NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Tabib Jenius

Reinkarnasi Tabib Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Fantasi Timur / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.

Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 RTJ

Angin Utara tidak pernah mengenal belas kasihan. Ia datang bukan sebagai hembusan, melainkan sebagai bilah-bilah es yang menyayat setiap jengkal kulit yang terpapar. Di lereng terjal menuju Pegunungan Salju Abadi, tiga bayangan manusia bergerak merayap di tengah badai yang membutakan. Pandangan mereka terbatas hanya pada jarak dua meter ke depan, selebihnya hanyalah putih yang menyakitkan mata.

Lin Xi berjalan di paling depan. Jubah perangnya yang dulu gagah kini compang-camping, namun punggungnya tegak lurus seolah-olah ia sedang memikul beban seluruh langit. Di punggungnya, tubuh Long Chen terikat erat. Pemuda itu tidak lagi mengeluarkan keringat dingin; kulitnya kini terasa seperti pualam yang membeku. Napasnya sangat tipis, hampir tak terasa meski Lin Xi menempelkan telinganya ke dada pria itu setiap sepuluh menit sekali.

"Jenderal... kita harus mencari tempat berteduh. Jika kita terus menembus badai ini dalam keadaan terbuka, Pangeran tidak akan bertahan sampai matahari terbenam," Satu berteriak di tengah deru angin. Suaranya serak, dan setiap kali ia berbicara, darah kering di bibirnya pecah kembali.

Lin Xi berhenti sejenak. Ia memejamkan mata, mencoba merasakan sekelilingnya menggunakan indra barunya. Sejak ia menyerap sebagian energi dari pedang hitam di Goa Aliran Sunyi, indranya menjadi jauh lebih tajam, namun juga lebih gelap. Ia bisa merasakan denyut nadi bumi di bawah salju, namun ia juga merasakan "bisikan" dari energi Yin yang terus menggoda kesadarannya untuk menyerah pada amarah.

"Di sana... tiga ratus langkah ke arah barat laut. Ada ceruk batu," gumam Lin Xi. Suaranya dingin, nyaris tidak memiliki emosi manusia lagi.

Mereka merangkak menuju ceruk tersebut. Sebuah gua kecil yang terbentuk dari tumpukan batu granit raksasa. Begitu masuk, Satu segera menyalakan api menggunakan sisa-sisa kayu kering yang ia simpan di dalam cincin ruangnya. Api yang menyala kecil itu memberikan sedikit warna pada wajah mereka yang sudah membiru.

Lin Xi segera menurunkan Long Chen. Ia menyandarkan tubuh pria itu di pangkuannya, menggosok kedua tangan Long Chen dengan tangannya sendiri yang juga mati rasa.

"Chen... bangunlah. Kita hampir sampai," bisik Lin Xi. Air matanya sudah kering, membeku menjadi butiran es kecil di bulu matanya.

"Jenderal, biarkan hamba yang menjaganya. Anda harus beristirahat. Anda belum memejamkan mata sejak kita meninggalkan goa tiga hari lalu," ucap Satu sambil menyodorkan sepotong daging kering yang keras.

Lin Xi menggeleng pelan. "Bagaimana aku bisa tidur sementara dia bertaruh nyawa karena kebodohanku? Jika saja aku lebih kuat, jika saja aku tidak membiarkan diriku terkena jebakan Guru Wu..."

"Kekuatan bukan tentang tidak pernah jatuh, Nak, tapi tentang seberapa jauh kau berani melangkah setelah dihancurkan," suara Kakek Bai tiba-tiba muncul. Bayangan transparan itu duduk di sudut gua, tampak lebih redup dari biasanya. "Pemindahan energi yang dilakukan bocah ini bukan sekadar pengorbanan. Dia telah menanamkan 'Benih Yang' miliknya ke dalam inti jiwa milikmu. Itulah sebabnya kau sekarang bisa mengendalikan energi hitam itu tanpa kehilangan akal sehat."

Lin Xi menatap telapak tangannya. Asap hitam tipis keluar dari sela-selanya. "Jadi, sebagian dari jiwanya sekarang ada di dalam diriku?"

"Benar. Dan sebagian dari kegelapanmu sekarang merusak sirkuit energinya. Ini adalah ikatan hidup dan mati. Jika dia mati, kau akan kehilangan separuh jiwamu dan menjadi monster tanpa ingatan. Jika kau mati, energi Yin di tubuhnya akan meledak dan menghancurkannya seketika," Kakek Bai menghela napas panjang. "Suku Pegunungan Salju adalah satu-satunya harapan. Tapi mereka tidak suka pada orang luar, apalagi anggota keluarga kerajaan."

