Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.
“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”
“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”
“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”
“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”
“Namanya juga pelacur!”
Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.
Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.
Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.
“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelamatkan Diri
Junia melangkah pulang ke rumahnya dengan tubuh yang terasa lebih berat, seolah ia sedang memikul beban yang sangat berat. Di kepalanya, suara-suara pertengkaran membuatnya berulang kali menghela napas kasar. Rasa sesal, rasa marah, dan rasa jijik semuanya bergejolak di dalam hatinya. Namun hatinya masih berusaha menghibur dirinya sendiri bahwa itu semua demi bertahan hidup.
Uang dalam tasnya terasa seperti beban kutukan. Lima ratus juta rupiah, dia menjual keperawanannya dengan jumlah tertinggi yang bisa ia dapatkan. Entahlah, ia tidak tau apakah itu harga yang murah atau mahal. Ia tak pernah membayangkan bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Tapi anehnya, tak ada satupun kebahagiaan yang muncul. Ia hanya merasa kosong.
Junia melempar tubuhnya ke atas kasur tipis di kamarnya. Lampu di langit-langit berkedip pelan, seolah ikut menggambarkan hidup penghuninya. Beberapa menit Junia termenung hingga akhirnya ia beranjak dari kasurnya.
“Aku harus mandi…” racaunya. Rasanya ia ingin mandi berkali-kali untuk membersihkan tubuhnya yang sudah sangat kotor.
Namun saat menyadari sesuatu, ia jatuh terduduk, lalu memeluk lututnya. Menangis tanpa suara. Air mata mengalir deras seperti ingin membersihkan sesuatu yang sudah terlanjur melekat dan tak mungkin hilang.
Sejak hari itu, Junia tidak tinggal di rumah kecil tersebut setiap hari. Mami Geni memberinya sebuah apartemen di pusat kota. Ia hanya pulang sesekali, saat tubuhnya terlalu lelah menjalani dunia malam. Ia menyebut rumah itu sebagai tempatnya “bernapas”—tempat di mana ia bisa tenang hanya dengan mendengar suara ayam tetangga, dan bangun tanpa riasan atau wewangian yang harganya bahkan lebih mahal dari biaya hidup satu keluarga di perkampungan itu.
Namun ketika ia kembali bekerja, kehidupan berubah drastis. Dunia malam—tempat Junia kini mencari nafkah—tidak pernah ramah. Tidak ada belas kasihan, tidak ada ruang untuk lemah. Banyak yang datang dan pergi, banyak yang memanggilnya manis, tetapi tidak satupun yang benar-benar melihat dirinya sebagai manusia. Dia hanya hidup seperti boneka cantik yang memuaskan nafsu para pria hidung belang.
Junia tidak pernah menikmati pekerjaannya, tapi ia tetap menjalani kehidupannya barunya. Junia tidak pernah kekurangan pelanggan. Wajahnya yang cantik membuat nama Junia semakin terkenal di sana. Dia dikenal dengan Rose, pelacur tercantik di kota itu.
Tahun berganti. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun. Dunia Junia masih sama. Ia masih terbangun dengan melihat wajah pria yang berbeda-beda. Sesekali ia pulang ke rumahnya yang kini ditempati anak-anak jalanan.
Setiap ia pulang, anak-anak itu akan memanggilnya dengan gembira. Mereka meminta dibelikan jajanan di warung atau mengajaknya bermain di halaman. Junia selalu menuruti mereka. Dalam hati ia berharap, tidak ada satupun dari anak-anak itu yang akan tumbuh dan memiliki nasib yang sama sepertinya.
Sekitar 10 anak tinggal di rumah Junia. Anak-anak yang biasanya hanya tidur di atas kardus-kardus lusuh di pinggir jalan dan kolong jembatan, atau anak-anak yang tidur di gubuk reot di perkampungan kumuh. Junia mengumpulkan anak-anak yang tidak memiliki orang tua dan memberinya tempat tinggal. Hanya tempat tinggal. Sementara untuk makan, mereka berusaha mencari sendiri.
