Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap di dermaga lama
Malam itu, Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis menyelimuti area pelabuhan, menyamarkan langkah kakiku yang tergesa menyusuri jalanan aspal yang retak. Aku tidak memberitahu Biru. Aku tidak ingin merusak malam pertamanya menghirup udara bebas setelah keluar dari rumah sakit. Aku meninggalkan sebuah catatan singkat di meja kosnya: "Ada urusan mendadak dengan Madam Syaza, jangan mencariku."
Sebuah kebohongan demi melindunginya.
Dermaga lama adalah sisa-sisa kejayaan masa lalu yang kini ditinggalkan. Bangunan gudang yang berkarat berdiri angker di bawah sinar bulan yang tertutup awan. Sesuai instruksi pesan misterius itu, aku berjalan menuju ujung dermaga, tempat sebuah lampu jalan yang berkedip-kedip menjadi satu-satunya sumber cahaya.
"Aku sudah di sini. Keluar!" teriakku, suaraku sedikit bergetar melawan deru ombak.
Dari kegelapan di balik kontainer tua, seorang pria melangkah maju. Dia bukan preman bayaran, melainkan seorang pria tua berpenampilan sangat rapi dengan setelan jas abu-abu. Aku mengenalinya. Dia adalah Pak Darwin, tangan kanan kepercayaan Tuan Laksmana selama tiga puluh tahun.
"Anda berani juga, Ibu Aruna," ujar Pak Darwin dengan nada dingin yang sopan.
"Apa maumu, Darwin? Abhinara sudah di penjara, Laksmana Group sudah runtuh. Tidak ada lagi yang bisa kalian selamatkan," kataku sambil menggenggam ponsel di saku, siap menekan tombol darurat.
"Kami tidak ingin menyelamatkan Laksmana Group. Kami ingin menyelamatkan kehormatan Tuan Besar," Pak Darwin melangkah lebih dekat. "Buku yang Anda terbitkan itu... Anda pikir itu adalah kemenangan? Anda hanya pion dalam permainan Madam Syaza. Dia ingin menghancurkan kami bukan karena keadilan, tapi karena dia ingin menguasai monopoli pelabuhan ini tanpa gangguan keluarga Laksmana."
"Aku tidak peduli pada intrik bisnis kalian! Aku hanya ingin kebenaran terungkap!"
"Kebenaran selalu punya dua sisi, Ibu Aruna," Pak Darwin mengeluarkan sebuah dokumen dari tas kulitnya. "Di dalam buku Anda, ada data tentang penggusuran lahan nelayan. Tapi tahukah Anda siapa yang sebenarnya mendanai proyek itu secara sembunyi-sembunyi melalui perusahaan cangkang? Madam Syaza."
Aku tertegun. Jantungku serasa berhenti. "Itu tidak mungkin. Dia membantuku menerbitkan buku itu!"
"Dia membantu Anda untuk membuang semua kesalahan ke pundak keluarga Laksmana, sehingga namanya sendiri tetap bersih saat ia mengambil alih proyek itu nanti. Dia menggunakan amarah Anda dan kamera Biru untuk menyingkirkan pesaingnya."
Pak Darwin menyodorkan dokumen itu padaku. "Baca ini. Jika Anda tetap mengadakan pameran itu besok dengan dukungan Madam Syaza, Anda secara tidak langsung sedang merayakan kemenangan seorang monster yang lebih besar. Tuan Laksmana memang keras, tapi dia punya kode etik. Madam Syaza? Dia tidak punya hati."
Aku menerima dokumen itu dengan tangan gemetar. Saat aku membukanya di bawah lampu jalan, foto-foto transaksi dan akta perusahaan cangkang itu terpampang nyata. Nama Madam Syaza tersembunyi di balik lapisan firma hukum luar negeri, tapi jejaknya jelas bagi siapa pun yang tahu cara mencarinya.
"Kenapa memberitahuku sekarang?" tanyaku parau.
"Karena pameran besok adalah jebakan. Begitu Anda berpidato di depan media, Madam Syaza akan mengatur agar polisi menemukan 'bukti baru' yang mengaitkan Biru dengan manipulasi data digital. Biru akan masuk penjara menggantikan Abhinara, dan Madam Syaza akan tampil sebagai pahlawan yang 'tertipu' oleh kalian."
Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar mendekat. Bukan satu, tapi tiga mobil hitam mengepung ujung dermaga. Lampu jauh mereka menyilaukan mataku.
"Sepertinya Madam Syaza tidak suka rahasianya dibicarakan," bisik Pak Darwin dengan wajah pucat.
Pintu mobil terbuka, dan beberapa pria berbadan tegap keluar. Namun, dari mobil yang paling depan, sosok yang sangat kukenal melangkah turun dengan susah payah, dibantu oleh tongkat kayu.
Biru.
"Aruna!" Biru berteriak, suaranya parau karena cemas. Di belakangnya, Seno berdiri dengan wajah penuh penyesalan.
"Biru? Kenapa kamu di sini?!" aku berlari ke arahnya, namun pria-pria itu menghalangi jalanku.
"Aku membaca catatanmu, Na. Aku tahu Madam Syaza tidak akan memanggilmu ke tempat seperti ini sendirian," Biru menatap Pak Darwin dengan amarah yang dingin. "Darwin, apa yang kamu lakukan pada Aruna?"
"Saya hanya mencoba membukakan matanya, Mas Biru," jawab Darwin tenang.
Di tengah ketegangan itu, sebuah suara tawa yang sangat akrab terdengar dari speaker salah satu mobil. Suara Madam Syaza.
"Sangat dramatis. Sebuah reuni di tempat pembuangan sejarah," suara itu menggema. "Aruna, kembalikan dokumen itu sekarang. Kita masih bisa melanjutkan pameran besok seolah percakapan ini tidak pernah terjadi. Biru akan tetap menjadi pahlawan, dan kamu akan tetap menjadi penulis hebat."
Aku menatap Biru, lalu menatap dokumen di tanganku. Kami terjepit di antara dua kegelapan. Satu yang ingin menghancurkan kami dengan kekuasaan, dan satu lagi yang ingin mengendalikan kami dengan kebohongan.
"Jangan lakukan, Na," bisik Biru, meski dia tahu keselamatannya menjadi taruhan. "Jangan biarkan fajar kita kembali ternoda."
Aku menarik napas panjang, merobek dokumen itu di depan lampu sorot mobil, namun bukan untuk menyerah. Aku sudah merekam setiap lembarannya dengan kamera ponselku sebelum Biru datang.
"Madam Syaza," kataku keras-keras. "Pameran besok akan tetap berjalan. Tapi bab terakhirnya tidak akan lagi tentang Laksmana. Bab terakhirnya akan tentang Anda."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...