Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.
Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 RTJ
Kegelapan di Lembah Kematian seolah memiliki nyawa sendiri. Setelah ledakan energi yang menghancurkan para penyerang tadi, keheningan yang menyusul terasa lebih mengerikan daripada suara pertempuran. Long Chen masih mendekap tubuh Lin Xi yang tak sadarkan diri. Uap hitam yang tadi keluar dari kulit Lin Xi perlahan menyusut, namun suhu tubuh gadis itu turun drastis, sedingin es di puncak pegunungan Utara.
"Pangeran, kita harus segera bergerak. Ledakan tadi pasti telah menarik perhatian entitas yang lebih kuat di lembah ini," Satu mendekat dengan napas yang masih sedikit tersengal. Luka sayatan kecil di bahunya mengeluarkan darah yang berwarna kebiruan—tanda bahwa senjata lawan tadi telah diolesi racun ringan.
Long Chen tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk, matanya tak lepas dari wajah pucat Lin Xi. Dengan gerakan sigap namun lembut, ia menggendong Lin Xi di punggungnya, mengikat tubuh gadis itu dengan kain sutra kuat agar tidak terjatuh saat mereka harus bergerak cepat.
"Ke mana kita menuju, Pangeran? Jalur utama lembah ini sudah pasti akan dijaga ketat oleh sisa-sisa sekte sesat tadi," tanya Satu sambil menaburkan bubuk penawar racun pada lukanya sendiri.
"Ke Goa Aliran Sunyi," jawab Long Chen singkat. "Aku pernah membaca di catatan rahasia kekaisaran bahwa ada mata air spiritual kuno di sana. Jika tubuh Xi'er terpapar energi Yin berlebih, kita butuh elemen air murni untuk menyeimbangkannya."
Satu tertegun. "Tapi Goa Aliran Sunyi berada di jantung wilayah binatang tingkat tinggi. Kita bahkan belum melewati sektor luar."
"Maka kita akan bertaruh dengan nyawa kita, Satu. Tidak ada pilihan lain."
Mereka bergerak menembus kabut abu-abu yang semakin pekat. Anehnya, setelah insiden ledakan tadi, tidak ada binatang buas yang berani mendekat. Seolah-olah aroma "kematian" yang keluar dari tubuh Lin Xi telah memberi tanda peringatan bagi seluruh penghuni lembah bahwa predator yang lebih berbahaya sedang melintas.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam yang melelahkan, mereka tiba di depan sebuah celah sempit di tebing batu yang ditumbuhi lumut bercahaya biru. Suara gemericik air terdengar sayup-sayup, membawa sedikit rasa tenang di tengah ketegangan.
"Tunggu di sini dan jaga pintu masuk," perintah Long Chen kepada Satu.
Di dalam goa, cahayanya berasal dari kristal-kristal yang menggantung di langit-langit. Di tengah ruangan terdapat sebuah kolam kecil dengan air yang sangat jernih hingga dasarnya terlihat. Long Chen perlahan menurunkan Lin Xi dan menyandarkannya di tepi kolam.
"Kakek Bai... apakah kau masih di sana?" bisik Long Chen. Ia tahu ada sosok pelindung di dalam diri Lin Xi, meski ia tidak bisa melihatnya secara langsung.
"Kau pemuda yang gigih," suara parau Kakek Bai tiba-tiba bergema, bukan di telinga Long Chen, melainkan langsung di dalam benaknya. Long Chen tersentak, namun ia segera menenangkan diri.
"Apa yang terjadi padanya? Mengapa energinya berubah menjadi hitam?" tuntut Long Chen.
"Itu adalah Darah Segel Dewa yang Jatuh. Lin Xi tidak hanya mewarisi bakat militer keluarganya, tapi juga kutukan kuno yang telah tertidur selama seribu tahun. Guru Wu... bajingan tua itu sengaja memicu segelnya agar Lin Xi kehilangan kesadaran diri dan menjadi senjata pemusnah massal," jelas Kakek Bai. "Ledakan tadi hanyalah permulaan. Jika dia tidak bisa mengendalikan energi itu dalam waktu dekat, jiwanya akan tertelan oleh kegelapan."
