"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Malam itu, kamar 302 asrama putra tidak sesunyi biasanya. Suasana yang biasanya hanya diisi suara ketikan laptop atau gumaman rumus kalkulus, kini berubah menjadi riuh rendah dengan gelak tawa yang meledak-ledak.
Empat sekawan itu berkumpul di tengah ruangan, mengelilingi Aydan yang duduk di tepi ranjangnya dengan ekspresi yang sulit ditebak, campuran antara pasrah dan sisa-sisa binar bahagia yang gagal ia sembunyikan.
Kejadian di kantin siang tadi benar-benar menjadi sejarah besar bagi departemen Teknik Mesin. Berita tentang The Silent King yang tiba-tiba ditempel oleh mahasiswi cantik dari Psikologi menyebar lebih cepat daripada pengumuman nilai ujian.
Dion, yang masih merasa gemas karena menjadi saksi mata pertama, berdiri di atas kursinya sambil memegang botol air mineral layaknya mikrofon. "Guys, kalian sadar nggak sih? Kita selama ini satu kamar sama legenda hidup!" seru Dion dramatis.
"Wah, pantas saja teman kita Aydan ini tidak pernah buka hati untuk wanita mana pun. Jangankan Cristin, model internasional pun lewat kalau saingannya spek bidadari kayak Dayana!"
Samuel, yang tadi siang wajahnya jadi korban semburan kopi Dion, mengangguk setuju sambil melemparkan handuk kecil ke arah Aydan. "Sumpah, Dan. Sejak kapan kalian punya hubungan? Astaga, aku tidak pernah dengar kau cerita, tidak pernah lihat kau jalan bareng, apalagi lihat kau senyum-senyum ke HP. Aku kira kau ini benar-benar tidak punya perasaan pada lawan jenis!"
Dion langsung menyahut dengan nada sombong, "Halah, lu pada nggak tahu kan? Gue yang paling beruntung di sini. Kalian semua tidurnya kayak kebo, jadi nggak bakal tahu kalau mereka itu teleponan tepat saat kita sudah di alam mimpi. Tengah malam, Saudara-saudara! Bayangkan, Aydan yang kaku ini bisa ngomong Ay, jangan sakit ya dengan suara yang lebih lembut dari sutra!"
Brian, si kutu buku yang biasanya paling kalem, ikut bergabung dalam lingkaran godaan itu. Ia melepaskan kacamata tebalnya dan menatap Aydan dengan penuh selidik. "Ketemu di mana, Dan? Sumpah, aku baru lihat Dayana dari dekat tadi siang. Dia bukan cuma cantik fisik, tapi auranya itu... tenang banget. Kayak bukan mahasiswi biasa. Bagaimana caranya anak Teknik yang kerjanya main oli kayak kita bisa dapat berlian dari Psikologi?"
Aydan hanya bisa menghela napas panjang. Ia mengambil bantal di sampingnya untuk menutupi wajahnya yang mulai memerah. "Ngucap, Yan. Masya Allah," gumam Aydan pelan, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Duh, bener-bener ya! Sudah Masya Allah-Masya Allah saja dia," goda Samuel sambil tertawa.
"Dengar ya semuanya," Aydan akhirnya menurunkan bantalnya, mencoba memasang wajah serius meskipun sudut bibirnya tetap berkhianat dengan sedikit tarikan ke atas. "Kami tidak pacaran. Sungguh."
Mendengar kata "tidak pacaran", Brian, Dion, dan Samuel saling pandang selama sedetik sebelum akhirnya tawa mereka meledak serempak. Mereka tertawa begitu keras sampai beberapa penghuni kamar sebelah mengetuk dinding asrama menyuruh mereka diam.
"Nggak pacaran gimana, Bro!" seru Dion sambil menyambar bantal dan memukulkannya ke punggung Aydan. "Orang binar bahagianya terlihat jelas di matamu! Lu nggak bisa bohong sama kita, Dan!"
Brian ikut mengambil bantal lain dan menghujani Aydan dengan pukulan-pukulan persahabatan. "Kalau nggak pacaran, masa dia manggil Ay dan minta jus jerukmu di depan umum? Masa dia duduk mepet-mepet cuma buat usir cewek lain? Itu namanya bukan pacaran, itu namanya penyegelan kepemilikan!"
Aydan berusaha menangkis serangan bantal teman-temannya sambil tertawa kecil, suara tawa yang sangat jarang mereka dengar. "Aku serius. Kami memang tidak pacaran seperti yang kalian bayangkan. Kami hanya... sedang saling menjaga. Ada janji yang lebih besar dari sekadar status pacaran."
Samuel berhenti memukul, ia menatap Aydan dengan raut wajah yang sedikit lebih tenang namun tetap jahil. "Iya, iya, kami tahu prinsipmu yang setinggi langit itu. Menjaga sampai akad, kan? Tapi tetap saja, Dan, melihatmu punya seseorang yang begitu perhatian itu bikin kami iri satu asrama."
Dion kembali merangkul bahu Aydan, kali ini dengan nada yang lebih tulus. "Selamat ya, Bro. Jujur, kami bangga sama lo. Lo membuktikan kalau cowok Teknik itu nggak cuma bisa bongkar mesin, tapi juga bisa setia dan punya selera tinggi. Semoga anak Teknik dan anak Psikologi ini bisa secepatnya jadi suami istri yang sah. Gue siap jadi saksi, atau paling nggak jadi seksi konsumsi di nikahan lo nanti!"
"Gue mau jadi supir mobil pengantinnya! Pakai motor balap lo juga boleh!" timpal Samuel bersemangat.
Aydan hanya bisa tersenyum lebar mendengar doa-doa konyol namun tulus dari teman-temannya. Di dalam hatinya, ia mengaminkan setiap kata-kata mereka. Ia teringat wajah Dayana saat meminta jus jeruk tadi siang, wajah yang penuh keberanian sekaligus keraguan. Ia menyadari bahwa Dayana telah melompat jauh melewati batas kenyamanannya hanya untuk menunjukkan keberadaannya di sisi Aydan.
Malam itu, kamar 302 penuh dengan kehangatan persahabatan. Aydan menyadari bahwa ia tidak lagi perlu menyembunyikan perasaannya sendirian. Teman-temannya, meski sangat jahil, adalah saksi perjalanan cintanya yang tidak biasa ini.
Saat teman-temannya mulai kembali ke ranjang masing-masing dan lampu dipadamkan, Aydan kembali teringat pada pesan ayahnya, Liam: "Seorang pria sejati tidak akan membiarkan wanitanya menunggu tanpa kepastian." Aydan menatap langit-langit asrama yang gelap, membayangkan masa depan di mana ia tidak perlu lagi menjawab "tidak pacaran", melainkan "dia istriku". Dan di asrama seberang, ia yakin Dayana pun sedang memikirkan hal yang sama, menanti hari di mana doa-doa mereka di tengah malam akan berubah menjadi ijab kabul yang menggetarkan arsy.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