Begitulah Junia menjalani hidupnya selama bertahun-tahun. Namun dunia malam yang dulu hanya terasa seperti tempat ia bekerja pelan-pelan berubah menjadi jebakan yang tidak bisa ia lepaskan. Junia semakin dikenal di kalangan para pelanggan tetap. Banyak yang menyukainya, banyak pula yang mencoba “memiliki”-nya. Tetapi bagi Junia, tidak ada satupun dari mereka yang pantas mendapatkan dirinya sepenuhnya.
Entah sudah kali keberapa ia menolak pelanggan yang memintanya menjadi simpanan pribadi. Tentu saja Junia tidak mau. Dia hanya anak menjadi milik seseorang jika ada yang mencintainya dan menikahinya, tapi tentu saja itu tidak mungkin ada, bukan?
Kehidupan Junia yang tenang berubah saat ia kedatangan seorang pelanggan yang berbeda. Namanya Ethan—pria keturunan Jerman yang sudah bertahun-tahun tinggal di Indonesia.
Tubuhnya tegap, usianya sekitar tiga puluh akhir, dan ia punya tatapan yang membuat banyak perempuan terpesona. Ethan bukan pelanggan yang cerewet. Ia tidak banyak bicara, justru pendiam.
Beberapa minggu kemudian, Ethan kembali. Lalu kembali lagi. Dan lagi. Ethan selalu datang dan menolak wanita manapun. Ia hanya ingin Junia.
“Tuan Ethan? Apa kau tidak bosan denganku?” bisik Junia yang sedang duduk di pangkuan Ethan.
“Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku bosan,” jawabnya. “Aku ingin kau berhenti melayani yang lain. Aku hanya mau kau untukku.”
Junia terdiam mendengar ucapan Ethan. Ia sudah bisa menebak bahwa pria itu ingin memilikinya sendirian.
“Maksudnya? Kau mau menikahiku?” Junia tertawa lepas.
“Bukan… bukan itu maksudku. Aku ingin kau berhenti bekerja untuk banyak orang. Jadilah milikku dan bekerja untukku saja.” Ethan menatap Junia lekat.
“Ah, kau ingin aku menjadi peliharaanmu?” Junia tersenyum tipis. “Sayangnya aku hanya ingin bekerja, Tuan. Aku tidak ingin menjadi peliharaan.” Junia turun dari pangkuan Ethan.
“Bagaimana caranya agar kau mau menerimaku? Aku bisa memberikan uang yang lebih banyak untukmu. Kau tidak perlu melayani banyak pria. Kau hanya harus melayaniku, itu saja.” Ethan masih mencoba membujuk Junia.
“Tidak Tuan. Aku tidak ingin menjadi milik siapapun kecuali…” Junia menghentikan kalimatnya lalu menatap Ethan. “Jika seseorang ingin menjadikan aku istrinya, mungkin aku akan mempertimbangkannya.”
Ethan tertawa. Menurutnya ucapan Junia sangat lucu. “Aku tidak menyangka jika ada seorang pelacur berharap dinikahi?”
Junia mengepalkan tangannya mendengar ucapan Ethan. Namun ia tidak boleh menampilkan ekspresi kesal di wajahnya saat sedang bersama pelanggan.
“Waktumu sudah habis Tuan. Aku akan pergi melanjutkan pekerjaan lainnya. Sampai jumpa,” Junia mengedipkan matanya lalu pergi meninggalkan Ethan.
Beberapa hari kemudian, Junia hendak pergi ke rumah kecilnya. Ia merasa lelah dan ingin bertemu dengan anak-anak manis di sana. Junia keluar dari apartemennya sambil bersenandung kecil.
Setibanya di parkiran tangannya meraih pintu mobil untuk membukanya, namun gerakannya terhenti saat mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Belum sempat ia menoleh, tangan asing yang kasar dan dingin membungkam mulutnya dari belakang.
