"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permusuhan Yang Tumbuh
Tiba-tiba udara di dalam mobil menjadi aneh dan canggung. Karena pikiran Dira dan Erlangga ditarik paksa ke masa lalu. Di mana mereka sempat dekat di tahun pertama Dira kuliah.
Erlangga adalah ketua BEM yang saat itu sudah masuk semester tujuh, sedangkan Dira baru masuk kuliah dan menjabat sebagai sekretarisnya.
Tidak ada komitmen atau ungkapan kata cinta di antara mereka. Tapi ada rasa yang saling terpendam dan semakin tumbuh seiring berjalannya waktu dalam kedekatan mereka.
Hingga pada akhirnya, setelah wisuda tanpa kata Erlangga menghilang begitu saja meninggalkan Dira dalam kekecewaan. Di saat seperti itulah Agung masuk dan memberi warna baru.
Tapi, hanya sebatas teman kuliah. Agung pun tak pernah mengungkapkan sebait kata cinta terhadap Dira. Hanya perhatian yang Agung berikan, dan itu mampu membuat Dira melupakan tentang Erlangga dengan cepat.
Selama 3 tahun berteman dengan Agung, dan pada akhirnya mereka menjalin hubungan setelah sama-sama lulus kuliah kemudian mereka menikah.
Buku tentang Erlangga masih kosong, sebatas sampul yang tak berarti. Jadi ketika Agung menikahi Dira, maka hanya tinggal mengganti sampul. Lalu menulis kisah tentang Agung. Tidak ada lagi nama Erlangga, bahkan secuil ingatan pun hilang.
Sekarang mereka dipertemukan lagi setelah bertahun-tahun tidak pernah bertemu dengan keadaan yang jauh berbeda.
"Kenapa Kak Elang tiba-tiba menghilang tanpa kata?" Tanya Dira.
Pertanyaan ulang dari Dira memecah keheningan yang tadi menyelimuti mereka.
"Maaf... Waktu itu Bapak memintaku pulang, karena Ibu kecelakaan dan masuk Rumah Sakit." Jawab Erlangga.
"Kecelakaan? Apa mereka berdua kecelakaan saat akan menghadiri acara wisuda? Atau bagaimana ceritanya?" Penasaran Dira.
"Kamu tahu ceritanya Dira, dan pertanyaanmu hanya kalimat basa basi. Kedua orang tua angkatku tidak mungkin seperhatian itu menghadiri wisudaku. Bahkan mereka sudah sejak lama menginginkan aku berhenti kuliah dan secepatnya pulang kampung." Ucap Erlangga.
"Lantas kenapa hanya sekedar mengucapkan sepatah kata pun tidak kamu lakukan Kak Elang." Tanya Dira.
"Karena ponselku hilang saat aku buru-buru pulang naik bus. Dan aku tertahan di rumah tidak bisa ke mana pun hingga hari ini." Jawab Erlangga.
"Dan kamu kenapa bisa ada di Desaku, apa kamu sengaja mencariku Dira?" Tanya Erlangga lagi.
"Dih... Kak Elang terlalu kepedean. Aku tidak tahu ini Desamu. Yang aku tahu, aku butuh tempat tinggal untuk menenangkan hatiku. Dan mobilku melaju hingga sejauh ini dari Jakarta, lalu berada di Desa yang sangat asing. Tapi aku suka." Ucap Dira.
"Kenapa kamu meninggalkan Jakarta? Apa yang sebenarnya terjadi padamu Dira?" Pertanyaan yang hanya Erlangga ucapkan dari hati tanpa bisa bersuara.
"Apa kamu yang tinggal di rumah sebelah? yang paling pojok?" Justru yang keluar dari mulut Erlangga adalah pertanyaan paling biasa.
"Iya, aku beli rumah itu. Memangnya Kak Elang tinggal di sebelah mana? Kok bisa tahu." Ucap Dira bertanya, karena memang tidak tahu tempat tinggal Erlangga.
"Aku tinggal di sebelah rumahmu."
"Hah... Jadi Kak Elang anak angkat Juragan Karsa? Dan perempuan muda itu calon Istri Kakak?" Entah kenapa ada rasa tak rela saat mengetahui jika Erlangga sudah punya wanita yang dicintai.
"Dira..."
"Cantik kok Kak, jadi kapan kalian menikah. Aku pasti berikan kado untuk pernikahan kalian." Ucap Dira memotong ucapan Erlangga.
"Ini tidak seperti yang kamu lihat Dira, aku tidak pernah mencintai Mirna atau wanita lain. Di hatiku cuma ada satu nama, dari dulu hingga kini." Lagi-lagi Erlangga hanya bisa berucap tanpa kata, karena canggung dan rasa bersalah pernah meninggalkannya. Bahkan Erlangga tidak tahu jika Dira sudah berstatus sebagai janda.
