihat interaksi Natan dengan gadis lain nampak mengepalkan tangannya.
"Tania, Natan itu hanya seorang pemain wanita. Kakak harap kamu itu sadar," kata Rasya lembut sembari memegang pundak adiknya.
"Gak ... Apapun yang terjadi Natan harus menjadi milikku," sahut Tania. Sembari menghempaskan tangan Kakak nya dengan kasar.
Tania sudah mencintai Natan sejak dulu. Saat Natan main ke rumahnya, karena kakak nya Rasya dan juga Natan sudah sejak lama bersahabat.
****
**
"Qiara apaan sih! Lo itu pegang pegang pegang tangan gue terus!" tegur Natan, kala ke duanya sudah memasuki area pesta.
"Gue takut, ternyata orang orang yang ada di pesta ini pada tinggi tinggi. Gue kok kecil banget. Apa mereka terus menatap gue karena wajah gue seperti badut Ancol?" celetuk Qiara kala dirinya menjadi pusat perhatian, ia malah teringan dengan ejekan Natan sebelumnya.
Natan menghembuskan nafas kasar, tidak seharusnya ia mengejek Qiara dengan sebutan badut Ancol.
"Wajah lo cantik. Sumpah! Gak seperti badut Ancol. Semua orang itu kagum, sama kecantikan yang lo miliki. Dan merasa asing, karena lo bukan berasal dari SMA Taruna." Jawab Natan.
"Jadi gue jadi pusat perhatian, bukan karena gue itu pendek," sahut Qiara.
"Ya, salah satunya memang Lo kelihatan pendek karena kecil banget akibat lo gak bisa pakai high heels. Orang orang yang bersekolah di SMA gue itu rata rata orang blesteran. Di tambah lagi, mereka pakai high heels. Makanya mereka itu kelihatan tunggu! Lah lo tinggi di bawah rata rata, malah pakai flat shoes. Untung tadi di pinggir jalan ada yang jual," jelas Natan.
Saat sedang berjalan, Qiara di tabrak oleh seseorang. Dan minuman yang di bawa orang itu mengenai baju Qiara.
"Astaga basah! Mana tadi pakai bara yang tipis," ucap Qiara panik, ia teringat kalau dadanya itu besar dan bulatan dadanya itu juga besar. Karena besar, dan mempengaruhi penampilannya.
Perias salon yang menyewakan gaun untuknya memberi saran itu.
Natan yang mengerti akan maksud gumaman Qiara pun lantas berkata.
"Ayo gue antar ke kamar mandi," ucap Natan.
"Natan, biar dia ke kamar mandi sendiri. Katanya lo itu mau pasangan sama gue," ucap Tania. Ternyata orang yang baru saja menumpahkan minumannya pada gaun Qiara adalah Tania.
"Tania," panggil Natan.
"Biar gue aja yang antar gadis ini ke kamar mandi!" tawar Rasya.
"Natan, gue gak mau sama orang asing!"
Noah yang memperhatikan dari kejauhan pun langsung menghampiri ke arah Qiara.
"Noah mau kemana?" tanya Dila.
"Bentar," sahut Noah singkat dan buru buru pergi.
Dari kejauhan Dila malah menangkap Noah yang merangkul dan memberikan jas miliknya pada gadis lain nampak memasang wajah marah.
"Siapa gadis itu? Berani beraninya dia!" kata Dila dengan tangan terkepal.
"Dia seperti nya murid di kelas lain yang mungkin Andre undang. Lo tahu kan, kalau ada orang yang mengusik kita, kita harus lakukan apa?" papar gadis yang berdiri di samping Dila.
"Kita harus mempermalukannya dan membuatnya trauma sampai keluar dari sekolah SMA Taruna," sahut Dila datar. "Gue kok sampai lupa Bianca, makasih udah ingetin gue," imbuhnya.
"Dila ... Dila, jangan sampai kita itu terpancing dan marah pada murid lain. Kita berikan pelajaran aja," imbuh Laras.
"Kalian benar," sahut Dila. "Ayo lebih baik kita buat rencana untuk mempermalukannya di pesta ini!"