“A—” suara Junia tercekik, matanya membelalak panik. Tubuhnya refleks meronta, namun lengannya langsung ditahan kuat-kuat. Aroma maskulin bercampur zat kimia menusuk hidungnya. Seketika lututnya melemah, pandangannya bergoyang seperti layar bergaris.
Dunia di sekitarnya perlahan memudar.
Suara pintu mobil lain terbanting, langkah tergesa, seseorang mengangkat tubuhnya seperti boneka rongsokan. Dalam hitungan detik, segala warna padam. Gelap total.
—
Junia mengerjapkan matanya. Pandangannya masih mengabur. Ia mencoba mengenali sekelilingnya. Saat pandangannya mulai jelas yang menyambutnya bukan wajah asing. Ethan duduk di sofa, menatapnya seperti menunggu tamu.
“Kau menolakku dengan sopan kemarin, Rose,” ucapnya lembut. “Jadi aku akan memintamu ulang dengan cara lain.”
Setelah itu, dunia menjadi sangat gelap bagi Junia. Ethan menjadikannya seolah boneka pemuas khusus untuknya. Junia benar-benar terkurung. Beberapa kali Junia mencoba kabur, tapi anak buah Ethan menjaganya dengan sangat ketat.
Dihari ketiga, Junia perlahan bangkit dari kasurnya dengan tubuhnya yang terasa pegal di mana-mana. Junia memaksakan diri bangkt, meski tubuhnya memar dan penuh luka. Tentu saja Ethan yang melukai Junia setiap kali ia menolak melayani pria itu.
Junia menyelinap keluar dari kamarnya, melewati penjaga yang masih terlelap. Tangannya gemetar saat membuka pintu teras belakang. Ia tahu anak buah Ethan ada di lantai bawah dan ia bisa ketahuan kapan saja.
Junia berhasil. Ia berhasil keluar dari sana. Namun tak lama, penjaga mulai menyadari kepergian Junia dan mengejarnya. Dan entah mendapatkan kekuatan dari mana, Junia bisa berlari dengan cepat, menyelinap ke perumahan warga.
“Allah… tolong aku…” lirih Junia pertama kalinya ia berdoa setelah sekian lama.
Junia bersembunyi di balik jemuran warga, berusaha menahan napas agar pria-pria yang sedang mengejarnya itu tidak menyadari keberadaannya. Matanya tiba-tiba tertuju pada kain hitam yang tergantung di hadapannya.
Seketika muncul ide brilian di kepala Junia. Ide untuk menyelamatkan dirinya kejaran pria-pria itu. Abaya dan cadar. Junia tidak tahu milik siapa, tapi ia mengambilnya. Tangan gemetarnya memakaikan pakaian panjang itu ke tubuhnya, lalu menutup wajahnya dengan cadar. Kain hitam itu menutupi luka-lukanya juga menutupi identitasnya.
Junia memaksa langkah kakinya bergerak ke arah jalan raya. Pandangannya kabur. Kakinya seperti tidak lagi milik sendiri. Napasnya berat. Setiap langkah seperti dihantamkan ke bumi dengan paksa.
Mobil-mobil melaju kencang. Suara klakson bercampur dengan deru mesin. Junia hanya butuh seseorang untuk membantunya.
Saat Junia melangkah ke tepi jalan besar itu, sebuah mobil putih melaju dan hampir menabraknya. Ban menggesek aspal. Suara rem mendecit keras. Mobil berhenti hanya beberapa centimeter dari tubuh Junia.
Dari balik kaca, seorang perempuan tampak kaget, matanya melebar. Pintu mobil terbuka dari dalam. Tapi sebelum Junia sempat melihat jelas wajahnya, tubuhnya kehilangan tenaga terakhir yang tersisa.
Ia jatuh ke aspal. Pandangan menjadi putih. Suara bising perlahan meredup.
***
Bersambung
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.