Lin Xi terdiam, menatap api yang menari-nari. Detail interaksinya dengan Long Chen di masa lalu terbayang kembali. Bagaimana pria itu selalu tersenyum tenang di tengah intrik istana yang memuakkan, bagaimana ia selalu membawakan teh bunga krisan saat Lin Xi lelah berlatih pedang. Semua kenangan itu terasa seperti belati yang diputar di dalam hatinya.

Tiba-tiba, telinga Lin Xi menangkap suara yang tidak wajar di luar gua. Bukan suara angin, melainkan suara langkah kaki yang teratur dan desingan sesuatu yang membelah udara.

"Satu, padamkan apinya!" perintah Lin Xi tajam.

Satu bereaksi secepat kilat, menaburkan salju ke perapian hingga gua kembali gelap gulita. Lin Xi menghunus pedang hitamnya. Aura di dalam gua seketika turun secara drastis.

Wush!

Sebuah anak panah yang terbuat dari es murni melesat masuk, menancap tepat di tempat api tadi menyala. Jika Satu terlambat satu detik saja, panah itu mungkin sudah menembus dadanya.

"Keluarlah, penjarah makam! Kalian berada di wilayah terlarang Suku Roh Salju!" sebuah suara wanita yang melengking terdengar dari luar gua. Suaranya seolah-olah menyatu dengan badai.

Lin Xi berdiri perlahan. Ia meletakkan kepala Long Chen dengan sangat hati-hati di atas tumpukan kain. "Satu, jaga dia. Apapun yang terjadi, jangan keluar."

Lin Xi melangkah keluar dari gua. Di depannya, berdiri lima sosok yang mengenakan pakaian dari bulu serigala putih. Wajah mereka ditutupi topeng kayu berbentuk rubah, dan masing-masing memegang busur panjang yang bercahaya biru.

"Kami bukan penjarah makam," ucap Lin Xi, suaranya tetap tenang meski ia dikepung. "Pria di dalam sana sedang sekarat. Kami butuh Mata Air Kehidupan."

Para prajurit suku itu tertawa dingin. "Mata Air Kehidupan hanya untuk mereka yang memiliki darah murni pegunungan. Bagi orang luar, itu adalah racun. Dan kau... aku bisa mencium aroma busuk dari tubuhmu. Kau adalah pembawa kegelapan."

Pemimpin prajurit itu, seorang wanita dengan rambut perak yang menyembul dari balik topengnya, menarik tali busurnya lebih kencang. "Mati di sini dan biarkan salju menyucikan jiwamu!"

Anak panah es meluncur. Lin Xi tidak menghindar. Ia mengangkat tangan kirinya, dan asap hitam dari tubuhnya membentuk perisai padat yang menelan anak panah itu seketika.

"Aku tidak datang untuk bertarung," Lin Xi melangkah maju satu tindak. Tekanan auranya meledak, menciptakan area tanpa salju di sekitarnya. "Tapi jika kalian menghalangi jalanku untuk menyelamatkannya, aku akan meratakan gunung ini hingga tidak ada lagi tempat bagi suku kalian untuk bersembunyi."

Mata para prajurit itu membelalak. Mereka bisa merasakan kekuatan yang sangat asing—campuran antara otoritas militer yang luar biasa dan kegelapan purba yang haus darah.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya sang pemimpin dengan nada yang mulai ragu.

"Aku adalah Lin Xi. Jenderal Besar Kekaisaran Awan, dan wanita yang akan melakukan apa saja untuk pria di dalam gua itu."

Pertempuran hampir pecah ketika tiba-tiba seorang tetua muncul dari balik kabut. Pria tua itu berjalan tanpa alas kaki di atas salju, namun kakinya tidak tenggelam sedikit pun. Ia memegang tongkat kayu yang diujungnya terdapat kristal yang berdenyut selaras dengan detak jantung pegunungan.

"Cukup, Yan'er," ucap tetua itu. "Biarkan mereka lewat."

"Tapi Tetua Agung, mereka membawa energi Yin yang sangat berbahaya!"

Tetua itu menatap Lin Xi dengan mata yang tampak sangat tua dan bijaksana. "Gadis ini tidak membawa energi Yin. Dia adalah energi Yin itu sendiri yang sedang mencoba menjadi manusia kembali. Dan pria di dalam sana... dia adalah satu-satunya jangkar yang menahan gadis ini agar tidak menghancurkan dunia kita."

Tetua itu mendekat ke arah Lin Xi. Lin Xi tidak menurunkan kewaspadaannya, namun ia membiarkan pria tua itu menatapnya.

"Kau memiliki mata seorang raja, namun hati seorang budak cinta," Tetua itu tersenyum tipis. "Bawa dia. Ikuti aku. Tapi ketahuilah, Mata Air Kehidupan tidak akan menyembuhkannya secara cuma-cuma. Ada harga yang harus dibayar, dan harga itu harus datang darimu, Lin Xi."