Long Chen mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Bagaimana cara menghentikannya?"
"Hanya ada satu cara untuk sementara waktu. Kau harus memindahkan sebagian energi Yin yang merusak itu ke dalam tubuhmu sendiri. Tapi ingat, kau memiliki elemen Yang yang kuat sebagai anggota keluarga kerajaan. Penyatuan dua energi yang bertolak belakang ini bisa menghancurkan jalur kultivasimu sendiri."
Tanpa ragu sedetik pun, Long Chen duduk di belakang Lin Xi. "Lakukan. Aku tidak peduli dengan kultivasiku."
"Kau gila, anak muda. Kau bisa kehilangan segalanya."
"Aku sudah mengatakannya, singgasana itu tidak ada artinya tanpa dia. Mulailah!"
Proses pemindahan energi itu terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk pembuluh darah Long Chen. Wajahnya yang tampan kini dibanjiri keringat dingin, dan gurat keunguan mulai muncul di lehernya. Namun, ia tetap mempertahankan posisinya, menyalurkan Qi murni miliknya untuk membungkus kegelapan di dalam tubuh Lin Xi, menariknya keluar sedikit demi sedikit.
Di luar goa, Satu sedang bertarung nyawa. Sosok berpakaian merah yang tadi terlihat di tebing kini berdiri tepat di depannya. Pria itu tidak memakai topeng, wajahnya terlihat sangat cantik namun mematikan, dengan tato bunga Manjusaka di bawah mata kirinya.
"Minggir, pengawal kecil. Aku tidak punya urusan denganmu. Aku hanya ingin mengambil 'Bunga' yang sedang mekar di dalam sana," ucap pria berpakaian merah itu dengan suara yang merdu namun dingin.
"Kau harus melompati mayatku terlebih dahulu, Utusan Sekte Teratai Merah!" Satu menghunuskan dua belati hitamnya.
"Sekte Teratai Merah? Oh, aku sudah lama meninggalkan tempat membosankan itu. Namaku adalah Hua Ling. Dan aku datang atas perintah 'Hati Merah' yang sebenarnya."
Hua Ling mengibaskan lengan bajunya, dan ratusan kelopak bunga Manjusaka terbang seperti pisau tajam ke arah Satu. Pertempuran sengit pecah di mulut goa. Satu, yang merupakan elit dari Garda Bayangan, dipaksa menggunakan seluruh teknik terlarangnya hanya untuk bertahan dari serangan acak Hua Ling.
Di dalam goa, mata Lin Xi perlahan terbuka. Kegelapan di matanya sudah menghilang, digantikan oleh warna cokelat jernih yang tampak kebingungan. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa hangat yang mengalir dari punggungnya, dan suara napas yang berat serta tertahan dari seseorang di belakangnya.
"Chen...?" Lin Xi mencoba menoleh, namun tubuhnya masih terlalu lemah.
"Jangan... bergerak, Xi'er," suara Long Chen terdengar sangat lemah dan bergetar. "Sedikit lagi..."
Lin Xi menyadari apa yang sedang terjadi. Ia bisa merasakan energi dingin yang selama ini menyiksanya kini mengalir keluar menuju Long Chen. "Hentikan! Kau akan mati, Chen! Hentikan sekarang juga!"
Lin Xi menggunakan sisa kekuatannya untuk memutus hubungan energi mereka. Ia berbalik dan menangkap tubuh Long Chen yang limbung. Pangeran itu jatuh ke pelukannya, wajahnya sepucat kertas dan bibirnya membiru.
"Kenapa... kenapa kau selalu sebodoh ini?" tangis Lin Xi pecah. Air matanya jatuh mengenai pipi Long Chen.
Long Chen tersenyum tipis, tangannya yang gemetar berusaha menghapus air mata Lin Xi. "Karena... kau adalah duniaku, Xi'er. Duniaku tidak boleh gelap..."
