Di bawah langit London yang selalu kelabu, Juliatte Fontaine hidup dalam jadwal yang diatur ketat. Baginya, keamanan adalah segalanya.
Maka, ketika gerombolan motor The Ravens menderu di depan gerbang sekolah dengan asap knalpot dan aroma pemberontakan, Juliatte hanya merasakan satu hal, kejijikan.
Puncaknya adalah William Wilson. Cowok itu adalah personifikasi dari semua yang Juliatte benci. William adalah alasan adiknya hampir celaka dalam sebuah tawuran antar-geng motor di Camden. Bagi Juliatte, William adalah kriminal, bagi William, Juliatte hanyalah gadis kaca yang akan pecah jika menyentuh realita.
Namun, sebuah insiden memaksa mereka dalam satu situasi pelarian. Juliatte melihat sisi London yang tak pernah ada di buku sejarahnya, dan William menyadari bahwa gadis kaca ini punya api yang lebih besar dari percikan mesin motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema Sutra Hitam
Pagi harinya, suasana di Jude’s High School terasa lebih mencekam dari biasanya. Juliatte tiba dengan topeng yang jauh lebih kokoh. Rambutnya disanggul sangat rapi tanpa ada satu helai pun yang keluar, dan seragamnya seperti biasa disetrika begitu tajam hingga tampak kaku. Ia adalah definisi dari porselen yang membeku.
Namun, ingatan tentang percakapan video semalam adalah retakan di balik topeng itu.
Juliatte berjalan melewati koridor utama, mengabaikan sapaan semua orang. Saat ia sampai di depan lokernya, ia membeku. William sudah di sana.
Pria itu tidak bersandar di loker lain, ia berdiri tepat di depan loker Juliatte, menghalangi pintunya. Ia mengenakan jaket The Ravens dengan kerah yang sedikit naik, menutupi bekas luka di rahangnya. Begitu melihat Juliatte, William tidak memberikan senyum miringnya yang biasa. Ia hanya menatapnya dengan pandangan yang dalam, seolah sedang memindai setiap senti wajah Juliatte untuk mencari sisa-sisa gadis bersutra hitam semalam.
"Minggir, Wilson. Aku ada kelas Matematika," ucap Juliatte, suaranya sedingin es kutub.
"Matematika bisa menunggu, Fontaine," balas William. Ia tidak bergerak. Malah, ia sedikit merunduk sehingga aromanya, bensin, angin malam, dan sandalwood kembali mengepung indra penciuman Juliatte. "Aku tidak bisa tidur semalam. Dan aku yakin kau juga tidak."
Juliatte mengepalkan tangannya di samping tubuh. "Jangan terlalu percaya diri. Aku tidur sangat nyenyak setelah mematikan panggilan konyol itu."
William tertawa kecil, suara rendah yang membuat bulu kuduk Juliatte meremang. "Benarkah? Lalu kenapa tanganmu gemetar saat mencoba mencari kunci lokermu sekarang?"
Juliatte segera menyembunyikan tangannya di balik punggung. "Jangan berhalusinasi. Minggir, atau aku akan memanggil guru piket."
"Panggil saja," tantang William. Ia melangkah satu tahap lebih dekat, memaksa Juliatte menengadah. "Tapi mereka tidak akan bisa menghapus bayangan yang kulihat semalam. Sutra hitam, punggung terbuka... kau terlihat jauh lebih nyata saat tidak sedang berpura-pura menjadi patung, Juliatte."
"Hentikan," desis Juliatte. Matanya berkilat marah, namun ada setitik ketakutan di sana ketakutan karena rahasianya telah terbongkar. "Itu hanya pakaian tidur. Tidak berarti apa-apa."
"Bagiku, itu berarti segalanya," bisik William tepat di telinganya. "Itu berarti di balik semua aturan gila orang tuamu, masih ada seorang gadis yang ingin merasa cantik untuk dirinya sendiri. Bukan untuk Gala, bukan untuk timbangan."
Juliatte mendorong dada William dengan tenaga yang cukup besar. "Kau tidak tahu apa-apa tentang aku! Kau hanya sampah yang suka mengintip kehidupan orang lain lewat celah sempit!"
William terhuyung sedikit, namun ia tetap berdiri tegak dengan senyum tipis yang menyakitkan. "Aku mungkin sampah, tapi setidaknya aku tidak membiarkan diriku mati di dalam sangkar emas sepertimu."
Juliatte tidak membalas. Ia merenggut kunci lokernya, membukanya dengan kasar, mengambil bukunya, dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi.
Di sudut kantin, Sonia sedang sibuk memoles kuku Jax dengan clear polish, tindakan yang membuat Jax terlihat ingin mengubur diri hidup-hidup di bawah ubin kantin.
"Jaxie, jangan bergerak! Ini agar kukumu tidak rusak saat kau mengetik kode-kode aneh itu!" protes Sonia.
"Sonia, ini memalukan. Semua orang melihat," gumam Jax, meski tangannya tetap diam di atas meja.
"Biar saja! Biar mereka tahu kalau kau punya ahli perawatan pribadi," Sonia terkikik, lalu melirik ke arah Juliatte yang baru saja masuk ke kantin dengan wajah yang sangat menyeramkan. "Oh, lihat Jules. Mode Ratu Es nya sudah mencapai level maksimal. Sepertinya William benar-benar menekan tombol yang salah semalam."
Jax melirik Juliatte, lalu melirik William yang baru saja masuk dengan tangan di saku celana. "Bukan tombol yang salah, Sonia. William hanya meretas hal yang selama ini tidak pernah bisa ditembus siapa pun. Dan sekarang... seluruh sistem Juliatte sedang mengalami kerusakan."
Sonia tersenyum lebar. "Kalau begitu, kita harus memastikan sistemnya tidak pernah kembali ke pengaturan awal, kan?"
Jax hanya mendengus, tapi ia membiarkan Sonia memegang tangannya sedikit lebih lama dari biasanya.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