"Apapun harganya," jawab Lin Xi tanpa ragu.

Mereka pun bergerak menuju desa suku yang tersembunyi di dalam lembah kristal. Di sana, arsitektur rumah-rumah terbuat dari es padat yang bersinar lembut. Lin Xi terus menggendong Long Chen, mengabaikan rasa lelah yang kini sudah mencapai puncaknya.

Sesampainya di kolam mata air yang mengepulkan uap putih—kontras dengan suhu dingin di sekitarnya—Tetua Agung menyuruh Lin Xi meletakkan Long Chen di dalam air.

Begitu tubuh Long Chen menyentuh air, reaksi hebat terjadi. Air yang jernih itu seketika berubah menjadi hitam pekat di sekitar tubuh Long Chen. Pangeran itu mengerang kesakitan, matanya terbuka namun hanya memperlihatkan bagian putihnya saja.

"Apa yang terjadi?!" Lin Xi panik, hendak melompat ke dalam air.

"Jangan! Jika kau masuk sekarang, energi kalian akan bertabrakan dan meledak!" Tetua Agung menahan bahu Lin Xi. "Energi Yin di tubuhnya sedang ditarik keluar oleh mata air. Tapi energi itu butuh wadah baru. Dia tidak bisa dibuang ke alam begitu saja."

Tetua Agung menatap Lin Xi dengan serius. "Kau harus meminum air yang sudah terkontaminasi kegelapan itu. Kau harus menyerap kembali semua racun yang telah diserap Long Chen untukmu. Jika tubuhmu kuat, kau akan menjadi penguasa energi Yin yang sempurna. Jika tidak... kau akan hancur menjadi abu hitam."

Lin Xi menatap Long Chen yang sedang berjuang di dalam air. Ia melihat tangan pria itu mencakar-cakar udara, seolah sedang tenggelam dalam lautan penderitaan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Lin Xi berlutut di tepi kolam. Ia menciduk air hitam yang pekat itu dengan kedua tangannya dan meminumnya dengan rakus.

Setiap tegukan terasa seperti cairan besi panas yang membakar tenggorokannya. Lin Xi jatuh tersungkur, tubuhnya mengejang hebat. Rambutnya yang hitam perlahan berubah menjadi putih perak di bagian ujungnya, dan tanda bunga Manjusaka—persis seperti milik Hua Ling—mulai muncul di bahunya, bukan sebagai tato, melainkan sebagai tanda kutukan yang menyatu dengan darah.

"Sakit... ini sangat sakit..." batin Lin Xi. Namun di tengah rasa sakit itu, ia membayangkan senyum Long Chen. Ia membayangkan masa depan di mana mereka tidak perlu lagi melarikan diri.

Tiba-tiba, sebuah tangan yang hangat menangkap tangan Lin Xi.

Lin Xi membuka matanya yang kini mulai berubah menjadi merah delima. Di hadapannya, Long Chen sudah sadar. Warna kulitnya kembali normal, meski ia masih sangat lemah. Long Chen menatap Lin Xi dengan tatapan yang penuh dengan kesedihan dan cinta.

"Xi'er... kenapa kau selalu memilih jalan yang paling sulit?" bisik Long Chen.

Lin Xi tersenyum, meski darah mengalir dari sudut bibirnya. "Karena... jalan itu membawaku kembali padamu."

Di kejauhan, di atas puncak gunung tertinggi, Hua Ling berdiri mengamati desa suku roh salju dari balik teropong jiwanya. Ia melihat cahaya putih dan hitam yang menyatu di kolam mata air tersebut.

"Bunga itu sudah benar-benar mekar," gumam Hua Ling. "Dan durinya sekarang jauh lebih tajam dari yang kukira. Mari kita lihat, apakah Kekaisaran Awan bisa bertahan saat 'Kematian' dan 'Cahaya' kembali bersama-sama."

Hua Ling menghilang, meninggalkan keharuman bunga Manjusaka yang aneh di tengah badai salju. Sementara itu, di dalam desa, Lin Xi dan Long Chen masih saling berpegangan tangan, tidak menyadari bahwa pengorbanan mereka hari ini hanyalah awal dari perang besar yang akan melibatkan seluruh benua.

1
echa purin
👍🏻
kriwil
bahasa gueng mu tour di buang
Dian Utami
awal ny bagus Thor tp kesini ny jln cerita ny bingung 🤔
yeti kurniati1003
ceritax menarik
Osie
mampiiirrrt..selalu. suka cerita transmigrasi dan moga cerita ini sp end
Dewiendahsetiowati
hadir thor
MomSaa: Siap kak🤗
total 1 replies
Amazing Grace
Lo gue anjay🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!