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari depan goa. Tubuh Satu terlempar masuk ke dalam, menabrak dinding batu hingga ia memuntahkan darah segar. Hua Ling melangkah masuk dengan anggun, kelopak bunga merah menari-nari di sekitarnya.
"Ah, pemandangan yang sangat menyentuh," ucap Hua Ling sambil bertepuk tangan pelan. "Pangeran yang rela berkorban dan Jenderal yang menangis. Sayangnya, drama ini harus berakhir di sini."
Lin Xi berdiri, menyembunyikan Long Chen di belakang tubuhnya. Meskipun fisiknya hancur, aura seorang Jenderal besar memancar kuat dari tubuhnya. Di tangannya, sebuah pedang pendek muncul—bukan pedang fisik, melainkan pedang yang terbentuk dari energi hitam yang kini sudah mulai bisa ia kendalikan berkat pengorbanan Long Chen.
"Berani kau melangkah lebih dekat, dan aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat bunga mekar lagi di dunia ini," ancam Lin Xi dengan suara yang rendah dan penuh otoritas.
Hua Ling berhenti. Ia menatap pedang hitam di tangan Lin Xi dengan minat yang besar. "Kau sudah bisa membentuk senjata dari energi Arwah? Menarik. Tapi kau masih terlalu lemah untuk melawanku, Lin Xi."
"Dia mungkin lemah, tapi aku tidak," suara Kakek Bai tiba-tiba memanifestasikan diri. Sebuah bayangan transparan pria tua berjanggut putih muncul di samping Lin Xi, memberikan tekanan spiritual yang luar biasa kuat hingga kristal di langit-langit goa mulai retak.
Hua Ling sedikit mengernyit. "Arwah kuno dari zaman perang besar? Jadi kau yang menjaganya."
"Pergilah, bocah berpakaian merah. Beritahu tuanmu, bahwa harinya akan tiba. Tapi tidak hari ini," ucap Kakek Bai tegas.
Hua Ling terdiam sejenak, lalu ia tertawa kecil. Ia melipat tangannya di dada dan membungkuk sedikit. "Baiklah. Aku akan memberikan kalian waktu. Lagipula, melihat Pangeran Kedua menderita karena energi Yin adalah hiburan yang cukup bagiku. Sampai jumpa di Utara, Lin Xi. Di sana, salju akan berubah menjadi merah."
Dengan lambaian tangan, Hua Ling menghilang menjadi kepulan asap merah yang harum.
Lin Xi segera berlutut kembali di samping Long Chen. "Kakek Bai, tolong dia! Dia menyerap energiku!"
"Dia tidak akan mati, tapi jalur kultivasinya rusak parah. Elemen Yang-nya sedang berperang dengan energi Yin yang baru saja ia serap," Kakek Bai menghela napas. "Satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah dengan membawanya ke Mata Air Kehidupan di wilayah suku pegunungan salju di Utara. Kita harus bergerak sekarang, sebelum tubuhnya membeku selamanya."
Lin Xi mengusap wajah Long Chen dengan lembut. Amarah yang dingin kini membakar matanya. Kaisar, Pangeran Pertama, Guru Wu, dan sekte-sekte misterius ini—mereka semua akan membayar.
"Satu, apa kau bisa bergerak?" tanya Lin Xi pada pengawalnya yang sedang berusaha duduk.
"Hamba... hamba bisa, Jenderal," jawab Satu sambil menahan sakit.
"Bantu aku membawanya. Kita tidak akan mengikuti jalur rahasia lagi. Kita akan menembus Utara dengan cara tercepat. Siapapun yang menghalangi, akan kuhancurkan."
Di bawah sinar kristal goa, Lin Xi berdiri dengan tekad yang baru. Ia bukan lagi sekadar Jenderal yang patuh pada kekaisaran. Ia adalah seorang wanita yang sedang melindungi pria yang ia cintai, dan ia siap menjadi monster jika itu memang diperlukan untuk menghancurkan musuh-musuhnya.