"Kak Erlangga mau turun di mana nanti?" Tanya Dira yang disalah artikan Erlangga seolah Dira sedang mengusirnya dengan cara halus.
"Eh... Maaf jangan salah paham. Aku tidak berniat mengusir Kakak. Tapi jika Kakak mau temani aku belanja silahkan." Ucap Dira yang buru-buru meralat omongannya karena melihat wajah keruh Erlangga.
"Memangnya kamu mau belanja apa?" Tanya Erlangga kembali terbit senyumannya.
"Berbagai furniture dan peralatan dapur. Intinya banyak yang ingin aku beli, pasti butuh waktu lama. Sedangkan sekarang sudah masuk waktu maghrib, apa tidak apa-apa kita belanja malam-malam berdua? Aku tidak ingin calon Istri Kakak salah paham." Ucap Dira.
"Tidak masalah, lagian dia tidak akan tahu." Ucap Erlangga ragu. Pasalnya dia tahu jika Mirna pasti sudah mengadu pada Ayahnya. Dan biasanya setelah ini, Erlangga akan diinterogasi bagaikan tersangka pembunuhan. Andai Erlangga bisa membayar budinya, dia ingin sekali terlepas dari jerat rantai yang mengikatnya dengan menggunakan nama keluarga sebagai gemboknya.
"Maafkan aku Dira, kemungkinan setelah malam ini kamu akan terlibat dalam carut marut masalah hidupku. Aku berharap kamu tidak pergi, meskipun aku tahu bukan hakku untuk memintamu ada di sampingku. Tapi sungguh aku butuh kamu, andai aku bisa berkata jujur tentang perasaanku yang selama ini aku pendam untukmu." Gumam Erlangga.
Malam itu, Erlangga benar-benar menemani Dira berbelanja sampai selesai. Ada dapur, sofa untuk ruang keluarga, ranjang dan kasur empuk. Serta produk elektronik pun dibelinya. Televisi, lemari es, oven, AC dan lainnya full satu truck. Tapi karena sudah malam, barang tersebut baru akan diantar besok pagi langsung ke rumah Dira.
Karena jarak antara Kota dan tempat tinggal mereka lumayan jauh. Pukul 22:00 WIB mereka baru sampai jalanan Desa mereka. Erlangga minta diturunkan di gang masuk, daripada nanti menjadi masalah.
"Aku turun di sini saja, karena pasti akan terjadi keributan kalau mereka melihatku keluar dari mobilmu. Aku belum siap berdebat."
"Ya sudah tak masalah, jika memang kedekatan kita menjadi soalan. Lebih baik memang jaga jarak, karena pasti calon istrimu cemburu. Dan aku juga tidak mau dibilang orang ketiga yang merusak hubungan kalian berdua." Ucap Dira.
Kemudian wanita itu melajukan mobilnya menuju ke rumahnya dan harus melewati rumah milik Juragan Karsa.
Benar saja, di teras rumahnya ada tiga orang yang menunggu kedatangan Erlangga dengan wajah garang.
Dira menurunkan kaca jendelanya dan menyapa ala kadarnya pada mereka. Tapi hanya tatapan mencemooh serta merendahkan yang bisa Dira tangkap. Mereka sama sekali tidak ramah, bahkan terlihat ada aura permusuhan. Padahal Dira menginginkan hidup damai.
"Dia itu siapa Budhe? Gayanya selangit." Ucap Mirna mulai dengki.
"Tidak tahu, katanya pindahan dari Jakarta." Jawab Bu Ningsih datar.
"Jangan sampai dia menggoda Erlangga. Karena aku tidak akan tinggal diam, aku akan menghancurkan hidupnya." Ucap Mirna diangguki Bu Ningsih.
"Yang penting tetap jaga nama baik keluargaku." Ucap Juragan Karsa.
Pada dasarnya, perilaku impulsif dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti saat sedang menghadapi stres atau situasi genting yang memerlukan respons cepat.
Namun, jika perilaku ini dilakukan secara terus-menerus atau telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang, perilaku ini bisa menjadi gejala dari suatu gangguan mental.
Berpikir panjang sebelum berkata atau bertindak adalah kunci untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.
Banyak masalah muncul dari kata-kata atau tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan matang.
Sebuah kata yang diucapkan dalam emosi, atau tindakan impulsif, dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meluangkan waktu sejenak sebelum berbicara atau bertindak, merenungkan apa dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
Dengan bersikap lebih hati-hati, kita bisa menjaga hubungan, menghindari konflik yang tidak perlu, dan menjadi pribadi yang lebih dewasa.
please thor jodohin elang sama dira🫶
kl g jodoh harus di jodohkan, kan author yang buat cerita😂